Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Pohon Kesukaranku

20.54

Alkisah, ada seorang tukang kayu yang baru saja mengakhiri hari pertama kerjanya. Hari yang bisa dikatakan sungguh melelahkan. Betapa tidak, ban kempes kendaraan kerjanya membuat dia kehilangan satu jam kerja. Belum  lagi, gergaji listriknya tiba-tiba tidak bisa digunakan. Dan sekarang, mobil truk tuanya tidak bisa dinyalakan. Akhirnya, rekannya mengantar pulang si tukang kayu. Sepanjang perjalanan, si tukang kayu hanya membisu.



Setibanya di tujuan, si tukang kayu mengundang rekannya untuk mampir sejenak. Saat mereka berjalan menuju pintu depan rumah, si tukang kayu menyempatkan diri mendekati sebuah pohon kecil. Ia menyentuhkan ujung dahan-dahannya dengan kedua tangannya. Lalu ketika membuka pintu, si tukang kayu itu langsung bertransformasi menjadi sosok yang sangat berbeda. Wajahnya yang berwarna kecokelatan diliputi senyuman lebar dan ia memeluk kedua anaknya yang masih kecil serta mengecup pipi sang istri.



Setelah itu, si tukang kayu mengantar rekannya ke mobilnya. Mereka kembali melewati pohon itu. Karena tak mampu menahan rasa penasarannya yang begitu besar, rekannya itu pun bertanya perihal apa yang dilakukan si tukang kayu sebelumnya.



“Oh, itu pohon kesukaranku,” jawab si tukang kayu. “Aku tahu aku akan selalu menghadapi kesukaran dan kesulitan di pekerjaanku, tapi satu hal yang pasti, semuanya itu tidak boleh muncul di rumah yang menjadi tempat tinggal istri dan anak-anakku. Jadilah, aku menggantungkan semua kesukaran itu di pohon ini setiap malam begitu aku pulang. Lalu di pagi harinya, aku akan mengambilnya kembali.”



Si tukang kayu terdiam sejenak. “Lucunya,” katanya sembari tersenyum, “ketika aku keluar rumah di pagi harinya untuk mengambil semua kesukaran itu, bebannya tidaklah seberat yang kuingat malam sebelumnya.”


Adakah yang melakukan hal serupa dengan si tukang kayu ini? Mungkin hanya ada segelintir dari kita yang menjawab “Ya”. Sebagian besar lainnya lebih sering mencampuradukkan urusan kerja atau bisnis dengan keluarga. Sering kali kita membawa pulang semua masalah kita di kantor atau di luar rumah, sehingga sering kali pula bukan situasi gembira dan menyenangkan yang tercipta di rumah.


Mari belajar untuk meninggalkan sejenak segala persoalan rumit kita di pekerjaan di suatu tempat sebelum kita melangkah masuk ke dalam rumah. Dengan cara demikian, keluarga kita akan tumbuh menjadi keluarga yang bahagia dan harmonis. Dan dijamin keesokan harinya, beban berat kita di hari sebelumnya akan terasa lebih ringan. Kita juga akan lebih dimampukan untuk menghadapi segala permasalahan yang menanti.

Cerpen - Akibat Susah Tidur

08.44


Mata Sally tak mau terpejam, dia sudah berusaha keras agar dia bisa tidur, maklum karena dia akan mempersentasikan hasil tugas sejarahnya yang sudah dia siapkan satu bulan yang lalu, selain itu dia juga tidur siang yang menyebabkan dia susah tidur pada malam hari nya. “Ayolah Mata, cepatan tidurnya, besok saya mau persentasi nih.” Kata Sally. Beruntungnya pada pukul 22:45 Sally pun mulai mengantuk dan tidur.

Di pagi harinya, Ibu membangunkan Sally. “Nak, bangun nak sudah jam enam pagi nih, buruan bangun, nanti terlambat ke sekolah loh”. Kata Ibu. “Nanti saja bu, Sally masih mengantuk nih, kasih lima menit aja yah buat memajamkan mata.” Jawab Saly Singkat. “Ya sudah, nanti lima menit lagi ibu akan membangunkan mu lagi, tapi langsung bangun, nanti ibu hukum.” Jawab Ibu juga.

Lima menit kemudian, Ibu kembali hendak ingin membangunkan Sally, akan tetapi saat masuk kamar Sally, ibu melihat Sally sedang asik main hpnya, lalu ibu menegur Sally agar dia mandi dahulu dan makan sarapan. “Nak, kamu ini, ayo cepat mandi dan makan sarapanmu biar nanti tidak terlambat sekolah.” Tegur Ibu. “Iya bu, Sally ke kamar mandi dulu.” Jawab Sally sambil ke kamar mandinya

Setelah mandi dan makan sarapannya, Sally pun meminta pamit kepada Ibu nya untuk ke sekolah. “Bu, Sally pergi ke skolah dulu yah!.” Kata Sally. “Iya nak, hati-hati saja di jalan, itu ojek sudah nunggu di depan, buruan ke sana gih.” Jawab Ibu Yang lagi menonton tv. “Oke bu, saya pergi dulu, ojek ojek ayo antari saya ke sekolah saya yah!.” Pungkas Sally, lalu beberapa menit kemudian Sally pun sampai di sekolah, dia masuk lewat pintu gerbang belakang, karena dia tidak ingin ada yang melihat hasil persentasinya sebelum pelajaran Sejarah dimulai, tetapi nasib sial menimpa Sally, karena dia masih sedikit mengantuk dan kehilangan keseimbangan, hasil persentasinya yaitu berupa miniatur Sepeda ontel terhempas kuat ke tanah. Sementara Sally pun ikut terjatuh di tanah. Tidak lama kemudian Ariel, teman sekelas Sally melihat Sally terjatuh, Ariel Pun langsung mendatangi dan membantu Sally, “Kamu tidak apa-apa kan Sal?”. Tanya Ariel. “Ya tidak apa Riel, Cuma sedikit lecet, tapi lihat miniaturku, rusak seratus persen!.” Jawab Sally dengan kesal. “Ya, tapi dirimu lebih berharga dari pada miniaturmu, kan masih bisa dibuat lagi nanti saaya bantu.” Tegas Ariel. “Owh, terima kasih ya Riel, kamu sudah membantu aku, coba kalau tadi saya tidak susah tidur, pasti kejadian ini tidak akan terjadi.” Sesal Sally. “Makanya, lain kali hati-hati donk dan juga tidur itu jangan lebih dari jam 10 malam, agar tubuh kita saat paginya bugar dan semangat.” Jawab Ariel, tetapi Sally hanya tersenyum dan langung bangkit, setelahnya Sally dan Ariel Ke Kelas mereka.

Saat Di Kelas, tepatnya pelajaran Sejarah, Bu Rina, guru sejarah menyuruh anak siswanya untuk mempersentasikan hasil tugas mereka. “Baiklah anak-anak, ibu ingin melihat persentasi kalian, sebelumnya ada yang mau dipertanyakan?. Tanya Bu Rina. “Iya bu, Sally mau nanya, hasil tugas Sally tadi hancur karena Sally tadi mengantuk dan kehilangan keseimbangan, gimana bu? bisakah minggu depan Sally mempersentasikannya?”. Jawab Sally. “Iya Bu, tadi saya membantu Sally yang jatuh dan saya meminta keringan dari ibu.” Sambung Ariel. “Jadi Begitu, Ibu tidak tau menau bahwa tugas itu harus hari ini sudah selesai!.” Tegas bu Rina. “Tapi bu, setiap malam saya susah tidurnya karena saya selalu tidur di siang hari.” Jawab Sally. “tidak, salah sendiri kenapa tidur siang, terkadang tidur siang itu membuat kita susah tidur di malam harinya, karena setiap hari kita hanya perlu istirahat minimal 8 Jam. Jadi tidak alasan, kalau kamu mau nilai, buatlah nama-nama tokoh penemu di dunia, harus lengkap dan tidak boleh salah.” Tegas bu Rina kembali. “hmm, ibu ini memang cerewet ya Riel”, bisik Sally ke Ariel, “huss, nggak boleh begitu bu Rina itu guru kita tau!.” jawab Ariel. “Ya Kamu nih nggak pihak ke aku, sebel deh” Kesal Sally.

Kemudian, Sally mengerjakan tugas yang diterimanya dengan jengkel, 30 menit kemudian, tugas itu selesai. Sally pun lega dan langsung membawnya ke ruangan bu Rina. “Bu, ini tugasnya, lengkap kan?.” Tanya Sally. “hmmm, sebenarnya ini masih ada beberapa yang kurang, kan tetapi ya sudah tidak apa-apa lah, mungkin nilai mu hanya tidak sama dengan teman mu yang mempersentasikan tugasnya tadi.” Jawab bu Rina tegas. “Oke bu, terima kasih saya pulang ke kelas saya ya!”. Kata Sally. Lalu Sally pun pulang kelasnya dan berjanji dalam hatinya bahwa dia akan berusaha agar tidak lagi susah dalam tidurnya.

