Tampilkan postingan dengan label motifasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motifasi. Tampilkan semua postingan

Bahagia Itu Sederhana Dan Simpel

13.03

Sebelumnya saya ucapkan terimakasih buat yang telah membuat foto kebahagiaan ini yang saya temui di google dan handphone saya. Sungguh sebuah motivasi buat saya bahwa memang benar Bahagia itu sangat sederhana.


Apakah arti bahagia adalah suatu keadaan pikiran atau perasaan yang ditandai dengan kesenangan, cinta, kepuasan, kenikmatan, atau kegembiraan? Ada yang beranggapan arti bahagia itu relatif. Ia berubah-ubah dan berbeda antara seorang individu dengan yang lain. Bagi yang sakit, sehat itu dirasakan bahagia. Tetapi apabila sudah sehat, kebahagiaan itu bukan pada kesehatan lagi. Sudah beralih kepada perkara yang lain lagi. Bagi golongan ini kebahagiaan itu adalah satu “moving target” yang tidak spesifik artinya.



Ada pula golongan pesimis. Mereka beranggapan bahawa tidak ada bahagia di dunia ini. Hidup adalah untuk menderita. Manusia dilahirkan bersama tangisan, hidup bersama tangisan dan akan dihantar ke kubur dengan tangisan. Bahagia adalah satu utopia, ilusi atau angan-angan. Ia tidak berwujud dalam realiti dan kenyataan.



Sahabat aca.web.id anda dihadapkan di kehidupan ini antara ingin bahagia atau tidak. Mungkin juga bahagia tersebut adalah suatu pilihan hidup yang akan kita jalani. Pada jaman sekarang katagori bahagia ditempatkan dimana keinginan tercapai dengan segala sesuatu yang disebut dengan UANG. Padahal bahagia itu bisa kita dapatkan tanpa modal sekalipun, tergantung dari diri anda sahabat anehdidunia.com menanggapinya karena Bahagia itu Sederhana.  Pikiran kita tenang, bangun pagi kita terasa sangat nyaman, ada sahabat dan keluarga di sekitar kita.


KETIKA MAU MENIKAH
Janganlah mencari isteri tapi carilah ibu bagi anak-anak. Jangan cari suami tetapi carilah ayah bagi anak anak

KETIKA MAU MELAMAR
Anda bukan sedang meminta kepada orang tua Tetapi minta kepada TUHAN melalui orang tua

KETIKA AKAD NIKAH
Anda bukan nikah di depan hukum tetapi nikah di depan Tuhan

KETIKA RESEPSI PERNIKAHAN
Catat dan hitung semua tamu yang hadir dan mendoakan anda Dan berfikirlah untuk meminta maaf kepada mereka apabila anda Ingin bercerai

KETIKA Malam pertama
bersyukur dan berbahagialah bahwa anda sepasang anak manusia bukan malaikat

KETIKA Menempuh hidup berkeluarga sadarilah bahwa jalan yang akan anda tempuh bukan jalan yang bertabur bunga tetapi jalan yang penuh onak dan duri

KETIKA EKONOMI KELUARGA BELUM MEMBAIK
Yakinkan bahwa pintu rizki akan terbuka lebar
Berbanding lurus dengan tingkat ketaaatan suami isteri

KETIKA KETIKA EKONOMI BAIK
Jangan lupa akan jasa pasangan hidup yang setia Mendampingi kita disaat menderita

KETIKA ANDA ADALAH SUAMI
Boleh berrmanja-manja kepada isteri Tapi jangan lupa tanggungjawabnya

KETIKA ANDA ADALAH ISTERI
Tetaplah berjalan dengan gemulai dan lemah lembut Tapi selalu berhasil menyelesaikan semua pekerjaan

KETIKA Telah nikah dan  belum memiliki anak,
cintailah isteri atau suami anda seratus persen

KETIKA Telah memiliki anak
jangan bagi cinta anda kepada suami, istri dan anak akan tetapi cintailah masing-masing seratus persen

KETIKA Biduk rumah tangga sedang oleng
Jangan saling berlepas tangan tapi sebaliknya semakin  erat berpegang tangan

KETIKA Mendidik anak
jangan berfikir orang tua yang baik adalah orang tua yang tidak pernah marah akan tetapi orang tua yang baik adalah orang tua yang jujur kepada anak
  
KETIKA Anak bermasalah
Yakinkan bahwa tidak ada anak yang tidak mau bekerjasama dengan orang tua yang ada adalah anak yang merasa tidak didengar oleh orang tuanya

KETIKA Ada PIL Jangan diminum cukuplah suami sebagai obat
KETIKA Ada WIL Jangan turuti cukuplah isteri sebagai pelabuhan hati

Jadi sahabat aca.web.id Bahagia itu Simpel yang kita butuhkan hanya Ketaqwaan, Kasih sayang, Kesetiaan, Komunikasi, Keterbukaan, Kejujuran dan kesabaran. Semoga dengan artikel ini sahabat aca.web.id lebih merasa bahagia dengan apa yang ada didepan anda. Silahkan dishare dengan sahabat dan keluarga anda.


Majukan Usaha dengan Menjaga Pelanggan Setia

21.05

Pelanggan setia bukan sekadar pelanggan yang datang berkali-kali. Tapi, pelanggan setia juga pemasar produk yang loyal untuk memajukan usaha kita. Bagaimana menjaganya?

Hal yang paling menyenangkan dari menjalankan usaha adalah ketika kita berhasil mendulang keberhasilan dan memperoleh pelanggan setia, yang bahkan bisa menjadi “marketing” alias ikut mempromosikan produk kita kepada siapa pun.

Proses untuk mendapat pelanggan yang masuk dalam kriteria fans ini memang tak mudah. Pelayanan yang serba memuaskan, kedekatan emosional, hingga kualitas produk yang tentunya sangat baik harus mampu disajikan dengan maksimal. Tapi, tak jarang, orang yang sudah masuk kriteria sebagai fans, tiba-tiba saja menghilang. Bisa jadi ia kecewa dan kemudian bercerita kepada para relasinya. Jika hal ini tidak segera diantisipasi, bisa jadi nama baik usaha kita pelan-pelan akan tergerus dan hilang ditelan oleh cerita kurang puas dari konsumen yang kecewa.

Lantas, apa yang harus kita lakukan agar pelanggan setia tidak kecewa? Berikut beberapa hal:

• Jangan banyak penggantian personel atau pekerja
Sudah jadi rahasia umum bahwa ada banyak konsumen yang lebih setia pada orang (pekerja) kita dibanding usaha (brand) kita sendiri. Apalagi, jika kita belum mempunyai sistem kerja yang punya standar yang sama. Misalnya di salon kecantikan kelas premium. Solusinya, jangan terlalu sering berganti pekerja. Atau, ciptakan sistem yang benar-benar terstandarisasi dengan baik sehingga layanan satu orang dengan lainnya saat meladeni konsumen benar-benar seragam.

• Jaga perlakuan pada pelanggan lama dan baru
Kadang, untuk mendapatkan pelanggan dan baru dan memperluas pasar, kita menggunakan trik diskon dan nilai tambah sebagai bentuk promosi. Dan memang, ini biasanya akan “menggoda” pelanggan baru untuk datang. Tapi ingat: kita sudah punya pelanggan setia. Jangan sampai, apa yang kita tawarkan kepada pelanggan baru justru lebih menggoda daripada yang diberikan kepada pelanggan setia kita. Justu, pelanggan setia harus diperlakukan jauh lebih baik!

