Tampilkan postingan dengan label motifasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motifasi. Tampilkan semua postingan

Bahagia Itu Sederhana Dan Simpel

13.03

Sebelumnya saya ucapkan terimakasih buat yang telah membuat foto kebahagiaan ini yang saya temui di google dan handphone saya. Sungguh sebuah motivasi buat saya bahwa memang benar Bahagia itu sangat sederhana.


Apakah arti bahagia adalah suatu keadaan pikiran atau perasaan yang ditandai dengan kesenangan, cinta, kepuasan, kenikmatan, atau kegembiraan? Ada yang beranggapan arti bahagia itu relatif. Ia berubah-ubah dan berbeda antara seorang individu dengan yang lain. Bagi yang sakit, sehat itu dirasakan bahagia. Tetapi apabila sudah sehat, kebahagiaan itu bukan pada kesehatan lagi. Sudah beralih kepada perkara yang lain lagi. Bagi golongan ini kebahagiaan itu adalah satu “moving target” yang tidak spesifik artinya.



Ada pula golongan pesimis. Mereka beranggapan bahawa tidak ada bahagia di dunia ini. Hidup adalah untuk menderita. Manusia dilahirkan bersama tangisan, hidup bersama tangisan dan akan dihantar ke kubur dengan tangisan. Bahagia adalah satu utopia, ilusi atau angan-angan. Ia tidak berwujud dalam realiti dan kenyataan.



Sahabat aca.web.id anda dihadapkan di kehidupan ini antara ingin bahagia atau tidak. Mungkin juga bahagia tersebut adalah suatu pilihan hidup yang akan kita jalani. Pada jaman sekarang katagori bahagia ditempatkan dimana keinginan tercapai dengan segala sesuatu yang disebut dengan UANG. Padahal bahagia itu bisa kita dapatkan tanpa modal sekalipun, tergantung dari diri anda sahabat anehdidunia.com menanggapinya karena Bahagia itu Sederhana.  Pikiran kita tenang, bangun pagi kita terasa sangat nyaman, ada sahabat dan keluarga di sekitar kita.


KETIKA MAU MENIKAH
Janganlah mencari isteri tapi carilah ibu bagi anak-anak. Jangan cari suami tetapi carilah ayah bagi anak anak

KETIKA MAU MELAMAR
Anda bukan sedang meminta kepada orang tua Tetapi minta kepada TUHAN melalui orang tua

KETIKA AKAD NIKAH
Anda bukan nikah di depan hukum tetapi nikah di depan Tuhan

KETIKA RESEPSI PERNIKAHAN
Catat dan hitung semua tamu yang hadir dan mendoakan anda Dan berfikirlah untuk meminta maaf kepada mereka apabila anda Ingin bercerai

KETIKA Malam pertama
bersyukur dan berbahagialah bahwa anda sepasang anak manusia bukan malaikat

KETIKA Menempuh hidup berkeluarga sadarilah bahwa jalan yang akan anda tempuh bukan jalan yang bertabur bunga tetapi jalan yang penuh onak dan duri

KETIKA EKONOMI KELUARGA BELUM MEMBAIK
Yakinkan bahwa pintu rizki akan terbuka lebar
Berbanding lurus dengan tingkat ketaaatan suami isteri

KETIKA KETIKA EKONOMI BAIK
Jangan lupa akan jasa pasangan hidup yang setia Mendampingi kita disaat menderita

KETIKA ANDA ADALAH SUAMI
Boleh berrmanja-manja kepada isteri Tapi jangan lupa tanggungjawabnya

KETIKA ANDA ADALAH ISTERI
Tetaplah berjalan dengan gemulai dan lemah lembut Tapi selalu berhasil menyelesaikan semua pekerjaan

KETIKA Telah nikah dan  belum memiliki anak,
cintailah isteri atau suami anda seratus persen

KETIKA Telah memiliki anak
jangan bagi cinta anda kepada suami, istri dan anak akan tetapi cintailah masing-masing seratus persen