Cerpen - First Love

20.12


“Ahaaha…” tawaku terheran-heran mendengar cerita Vira tentang pacar barunya yang ingusan dan ngompol ketika sd. “Vio… kamu kok malah nertawain sih…!” kesalnya. “eh Sorry-sorry habis cowokmu aneh sih…” kataku sambil mengusap air mata yang keluar akibat tertawa. “Waktu itu dia kan masih kecil jadi wajar lah dia punya kebiasaan kaya gitu” belanya. “cie… belain pacarnya ni ye…” ejekku. “Iya dong bebeb Rio gitu…!!” serunya.
“Vio…!” panggil seseorang kepadaku. Ternyata yang memanggilku adalah Bu Winda guru matematikaku. Aku segera datang kepadanya. “Ada apa bu?” tanyaku sopan. “Kamu tolong ambilkan ulangan-ulangan anak kelas X-13 di perpustakaan ya, lalu berikan saya. Saya ada di kelas X-8.” perintahnya. “OH Baik Bu” jawabku.
Aku segera menuju perpustakaan, ketika aku sedang melewati lapangan basket, terlihat Dimas sedang bermain basket. Entah mengapa aku tak dapat mengalihkan pandanganku terhadap Dimas. Namun tiba-tiba Dimas pun Menoleh ke arahku, aku segera memalingkan wajahku darinya. Jantungku berdebar cepat ketika dia memalingkan wajahnya ke arahku. Dengan langkah cepat aku segera menuju perpustakaan.
Setelah mengambil kertas ulangan, Aku segera memberikan kertas ulangan-ulangan X-13 kepada Bu Winda yang kebetulan sedang mengajar anak-anak X-8 kelas Dimas. “Permisi…” kataku. “Masuk…” jawab Bu Tun. “Aku segera masuk dan memberikan kertas ulangan-ulangan tersebut. Aku melihat sepintas Dimas yang sedang asik bercanda dengan teman sebangkunya. Entah mengapa aku kembali berdebar ketika melihat Dimas. Aku segera keluar dari kelas tersebut agar aku tak salah tingkah.
Aku segera kembali ke kelasku untuk kembali mengikuti pelajaran selanjutnya, yaitu Fisika. Di tengah-tengah Pelajaran, Kak Tia anak basket senior mengetuk pintu kelasku. “permisi pak… maaf sudah mengganggu… saya ingin memanggil Vio dan Reno.” katanya singkat. “Ada apa ya..?” Tanya Pak Hamzah. “Anak basket lagi kekurangan anggota untuk pertandingan bulan depan maka dari itu, mereka akan saya tambahkan ke dalam tim Pak… apakah boleh saya meminjam murid Bapak?” ijin Kak Tia. “Baiklah semoga kalian menang ya…” kata Pak Hamzah. “yo… moga-moga berhasil ya…!” seru Vira menyemangati. Aku hanya tersenyum membalas perkataan Vira. “Baik Pak.. kami permisi dulu ya Pak…!” seru Kak Tia. “Assalamualaikum..!” pamit kami. “Waalaikumsalam”
Kami dikumpulkan di kantor basket bersama anak basket yang lain. “Kak… kenapa aku yang dipilih…? aku gak bisa basket loh kak.” tanyaku pada kak Tia yang berada di sampingku sambil menunggu Pak Jono datang. “Aduh.. aku Cuma ikut perintah aja Dek..!” seru kak Tia. “Aduh kak… tapi…” kataku terpotong. “assalamualaikum…” salam Pak Jono. “waalaikumsalam”. “Tia.. sudah panggil Vio sama Reno untuk pertandingan bulan depan…?” tanya Pak pelatih. “sudah pak…” jawab Kak Tia. “Baiklah…” kata beliau terpotong. “assalamualaikum pak maaf terlambat” kata seseorang yang ternyata adalah Dimas. “Dim…” panggil Reno yang berada di sampingku. Dia pun menghampiri Reno dan duduk di antara aku dan Reno. Hatiku terasa deg-degan lagi ketika dia duduk di sampingku. Aku mencoba untuk tidak salah tingkah namun itu sangat sulit. Namun tidak lama setelah duduk di sampingku tiba-tiba dia bertanya kepadaku. “Halo.. kamu anak tambahan itu ya…?!” tanyanya penuh karisma. “A.. Iya… tapi aku gak seberapa mahir main basket.” kataku merendah. “Ohhh tapi kan kamu murid pilihan pak Jono ya pastinya kamu punya skill lah…!” katanya menyemangati. aku hanya dapat tersenyum mendengar kata-kata Dimas.
Setelah Pak Jono menjelaskan mekanisme pertandingan, setelah pulang sekolah kami langsung latihan basket tanpa Pak Jono karena beliau ada keperluan. Karena sudah lama tidak bermain basket aku menjadi kaku. Sehingga banyak teknik yang salah. “Vio… kamu gimana sih…!” kata Risa yang sepertinya jengkel terhadapku karena dia lebih mahir dibandingkanku. “Maaf…” kataku pasrah. Beberapa kali aku salah menggunakan teknik dan aku pun sering dimarahi oleh Risa.
Setelah latihan beberap kali aku memutuskan untuk istirahat sebentar.
“Uh bodoh…” kataku lirih setelah meneguk air minum yang segar. “apanya yang bodoh?” tanya seseorang yang mengagetkanku. aku menoleh ke arah orang tersebut dan dia ternyata adalah Dimas. Dia kemudian duduk di sebelahku. “Heehee aku yang bodoh…” jawabku lirih. “Kenapa kamu menganggap dirimu bodoh..?” tanyanya kepadaku. “Habis aku mau aja dipilih untuk ikut dalam pertandingan ini… aku kan udah lama gak main basket mankannya teknikku banyak yang salah.” jawabku lagi. “Ehm… kok nyalahin diri sendiri sih…? percuma kan kamu nyalahin diri sendiri toh ternyata gak ngerubah apa-apa!” serunya. “Iya sih… tapi…” kataku terpotong. “udah deh… latihan lagi yuk… nanti kuajarin deh…!” katanya menyenangkan sambil menarik tanganku ke lapangan. “eh…”
“Gini nih caranya…!” jelasnya kepadaku. aku memperhatikan cara yang dijelaskan Dimas. “Nih coba…” katanya sambil melempar bola basket tersebut yang tanpa sengaja mengenai kepalaku. “aduh” kataku kesakitan. “eh… kamu gak papa kan…?” tanyanya menghampiriku. “aduh sory aku gak sengaja melempar ke kepalamu.” katanya meminta maaf sambil mengelus lembut dahiku. “Gak papa kok.” kataku malu-malu. “kalau pusing mending udahan aja.” katanya peduli. “Enggak kok… aku gak pusing kita lanjutin latihannya yuk…!” seruku. kami berdua berlatih sambil penuh canda. Dalam hati aku berfikir apakah aku menyukai Dimas. Rasanya aku bahagia ketika aku di dekatnya. Tapi apakah dia juga menyukaiku..? tanyaku dalam hati.
Banyak anak yang sudah mengakhiri latihannya, namun aku dan Dimas belum pulang. “Gimana bisa kan…?” tanyanya. “iya makasih ya.. Eh ya udah sore nih udahan yuk…!” kataku. “Okey…” jawabnya. “Eh kamu naik apa..?” tanyanya kepadaku. “aku naek bemo…” jawabku. “tapi… kamu yakin… ini udah jam 5 loh?” tanyanya. “ayo kuantar aja… arahnya kan sama…” ajaknya. sejenak aku terdiam, bagaimana dia tau kalau aku searah dengannya tanyaku dalam hati. “gimana mau ndak…?” tawarnya lagi. “baiklah…”. Aku pun akhirnya dibonceng Dimas sampai rumah.
Sesampainya di rumah. “makasih ya…!” seruku. “ehm… iya…” katanya sedikit malu-malu. Sejenak kami terdiam dalam keheningan kami saling menatap dan tersenyum. “sampai jumpa besok..” kata kami bebarengan. Kami pun tertawa. “aku pulang dulu ya…!” katanya. “ehm iya hati-hati di jalan…!” kataku. Dia tersenyum membalas perkataanku. Setelah dia pergi aku pun kegirangan sendiri menuju kamar. “Kak gak papa kan…?” tanya adikku yang keheranan melihatku lompat–lompat kegirangan. “gak papa kok.” kataku sedikit malu. Di kamar, aku tersenyum sendiri ketika aku mengingat kejadian hari itu. “Ehm senangnya…!” seruku sambil memeluk boneka teddy bearku. “sepertinya aku sedang jatuh cinta…” seruku dalam hati.
Aku pun menceritakan kepada Vira tentang kejadian hari itu.
Hubunganku semakin dekat dengan Dimas setelah kejadian hari itu. kami selalu latihan dan latihan untuk menyiapkan pertandingan bulan depan.
Suatu hari, seminggu sebelum pertandingan. Pak Jono menyuruh kami untuk berlatih di luar sekolah. Dengan biaya sekolah dan dengan alasan refresing kami pun berlatih di DBL arena. Anak perempuan lebih dulu berlatih. Setelah latihan, kini giliran tim Laki-laki yang berlatih. Aku bersama Vira yang menemaniku latihan, melihat mereka latihan di bangku penonton. “go go Dimas…!!” histeris anak cewek yang merupakan fans dari Dimas. “Norak..!!” seru Vira lirih. “Hus… kalau denger gimana…?” seruku. “Biar aja… habis lebay banget sih…!!” balasnya “oh ya… Yo kenapa kamu tidak mengutarakan perasaanmu terhadap Dimas.. kamu suka kan ma Dimas?” tanya Vira kepadaku. “Ehm aku gak berani Vir” kataku. “tapi apa salahnya kamu ngungkapin perasaanmu terhadap Dimas…? nanti nyesel loh kalau gak kamu utarain” serunya. Aku terdiam mendengar kata-kata Vira.
Tiba-tiba di tengah latihan, Dimas pingsan. “Dimas…” teriak spontan beberapa anak yang melihat Dimas pingsan. Aku pun segera turun dari blangkon penonton dan menghampiri Dimas.d engan segera aku langsung memangkunya “Dimas…!” teriakku sambil menampar-nampar pipinya. Aku mencoba membangunkan Dimas, namun Dimas tidak sadar juga Aku mulai panik dan khawatir dengan keadaannya. “Tolong telfonin rumah sakit dong…” kataku cemas. Ketika Vira akan menelepon rumah sakit, Dimas tiba-tiba sadar dan langsung menggengam tanganku dengan erat, aku sedikit kaget karena hal itu, namun aku juga bersyukur. “mas… kamu gak papa kan..?” tanya Reno. Dia mengangguk dan tersenyum. “Sebaiknya kamu pulang aja ya…” kataku peduli. Akhirnya Dimas diantar pulang oleh Rio ke rumah dengan selamat.
Akhirnya pertandingan dimulai. Setelah melewati beberapa tahap pertandingan akhirnya, kami tim cewek menang dengan merebut juara ke 2, sedangkan tim cowok menjadi juara pertama. Setelah pemberian penghargaan, aku memutuskan untuk mengutarakan perasaanku terhadap. “Dimas..!” panggilku kepadanya. Dia pun menoleh ke arahku. “kenapa Yo…!” jawabnya sedikit pucat. “Kamu gak papa kan… kenapa wajahmu pucat…?” tanyaku sambil memperhatikan wajahnya. “Gak papa kok.” katanya sedikit aneh. “Dim… aku mau ngomong sama kamu… sebenernya aku suka sama kamu… sejak masuk sekolah ini.” kataku lirih. Dia hanya terdiam mendengar perkataanku. sejenak suasananya menjadi tegang. “Dim… ehm… e… aku gak perlu jawaban dari kamu aku Cuma pengen kamu tahu perasaanku aja…!” seruku dan segera pergi. namun ketika aku akan pergi, Dimas memanggilku. “Vio… maaf aku tak bisa menyukaimu.” katanya singkat sambil langsung pergi begitu saja. Aku terdiam mendengar pernyataan dari Dimas. Tak terasa air mataku mulai menetes dan semakin deras. “jadi selama ini dia…” kataku dalam hati.
Keesokan harinya, mungkin karena terus menangis mataku menjadi lebab. tiba di sekolah aku melihat beberapa anak perempuan menangis entah mengapa. Aku pun segera berlari menuju kelasku, dan disana kulihat Vira yang sedang termangun, aku segera menghampirinya. “Vir… ada apa sih kok pada nangis?” tanyaku lugu. Vira melihatku. “Vio… Dimas.. Meninggal” seru Vira yang membuatku kaget. Aku langsung tergeletak lemas tanpa tenaga mendengar kata Vira. Vira pun memelukku dengan erat. “Sabar ya Yo… ini surat dari Dimas yang ia tulis khusus buat kamu.” kata Vira sambil memberikan sepucuk surat berbungkus amplop berwarna pink.
Dari Dimas untuk Vio
Vio… mungkin ketika kamu membaca surat ini, aku tidak bisa berada di sisimu untuk selamanya. Di surat ini aku hanya ingin kamu tau bahwa sebenarnya aku juga menyukaimu semenjak aku bertemu kamu di sekolah ini. Rasa suka ini tak sempat dan tak mampu kuucapkan.
Maaf telah mengecewakanmu, aku memang tak pantas untukmu. penyakit yang kuderita membuatku semakin lemah, namun aku tak ingin kau tau bahwa aku sedang sakit. aku hanya ingin melindungimu di sisa hidupku ini.
Yo… maaf tadi aku telah melukai hatimu. mungkin aku yang bodoh karena gak jujur ke kamu dari awal. sekali lagi maafkan aku Vio… aku tak dapat melindungimu lagi. jangan sedihkan kepergianku. aku mohon kepadamu agar tak menangis lagi. Aku akan sedih jika kau menangis, aku akan bahagia jika kau juga bahagia…
terima kasih telah membuatku tersenyum di sisa hidupku ini. I LOVE YOU VIO..
Aku menangis tersedu-sedu membaca surat darinya. Vira mencoba untuk mnegarkanku. Aku hanya dapat memeluk sepucuk surat dari DImas yang telah meinggalkanku dalam kesendirian ini. “Semoga kau dapat hidup tenang di Alam sana”