• Jangan terlalu fokus pada soal harga
Fokus pada harga sah-sah saja. Namun banyak pesaing melakukan hal yang sama. Jadi ada baiknya kita juga memperhatikan nilai tambah dari harga yang telah kita tentukan. Tak jarang—bahkan banyak—orang yang membeli sesuatu bukan berdasar harga, tapi karena punya nilai tambah yang tidak dimiliki pesaing. Di sinilah peran kita sebenarnya, yakni dengan tetap fokus memberikan pelayanan terbaik, terutama kepada pelanggan setia.

• Jangan terlalu memaksa memanfaatkan momentum
Biasanya, karena merasa sudah dekat, sudah terlalu personal saat berhubungan dengan pelanggan, kita seolah sudah merasa tak memiliki jarak. Saat itu, tanpa disadari, kita sering kali menawarkan hal-hal yang kadang kurang dibutuhkan oleh pelanggan. Di depan kita, mungkin si pelanggan tidak mengungkapkan kekesalannya secara langsung. Tapi bisa jadi di belakang, ia merasa gerah karena terus dipaksa membeli produk yang sebenarnya kurang dibutuhkannya. Untuk mengantisipasinya, jangan terlalu memaksa. Cobalah pahami kebutuhannya, dan jangan berlebihan dalam memanfaatkan momentum kedekatan ini.

• Tetap fokus pada produk utama
Setiap brand sering kali diidentikkan dengan produk tertentu. Begitu juga dengan pelanggan setia terhadap produk kita. Misalnya kita bergerak di bidang jasa periklanan yang banyak melayani jasamaintenance pada social media. Meski produk jasa kita banyak, namun jika di pasaran sudah dikenal bahwa usaha kita sangat hebat di bidang maintenance pada social media, jangan terlalu serakah mengambil jatah yang di luar bidang tersebut. Tak salah memang, tapi jangan sampai fokus kita di bidang yang sudah membuat usaha terkenal jadi hilang arah. Tetap fokus pada layanan utama, karena di sana kita mendapat pelanggan setia.

Sebenarnya, masih banyak cara-cara lain yang bisa kita lakukan agar konsumen tetap setia. Yang pasti,jadikan kepuasan selalu menjadi yang terdepan untuk usaha kita, baik kepuasan untuk pelanggan, kepuasan untuk karyawan, hingga kepuasan masyarakat luas yang belum tentu pernah memakai produk kita. Sebab, saat kepuasan ini sudah diperbincangkan dan jadi nilai tambah usaha kita, niscaya pelanggan setia akan selalu ada.

Pohon Kesukaranku

20.54

Alkisah, ada seorang tukang kayu yang baru saja mengakhiri hari pertama kerjanya. Hari yang bisa dikatakan sungguh melelahkan. Betapa tidak, ban kempes kendaraan kerjanya membuat dia kehilangan satu jam kerja. Belum  lagi, gergaji listriknya tiba-tiba tidak bisa digunakan. Dan sekarang, mobil truk tuanya tidak bisa dinyalakan. Akhirnya, rekannya mengantar pulang si tukang kayu. Sepanjang perjalanan, si tukang kayu hanya membisu.



Setibanya di tujuan, si tukang kayu mengundang rekannya untuk mampir sejenak. Saat mereka berjalan menuju pintu depan rumah, si tukang kayu menyempatkan diri mendekati sebuah pohon kecil. Ia menyentuhkan ujung dahan-dahannya dengan kedua tangannya. Lalu ketika membuka pintu, si tukang kayu itu langsung bertransformasi menjadi sosok yang sangat berbeda. Wajahnya yang berwarna kecokelatan diliputi senyuman lebar dan ia memeluk kedua anaknya yang masih kecil serta mengecup pipi sang istri.



Setelah itu, si tukang kayu mengantar rekannya ke mobilnya. Mereka kembali melewati pohon itu. Karena tak mampu menahan rasa penasarannya yang begitu besar, rekannya itu pun bertanya perihal apa yang dilakukan si tukang kayu sebelumnya.



“Oh, itu pohon kesukaranku,” jawab si tukang kayu. “Aku tahu aku akan selalu menghadapi kesukaran dan kesulitan di pekerjaanku, tapi satu hal yang pasti, semuanya itu tidak boleh muncul di rumah yang menjadi tempat tinggal istri dan anak-anakku. Jadilah, aku menggantungkan semua kesukaran itu di pohon ini setiap malam begitu aku pulang. Lalu di pagi harinya, aku akan mengambilnya kembali.”



Si tukang kayu terdiam sejenak. “Lucunya,” katanya sembari tersenyum, “ketika aku keluar rumah di pagi harinya untuk mengambil semua kesukaran itu, bebannya tidaklah seberat yang kuingat malam sebelumnya.”


Adakah yang melakukan hal serupa dengan si tukang kayu ini? Mungkin hanya ada segelintir dari kita yang menjawab “Ya”. Sebagian besar lainnya lebih sering mencampuradukkan urusan kerja atau bisnis dengan keluarga. Sering kali kita membawa pulang semua masalah kita di kantor atau di luar rumah, sehingga sering kali pula bukan situasi gembira dan menyenangkan yang tercipta di rumah.


Mari belajar untuk meninggalkan sejenak segala persoalan rumit kita di pekerjaan di suatu tempat sebelum kita melangkah masuk ke dalam rumah. Dengan cara demikian, keluarga kita akan tumbuh menjadi keluarga yang bahagia dan harmonis. Dan dijamin keesokan harinya, beban berat kita di hari sebelumnya akan terasa lebih ringan. Kita juga akan lebih dimampukan untuk menghadapi segala permasalahan yang menanti.

Hidup Penuh Syukur

20.42

Alkisah, seorang pria muda sedang menyusuri jalan sepi dekat hutan. Tiba-tiba ia berpapasan dengan seorang pemuda lain yang berpenampilan lusuh dan berwajah murung. Karena ingin tahu, si pria muda mensejajarkan langkah dan bertanya, “Hai teman, kenapa kau bersedih? Ada masalah?”

Sambil menghela napas panjang, pemuda itu menjawab, “Hah. Hidupku begitu malang. Aku hanya punya tas ini dengan sedikit pakaian dan makanan. Cuma itu... Aku tak tahu harus berbuat apa.”

Mendengar kata-kata itu, si pria mendadak punya ide. Lantas ia bertanya, “Boleh aku lihat tasmu sebentar saja?” Tanpa curiga, si pemuda menyerahkan tasnya. Dan begitu tas diterima, pria itu langsung melesat lari membawa tas tersebut, meninggalkan pemuda itu melongo kaget tidak percaya.

Sadar tasnya dicuri, sambil bereaksi hendak mengejar si pencuri, pemuda itu meratap. “Oooh.. Nasibku sungguh sial. Tas satu-satunya hartaku hilang. Aduhhh..”

Pria yang membawa lari tas, ternyata tidak benar-benar berniat mencuri tas yang dibawanya. Tak jauh dari situ, ia berhenti dan mengintip dari balik semak, melihat keadaan si pemuda. Begitu mengetahui si pemuda sudah kembali melanjutkan perjalanan, pria itu segera bergegas mendahuluinya beberapa meter, meletakkan tas si pemuda di pinggir jalan, kemudian sembunyi lagi di balik semak.