KETIKA Biduk rumah tangga sedang oleng
Jangan saling berlepas tangan tapi sebaliknya semakin  erat berpegang tangan

KETIKA Mendidik anak
jangan berfikir orang tua yang baik adalah orang tua yang tidak pernah marah akan tetapi orang tua yang baik adalah orang tua yang jujur kepada anak
  
KETIKA Anak bermasalah
Yakinkan bahwa tidak ada anak yang tidak mau bekerjasama dengan orang tua yang ada adalah anak yang merasa tidak didengar oleh orang tuanya

KETIKA Ada PIL Jangan diminum cukuplah suami sebagai obat
KETIKA Ada WIL Jangan turuti cukuplah isteri sebagai pelabuhan hati

Jadi sahabat aca.web.id Bahagia itu Simpel yang kita butuhkan hanya Ketaqwaan, Kasih sayang, Kesetiaan, Komunikasi, Keterbukaan, Kejujuran dan kesabaran. Semoga dengan artikel ini sahabat aca.web.id lebih merasa bahagia dengan apa yang ada didepan anda. Silahkan dishare dengan sahabat dan keluarga anda.


Majukan Usaha dengan Menjaga Pelanggan Setia

21.05

Pelanggan setia bukan sekadar pelanggan yang datang berkali-kali. Tapi, pelanggan setia juga pemasar produk yang loyal untuk memajukan usaha kita. Bagaimana menjaganya?

Hal yang paling menyenangkan dari menjalankan usaha adalah ketika kita berhasil mendulang keberhasilan dan memperoleh pelanggan setia, yang bahkan bisa menjadi “marketing” alias ikut mempromosikan produk kita kepada siapa pun.

Proses untuk mendapat pelanggan yang masuk dalam kriteria fans ini memang tak mudah. Pelayanan yang serba memuaskan, kedekatan emosional, hingga kualitas produk yang tentunya sangat baik harus mampu disajikan dengan maksimal. Tapi, tak jarang, orang yang sudah masuk kriteria sebagai fans, tiba-tiba saja menghilang. Bisa jadi ia kecewa dan kemudian bercerita kepada para relasinya. Jika hal ini tidak segera diantisipasi, bisa jadi nama baik usaha kita pelan-pelan akan tergerus dan hilang ditelan oleh cerita kurang puas dari konsumen yang kecewa.

Lantas, apa yang harus kita lakukan agar pelanggan setia tidak kecewa? Berikut beberapa hal:

• Jangan banyak penggantian personel atau pekerja
Sudah jadi rahasia umum bahwa ada banyak konsumen yang lebih setia pada orang (pekerja) kita dibanding usaha (brand) kita sendiri. Apalagi, jika kita belum mempunyai sistem kerja yang punya standar yang sama. Misalnya di salon kecantikan kelas premium. Solusinya, jangan terlalu sering berganti pekerja. Atau, ciptakan sistem yang benar-benar terstandarisasi dengan baik sehingga layanan satu orang dengan lainnya saat meladeni konsumen benar-benar seragam.

• Jaga perlakuan pada pelanggan lama dan baru
Kadang, untuk mendapatkan pelanggan dan baru dan memperluas pasar, kita menggunakan trik diskon dan nilai tambah sebagai bentuk promosi. Dan memang, ini biasanya akan “menggoda” pelanggan baru untuk datang. Tapi ingat: kita sudah punya pelanggan setia. Jangan sampai, apa yang kita tawarkan kepada pelanggan baru justru lebih menggoda daripada yang diberikan kepada pelanggan setia kita. Justu, pelanggan setia harus diperlakukan jauh lebih baik!

• Jangan terlalu fokus pada soal harga
Fokus pada harga sah-sah saja. Namun banyak pesaing melakukan hal yang sama. Jadi ada baiknya kita juga memperhatikan nilai tambah dari harga yang telah kita tentukan. Tak jarang—bahkan banyak—orang yang membeli sesuatu bukan berdasar harga, tapi karena punya nilai tambah yang tidak dimiliki pesaing. Di sinilah peran kita sebenarnya, yakni dengan tetap fokus memberikan pelayanan terbaik, terutama kepada pelanggan setia.