Cerpen - CintaMu Bukan UntukKu

20.08
Ruang Aula sudah sesak dipenuhi oleh banyak siswa-siswi. Ya! Dimulai dari ruangan ini aku mempunyai sekolah baru. Aku sedang masa orientasi siswa, ya.. yang biasanya disingkat dengan MOS. Di awal sekolah baruku ini aku hanya sendiri. Karena memang sama sekali aku tak mempunyai teman dari sekolah asal ku.
Dan bodohnya lagi, aku sangat susah untuk akrab dengan orang yang baru ku kenal. Lantas? Aku harus apa? Menanyakan soal tentang apa yang harus dibawa pada MOS hari selanjutnya saja gelagapan. Tapi, untungnya, ada satu cewek yang tiba-tiba sok kenal dan sok dekat gitu deh.. dia memperkenalkan diri. sebut saja namanya Lubna.
Kupikir, di sekolah yang baru ini, aku benar-benar memang tidak bakal mempunyai teman. Tapi, Alhamdulillah.. Tuhan masih adil kan?
Kami selalu bersama sepanjang MOS tersebut. Sampai kami dipisahkan oleh kelas yang berbeda. “Lubna Putri Salsabila, kamu di kelas sepuluh satu ya,” Kata kakak kelas yang diakui bernama Satria tersebut. Haruskah aku berpisah? Tuhan, kenapa secepat itu kau memisahkan seorang teman yang baru saja akrab ini
“Claudy Syifatunisa, kamu di kelas sepuluh tiga.” Aku sedikit terkejut. Ku kira, aku dan Lubna akan terpisah hanya beda satu kelas. Tapi? Ternyata beda dua kelas. Sama artinya, kelas kita pasti berjauhan.
Setelah, pembagian kelas tersebut. Tugas terakhir di MOS ini adalah bersih-bersih daerah sekolah. Ada yang membersihkan kelas, ada yang memunguti sampah-sampah yang tergeletak di hamparan hijaunya rumput dekat lapangan. Ada yang mengabil juga sampah yang terlihat dekat aula. Dan sampai ada yang bersih-bersih ruangan-ruangan lainnya.
Untung saja, Aku dan Lubna kebagian sama. Kami kebagian membersihkan derah taman dekat lapangan tersebut. “Dy, walaupun kita tak sekelas. Tapi bersih-bersih ini kita akhirnya bareng juga ya.” Lubna tiba-tiba memecahkan keheningan saat aku dan dia sama-sama sudah habis bahan pembicaraan.
“Eh, iya, Na. Tapi kita tetap temanan kan? Ya.. walaupun dipisahkan kelas seperti itu.” Aku berbicara sedikit lesu. Ya, mungkin karena baru hanya dia yang ingin berteman denganku.
Aku. Yap! Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya seorang wanita yang tak mempunyai paras cantik nan anggun. Aku wanita kurus kering seperti tak pernah diisi gizi. Walaupun tinggi badanku sudah mencangkup wanita yang ideal. Tapi, aku bersyukur kepada sang Pencipta. Pasti, ada sesuatu dibalik badanku yang seperti ini. Ya, walaupun aku jelek. Tapi aku perempuan yang cerdas. Hobi ku yang sering baca buku ternyata membawakan sebuah hasil yang memuaskan untuk diriku. Apalagi dalam pelajaran Bahasa Indonesia dan Biologi. Alhamdulillah, ulangan pelajaran itu aku selalu mendapat 100. Hobiku ini tertular dari Ayah yang sering membacakan ataupun menceritakan tentang apa saja hal yang menarik. Ngomong-ngomong menarik, aku sangat suka sekali dengan hal yang seperti itu. Terlebih jika tentang artikel-artikel.
Selain parasku yang tak cantik ini. Aku juga bukan sosok orang yang berada. Ayah hanya seorang penjual tas. Dan Ibu hanya menganggur, mengurusi keluarga di rumah. Apalagi, adik sedang sakit. Entah penyakit apa yang diserangnya. Tapi kata Ibu, duit yang ia punya tak mencukupi untuk membayar pengobatan Adikku.
Adikku bernama Damar. Dia masih sekolah SD. Tapi, setelah ia mempunyai penyakit ini, ia sudah tak sekolah karena tubuhnya yang tak kuat apabila sinar matahari merasuki badannya itu. Aku jadi bingung sendiri… Tapi, pernah aku membaca buku. Manusia akan kuat jika terkena matahari. Tapi kok Damar? Entahlah, namanya juga penyakit.
“Hey! Kalau jalan lihat-lihat dong. Jangan sambil bercanda seperti itu.” Aku terkejut setelah mendengar perkataan seperti itu. Aku menoleh ke arah suara yang mengangetkan barusan. Oh. Ternyata dia. Ya! Dia kakak kelas yang sejak tadi diceritakan oleh Lubna. “Maaf, kak.” dengan sopan aku meminta maaf kepadanya. Dia agak sedikit terpesona. Ya! Tersepona. Tapi bukan dengan ku. Melainkan dengan Lubna. Wah, jangan jangan.
“Hey, kak! Sudah dimaafin kan? Kami duluan ya, kak!” Aku langsung menyeret Lubna untuk menjauh dari kakak itu. Kalau sudah seperti ini. Pasti ada sesuatu di antara dia dan kakak-kakak itu. “Fa, biasa aja dong nariknya. Gak bisa ngelihat orang seneng apa!” Dia memprotesi aku karena aku tadi menariknya dan menjauh dari kakak yang tak sengaja tertabrak dengan kami itu.
Kami sudah setahun berteman. Tidak ada pertengkaran di antara kami. Dan kalian tahu? Setiap kami bertemu dengan kakak yang disukai oleh Lubna pasti dia langsung menjerit fanatik. Ya. Lubna sangat suka sekali dengan kak Rendi. Seorang cowok yang pernah tertabrak oleh kami sewaktu dahulu dan memberikan pandangan pertama pada sosok Lubna.
Semakin hari aku juga lelah sih kalau terus-terusan mendengar cerita dari Lubna itu. Bayangkan setiap pagi, setiap kami nunggu angkutan umum jika kami ingin berangkat sekolah, dia hanya menceritakan tentang kak Rendi. Siapa yang tidak bosan?. Akhirnya, jika dia sedang ingin hanya membicarakan tentang Kak Rendi lagi, aku langsung memotongnya dengan pembicaraan lain. Entah itu menanyakan PR atau tugas lainnya. Biar tau rasa gimana rasanya di gituin!
Sampai suatu saat dia merasa kalau cerita yang ia lambungkan ke udara tersebut diacuhkan oleh ku. “Fa, lo kenapa sih? Setiap gue cerita gak pernah dengerin gue lagi?” Tanyanya. Akhirnya dia merasa juga. Kenapa bukan dari dahulu merasanya? Dasar orang yang tak pekaan! “Hah? Emang ya? Maaf deh, lagi lo cerita kak Rendi terus sih. Gue kan juga bosen..” Frontal ku. Maaf deh, Na. Bukan itu yang aku maksud. Hanya ingin memberitahumu kalau dunia tak sesempit cerita kamu dengan Kak Rendi.
Dia hanya diam. Tak menjawab pembicaraan ku lagi. Sampai kami sampai di sekolah. Dan waktu kami ingin pisah kelas aku jadi tak enak sudah berbicara se-Frontal seperti tadi. “Maafin gue ya, Na. Gak seharusnya gue ngomong gitu tadi,” Kataku gugup. Aku gugup, mungkin karena sudah menyakitkan hati sahabatku ini.
“Gak apa-apa kok. Gue yang salah. Sudah ya, nanti istirahat bareng..” Ucapnya sembari tersenyum. Tapi, itu bukan senyum yang pernah ia lengkungkan jika sedang senang. Melainkan itu senyum terpaksa. Benarkah ia sakit hati sudah dengan ucapan ku tadi? Pastilah!