Si pemuda, yang berjalan dengan lesu dan langkah gontai, tiba-tiba ia melihat tasnya tergeletak di pinggir jalan. Dengan penuh semangat, ia berlari, mengambil kembali tas dan memeriksa isinya. Ternyata masih lengkap! Betapa bahagianya pemuda tadi. Kini, ia melanjutkan perjalanan dengan bersiul riang dan wajah berseri-seri.

Pria yang tadi membawa lari tas si pemuda, melihat sambil tersenyum. Katanya dalam hati, “Hari ini aku membuatnya jadi orang paling bahagia!”

Netter yang bijaksana,

Kita biasanya kurang menghargai, apalagi mensyukuri apa yang kita miliki. Dan ketika yang dimiliki tiba-tiba hilang, kita baru menyesal, sedih dan merasa kehilangan.  Sesungguhnya, begitu banyak yang bisa kita syukuri, yakni: sisa waktu yang masih kita miliki, keluarga dan orang-orang yang kita sayangi, kesehatan, pekerjaan, harapan... dan masih banyak lagi.    

Mari selalu bersyukur agar kebahagiaan senantiasa bergelora di hati kita.

Cara Beda Melihat Lubang

20.38

Kebanyakan orang melihat lubang itu kosong. Tetapi sebagian yang lain (sebagian kecil) justru melihat peluang. Dari sebagian kecil itu muncullah nama Sheri Schmelzer.


Schmelzer dan tiga anaknya suka memakai sepatuCrocs yang unik karena memiliki warna-warna terang yang menggemaskan. Seperti umumnya sepatu Crosc, jenis alas kaki ini memiliki ciri yang khas, yaitu sejumlah lubang di sana sini. Ternyata Schmelzer dan ketiga anaknya suka berguyon. Anak pertama, Lexie, yang usianya baru tujuh tahun, suka membuat manik-manik dan kemudian ditempelkannya ke lubang sepatu Crocs yang akan dikenakannya. Schmelzer kemudian mencari kancing dan memasangnya di lubang itu untuk menambah keindahan.



Lama-kelamaan kegiatan menutup lubang Crocs dengan hiasan kecil itu menjadi kegiatan rutin. Karena itu Schmelzer kemudian membuat manik-manik aksesoris untuk ke-12 pasang Crocs milik keluarganya di rumah. Sampai suatu kali suaminya, Rich Schmelzer, menemukan peluang bisnis. Dengan penjualan Crocs yang mencapai jutaan pasang, peluang menutup lubang-lubang Crocs itu menjadi besar. Dari sanalah keluarga ini membuat usaha aksesoris sepatu Crocs dengan nama Jibbitz pada tahun 2005.



Usahanya berkembang pesat hingga menghasilkan 300 desain dan dijajakan di 2000 outlet di Amerika hingga tahun 2006.  Karena aksesoris itu laku, Crocs sendiri sampai tertarik membeli bisnis keluarga itu. Tahun 2006 Crocs membeli Jibbitz senilai US$20 juta atau sekitar Rp200 miliar. Meskipun sudah dimiliki Crocs, Schmelzer masih memiliki kompensasi rutin yang bergantung pada penjualannya. Sebuah media di sana, The Richest, memperkirakan kekayaan mereka saat ini mencapai sebesar US$300 juta atau sekitar Rp3,3 triliun. Tentu saja nilai kekayaan sebesar itu bukan nilai yang kecil. Ini semua berkat cara pandang yang tak biasa Sheri Schmelzer dalam melihat lubang.

Aku Rapopo

20.35

Belakangan ini, ada sebuah ungkapan bahasa Jawa yang sedang sangat tren disebut-sebut oleh semua kalangan. Dari anak muda, bahkan dewasa, kerap menggunakan ungkapan tersebut, baik dalam kondisi bercanda ataupun serius. Ungkapan tersebut adalah rapopo atau lengkapnya, aku rapopo. 

Secara harfiah, ungkapan tersebut berarti "saya tidak apa-apa". Entah, siapa yang kali pertama memopulerkan ungkapan tersebut. Namun, ada salah satu kejadian yang paling bisa kita ingat yakni ungkapan itu muncul dari Bu Rismaharini—Wali Kota Surabaya—yang saat itu sedang menghadapi dilema soal kepemimpinannya. Bu Risma—panggilan akrabnya—menghadapi kendala soal kebijakan yang dikeluarkannya, sehingga beberapa pihak “menjegal”, yang lantas membuatrnya sempat ingin turun dari jabatan wali kota.

Ungkapan yang disebut Bu Risma sebenarnya adalah sebuah sebutan bahwa beliau ikhlas dengan apa pun yang akan terjadi terkait dengan peristiwa yang dialaminya. Karena itu, rapopo menjadi sebuah ungkapan yang menenangkan, membuat hati dingin, dan jiwa pun lapang. Sederhana tampaknya, tapi ungkapan itu memang mengandung makna yang amat dalam. Sayangnya, belakangan ungkapan tersebut malah “beralih” status menjadi semacam olok-olokan. Berbagai hal yang dianggap lucu, unik, atau bahkan ejekan, ditempeli dengan kalimat aku rapopo. Mulai dari sindiran soal kampanye politik, hingga ungkapan bernada ledekan antarteman di media sosial.

Sejak kecil, sebenarnya saya—sebagai orang yang terlahir dari latar belakang lingkungan berbahasa Jawa—rapopo adalah hal yang sangat biasa diucapkan. Saat terjatuh, meski lecet dan berdarah, asal masih bisa bermain, ucapan aku rapopo akan keluar. Saat sedang bersedih karena suatu kejadian, ketika ditanya teman, agar tak berkepanjangan, biasanya kalimat yang segera terucap juga aku rapopo.

Maka, menurut saya, setidaknya ada dua hal yang bisa kita pelajari dari ungkapan rapopo ini. Pertama, soal keikhlasan atau kelapangan hati. Seperti yang dialami Bu Risma, rapopo yang diucapkan adalah sebuah “tanda” bahwa meski beliau merasa tertindas, tapi beliau pasrah dengan kondisi yang dialaminya. Tentu, bukan pasrah bersikap pasif. Tapi, dengan kejadian yang dialaminya, beliau menerima dengan lapang dada dan memilih untuk tidak mempermasalahkan kondisi yang menerpa.

Begitu pula kita dalam hidup. Saat mengalami kejadian yang tidak mengenakkan, pilihan ada dua: jalan terus dengan melupakan hal yang sudah terjadi atau memilih untuk mempermasalahkan kondisi tidak enak yang kita alami. Pilihan pertama biasanya justru akan membuat kita lebih fokus untuk bekerja lebih maksimal. Gampangnya, peristiwa yang sudah, ya sudahlah. Buat apa mempermasalahkan yang sudah terjadi? Sebaliknya, kadang kita sering kali terpancang pada upaya untuk terus mengusahakan agar masalah yang sudah terjadi bisa terselesaikan agar benar-benar lega. Sayang, ujungnya, malah kita terus berkutat pada masalah yang itu-itu saja sehingga “lupa” untuk maju dan mengerjakan hal lain yang sebenarnya jauh lebih bermanfaat. Tak salah memang untuk berusaha menyelesaikan sebuah persoalan. Tapi, kalau sampai berlarut-larut, ada baiknya kita memilih rapopo meninggalkannya, dan melangkah untuk hal lain yang lebih bermanfaat.