• Jangan terlalu memaksa memanfaatkan momentum
Biasanya, karena merasa sudah dekat, sudah terlalu personal saat berhubungan dengan pelanggan, kita seolah sudah merasa tak memiliki jarak. Saat itu, tanpa disadari, kita sering kali menawarkan hal-hal yang kadang kurang dibutuhkan oleh pelanggan. Di depan kita, mungkin si pelanggan tidak mengungkapkan kekesalannya secara langsung. Tapi bisa jadi di belakang, ia merasa gerah karena terus dipaksa membeli produk yang sebenarnya kurang dibutuhkannya. Untuk mengantisipasinya, jangan terlalu memaksa. Cobalah pahami kebutuhannya, dan jangan berlebihan dalam memanfaatkan momentum kedekatan ini.

• Tetap fokus pada produk utama
Setiap brand sering kali diidentikkan dengan produk tertentu. Begitu juga dengan pelanggan setia terhadap produk kita. Misalnya kita bergerak di bidang jasa periklanan yang banyak melayani jasamaintenance pada social media. Meski produk jasa kita banyak, namun jika di pasaran sudah dikenal bahwa usaha kita sangat hebat di bidang maintenance pada social media, jangan terlalu serakah mengambil jatah yang di luar bidang tersebut. Tak salah memang, tapi jangan sampai fokus kita di bidang yang sudah membuat usaha terkenal jadi hilang arah. Tetap fokus pada layanan utama, karena di sana kita mendapat pelanggan setia.

Sebenarnya, masih banyak cara-cara lain yang bisa kita lakukan agar konsumen tetap setia. Yang pasti,jadikan kepuasan selalu menjadi yang terdepan untuk usaha kita, baik kepuasan untuk pelanggan, kepuasan untuk karyawan, hingga kepuasan masyarakat luas yang belum tentu pernah memakai produk kita. Sebab, saat kepuasan ini sudah diperbincangkan dan jadi nilai tambah usaha kita, niscaya pelanggan setia akan selalu ada.

Pohon Kesukaranku

20.54

Alkisah, ada seorang tukang kayu yang baru saja mengakhiri hari pertama kerjanya. Hari yang bisa dikatakan sungguh melelahkan. Betapa tidak, ban kempes kendaraan kerjanya membuat dia kehilangan satu jam kerja. Belum  lagi, gergaji listriknya tiba-tiba tidak bisa digunakan. Dan sekarang, mobil truk tuanya tidak bisa dinyalakan. Akhirnya, rekannya mengantar pulang si tukang kayu. Sepanjang perjalanan, si tukang kayu hanya membisu.



Setibanya di tujuan, si tukang kayu mengundang rekannya untuk mampir sejenak. Saat mereka berjalan menuju pintu depan rumah, si tukang kayu menyempatkan diri mendekati sebuah pohon kecil. Ia menyentuhkan ujung dahan-dahannya dengan kedua tangannya. Lalu ketika membuka pintu, si tukang kayu itu langsung bertransformasi menjadi sosok yang sangat berbeda. Wajahnya yang berwarna kecokelatan diliputi senyuman lebar dan ia memeluk kedua anaknya yang masih kecil serta mengecup pipi sang istri.



Setelah itu, si tukang kayu mengantar rekannya ke mobilnya. Mereka kembali melewati pohon itu. Karena tak mampu menahan rasa penasarannya yang begitu besar, rekannya itu pun bertanya perihal apa yang dilakukan si tukang kayu sebelumnya.



“Oh, itu pohon kesukaranku,” jawab si tukang kayu. “Aku tahu aku akan selalu menghadapi kesukaran dan kesulitan di pekerjaanku, tapi satu hal yang pasti, semuanya itu tidak boleh muncul di rumah yang menjadi tempat tinggal istri dan anak-anakku. Jadilah, aku menggantungkan semua kesukaran itu di pohon ini setiap malam begitu aku pulang. Lalu di pagi harinya, aku akan mengambilnya kembali.”