“Fa, gue jadian sama Agung! Coba lo bayangin, tiba-tiba dia nembak gue semalem. Waktu kita lagi jalan,” Tiba-tiba datang ke rumah ku tanpa mengucapkan salam. Tanpa mengetuk pintu. Tanpa melihat adakah orang di rumahku. Ya seperti biasa. Dia yang selalu rutin menghampiri rumahku sebelum kami berangkat sekolah. Mentang-mentang di rumah Ayah sama Ibu sedang ke rumah sakit. Uh! “Whaaa.. selamat ya. PJ dong..” Aku meminta traktir darinya. Selamat deh, Na. mungkin cerita tentang Kak Rendi akan punah. Oh god! Memang cerita Ka Rendi bakalan punah. Tapi pasti cerita tentang Agung akan mengudara di mulut kamu. Huuuh!
Untungnya, perkiraan ku salah. Dia jarang menceritakan tentang Agung. Ya. Walau masih cerita sedikit demi sedikit, yang jelas tidak seperti menceritakan tentang Kak Rendi.
“Fa, kenal sama yang namanya Dwiqi?” tanyanya. Dwiqi? Oh. Dia teman semasa kecil ku. Dan sekarang kami satu sekolah yang sama. Tetap, walaupun dia beda kelas dengan ku. “Kenal. Kenapa emang?” aku bertanya kembali.
“Dia ganggu gue mulu tuh. SMS-in gue mulu lagi. Norak banget caranya.” Hahaha. Aku hanya tertawa mendengar opininya tersebut. Dwiqi? Cowok kecil tapi manis. Memang sewaktu SD dia terkenal dengan kepintarannya. Tapi, aku dengar-dengar akhir-akhir nilainya selalu turun. Entah karena pengaruh apa? Aku pun tidak tahu. “Mana sini gue minta nomornya?” entah dari setan mana, aku meminta nomornya pada Lubna. Mungkin sekedar ingin mengerjai balik.
Malamnya, aku mengirimkan sebuah SMS kosong kepadanya. Lalu dia menjawab. “Siapa nih?” Akhirnya aku terus menjawab dan menjawab dan menjawab. Ternyata ketahuan siapa aku. Dan kami menjadi sahabat hingga sekarang. Dan sampai suatu saat, dia bilang kalau dia suka dengan Lubna. Aku sudah tahu dari awal. Pasti alasan dia mengodai Lubna pada jam-jam yang sedang dilalui bersama dengan Agung karena dia ingin mereka putus terlebih dahulu. Lalu Dwiqi menyatakan perasaannya. “Ya udah, tembak lah.” Ucapku asal saat dia menelepon ku malam-malam. Waktu itu sudah pukul 1 pagi. Waktu yang sangat larut bukan? Aku bisa tidur selarut itu karena Dwiqi. Entah jadi kebiasaan atau memang keasyikan berbicara lewat telepon dengannya.
Hari demi hari ku lewati, bulan bertemu bulan ku jalani, dan sudah 1 tahun aku bersamanya. Aku jadi terlarut dengan perasaan ini. Aku terlarut saat dia perhatian denganku. Aku terlarut saat dia tersenyum manis kepadaku. Ya. Aku suka dengannya. Tapi, aku tak pernah menceritakan semua tentang ini kepada Lubna. Untuk apa? Dia sudah sibuk dengan Agung sang kekasih. Mungkin bisa dibilang, dia sudah lupa denganku. Bahkan di sekolah pun, kami jarang bertemu.
Sampai suatu saat, dia merasa ada yang janggal atau apa. Dia bisa-bisanya bilang begini, “Lo perhatian banget sama gue, Fa? Lo suka ya sama gue?” Dengan suara sedikit lembut namun agak serak dia berbicara seperti itu. Dan bodohnya. Padahal itu sebuah kesempatan, tapi aku malah mengumpatnya dengan rada malu bercampur kaget. “Hah? Engg..gak salah? Iyuh banget gue suka sama lo!” Seruku agak meninggikan kan ‘Gak salah?’
Tuhan, bodoh sekali aku. Kenapa sih? Ego ini. Gengsi ini. Ini yang membuat semuanya menjadi hancur berantakan. Seharusnya jika aku jujur, akan menjadi indah. Apakah ini sebuah teguran darimu, agar aku menjauh darinya? Agar aku tak sakit hati lagi? Haaaah!
Akhirnya, tiba-tiba hubungan kami tidak membaik. Dia sudah jarang menelepon ku saat malam-malam biasanya. Dia hanya sekali-dua kali SMS ku, hanya untuk menanyakan hal yang tidak penting. Dan sampai pada akhirnya, semuanya hilang saat terakhir kali dia mengataiku dengan sebutan ‘hewan’ yang sangat tidak sopan dilakukan oleh seorang laki-laki kepada perempuan. Dia mengataiku memang tidak langsung, melainkan lewat SMS.
Tuhan, bunuh aku sekarang! Sakit sekali tiba-tiba dapat SMS dari orang yang kita sayangi seperti itu. Salah apa aku? Setahuku, aku tak pernah ngapa-ngapain dengannya. Aku tidak pernah menceritakan kalau aku suka dengannya pada orang lain.
Sudahlah! Memang dari awal tak seharusnya aku mengenal dia. Tak seharusnya aku dekat dengan dia jika hanya ini yang aku dapatkan. Sakit hati sekali. Ini melebihi sakitnya, saat aku tahu bahwa Damar, adikku koma di rumah sakit. Perih sekali.
Sudah 2 tahun aku masih memendam perasaan ini. Tak mengharapkan apa-apa sebenarnya, mungkin hanya membuang waktuku saja, untuk orang yang tak sepenting dia. Tapi, kalau sudah sayang? Haaah! Hanya membuat sesak jika mengingat itu.
Ini sudah tahun ke-3 aku memendam rasa kepadanya. Ya! Selama ini hanya dia seorang laki-laki di hidupku selain Ayah. Setiap teman yang lain menceritakan cowok baru atau entahlah selingkuhan atau apapun itu. Aku hanya menceritakan dia. Hanya dia tak ada yang lain. Tanpa ku beri tahu namanya kepada teman-temanku.
Coba bayangkan? 3 tahun bukankah waktu yang sangat lama? Kalau seorang bayi saja sudah bisa berlari-lari kencang. Ya. Sama seperti dia, sudah berlari-lari di pikiranku.
Tapi aku baru menyadari kembali. Temanku. Teman beda kelas tepatnya. Namanya Ami. Dia bilang kepadaku begini, “Fa, lo kenal Dwiqi? Dia bilang sadis banget tadi. Dia bilang katanya lo jangan ngaku-ngaku sebagai mantan dia! Dia gak suka sama cewek kayak lo. Jelek aja belagu.”
Tuhan! Aku ingin mengakhiri hidupku sekarang juga. Akhirnya, pada jam pelajaran Bu Radji guru Bahasa Indonesia aku menangis. Menangis yang hanya mengeluarkan air mata tanpa suara apapun. Aku terdiam dengan tatapan yang sangat kosong. Aku baru menyadari karena hal itu dia menjauh dari ku. Sesak sekali rasanya di fitnah oleh orang yang aku bangga-banggakan secara tidak langsung seperti itu. Mantan? Jangankan bilang mantan, aku bilang suka sekali sama kamu saja tidak ada yang tahu!
Kok kamu jahat banget sih? Kenapa? Oh. Mungkin memang aku bukan seleramu. Mungkin semua yang ada di diriku bukan pilihanmu. Oke. Aku terima, aku bakalan menjauh darimu. Lihat saja! Aku akan temukan yang terbaik dari mu. Sombong sekali mentang-mentang sekarang menjadi idola cewek-cewek di sekolah.
Akhirnya aku memutuskan. Memutuskan untuk menjauh darinya. Memutuskan untuk berlari ke ujung dunia. Memutuskan untuk mengakhiri perasaan ini. Terima kasih untuk semua yang kau berikan tentang arti bertahan karena yakinnya cintaku padamu, tapi hanya kau lukai perasaanku ini. Yang jelas, aku belajar arti bertahan darimu.
Jujur cinta itu memang membutuhkan waktu untuk tetap hidup. Dan sayangnya waktu itu tidak untuk aku dan kamu.