Hal tersebut berkait dengan hal kedua yang bisa kita dapatkan dari intisari soal ungkapan rapopo. Nilaikedua tersebut bagi saya mengajarkan agar kita sadar, sepanjang diri masih bekerja, berkarya, berjuang, tak mengapa kita luka, yang penting masih bisa terus jalan. Ibarat ungkapan, sepanjang hayat masih di kandung badan, maka jangan khawatir untuk terus berjalan dan berjuang. Di sinilah konseprapopo mengandung “kekuatan” untuk mendorong agar kita mampu terus berkarya, apa pun kondisi yang kita alami sebelumnya. Maka, sepedih apa pun hasil yang kita alami, sesulit apa pun yang sedang kita rasakan, sesukar apa pun kondisi, kalau masih bisa jalan, rapopo. Itulah nilai yang seharusnya bisa membuat kita mampu tegar.

Inilah konsep aku rapopo dalam konteks sebenarnya yang pernah saya rasakan. Rapopo bukan sekadar ungkapan canda belaka. Tapi, memiliki arti sangat dalam untuk meyakinkan diri agar mau dan mampu terus berjuang. Dengan pendekatan semacam itu, rapopo menjadi semacam “mantra” agar kita mampu kokoh berdiri tegak di tengah hantaman badai ujian dan rintangan kehidupan. Nikmati saja ujian itu. Cari aspek pembelajaran yang bisa kita jadikan evaluasi untuk mewujudkan impian. Terus melangkah meski kadang terseok. Pelan tapi pasti, jalan menuju sukses yang kita dambakan bakal jadi kenyataan indah.

Kamu rapopo? Aku juga rapopo. Jadi, mari teruskan langkah. Lanjutkan perjuangan. Indonesia maju dan berkarya, pasti bisa!

Nothing is Impossible

20.30

Ibrahim Hamato, 41 tahun, asal Mesir, tak memiliki kedua tangan karena keduanya diamputasi pada saat ia berusia 10 tahun menyusul kecelakaan yang dialaminya. Padahal ia ingin menjadi pemain tenis meja profesional.


Pada awalnya, olahraga yang paling mungkin adalah sepakbola. Tetapi akhirnya ia kembali pada keinginan semula, bermain tenis meja. Ia mencoba melakukannya dengan memegang bat menggunakan mulut. Meski pada awalnya susah, lama-kelamaan terbiasa juga.


Baru-baru ini, kepiawaiannya bermain tenis meja alias ping pong itu ia tunjukkan pada ajang ZEN-NOH 2014 World Team Table Tennis Championship yang diadakan di Tokyo, Jepang, akhir April 2014. Ia hadir sebagai “bintang tamu”. Tak dinyana, kehadirannya mendapat banyak perhatian sekaligus kekaguman. Bagaimana ia bisa bermain tenis dengan hanya menggunakan mulutnya? “Nothing is impossible, sejauh kita mau bekerja keras,” katanya.


Di kegiatan itu ia berkesempatan bermain tenis meja dengan pemain-pemain kelas dunia.


Berikut videonya:

Optimisme, Kekuatan yang Mengubah Kehidupan

13.54
Seorang pujangga besar Prancis era abad 18, Voltaire menyebutkan adanya sebuah “kegilaan” sehingga seseorang bersikeras bahwa keadaannya baik-baik saja meski lingkungan sekitarnya terjadi kesedihan atau kesengsaraan. Sang Pujangga menyebut kegilaan tersebut sebagai optimisme. Senada, seorang penulis besar, Oscar Wilde seolah “mempertegas” pandangan tersebut dengan menyebut dasar adanya optimisme adalah kehadiran teror.



Jauh melompat ke era dunia komik di abad 20, kita barangkali juga mengenal kisah Optimus Prime, robot pahlawan dalam epik Transformer, yang film-filmnya laris manis di pasar dunia. Nama Optimus—sesuatu yang “dekat” dan mengingatkan tentang optimisme—bisa jadi juga merupakan gambaran betapa optimisme selalu muncul di tengah kehancuran yang terjadi. Dunia yang nyaris hancur-lebur oleh kekuatan jahat musuh Optimus Prime— Decepticons, robot yang berambisi menguasai dunia—menyisakan kekuatan positif yang akhirnya menyajikan kisah “happy ending”. Sehancur apa pun, Optimus Prime selalu berhasil menjadi pemenang. Jika ditarik dari ungkapan Voltaire dan Oscar Wilde, ada sebuah benang merah. Yakni, di tengah kekacauan yang terjadi, selalu ada secercah harapan. Dan, sinar cerah itu justru muncul di saat banyak kondisi yang seolah tak mungkin terjadi.

Itulah kekuatan optimisme. Bukan sekadar sebuah rasa atau perasaan tentang ungkapan “badai pasti berlalu”. Tapi, optimisme adalah kekuatan yang sebenarnya selalu ada dalam diri tiap manusia. Hanya, kadang oleh lingkungan, kita sudah keburu dicap gagal, dicap tidak bakal bisa, tak mampu, sehingga optimisme segera berubah jadi pesimisme. Padahal sejatinya, manusia pasti tercipta dengan sejuta potensi.

Maka, saat semua berada dalam kondisi yang negatif, berantakan, kacau, setitik optimisme sebenarnya bakal sanggup menjadi oase yang membawa perubahan. Ibarat setitik bara, tinggal bagaimana menjadi optimisme itu terus bergelora sehingga akhirnya benar-benar jadi api semangat untuk bangkit meraih kemenangan. Maka mari selalu tumbuhkan optimisme untuk menguatkan dalam menghadapi setiap ujian dan tantangan kehidupan.

Meningkatkan Kualitas Diri

13.49
Hidup adalah proses belajar dan berjuang tanpa batas. Sikap mental dan cara berpikir kita menentukan semangat perjuangan dan kualitas hidup yang akan kita dapatkan. Contoh, saat kita punya ide atau ada kesempatan, jika kita menanggapi dengan sikap mental negatif, pasti tidak ada perkembangan. Sebaliknya, jika kita memiliki sikap mental positif, maka jalan menuju kemajuan, perkembangan, kesuksesan makin dekat dengan kita.



Meningkatkan kualitas diri adalah sebuah proses yang membutuhkan waktu dan juga sikap mental yang tepat. Tiap orang yang ingin meningkatkan kualitas diri sudah punya modal awal: keinginan itu sendiri. Buat agar keinginan itu terus ada.

Meningkatkan kualitas diri memerlukan komitmen, kerja keras, cerdas hidup, dan sikap mental tidak mudah menyerah saat ada hambatan. Tidak peduli berapa pun usia kita, kita akan selalu bisa berkembang. Sekarang harus belajar dari yang lebih muda, tidak masalah! Rajin-rajin juga baca buku, update berita, dan terus asah kemampuan ataupun bidang yang kita geluti, agar makin lama makin ahli.

Kita pun bisa belajar dari pengalaman orang lain—jangan buru-buru berprasangka buruk!—karena hal itu pun bisa membangun. Untuk melatih mental, kadang kita diizinkan untuk hadapi ujian, hambatan, dan tantangan hidup. Itulah yang membuat mental kita terasah. Saya pun terus memberi “nutrisi mental” bagi sahabat-sahabat yang mau berkembang, karena saya menyadari pentingnya hal itu. Hal-hal tersebut kerap saya bagikan melalui buku, artikel di website, Facebook, Twitter, siaran radio, majalah, dan lainnya demi meningkatkan kualitas manusia Indonesia!

Kembali ke awal tulisan ini, modal utama untuk meningkatkan kualitas diri kita adalah niat yang kuat. Lengkapi dengan tujuan positif agar kita terus termotivasi.

Mari, teman-teman..  Jangan pernah lelah untuk meningkatkan kualitas diri. Kehidupan ini terus berjalan dan sesekali kita menghadapi masalah. Maka kita harus selalu siap.