Si tukang kayu terdiam sejenak. “Lucunya,” katanya sembari tersenyum, “ketika aku keluar rumah di pagi harinya untuk mengambil semua kesukaran itu, bebannya tidaklah seberat yang kuingat malam sebelumnya.”


Adakah yang melakukan hal serupa dengan si tukang kayu ini? Mungkin hanya ada segelintir dari kita yang menjawab “Ya”. Sebagian besar lainnya lebih sering mencampuradukkan urusan kerja atau bisnis dengan keluarga. Sering kali kita membawa pulang semua masalah kita di kantor atau di luar rumah, sehingga sering kali pula bukan situasi gembira dan menyenangkan yang tercipta di rumah.


Mari belajar untuk meninggalkan sejenak segala persoalan rumit kita di pekerjaan di suatu tempat sebelum kita melangkah masuk ke dalam rumah. Dengan cara demikian, keluarga kita akan tumbuh menjadi keluarga yang bahagia dan harmonis. Dan dijamin keesokan harinya, beban berat kita di hari sebelumnya akan terasa lebih ringan. Kita juga akan lebih dimampukan untuk menghadapi segala permasalahan yang menanti.

Hidup Penuh Syukur

20.42

Alkisah, seorang pria muda sedang menyusuri jalan sepi dekat hutan. Tiba-tiba ia berpapasan dengan seorang pemuda lain yang berpenampilan lusuh dan berwajah murung. Karena ingin tahu, si pria muda mensejajarkan langkah dan bertanya, “Hai teman, kenapa kau bersedih? Ada masalah?”

Sambil menghela napas panjang, pemuda itu menjawab, “Hah. Hidupku begitu malang. Aku hanya punya tas ini dengan sedikit pakaian dan makanan. Cuma itu... Aku tak tahu harus berbuat apa.”

Mendengar kata-kata itu, si pria mendadak punya ide. Lantas ia bertanya, “Boleh aku lihat tasmu sebentar saja?” Tanpa curiga, si pemuda menyerahkan tasnya. Dan begitu tas diterima, pria itu langsung melesat lari membawa tas tersebut, meninggalkan pemuda itu melongo kaget tidak percaya.

Sadar tasnya dicuri, sambil bereaksi hendak mengejar si pencuri, pemuda itu meratap. “Oooh.. Nasibku sungguh sial. Tas satu-satunya hartaku hilang. Aduhhh..”

Pria yang membawa lari tas, ternyata tidak benar-benar berniat mencuri tas yang dibawanya. Tak jauh dari situ, ia berhenti dan mengintip dari balik semak, melihat keadaan si pemuda. Begitu mengetahui si pemuda sudah kembali melanjutkan perjalanan, pria itu segera bergegas mendahuluinya beberapa meter, meletakkan tas si pemuda di pinggir jalan, kemudian sembunyi lagi di balik semak.

Si pemuda, yang berjalan dengan lesu dan langkah gontai, tiba-tiba ia melihat tasnya tergeletak di pinggir jalan. Dengan penuh semangat, ia berlari, mengambil kembali tas dan memeriksa isinya. Ternyata masih lengkap! Betapa bahagianya pemuda tadi. Kini, ia melanjutkan perjalanan dengan bersiul riang dan wajah berseri-seri.

Pria yang tadi membawa lari tas si pemuda, melihat sambil tersenyum. Katanya dalam hati, “Hari ini aku membuatnya jadi orang paling bahagia!”

Netter yang bijaksana,

Kita biasanya kurang menghargai, apalagi mensyukuri apa yang kita miliki. Dan ketika yang dimiliki tiba-tiba hilang, kita baru menyesal, sedih dan merasa kehilangan.  Sesungguhnya, begitu banyak yang bisa kita syukuri, yakni: sisa waktu yang masih kita miliki, keluarga dan orang-orang yang kita sayangi, kesehatan, pekerjaan, harapan... dan masih banyak lagi.    

Mari selalu bersyukur agar kebahagiaan senantiasa bergelora di hati kita.