Tak Ada Yang Berubah Meski Sayap Telah Patah

19.25

“ma… kaca mata aku dimana?” Icha menggeledah tasnya yang ada di ruang tamu.
“ini sayang.. tadi mama lihat kacamata kamu kotor, jadi mama bersihin” jawab mamanya dengan sangat lembut.
“oh, makasih ya ma.. ya udah aku kuliah dulu ya ma.. Assalamuallaikum”
“Wa’allaikumussalam, hati-hati sayang”
Dengan motor vespa pemberian kakenya Icha bergegas ke kampus, jalan yang biasanya padat merayap kini tampak lancar karena hari masih cukup pagi. Icha memang sengaja berangkat lebih awal karena ia janjian sama Yoga, Icha meminta Yoga untuk menjelaskan materi yang kurang ia kuasai. Yoga adalah teman Icha sejak SMA, kini mereka kuliah di universitas yang sama namun beda jurusan.
“kemana aja sih cha.. lihat.. ini udah jam berapa..!” tanya Yoga tampak kesal.
“ya maaf Ga.. sepuluh menit aja kok..”
“ya udah, cepet.. setengah jam lagi aku harus ketemu sama dosen..”
“ya udah… sabar kek.. ni.. yang ini.. aku enggak ngerti” menunjuk kepada suatu halaman.
“…..” Yoga menjelaskan satu per satu hal yang ada di halaman itu.
Icha tak sepenuhnya fokus pada penjelasan Yoga, sesekali ia melihat ke arah Yoga, entah apa yang ia pikirkan.
“udah ngerti?” tanya Yoga.
“…” Icha tak menjawab dan hanya diam memperhatikan Yoga.
“cha!” tegur Yoga sedikit menekan.
“ah? Apa?”
“udah ngerti?”
“belum..”
“ya ampun cha.. dari tadi satu persatu aku jelasin tapi kamu enggak ngerti? Kebiasaan kamu cha.. ya udah.. nanti aku jelasin lagi.. sekarang aku harus nemuin dosen dulu” Yoga pun berlalu ninggalin Icha yang tersenyum manis di belakangnya.
Di kelasnya Icha sudah ditunggu Riki dan Safli untuk latihan gitar bareng. Dengan gitar pinjaman Riki.. Icha memainkan sebuah lagu yang indah, lagu ciptaannya sendiri. Baru setengah lagu, Yoga lewat depan kelas Icha dan mendengar suara Icha yang merdu, ia terdiam di pintu kelas Icha dan tak sadar jika teman-teman Icha memperhatikannya.
“Yoga…!” seru beberapa cewek dari luar kelas.
Yoga ngartis di sekolah, selain baik dan pintar dia juga ganteng (aw), tak sedikit gadis yang klepek-klepek dan histeris saat melihat Yoga. Sadar akan kehadiran Yoga yang disambut cewek-cewek cantik Icha pun memandangnya dan terus memainkan lagunya.
“cha, lo enggak cemburu gitu?” Safli memegang bahu Icha.
“cemburu? Untuk?” Icha meletakan gitar di lantai.
“ya lo kan deket sama Yoga..”
“gue sama Yoga Cuma temen” jawab Icha sambil tersenyum.
“Cha..!” Yoga berusaha memanggil Icha walau cewek-cewek itu menghalanginya.
“Cha, tu dipanggil Yoga..” bisik Riki.
“apaan, salah denger kali” jawab Icha malas.
Melihat Icha begitu cuek kepadanya, Yoga pun pergi meninggalkan cewek-cewek itu dan kembali ke kelasnya. Sepanjang jalan menuju kelasnya, tak henti-hentinya para cewek memandangnya kagum.
Diparkiran..
Di bawah pohon Yoga duduk di atas motornya, sudah satu jam ia menunggu Icha. Tak lama kemudian ia lihat Icha mulai mendekati vespanya, “Icha..!” ia berteriak memanggil Icha. Tak seperti biasanya Icha selalu riang ketika mendekati Yoga, kali ini ia berjalan lesu dan lambat.
“apa?” tanyanya lirih.
“kamu kenapa sih? Gitu banget”
“gak apa-apa”
“kata salah satu akun twitter.. ketika cewek bilang ga apa-apa itu berarti ada apa-apa”
“sok tahu”
“jutek banget sih”
“biarin”
“Icha… ya udah.. aku mau ngomong..”
“silahkan”
“Cha, aku suka sama kamu.. aku sayang sama kamu.. aku tahu kamu juga sayang kan sama aku.. eeemmn.. would you like to be mine?”
“Yoga? Kamu bercanda..?”
“ada saatnya aku bercanda.. tapi ada saatnya aku serius! Cha..?”
Dengan malu-malu Icha menganggukan kepalanya, Yoga pun tersenyum lebar dan terus memandang Icha dengan wajah yang memerah. Tak mampu menahan gugup yang luar biasa, Icha pun segera menunggangi vespanya dan meninggalkan Yoga.
Bulan demi bulan mereka lewati bersama, fans Yoga tak percaya akan hubungan Yoga dengan Icha. Beberapa dari mereka membenci Icha bahkan menerornya, tapi tanpa lelah Yoga terus meyakinkan Icha.
Dewi, teman Yoga selalu dihantui rasa iri dan cemburu setiap melihat kedekatan Yoga dengan Icha. Seribu cara ia pikirkan untuk memisahkan mereka.
“Cha.. lo itu apain Yoga sih? Lo pelet Yoga ya?! Lo itu enggak ada apa-apanya kalau dibandingin sama gue! Yoga enggak pantes buat lo! Pantesnya sama gue!” bentak Dewi kepada Icha di sebuah lorong kampus tapi Icha hanya bisa diam.
Yoga yang tak sengaja melihat Icha dan Dewi segera menghampiri mereka dengan wajah santai. Yoga menggandeng Icha dan menatap sinis Dewi, itu membuat Dewi semakin membenci Icha.
“Kata Dewi aku enggak pantes untuk kamu Ga.. bener dia..” Icha mulai menangis.
“kamu jangan dengerin dia! Kamu tahukan dia itu gimana orangnya.. udah, setetes air mata kamu jauh lebih berharga dari sebutir mutiara.. jangan dibuang-buang..” Yoga berusaha meyakinkan Icha.
Yoga menggenggam tangan Icha yan gemetaran karena takut jika Dewi akan menyakitinya. Yoga berpikir apa yang harus ia lakukan agar Icha tersenyum lagi, satu ide manis melintas di pikirannya.
“Cha, aku punya permainan..”
“apa?”
“dah lama kan kita enggak main engklek.. main yu.. eh tu ada tukang balon..”
“kamu mau beli balon?”
“iya, ni ada 2 balon.. yang kalah harus joget segila-gilanya ok? Kamu pasti kalah”
“ok, siapa takut..? PD banget. Terus balonnya untuk apa?”
“balon ini untuk ngirim surat ke angin”
Mereka main engklek di taman, taman itu memang mempunyai satu lokasi yang biasa digunakan untuk refresing. Mereka tertawa dan terus bercanda, walau di taman ada beberapa orang namun tiada yang memperhatikan mereka. Dari jauh Dewi memperhatikan mereka dengan rasa benci yang mendalam.
“HAHAHA akhirnya aku juga yang menang… aku bilang apa.. ni kamu tulis apa kek terserah terus kita terbangin bareng ya..”
Setelah mereka berdua menulis suratnya, secara bersama-sama mereka melepas balon-balon itu. Yoga melihat senyum Icha yang selalu membuatnya merasa nyaman dalam keadaan apapun.
“ya udah yang kalah joget donk..” suruh Yoga.
‘hah! Jadi beneran joget?!” tanya Icha kaget.
“ya iya donk…”
“hih… malu-maluin..”
“siapa suruh kalah.. wleeek”
Setelah mengumpulkan sejuta keberanian dan menutup rasa malunya, Icha harlem shake an di tengah taman. Orang-orang yang ada di taman tertawa keheranan melihat Icha. Tapi tiba-tiba “AW” kakinya terkilir, Yoga dengan sigap memegangnya agar tak jatuh.
“sakit..” rintih Icha.
“ya udah.. sini aku gendong.. hati-hati” Yoga mulai menggendong Icha.
Hari ini Icha memang ke kampus bareng Yoga karena vespanya mogok, padahal rumah mereka lumayan berjauhan. Sesampainya di rumah, Yoga memijat kaki Icha dan kemudian Icha merasa kakinya jadi lebih baik walau masih sakit. Karena sudah sore Yoga pun pamit pulang.