Bagaimanapun keadaan Anda hari ini, tidak penting. Yang penting, 'arah mana' yang ingin Anda tuju!
Ingat, 'Success is My Right'! Kalau sukses adalah hak kita, maka kita harus siap 'bayar harga' dengan berjuang habis-habisan.

Semoga kita semua bisa makin termotivasi untuk meningkatkan kualitas diri.

Fokus dan Inovatif ala Michael Dell

20.04

Ketika karier atau bisnis sudah mencapai puncak, harta berlimpah, dan reputasi sudah didapat, ke mana lagi tujuan hidup diarahkan? Ada contoh menarik dalam melakukan ini yaitu kehidupan pasangan pengusaha sukses Michael Dell & Susan Dell. Beberapa waktu lalu, pasangan pengusaha komputer ini menyisihkan dananya sebesar US$ 1 miliar (sekitar Rp 9 triliun) untuk kegiatan sosial mereka. Dana ini tak dikeluarkan sekaligus, tetapi itu angka yang sangat besar.

Melalui yayasan Michael & Susan Dell Foundation, mereka fokus menolong anak-anak yang tidak beruntung karena kurang sarana pendidikan dan standar hidup kesehatannya yang rendah di berbagai kota di dunia. Sasarannya adalah menolong mereka yang tak berpendidikan hingga menjadi anak yang berpendidikan, sehat, dan sukses.

Yayasan ini didirikan tahun 1999 dan kini sudah melakukan berbagai kegiatan mulai dari beberapa kota di Amerika Serikat, India, dan Afrika Selatan. "Kami kira pendidikan dan kesehatan merupakan masalah penting. Anak-anak harus sehat agar bisa belajar dan akan-anak yang tak bisa belajar tak mungkin bisa sukses," ujar Dell mengenai fokusnya itu.

Mungkin pendirian yayasan merupakan "tugas tambahan" Dell dalam hidupnya sebagai pengusaha. Namun tanpa kepedulian yang terus dikembangkan kepedulian itu tak akan tumbuh. Dan ternyata itu terbangun dari sikap hidupnya sebagai pengusaha yang sekaligus menjadi kunci sukses hidupnya. Apa saja yang dilakukannya? Berikut poin pentingnya yang bisa sama-sama kita serap.
 
Kembangkan Jiwa Kewirausahaan Sejak Belia

Jiwa kewirausahaan Dell sudah terlihat sejak usia belasan tahun. Ia memulai bisnisnya dengan mengumpulkan perangko dan menjualnya kepada sejumlah kolektor. Saat itu ia bisa meraih pendapatan sampai US$ 2.000. Lumayan untuk pemula. Namun ia tak puas dengan jumlah sebanyak itu. Untuk meningkatkan omsetnya ia berjualan koran.

Berbeda dengan penjual koran lainnya, ia punya cara cerdas mengumpulkan pelanggan. Dell meriset daftar pasangan yang baru nikah dan mengumpulkan daftar pemilik rumah baru yang ia peroleh dari daftar hipotek bank untuk memudahkan pencariannya.

Pada usia 18 tahun, ia bahkan sudah punya mimpi besar. Saat itu ia sudah tertarik pada bisnis PC, lalu ayahnya bertanya, "Apa yang akan kamu lakukan dalam hidupmu?" Dell lalu menyahut, "Saya akan berkompetisi dengan IBM?" ujarnya. Mimpinya begitu jelas dan fokus!

Ayahnya kurang senang dengan jawaban itu. Terlebih-lebih Dell kemudian memutuskan keluar dari University of Texas untuk berjualan PC. Lagi-lagi ia lakukan sesuatu yang brilian. Dibanding menawarkan PC baru ia memilih layanan upgrade komputer. Dan ternyata ini pasar yang basah. Terlebih-lebih ia menemukan bahwa menjual PC secara langsung jauh lebih efektif dibanding berjualan komputer secara tradisional (mengandalkan toko).

Dan melalui perusahaannya saat itu [PC\'s Limited], ia bisa membuktikan penglihatannya mengenai celah pasar itu memang benar. Pada tahun 1984 dalam aktu beberapa bulan saja ia bisa membukukan omset US$ 50.000-80.000 dari bisnis upgrade komputer dan menjual komponen-komponennya. Tahun 1991, ketika usianya baru 27 tahun, ia sudah menjadi CEO Termuda pilihan Majalah Fortune.

Tahun 1996, Dell mulai menjual PC-nya melalui internet. Dan respon pasar luar biasa! Omset Dell mencapai US$ 1 juta per hari. Dan setelah perkembangan berikutnya, Dell menjadi penguasa bisnis komputer dengan merk "Dell". Tahun 2001, Dell sudah menguasai pasar PC dunia dengan pangsa pasar 12,8% yang membuatnya menjadi pembuat PC terbesar di dunia. Sudah tentu, ia sukses mengalahkan IBM dalam hal penjualan jumlah PC-nya di dunia.

Kunci suksesnya adalah fokus dan selalu mencari cara baru (inovatif) untuk menaklukkan pasar. Dengan sikap seperti itu, Dell sudah berani menantang pasar sejak usia muda. "Fokus itu penting. Tetapi sabar juga perlu karena untuk mengukur segala perkembangan yang telah dicapai kita semua perlu waktu," ujarnya.

Seniman Muda Indonesia Kejutkan London

19.59

Seorang seniman muda Indonesia menjadi pusat perhatian di Inggris. Namanya makin populer karena karyanya mudah dilihat di area publik. Dialah Sinta Tantra seorang seniman yang karyanya meliputi seni instalasi, mural, dan jenis seni visual lainnya dengan gayanya yang khas.

Sejak 14 Januari hingga 15 Maret 2013 sejumlah karyanya dipamerkan di One Canada Square di Canary Wharf, suatu distrik bisnis yang terkenal di London. Sinta berkolaborasi dengan Nick Hornby,  seniman Inggris yang dikenal dengan karya patung monokromnya, dalam pameran bersama bernama “Sculpture At Work”.

Banyak kalangan yang menduga sulit menyatukan keduanya. Itulah sebabnya, apa yang ditampilkan di Sculpture At Work menjadi menarik. “Dari perspektif medium, materi, dan referensi kami jelas berbeda. Sinta mengeksplorasi identitasnya sebagai perempuan Indonesia melalui warna, corak, dan referensi budaya pop, sedangkan saya referensinya patung modern, arsitektur klasik, dan persaudaraan yang erat. Tetapi, saya kira, kami bisa berbagi sensibilitas seni,” papar Hornby seperti dikutip satu media Inggris.

Sinta memang menjadi salah satu seniman berdarah Indonesia yang makin populer di Inggris dan bahkan dunia. Dengan corak bergaya Indonesia yang khas, karya seninya tampak di berbagai area publik London dan sekitarnya. Karyanya antara lain di Canterbury Christ Church University, Platform for Art (Piccadilly Tube Station), Regents Park Bridge (Architecture Week), Camley Street Natural Park (Arrivals Art Festival), Saisson Poetry Library, Canary Wharf, Liverpool Biennial, dan sebagainya.

Lahir dari keluarga bankir pada 11 November 1979, di New York, Sinta dibesarkan di London. Ia lulus dari sekolah seni Slade School of Fine Art tahun 2003 dan menyelesaikan gelar master di Royal Academy of Arts tahun 2006. Pada tahun itu juga ia meraih penghargaan prestisius Deutsche Bank Award.