Cara Beda Melihat Lubang

20.38

Kebanyakan orang melihat lubang itu kosong. Tetapi sebagian yang lain (sebagian kecil) justru melihat peluang. Dari sebagian kecil itu muncullah nama Sheri Schmelzer.


Schmelzer dan tiga anaknya suka memakai sepatuCrocs yang unik karena memiliki warna-warna terang yang menggemaskan. Seperti umumnya sepatu Crosc, jenis alas kaki ini memiliki ciri yang khas, yaitu sejumlah lubang di sana sini. Ternyata Schmelzer dan ketiga anaknya suka berguyon. Anak pertama, Lexie, yang usianya baru tujuh tahun, suka membuat manik-manik dan kemudian ditempelkannya ke lubang sepatu Crocs yang akan dikenakannya. Schmelzer kemudian mencari kancing dan memasangnya di lubang itu untuk menambah keindahan.



Lama-kelamaan kegiatan menutup lubang Crocs dengan hiasan kecil itu menjadi kegiatan rutin. Karena itu Schmelzer kemudian membuat manik-manik aksesoris untuk ke-12 pasang Crocs milik keluarganya di rumah. Sampai suatu kali suaminya, Rich Schmelzer, menemukan peluang bisnis. Dengan penjualan Crocs yang mencapai jutaan pasang, peluang menutup lubang-lubang Crocs itu menjadi besar. Dari sanalah keluarga ini membuat usaha aksesoris sepatu Crocs dengan nama Jibbitz pada tahun 2005.



Usahanya berkembang pesat hingga menghasilkan 300 desain dan dijajakan di 2000 outlet di Amerika hingga tahun 2006.  Karena aksesoris itu laku, Crocs sendiri sampai tertarik membeli bisnis keluarga itu. Tahun 2006 Crocs membeli Jibbitz senilai US$20 juta atau sekitar Rp200 miliar. Meskipun sudah dimiliki Crocs, Schmelzer masih memiliki kompensasi rutin yang bergantung pada penjualannya. Sebuah media di sana, The Richest, memperkirakan kekayaan mereka saat ini mencapai sebesar US$300 juta atau sekitar Rp3,3 triliun. Tentu saja nilai kekayaan sebesar itu bukan nilai yang kecil. Ini semua berkat cara pandang yang tak biasa Sheri Schmelzer dalam melihat lubang.

Aku Rapopo

20.35

Belakangan ini, ada sebuah ungkapan bahasa Jawa yang sedang sangat tren disebut-sebut oleh semua kalangan. Dari anak muda, bahkan dewasa, kerap menggunakan ungkapan tersebut, baik dalam kondisi bercanda ataupun serius. Ungkapan tersebut adalah rapopo atau lengkapnya, aku rapopo

Secara harfiah, ungkapan tersebut berarti "saya tidak apa-apa". Entah, siapa yang kali pertama memopulerkan ungkapan tersebut. Namun, ada salah satu kejadian yang paling bisa kita ingat yakni ungkapan itu muncul dari Bu Rismaharini—Wali Kota Surabaya—yang saat itu sedang menghadapi dilema soal kepemimpinannya. Bu Risma—panggilan akrabnya—menghadapi kendala soal kebijakan yang dikeluarkannya, sehingga beberapa pihak “menjegal”, yang lantas membuatrnya sempat ingin turun dari jabatan wali kota.

Ungkapan yang disebut Bu Risma sebenarnya adalah sebuah sebutan bahwa beliau ikhlas dengan apa pun yang akan terjadi terkait dengan peristiwa yang dialaminya. Karena itu, rapopo menjadi sebuah ungkapan yang menenangkan, membuat hati dingin, dan jiwa pun lapang. Sederhana tampaknya, tapi ungkapan itu memang mengandung makna yang amat dalam. Sayangnya, belakangan ungkapan tersebut malah “beralih” status menjadi semacam olok-olokan. Berbagai hal yang dianggap lucu, unik, atau bahkan ejekan, ditempeli dengan kalimat aku rapopo. Mulai dari sindiran soal kampanye politik, hingga ungkapan bernada ledekan antarteman di media sosial.