Hari ini hari 16 Agustus 2013, hari jadi Icha dan Yoga yang ke satu tahun. Yoga berencana mengajak Icha jalan ke luar. Dengan kemeja kotak-kotak Yoga menjemput Icha, setelah menunggu beberapa lama kemudian Icha keluar dengan jilbab merah mudan dan gaunnya.
Mereka pergi ke tempat wisata air terjun, Dewi yang mengetahui kepergian mereka terus membuntuti mereka. Di pinggir air terjun bagian atas Icha dan Yoga berlagak seperti satu adegan di film Titanic, dimana kedua pemeran utama melentangkan tangannya. Kecemburuan Dewi semakin mempuncak, ia mempunyai satu ide jahat, ia berniat melukai Icha.
Dengan penampilan yang berbeda tentu membuat Yoga dan Icha tak menyadari kehadiran Dewi. Ketika Yoga dan Icha melepaskan tangan mereka tiba-tiba Dewi dengan sengaja menabrak Icha. Secara reflek Yoga menarik Icha namun ia terpeleset dan akhirnya jatuh ke pinggir air terjun.
“Yoga…!!!” teriak Icha.
Dewi sangat ketakutan ketika ia tahu bahwa yang jatuh itu Yoga, lelaki yang ia cinta, dengan rasa bersalah Dewi melarikan diri sedangkan Icha segera menghampiri Yoga yang sudah dikerumuni banyak orang.
Suara ambulan mengiringi tangisan Icha melihat Yoga yang tak sadarkan diri, tangannya bergetar kencan. Setibanya di rumah sakit ia terus menangis di depan pintu UGD.
“tante.. Yoga jatuh tante..” dengan tersedu-sedu Icha memberanikan diri untuk menghubungi ibu Yoga.
Tak lama kemudian keluarga Yoga berdatangan begitu juga dengan Riki dan Safli, Icha tak berhenti menangis. Karena waktu sudah menunjukan pukul 15.10 Icha pun bergegas ke mushola bersama Riki dan Safli, dengan sangat khusuk dan air mata yang tak kunjung mengalir ia memohon agar Allah menyelamatkan Yoga.
Semalaman Icha berdiam diri di ruang tunggu bersama keluarga Yoga yang hanya diam berulang kali Icha berusaha bertanya kepada keluarga Yoga tapi tak satu pun jawaban ia dapatkan. Tak lama kemudian di atas tempat tidur ia melihat Yoga yang belum sadarkan diri, ia merasa ada yang aneh dengan Yoga.
Keesokan hari..
Ibu Yoga tak mengizinkan Icha membuka selimut tebal yang menutupi tubuh Yoga dengan alasan takut Yoga kedinginan. Tak lama kemudian mama Icha datang dengan membawakan pakaian bersih untuk Icha. Setelah membersihkan diri Icha kembali menemani Yoga, tak lama kemudian Yoga mulai membuka matanya, kata yang pertama ia sebutkan adalah nama “Icha”.
Dengan sangat bahagia Icha mengelus-elus rambut Yoga, semua yang menemaninya terdiam tanpa suara. Hingga Yoga merasa ada yang aneh pada dirinya.
“kok kaki kanan sama tangan kanan aku gak bisa gerak sih..?” Yoga bertanya-tanya.
“kenapa Ga? Coba aku lihat..”
Dengan penuh kasih sayang Icha membuka sebagian selimut tebal yang menutupi tubuh Yoga, betapa terkejutnya ia ketika melihat tangan kanan Yog ayang ternyata diamputasi. Ia segera melanjutkan ke arah kaki, air matanya semakin menderas melihat kaki kanan Yoga yang juga telah tiada. Yoga yang belum bisa menerima semua itu terus menangis, semua yang ada di kamar terus menangis melihat Yoga, tapi dengan ketegarannya Icha menyerahkan bahunya untuk Yoga menangis.
Minggu demi minggu berlalu, Yoga belum mau berkata banyak, ia lebih sering menangis dan berdiam diri. Dewi yang mendengar kabar itu langsung datang ke rumah Yoga, betapa terkejutnya ia ketika melihat Yoga terduduk di kursi roda ditemani Icha. Dewi merasa bersalah tapi ia tak sanggup mengatakan yang sesungguhnya, ia pun pergi entah kemana.
Setiap pulang dari kampus Icha selalu menyempatkan diri untuk menemani Yoga. Berkali-kali ia memencet bell tapi tak ada yang membuka pintu, terpaksa ia lompat pagar belakang karena melihat pintu dapur tidak ditutup.
“Yoga..?”
Tiba-tiba ia mendengar suara air dan suara tangisan, ia segera lari ke arah kamar mandi. Betapa terkejutnya Icha ketika melihat Yoga tergeletak di lantai kamar mandi dengan air shower panas yang membasahi Yoga, sepertinya Yoga terpeleset beberapa kali. Icha memapah Yoga dan mengganti pakaian luarnya, ia melihat kulit Yoga menjadi kemerahan karena tersiram air panas. Dengan lembut Icha mengobati Yoga yang pura-pura menahan sakit.
“aku gak bisa apa-apa.. aku hanya bisa nyusahin orang lain aja” kata Yoga lirih.
“kamu ngomong apa sih!”
“seharusnya kemarin aku mati aja, biar enggak nyusahin orang terus”
“Yoga! Allah masih sayang sama kamu.. ini semua kecelakaan, kamu harus buktikan kalau kamu kuat”
“aku enggak sanggup cah.. pasti sebentar lagi kamu juga akan ninggalin aku”
“Yoga! Alu gak suka kamu ngomong gitu.. kalau kamu ngomong gitu sama aja kamu ngeraguin aku dan aku benci diraguin! Kalau kamu enggak kuat biar kaki dan tangan aku jadi kaki dan tangan kamu.. Insya Allah aku gak akan ninggalin kamu..”
Yoga pun menangis dalam rangkulan Icha. Dalam hatinya ia sangat ketakutan bila Icha meninggalkannya tapi ia juga tak mau mempertaruhkan masa depan Icha, yang ia tahu ia sangat mencintai Icha.
Setiap hari Icha menghibur Yoga, ketika Yoga hendak berdiri ia ingat saat Yoga menggongnya.. Icha pun terus memapah Yoga kemana-mana ketika Yoga lelah terus terdiam di kursi roda. Keluarga Yoga terharu melihat Icha yang tak meninggalkan Yoga dengan keadaan seperti itu. Suatu sore ibu Yoga berbincang dengan Icha, ia memberikan sebuah bingkisan yang katanya dari Yoga.
Setelah ia membuka bingkisan itu ternyata isinya adalah lampu proyektor bintang dan sepucuk surat dari Yoga. Membaca kalimat demi kalimat dari surat itu membuat Icha terharu dan menangis bangga memiliki Yoga. Semakin hari cintanya semakin besar walau ia tahu keadaan Yoga sekarang.
Suatu hari teman-teman Yoga datang berkunjung, betapa kagetnya mereka melihat Yoga bisa tersenyum dengan keadaannya yang seperti sekarang. Ketika ditanya “apa alasanmu untuk tersenyum saat ini?” ia menjawab “aku punya Allah.. aku punya keluarga.. aku punya teman.. aku punya Icha.. mereka lebih dari sekedar kaki dan tangan”, teman-temannya pun terharu dan memeluknya erat-erat.
Karena waktu sudah menunjukan pukul 12.30 mereka bergegas mengambil air wudhu dan sholat dzuhur berjama’ah. Walau tak menjadi imam tapi Yoga tetap bersemangat dengan kursi rodanya di syof pertama di belakang imam.
Walau kehilangan tangan dan kakinya tapi ia tak kehilangan cinta dari orang-orang yang ada di sekitarnya, walau kehilangan fans-fansnya tapi ia tahu fans itu bernilai nol. Dengan tulus hati Icha terus mendampingi Yoga, walau orang tuanya selalu menyuruhnya meninggalkan Yoga tapi keteguhan hati dan cintanya membuat ia bertahan.
Kini Yoga dan Icha sering berduet di acara pernikahan dan acara penting lainnya. Orang yang mendengar suara mereka dan melihat cinta mereka terharu, beberapa di antara mereka merasa malu dengan kesetiaan Icha. Sedangkan Dewi kini ia tak pernah kelihatan lagi, entah kemana perginya ia tak ada yang tahu. Dan seperti janjinya, Icha tak meninggalkan Yoga sendirian.