Karya seninya memang menonjol dan mendapat banyak apresiasi. Karyanya Miami Dizzle XV (2009) dibeli British Government Art Collection dan dipajang di kedutaan besar Inggris di Aljazair. Karya lainnya, Arsenic Fantasy (2009) digambarkan sebagai “Being inside a gigantic elaborately wrapped Christmas present”. Isokon Dreams (2008) dianggap sebagai karya mural yang fantastik.


Karya-karya interiornya juga sangat tegas dan berani baik yang ia guratkan di lantai, dinding, atau plafon berbagai bangunan di London. Banyak pujian dialamatkan pada Sinta. Tak heran sejak karyanya dikenal publik, sejumlah penghargaan ia raih. Antara lain meraih Dover Street Arts Club Excellence (2003), Michael Moser Award (2004), Henry Moore Post Graduate Award (2005), The Gordon Luton Award  (2006), The Deutsche Bank Pyramid Award (2006), Westminster Civic Award (2007), Courvosier The Future 500 (2009), Shortlisted for the Jerwood Contemporary Painting Prize (2010), dan sebagainya.

“Saya tidak ingin dilabeli secara khusus tetapi jika saya harus memilih saya menyebut saya sendiri sebagai pelukis ketimbang seniman instalasi atau mural,” kata Sinta pada Majalah LuarBiasa. “Meskipun saya tidak pernah melukis di atas kanvas (yang sering dianggap format seni lukis tradisional), saya sebenarnya mengeksplorasi warna dan bentuk secara tradisional tetapi pada medium arsitektur,” tuturnya.

Menurutnya, ciri khasnya adalah berani, terang, abstraksi warna yang dikemas pada objek-objek arsitektur seperti bangunan dan jembatan. Karya-karya tersebut campuran antara pop dan abstraksi. Dengan gaya inilah ia mengejutkan London, kota di mana dengan mudah menemukan karya-karyanya di sejumlah area publik.

YouTube Berasal dari Ide Sederhana

14.10


Lahir dari pasangan orangtua yang ilmuwan mungkin memang enak. Sejak kecil sudah dikenalkan pada hal-hal yang sifatnya sains yang kelak membawanya pada penemuan-penemuan baru atau setidaknya aplikasi baru yang bermanfaat bagi dunia. Begitu pula dengan Jawed Karim. Ayahnya adalah Naimul Karim, ilmuwan keturuan Bangladesh-Amerika yang tinggal di Jerman. Sedangkan ibunya, Christine Karim, seorang profesor bidang biokimia.

Karim lahir di Merseburg, Jerman Timur, pada 28 Oktober 1979. Tapi setahun setelah kelahirannya orangtuanya menyeberangi Tembok Berlin agar bisa tinggal di Jerman Barat. Saat terjadi reunifikasi Jerman Barat dan Jerman Timur pada tahun 1992, keluarganya pindah ke Amerika Serikat. Di negara baru ini Karim kecil melanjutkan sekolah di Central High School, Minnesota. Setelah lulus ia melanjutkan kuliah di University of Illinois at Urbana-Champaign. Sedangkan ayahnya kemudian bekerja sebagai peneliti di perusahaan teknologi 3M, sementara ibunya menjadi profesor di University of Minnesota.

Namun sebelum kuliahnya selesai, Karim keluar. Ia memilih bekerja di PayPal. Ternyata setelah bekerja ia ingin kembali kuliah. Kali ini mengambil pendidikan bidang ilmu komputer. Menurutnya pendiri Netscape, Marc Andreessen, dan pengusaha internet lainnya juga kuliah di sana. “Saya sebenarnya tak mau jadi Marc Andreessen baru, tetapi rasanya enak jika kuliah di tempat yang sama,” katanya. Karim meraih gelar Bachelor of Science pada tahun 2004. Sambil kuliah ia tetap melanjutkan kerja di PayPal. Di sinilah ia berkenalan dengan Chad Hurley dan Steve Chen yang kemudian jadi sahabatnya.

Suatu kali Karim mendengar cerita mengenai Janet Jackson yang tampil bersama Justin Timberlake di acara Super Bowl. Saat itu pakaian Janet melorot dan videonya tersebar di internet. Namun saat ia mencarinya, tak berhasil menemukan videonya. Dari sanalah terpikirkan untuk membuat website khusus berbagi video yang mudah diakses siapa saja. Ide itu kemudian dibahas bersama Hurley dan Chen. Dari ide itulah lahir YouTube pada awal tahun 2005 yang mereka garap dari garasi.


Video pertama yang di-upload ke YouTube adalah Me at The Zoo. Video itu berisi Karim yang sedang berada di sebuah kebun binatang di depan gajah. Yang mengambil gambarnya adalah teman Karim, Yakov Lapitsky. Durasi video itu hanya 19 detik. Karim meng-upload-nya pada 23 April 2005. Itulah awal sejarah YouTube.

Sejak itu YouTube jadi fenomena. Siapa pun bisa meng-upload videonya ke website itu dan siapa pun di seluruh dunia bisa melihatnya. Per Juli 2006 Karim, Hurley, dan Chen mengumumkan bahwa setiap harinya ada 65.000 video yang di-upload ke YouTube. Dan dari jumlah video yang ada, 100 juta diputar tiap harinya.

Performa yang mencengangkan itu membuat Google tertarik. Setelah bernegosiasi dengan para pendirinya, Oktober 2006 Google membeli YouTube dan mengangkat para pendirinya menjadi orang kaya baru. Karim mendapat bagian sebesar US$46 juta atau sekitar Rp400 miliaran. Dengan modal itu Karim mendirikan perusahaan modal ventura yang ia maksudkan untuk membantu para pebisnis pemula untuk mengembangkan usaha mereka dari sisi permodalan. Ia pun keluar dari YouTube. Sedangkan Hurley dan Chen memilih tetap berada di YouTube.

Kisah sukses Karim, Hurley, dan Chen ini menjadi hal yang inspiratif. Berasal dari ide sederhana, dikerjakan dari ruang yang sederhana, YouTube berkembang menjadi sesuatu yang luar biasa.

Penolakan adalah Kunci Sukses

14.06

Farrah Gray termasuk salah seorang lelaki kulit hitam yang paling berpengaruh di Amerika Serikat saat ini. Pengakuan itu diberikan oleh majalah National Urban League. Di usianya yang baru 29 tahun (kelahiran 9 September 1984) ia sudah menjadi pengusaha, filantropis, penulis buku best seller, kolumnis terkenal, dan motitavor dengan satu setengah juta audiens setiap tahunnya.

Gray lahir dari keluarga miskin keturunan Afrika. Ia bahkan dibesarkan olah orangtua tunggal (ibunya). Karena kondisi miskin itu ia harus mencari uang sendiri. Di saat usianya enam tahun ia mencari uang dengan menjual body lotion rumahan secara door-to-door. Ia menjualnya dengan harga US$1,5 per kemasan. Selain itu ia juga melukis batu-batu kecil dan dijual sebagai batas buku. Hasilnya lumayan. Itu adalah langkah pertama ia menjadi pengusaha.

Menginjak usia tujuh tahun Gray lebih taktis berdagang. Berlaga bak seorang pebisnis profesional, ke mana-mana ia membawa kartu nama dengan tulisan  “21st Century CEO”. Mungkin itulah cita-citanya. Pada usia 8 tahun di Chicago ia memulai mengelola Urban Neighborhood Economic Enterprise Club (UNEEC). UNEEC menyusun data pekerjaan bagi kalangan anak-anak yang mau mendapatkan uang secara legal. Lalu pada usia 10 tahun sudah jadi host acara radio dengan nama “Backstage Live” di Las Vegas dengan pendengar sampai 12 juta. Pada saat itu ia mengawali kariernya sebagai pembicara dengan tarif US$ 5.000-10.000 setiap kali penampilannya.