Sejak kecil, sebenarnya saya—sebagai orang yang terlahir dari latar belakang lingkungan berbahasa Jawa—rapopo adalah hal yang sangat biasa diucapkan. Saat terjatuh, meski lecet dan berdarah, asal masih bisa bermain, ucapan aku rapopo akan keluar. Saat sedang bersedih karena suatu kejadian, ketika ditanya teman, agar tak berkepanjangan, biasanya kalimat yang segera terucap juga aku rapopo.

Maka, menurut saya, setidaknya ada dua hal yang bisa kita pelajari dari ungkapan rapopo ini. Pertama, soal keikhlasan atau kelapangan hati. Seperti yang dialami Bu Risma, rapopo yang diucapkan adalah sebuah “tanda” bahwa meski beliau merasa tertindas, tapi beliau pasrah dengan kondisi yang dialaminya. Tentu, bukan pasrah bersikap pasif. Tapi, dengan kejadian yang dialaminya, beliau menerima dengan lapang dada dan memilih untuk tidak mempermasalahkan kondisi yang menerpa.

Begitu pula kita dalam hidup. Saat mengalami kejadian yang tidak mengenakkan, pilihan ada dua: jalan terus dengan melupakan hal yang sudah terjadi atau memilih untuk mempermasalahkan kondisi tidak enak yang kita alami. Pilihan pertama biasanya justru akan membuat kita lebih fokus untuk bekerja lebih maksimal. Gampangnya, peristiwa yang sudah, ya sudahlah. Buat apa mempermasalahkan yang sudah terjadi? Sebaliknya, kadang kita sering kali terpancang pada upaya untuk terus mengusahakan agar masalah yang sudah terjadi bisa terselesaikan agar benar-benar lega. Sayang, ujungnya, malah kita terus berkutat pada masalah yang itu-itu saja sehingga “lupa” untuk maju dan mengerjakan hal lain yang sebenarnya jauh lebih bermanfaat. Tak salah memang untuk berusaha menyelesaikan sebuah persoalan. Tapi, kalau sampai berlarut-larut, ada baiknya kita memilih rapopo meninggalkannya, dan melangkah untuk hal lain yang lebih bermanfaat.

Hal tersebut berkait dengan hal kedua yang bisa kita dapatkan dari intisari soal ungkapan rapopo. Nilaikedua tersebut bagi saya mengajarkan agar kita sadar, sepanjang diri masih bekerja, berkarya, berjuang, tak mengapa kita luka, yang penting masih bisa terus jalan. Ibarat ungkapan, sepanjang hayat masih di kandung badan, maka jangan khawatir untuk terus berjalan dan berjuang. Di sinilah konseprapopo mengandung “kekuatan” untuk mendorong agar kita mampu terus berkarya, apa pun kondisi yang kita alami sebelumnya. Maka, sepedih apa pun hasil yang kita alami, sesulit apa pun yang sedang kita rasakan, sesukar apa pun kondisi, kalau masih bisa jalan, rapopo. Itulah nilai yang seharusnya bisa membuat kita mampu tegar.

Inilah konsep aku rapopo dalam konteks sebenarnya yang pernah saya rasakan. Rapopo bukan sekadar ungkapan canda belaka. Tapi, memiliki arti sangat dalam untuk meyakinkan diri agar mau dan mampu terus berjuang. Dengan pendekatan semacam itu, rapopo menjadi semacam “mantra” agar kita mampu kokoh berdiri tegak di tengah hantaman badai ujian dan rintangan kehidupan. Nikmati saja ujian itu. Cari aspek pembelajaran yang bisa kita jadikan evaluasi untuk mewujudkan impian. Terus melangkah meski kadang terseok. Pelan tapi pasti, jalan menuju sukses yang kita dambakan bakal jadi kenyataan indah.

Kamu rapopo? Aku juga rapopo. Jadi, mari teruskan langkah. Lanjutkan perjuangan. Indonesia maju dan berkarya, pasti bisa!