Cinta Tapi Beda

19.23

Dua orang sahabat. Perempuan dan laki-laki saling menyayangi. Mereka berdua banyak perbedaan, namun mereka lah yang bisa menutupi perbedaan itu satu sama lain. Mungkin keyakinan mereka membisikan napas-napas cinta persahabatan. Yang membuat kedua senyuman indah mereka berpadu menjadi satu jalinan kasih sayang, namun tak ubahnya seperti dua persahabatan. Dua hati di antara mereka saling mengerti, memahami dan mengajarkan kasih sayang dengan lembut. Lidia dan Kevin.
Bertemu di suatu surau tepat saat tanggal 25 Desember 2003. Saat perayaan hari Natal bagi umat beragama kristen, tak terkecuali Kevin dan para sahabatnya menikmati keyakinan dan perayaan yang indah hari itu, sejuk sesejuk jiwa yang bermetamorfosa dengan indahnya bunga melati atau yang lain di sekitar surau dekat gerejanya. Sejak saat itu terjalin ikatan persahabatan antara Lidia dan Kevin. Mereka mulai bermain bersama, bersepeda, bahkan jika satu tetesan terlihat di antara satu sahabat, akan ada yang melengkapi dengan senyum. Senyum seorang sahabat yang sejati, yang tak pernah lelah mengajarkan kebaikan dan ketabahan hati saat semua orang menjauhi meskipun diri sahabatnya itu salah sekalipun. selalu bersama. Tak heran bila mereka di katakan seperti orang berpacaran.. iya lebih tepat jika sepasang saudara, maklumlah kebersamaan itu sejak mereka berumur 6 tahun, sudah 9 tahun sekarang. Selalu sama, selalu terjadi kenangan-kenangan sederhaana canda tawa atau permainan layangan yang dulu mereka mainkan.
“Li ingat waktu kecil kita bermain seperti ini?”
“jangan ngaco Kev kalau ngomong, kaya baru aja kita sahabatan haha”
Saat ini Lidia mendidik otak nya, mengasah dirinya di SMP 3 Kenanga Raya, sedangkan Kevin bersekolah di SMP Citra Raya. Meskipun adat dan keyakinan yang berbeda, mereka selalu yakin jika salah seorang dari mereka tidak mungkin meninggalkan persahabatan walaupun tidak ada persamaan adat. Merekalah yang akan menyampaikan lentera persahabatan yang sejati, sehingga mereka merasakan betapa mulianya kisah mereka dengan perbedaan yang abadi.
Suatu hari, mereka janji pulang sekolah bersama. Kevin menunggu Lidia di depan sekolah, rencananya mereka mau pergi ke kantin sekedar minum air fanta. Di situ ternyata Lidia bertemu dengan teman-temannya, lalu dia bergabung dan mengajak Kevin berkenalan. Lidia memang agak tomboy, seperti tidak berkesan sebagai seorang wanita, keindahan tubuhnya saja terlihat, itu pun teramat sayang bagi Tuhannya yang melihat. sikap nya saja saat sedang minum waktu itu kurang sopan. Celana dalam Lidia terlihat dan Kevin juga sempat melihatnya sekilas. Dengan perasaan geli, Kevin berdehem dan berkata
“em… siapa ya yang celana dalamnya keliatan, warna merah lagi.. wow… hehehehe”. Spontan saja Lidia kaget dan menyadari bahwa dirinya yang dimaksud Kevin. Lidia menyeret Kevin keluar kantin sekolah dan berkata
“Kamu nih apa-apaan sih vin! gak tau perasaan orang banget! gue tuh malu!”.
“Maaf Lidia sayang, aku kan bercanda, lagian kamu juga gak tau sopan santun banget! Cewek harusnya feminim dikit kenapa, keindahan kamu bukan diliat dari cantiknya kamu berdandan atau cara berpakaian yang gak nutup aurat. Bunda kamu sendiri kan pernah bilang itu, aku aja gak lupa?”.
Lidia sedikit mengerti apa yang Kevin maksud, dia terdiam, terlintas di benaknya merangkum beberapa kata yang agung didengarnya.
“makna yang kamu katakan akan aku indahkan kok, aku udah salah. Maaf ya sayang? kita pulang yuk!” sambil menggandeng tangan Kevin.
“Li ntar gue main ke rumah lo boleh? Tante mau mbikin kue katanya?”
“Iya main aja. Aku ngerasa sepi kalau kamu pergi”
Sungguh tatapan Kevin setelah Lidia mengatakan itu terasa berbeda.
Sore harinya, Kevin mengajak Llidia untuk bersantai di taman dekat rumah sambil makan kue.
“Vin?”
“hem?”
“gitu amat, ngliat aku kek kalau lagi ngomong, aku kan gak suka dicuekin sama kamu”
“hem”
“gak peka!”
Beberapa menit Lidia mendiamkan sahabatnya itu, perutnya terasa geli dari belakang, Kevin pasti sengaja nih, pikirnya. Lidia bangkit lalu berlari mengkuti alur bumi memutar taman dan Kevin mengejarnya. Sungguh itu mengingatkan peri kecil yang dulu saling bercanda tawa dengan pangerannya. Enam tahun yang lalu.
Setelah agak lama bermain kejar-kejaran, Kevin mengajak Lidia ngobrol di taman itu.
“Li? Lo diem aja? Aku barusan salah?”.
“Cape doang, cubitan kamu keras banget tadi, sakit Vin”
“Iya, kok kamu pake baju kayak gitu sih? gak biasanya mamerin aurat. Kamu lebih indah berjilbab. Aku mengingatkan kamu dalam kebaikan, itu petunjuk Tuhan mu kan? Kamu lupa lagi kata bunda?”. Kata Kevin menatap mata sahabat kecilnya.
“Eh em cuacanya panas banget”
“Sepanas apapun juga aku bakal bikin kamu nyaman, tapi kamu jangan gini lagi ya? Janji?”
Ya Tuhan, ini belaian Kevin? Jangan putuskan cinta persaudaraan kita, aku tak ingin telapak tangan yang kekar ini berhenti membelai dan memelukku dengan lembut. Biarlah setiap jengkalnya senantiasa menawarkan keindahan.
Hari terus berlanjut, lentera mentari siang itu mungkin agak membakar keluhan orang-orang yang merasakannya. Sehingga mereka hanya bersantai menunggu senja menampakan diri untuk beradu dengan wajah sang malam.
Waktu menunjukan pukul 01.00 siang. Lidia merasa sangat pusing, dia tidak bisa menemani Kevin les basket di tempat Pak Dian. Jadi dia menemui Kevin di sekolah untuk ijin pulang dulu. Waktu sedang ngobrol sebentar dengan Kevin, tiba-tiba ada tetesan darah dari hidung Lidia.
“Iya Vin jadi aku kesini mau…”
“Memperlihatkan tetasan darah itu keluar dari hidung mungil kamu?” Kevin merasa dibohongi. Dia khawatir, dia kaget, dia merasa dinomer duakan tentang kepercayaan Lidia kepadanya.
Lidia sudah khawatir, jangan-jangan penyakit nakal ini akan memperlihatkan kebesarannya mengganggu kehidupanku di depan sahabatku sendiri. Sejenak mengamati, Kevin membersihkan darah yang terus bertambah banyak dari hidungku, terasa sangat lembut sentuhan kapasnya.
“mengapa Lidia tidak pernah bercerita tentang penyakitnya. Mengapa dia tega merahasiakan ini pada sahabtnya sendiri” Itu percakapan Kevin dengan mata hatinya.
“Jadi apa yang kamu sembunyikan dariku?”
“Hanya pusing”
“Pusing memikirkanku? Makanya kamu gak pernah cerita sama aku?”
“Enggak tapi aku gak papa, bener Vin”
Lidia menyembunyikannya di pelukan Kevin. Dia tak ingin Kevin menghancurkan rahasianya. Dia tak ingin bicara saat itu. Dia hanya ingin menikmati saat-saat indah dengan sahabatnya.
Semenjak Kevin mengetahui penyakit Lidia dari Bunda, Kevin tak pernah lagi mengajak Lidia bermain seperti dulu. Dia takut terjadi apa-apa jika Lidia terus kecapaian dan penyakitnya kumat lagi. Menembus kebahagiaan Lidia. Kini Kevin juga harus fokus kepada pacar barunya. Via.
Hampir setiap hari Kevin selalu bersama Via, entah itu pulang sekolah, makan bareng, belajar sampai ke gereja pun mereka selalu bersma. Pernah Lidia melihat sahabatnya itu bersama dengan Via ketika dia hendak pergi ke masjid, entah mengapa perasaan Lidia sangat sakit, perasaan ini tak berbunga, tidak juga benuansa melati yang setiap saat Kevin berikan padanya. Rasanya Lidia seperti menanti keajaiban bila dia harus meninggalkan kedamaian kota dan kegundahan hatinya. Lidia cemburu. Ya bagaimana dengan kisah manis dan segala kesedihan yang mereka lewati selama 15 tahun harus terpisah hanya karena setetes darah sebagai buktinya? Lidia menganggp bahwa Kevin telah melupakannya dan karena Kevin sudah tau penyakitnya, Lidia merasa sahabatnya itu jijik untuk dekat dengannya. Lidia selalu mengurung diri di rumah. Dia selalu menangis. Tapi di dalam lubuk hatinya, dia akan tetap bersikap seperti dulu, saat kanker itu belum menyerang otaknya.
Suatu hari, Lidia bertekad menemui Kevin saat pengumuman lulusan di umumkan. Dia ingin melihat kilasan senyum yang menawan, yang membuat pandangan matanya hanya tertuju pada senyuman itu. Atau belaian lembut yang dia nantikan 2 tahun ini. Dia melihat Kevin sedang mencari-cari namanya di urutan lulus atau tidak. Saat itu Kevin sedang bersama Via. Dari belakang, Lidia menepuk pundak Kevin.
“Dooorrr! lagi ngapain kalian berdua?”, tanya Lidia dengan senyum terpaksa.