Pada usia 13 tahun Gray sudah mengelola bisnis makanan bernama Farr-Out Food, gerai bisnis yang diperuntukkan bagi anak-anak. Setahun kemudian bisnis ini berkembang menjadi jaringan bisnis dengan omset sampai US$ 1,5 juta (sekitar Rp 13,5 miliar) setahun. Perusahaan makanan ini dua tahun kemudian ia jual dengan nilai lebih dari US$ 1 juta. Pada usia 16 tahun ia meluncurkan majalah sendiri bernama INNERCity.  Sekarang ia mengelola perusahaan penerbitan sendiri dengan buku-buku yang best seller.

Menariknya, di saat kelimpahan harta, Gray tak pelit berbagi. Melalui yayasannya, The Farrah Gray Foundation, ia berbagi pada sesama dengan memberikan beasiswa dan pendidikan kewirausahaan.

Apa rahasia suksesnya? “Dalam hidup kita tidak mendapatkan apa yang kita mau. Kita mendapatkan hidup apa adanya. Jika kita ingin lebih, kita harus bisa lebih. Agar bisa lebih, kita harus menghadapi penolakan,” katanya. Ini pernyataan yang filosofis. Setidaknya ia menggambarkan bahwa kunci suksesnya adalah pantang menyerah. Menghadapi tolakan (ketika menawarkan barang atau jasa), bukanlah akhir segalanya. Penolakan adalah kunci sukses selama kita menyikapinya dengan cara positif. Sejak kecil, ketika menawarkan barang dagangannya Gray sudah terbiasa ditolak. Tetapi itu tak membuatnya berhenti berjualan. Dari sanalah mental usahanya ditempa hingga sukses seperti sekarang.

Bercermin

13.41

Beberapa waktu lalu, saya sempat mendengar sebuah lagu yang didendangkan oleh teman saya. Lagu yang sedang tren itu dinyanyikan oleh Justin Timberlake, berjudul "Mirrors".
Saya sendiri kurang mengerti apa isi lagu tersebut. Tapi, judul lagunya mengingatkan saya pada sebuah benda sederhana yang kerap saya jumpai setiap hari, cermin.
Bagi saya, cermin punya banyak arti. Bukan sekadar untuk memantas diri. Namun, cermin adalah sebuah refleksi diri kita. Tanpa cermin, kita tak bisa “mengoreksi” apa yang kurang dari penampilan kita. Karena itulah, saya “belajar” banyak dari cermin.

Saya sendiri dulu kerap berefleksi di depan cermin saat menghadapi hal yang kurang mengenakkan, atau peristiwa yang kurang sesuai dengan keinginan. Dalam sosok kembaran di dalam cermin, saya lantas berpatut diri. Sembari, saya ucapkan hal-hal yang menguatkan, untuk mengembalikan semangat juang yang sempat turun:

“Aca, kamu pasti kuat! Kamu hanya sedang mengalami proses untuk belajar jadi lebih baik lagi. Ini hanyalah ujian untuk menjadikanmu lebih kokoh untuk menentukan masa depanmu!” begitu ungkapan isi hati yang saya tumpahkan pada sosok kembaran saya di depan cermin.

Saya melakukan itu karena saya yakin, yang mampu mengubah diri saya, ya hanya saya sendiri. Meski ada bantuan orang lain & motivasi dari orang-orang terdekat, tanpa kita sendiri yang berbuat, tidak akan ada perubahan sejati.

Netter yang Luar Biasa,

Mari kita bercermin dengan suka hati. Kalau ada sedikit noda ya tidak apa-apa, tidak perlu malu hati. Nobody's perfect! Yang penting: fokus memperbaiki kekurangan, fokus pada apa yang bisa kita lakukan untuk menjadikan tahun baru ini lebih berarti, lebih bermakna, dan jauh lebih baik dari tahun sebelumnya.

10.000 Keluarga Ingin Mengadopsi Anak Ini

13.22

Nasib Davion Only memang tidak beruntung. Ia lahir saat ibunya dipenjara. Setelah itu ia dibesarkan di rumah penampungan anak hingga usia 15 tahun. Satu-satunya warisandari ibunya adalah namanya yang panjang dan sertfikat kelahirannya.
Namanya sendiri adalah Davion Navar Henry Only. Ia hapal masing-masing arti katanya yaitu dicintai, coklat, penguasa rumah, dan satu-satunya. Sayangnya sampai sejauh ini tak seluruh arti nama itu dapat ia rasakan. Bahkan setiap kali libur sekolah saat teman-temannya bisa berkumpul dengan keluarga atau kerabat, dirinya selalu seorang diri. Seolah-olah hanya nama terakhirnyalah yang cocok.

Pertengahan tahun ini ia begitu ingin memiliki keluarga. Boleh jadi juga karena anak-anak yang dibesarkan di rumah penampungan tapi belum diadopsi hingga usia 16-17 tahun memiliki risiko tak akan diadopsi selama hidupnya atau tak akan memiliki keluarga permanen. Padahal anak-anak yang keluar dari rumah penampungan (menginjak usia dewasa 18 tahun sesuai peraturan) tanpa memiliki keluarga (adopsi atau bukan) kebanyakan jadi gelandangan atau terjerumus ke dunia gelap. Davion tak mau seperti itu.

Karena itu langkah pertama yang dilakukannya adalah menemukan keluarga. Pertengahan Juni 2013 ia datangi perpustakaan sambil membawa sertifikat kelahirannya. Ketika ia mengetikkan nama ibunya ia menemukan data: tinggi, besar, pencuri yang licik, kokain, La-Dwina Ilene "Big Dust" McCloud, 55, meninggal 5 Juni 2013. Berarti ibunya meninggal beberapa minggu sebelumnya. Ia terhenyak.

Namun ia tak terpuruk lama. Empat bulan kemudian ia memutuskan untuk mencari calon orangtua asuh sendiri. Ketika ia ikut pembaptisan ia meminta waktu untuk diberi kesempatan berpidato di depan 300-an orang di gereja itu. Ia datang dengan pengasuhnya Connie Doing. Ia mengenakan jas lengkap yang kedodoran hasil dari pemberian. Meski ia pada dasarnya pemalu ia paksakan untuk tampil. “Barangkali akan ada orangtua yang mendengar cerita saya,” katanya pada Connie.

Maka setelah upacara pembaptisan selesai ia pun bicara. “Nama saya Davion dan saya selalu ada di rumah penampungan sejak lahir. Saya tahu Tuhan tidak pernah menyerah untuk saya. Begitu pun saya,” katanya. Ia lalu berbicara tentang dirinya, kalau libur ia bekerja. Karena beratnya pekerjaan ia pernah kehilangan bobot sampai 40 pound (18 kg).  Meski begitu nilainya baik. Ia mendapat nilai A untuk seluruh pelajaran kecuali geometri.

Ketika ditanya, keluarga seperti apa yang diharapkannya, ia menyahut, “Saya akan terima siapa pun, tua atau muda, ayah atau ibu, hitam, putih, atau ungu. Saya tak peduli. Dan saya akan sangat menghargainya. Saya akan melakukan yang terbaik yang bisa saya lakukan,” ujarnya.