“eh Lidia, ngagetin aja,! dasar anak kecil ya… gak tau orang lagi bingung nyari nama” dia melanjutkan, melihat wanita yang ada di sampingnya. Dirangkulnya dia, lalu,
“oh ya Vi ini sahabat ku dari kecil, Lidia”
“Hay, seneng bisa kenal kamu”
“Iya sama-sama, Vin aku nyariin kamu, aku berusaha pengen deket kamu terus, tapi rasanya gak bisa. Kamu kaya sunyi banget buat aku?” Lidia tiba-tiba mengumbarkan semua gejolak yang terus menekannya.
Kevin bingung apa yang harus dia lakukan. Dia harus pertahankan siapa, sahabatnya atau satu gadis yang mengganggu persahabatannya dengan Lidia. Gadis yang sebenarnya sangat licik itu.
“Lidia denger! kamu itu terlalu muda dan terlalu resah buat nyari kesunyianku, aku udah punya cewek dan kamu masih aja perduliin aku? Aku gak bakal bisa balik sama aku, aku mohon pengertiannya. Hapuskan aku dari bayangan-bayanganmu setiap hari juga hapus aku dari hidupmu”
“Aku sangat..” Lidia tak bisa melanjutkannya karena terpotong.
“Tolong pergi, sekarang Lidia, bukan satu detik lagi atau berjam-jam kamu berdiri disini” bentak Kevin.
“Ketika Tuhan memberikan satu kebahagiaan untukku, maka aku memilih memberikan kebahagiaan itu untukmu Vin”
“Plis pergi..”
Lidia merasa tertekan saat itu, dia menahan air mata, namun dia masih bisa menggerakkan matanya tanpa setetes air mata. Hanya tersenyum. “Aku pulang dulu ya, tadi cuman liat terus mampir” kata Lidia.
Kevin sempat ingin mengejar peri kecilnya itu, dia merasa salah berkata yang tak penting dia katakan pada sahabatnya. Tapi dia ingat disitu juga ada Via. Gadis berpegang teguh pada pelukan Kevin agar Kevin tak bisa lari mengerjar Lidia. Dia memutuskan untuk tidak mengejarnya, mungkin Lidia merasa kurang diperhatikan. Tapi, bagi Kevin itu semua hanya kenangan. Dia ingin kembali menjumpai masa lalunya, meneruskannya dengan akhir yang bahagia. Rasanya sulit, di sampingnya berdiri gadis yang akan menjadi permaisuri di hatinya. Mungkin. Atau sekedar pura-pura.
Satu minggu berlalu, Kevin dan Lidia tidak pernah berhubungan lagi. Sampai saatnya tiba, Kevin datang ke rumah Lidia dan melihat Lidia terbaring lemas di kamar. Lidia meneteskan air mata saat Kevin berjalan menuju tempat tidurnya. Dia berusaha bangkit dari ketidakmampuannya berdiri menyambut pangeran terindah yang dulu dia miliki.
“Berikan kemudahan kepadaku yang serba kekurangan ini Ya Allah untuk merasakan kebahagiaan dalam kesederhanaanku, jika cinta itu indah tolong labuhkan hati ini kepada lelaki itu” Lidia berangan beberapa saat.
“Sayang, aku minta maaf untuk segala kesalahanku, kamu sahabat terindah yang gak bisa aku lupain gitu aja. sini sandarkan badan kamu di tubuh aku, inget ya, aku yang bakal menopang tubuh kamu waktu kamu kehilangan semua tenagamu. Aku yang berusaha ada di belakang jejak langkah kesedihanmu, cuma aku yang ingin ngebahagiain kamu tapi aku mau bilang sesuatu…”
“Iya itu sekedar kata-kata kamu, pada kenyataan kamu gak pernah ada buat ngehibur aku kan pas aku sakit kaya gini? sekarang aku ngerasa apa yang aku punya itu balik lagi termasuk semangatku.
“Lidia, aku rindu sama kamu, aku ingin kamu selalu ada buat aku, menjadi sahabat aku selamanya, seutuhnya, aku pengen meyakini satu rasa yang gak akan pernah berubah dari diri kamu buat aku, tapi aku harus pergi. Ayah menyuruhku pindah ke Malaysia. Aku harus sekolah disana. Karena ayah tak bisa meninggalakan pekerjaannya, aku hanya ingin kamu tahu, bahwa aku akan ada di setiap senyum dan tangisanmu, aku gak akan pergi, aku selalu di hatimu, meskipun ribuan atau bahkan milyaran kilo jejakmu terpisah denganku, hubungan kita jangan sampai putus ya?, kamu janji bakal hubungi aku, sayang ya sama kesehatanmu? Seperti kamu sayang sama aku” kata Kevin dengan nada sedih.
“Aku juga minta kalau aku pergi, kamu gak boleh nangis… aku selalu ada di mimpi-mimpi kamu buat kamu senyum kayak dulu lagi..”, jawab Lidia dengan pelan.
“Pergi kemana? Ke sini? Di hati aku?”
“Enggak, kan Tuhan sayang sama kita, kalau Tuhan pengen minta ditemenin sama aku kan aku harus pergi?”
“Loh kenapa ngaco gitu ngomongnya?”
“Bapa kamu pernah bilang kan kalau dia sayang sama anak-anaknya, dia mengistimewakan kita, mengistimewakan kamu juga, itu tergantung waktu, kalau kita boleh milih juga kita maunya tetep kaya dulu lagi kan”
“Lidia, aku sayang sama kamu, kamu besok anter aku ke bandara ya? Yang mau aku liat terakhir itu kamu sama senyuman indah kamu.
Gejolak rasaku sepertinya mulai tumbuh berbeda jauh dengan beberapa minggu sebelumnya. Ini rasanya berat, satu elektron menancap kuat di dadaku, berputar-putar memilih antara senyuman terakhir untuk dia atau tetap tidur demi kesehatannya.
“Bagaimana dengan Via?”
“Aku cuma liat masa depan Li, bukan masa lalu, masa depan sama kamu nantinya”
“Jadi kamu?”
“Udah putus sama Via”
Lega. Hanya itu satu rasa yang aku paparkan di sebelah kesedihan yang bergejolak sangat kuat.
Esok harinya di bandara. Terakhir kali sebelum mereka berpisah, Lidia sempat bepesan, hanya beberapa kalimat dan itu akan selalu Kevin simpan di hatinya
“Kevin, kamu sahabatku, aku sayang banget sama kamu. Misalnya aku jadi pergi, lebih jauh dari kamu, kamu janji harus selalu inget kenangan kita selama ini, kamu gak boleh sedih, kamu gak boleh lupain aku. Aku bakal liat kamu disana, dari mata hati aku meskipun aku cuma sahabat yang selalu nyusahin kamu, buang-buang duit kamu, sering emosian gara-gara aku tertekan sama penyakit aku, aku minta maaf?”.
“Enggak Lidia, itu salah. kalau aku mikir kaya gitu, gak mungkin aku mau sahabatan sama kamu selama ini, kamu itu peri kecil yang Tuhan kasih buat aku. Kamu itu anugerah, aku sayang kamu kok. Udah ini air matanya jangan pernah dikeluarin lagi ya? Kamu cantik kalau senyum. Kamu sahabat paling cantik yang pernah aku kenal”
Sejenak mereka bertatap muka. Memperhatikan raut wajah yang sudah berganti, mungkin sudah semakin dewasa, angan yang tak pernah mereka lupa, kisah jenaka dan suka cita mereka.
Walau pun kedua planet cinta itu berjarak jauh, setiap hari mereka selalu berhubungan lewat e-mail. Kevin selalu mengirimkan support untuk Lidia disaat selagi Lidia masih bisa menikmati indah dunia. Penyakit kanker yang menyerang otak Lidia tak selamanya bertahan.
Semakin hari Tuhan memberi pertanda untuk Lidia. Tuhan kasihan melihatnya kesakitan. Bunda berusaha mencari dokter dan dimanapun dokter itu berada, tapi mereka semua berputus asa. Lidia menerima kenyataan ini bila dia harus berakhir, tanpa sosok Kevin disaat terakhir dia hidup. Dia hanya berharap Kevin selalu datang ke dalam mimpi indahnya, malam itu di sebuah rumah sakit Pelita, Jakarta Utara. Untuk semua kisah yang selama ini dia kenang dalam memory kecilnya. Dan semangat yang tak pernah redup karena sahabatnya, sahabat yang sangat mulia.
1 Juli 2012. Saat pertama kali masuk SMA, sekolah yang diidamkan semua siswa di dunia setelah lulus SMP dan disitulah detik terakhir sebelum Lidia pergi, dia sempat membuka e-mail terkhirnya yang mungkin esok hari dia tidak dapat membukanya. Dia terhenyak dan mengalirkan begitu deras air matanya karena yang dibacanya ini..
From: kevinsaputra@gmail.co.id
To: lidiayuda@gmail.com
Hal: Makna Di hatiku
Lidia, aku tahu tentang perasaanmu waktu kamu bertemu aku saat aku sedang bersama pacarku, via. Aku tahu dari sorot matamu kalau kau rindu kasih sayangku. Aku udah lama banget mendam perasaan ke kamu. Aku sayang banget sama kamu, mungkin aku mencintaimu. Aku sadar dunia kita memang berbeda. Aku melampiaskan cintaku ke via biar aku bisa lupain kamu, tapi aku gak bisa. aku rindu akan senyumanmu, keceriaanmu waktu bareng sama aku. kamu harus ada kalau nanti kau kembali ke Jakarta… aku yakin kamu bisa sembuh meskipun aku Cuma bisa support kamu dari sini.. aku takut kalau dari dulu aku bilang tentang perasaanku ke kamu, itu Cuma ngerusak persahabtan kita. Aku gak pengen kehilangan kamu Lidia.. kamu harus bisa, untuk aku, aku tau kamu juga cinta sama aku. Cinta kita hanya terhalang perbedaan keyakinan. Dan itu sebabnya kenapa aku tidak memberitahuimu sejak dulu. Salam Kevin.
Tangan lidia bergetar saat hendak membelas kiriman Kevin. Darah dari hidungnya terus keluar, namun dia harus bisa menulis sesuatu. Entah apa itu, tetapi harus.