Kontan pernyataan itu menggema ke mana-mana. Awalnya hanya koran lokal, Tampa Bay Times, yang memuatnya. Tak lama kemudian koran-koran nasional AS memuatnya. Davion bahkan diwawancara sejumlah stasiun TV. Media luar AS pun beramai-ramai memuatnya hingga seluruh dunia memberitakan kisah inspiratif dari Davion. Sejak itu, agen yang menangani proses adopsi Davion memperolah sekitar 10.000 penawaran dari keluarga yang ingin mengadopsinya. Belum jelas keluarga mana yang akan dipilih Davion. “Saya tahu, tak memiliki siapa-siapa itu seperti apa, (seperti) tanpa cahaya di ujung terowongan, tak ada orang yang menginginkan kita. (Tapi) Saya tetap berkata, ‘Bukan hanya saya, tetapi semua teman-teman di rumah penampungan, semua anak membutuhkan keluarga’. Saya hanya berharap mereka tak menyerah. Suatu saat akan ada orang yang memberi kesempatan...,” katanya dalam suatu wawancara.

Cerita Davion memang mengharukan. Bahkan ini menyentuh banyak orangtua tak hanya di AS tapi di dunia bahwa banyak anak seperti Davion yang butuh naungan keluarga. Sebagai akibatnya, tawaran adopsi tak hanya diterima Davion tetapi anak-anak terlantar lainnya. Inilah yang oleh media disebut “Davion Effect”.

Manusia Berusaha, Tuhan Menentukannya

14.57

Ungkapan "Manusia berusaha, Tuhan menentukan" dapat kita maknai: seberapa keras usaha yang kita lakukan, apa pun hasilnya, kita seharusnya pasrah dan berserah, karena pasti ada "hukum alam" yang luar biasa indah di balik semua hasil yang didapat.
Alkisah, ada seorang pemburu yang tengah memburu mangsanya di hutan. Namun, karena suatu sebab, ia mengalami kecelakaan. Bukannya mendapatkan buruan, ia malah mendapatkan musibah terperosok ke dalam lubang jebakan yang dibuat oleh pemburu lainnya. Kakinya pun terluka parah sehingga harus diamputasi sebatas paha.
Tentu, ia bersedih. Bukan karena sekadar kehilangan kaki, tapi karena kini ia mengalami kesulitan dalam berburu mangsa di hutan. Apalagi, hanya dari berburu itulah ia bisa menghidupi keluarganya. Sebab, sebelum kejadian itu, ia selalu menjual sebagian besar buruannya ke pasar dan mendapatkan uang yang cukup untuk memberi makan keluarganya.
Hari demi hari berlalu, waktu demi waktu berjalan. Meski berusaha sekuat tenaga untuk bisa pulih dan kembali berburu dengan bantuan kaki palsu, ia tak bisa selincah dulu lagi. Sehingga, si pemburu itu pun tak bisa memenuhi kebutuhan keluarganya seperti dulu. Beruntung, keluarganya selalu mendukungnya.
Maka, untuk menambal kebutuhan hidup, mereka pun bercocok tanam dan berkebun di ladang yang selama ini kurang dimaksimalkan. Bahu-membahu mereka saling bantu. Di tengah kesedihannya karena tak bisa berburu, pelan tapi pasti si pemburu kini mulai menemukan semangat baru. Apalagi, keluarganya pun ikut membantu. Sehingga, tanpa dirasa, hasil tanaman dan panenan kebun itu ternyata cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Bahkan, karena makin mahir dan tahu teknik terbaik, hasilnya pun makin lama makin berlimpah.
Tanpa terasa, waktu berlalu. Si pemburu dan keluarganya kini menjadi petani yang sukses. Mereka hidup berkecukupan dari hasil berkebun. Bukan itu saja. Jika dulu sering meninggalkan keluarga karena harus berburu selama beberapa lama di hutan, kini si pemburu selalu berada dekat dengan keluarganya. Ia bebas bercanda dan mendidik anaknya sehingga semua tumbuh dengan sehat. Karena itulah, meski dulu sangat menyesal kakinya cacat ketika berburu dulu, kini si pemburu berterima kasih pada nasib. Sebab, dengan kondisi saat ini, ia malah makin dekat dengan keluarga dan makin bisa membahagiakan mereka karena bisa selalu berada dekat dengan istri dan anaknya.
Itulah sepenggal kisah "keindahan" di balik musibah. Si pemburu yang menyesal kakinya harus hilang dan tak bisa lagi berburu, ternyata mendapat "skenario" indah dalam kehidupannya. Ia malah bisa lebih bahagia saat menjadi petani tanpa harus meninggalkan keluarganya ke hutan. Melalui kisah ini, kita bisa belajar, bahwa memang manusia berusaha, Tuhan yang menentukan. Dan, pasti ada banyak hikmah di balik ketentuan Sang Mahakuasa.
Namun selain itu, jangan dilupakan juga, bahwa sebelum Tuhan menentukan, manusia wajib berusaha. Kalimat "manusia berusaha" yang berada di depan kalimat "Tuhan menentukan", harus kita perhatikan. Sebab, tanpa usaha, tanpa bekerja, tanpa berupaya, kita hanya akan jadi manusia tanpa daya. Karena itu, jangan pernah tidak berusaha ketika mengharap sesuatu. Jangan berkata pasrah dan berserah pada ketentuan Sang Mahakuasa jika kita belum mengusahakan semaksimal yang kita bisa. Sebab sejatinya, yang terbaik dari-Nya hanya akan diberikan kepada mereka yang mau berbuat yang terbaik pula untuk diri dan lingkungannya.
Mari terus berusaha, terus berkarya. Do your best, let God take the rest.

Secangkir Kopi

14.44


Alkisah, sebuah liburan panjang diisi oleh sekumpulan sahabat untuk melakukan reuni. Sudah dua puluh tahun lebih mereka berpisah dan baru tahun itu mereka bisa berkumpul. Untuk itu, mereka sepakat untuk menemui gurunya ketika bersekolah dulu. Mereka hendak berterima kasih, bahwa dengan ajaran dari sang guru, mereka kini telah sukses dengan bidangnya masing-masing.

Maka, di sebuah sore yang hangat, mereka pun datang bersama-sama mengunjungi sang guru. Mereka saling bercanda, mengenang masa kenakalan ketika remaja. Kemudian satu sama lain mulai berkisah tentang perjuangan hidup yang mereka lalui. Ada yang sudah jadi bos besar di perusahaan multinasional. Ada pula yang menjadi pengusaha sukses di bidang transportasi. Ada pula yang mengaku sudah melanglang buana ke hampir semua benua untuk memenuhi impiannya.

Melihat percakapan seputar kesuksesan yang sudah hampir melampaui batas, sang guru pun meminta izin untuk ke belakang rumah. Rupanya, ia mengambil beberapa cangkir kopi dan satu teko berisi kopi panas yang siap diseduh. Uniknya, cangkir yang diberikan terdiri dari beragam bentuk dan terdiri pula dari beragam bahan. Ada yang dari keramik, kristal, kaca, melamin, dan ada pula yang hanya terbuat dari plastik biasa.

“Sudah, sudah.. Ngobrolnya berhenti dulu. Ini Bapak sudah siapkan kopi buat kalian,” sebut sang guru memecah keasyikan obrolan mereka.

Hampir serempak, mereka kemudian berebut cangkir terbaik yang bisa mereka dapat. Akhirnya, di meja yang tersisa hanya satu buah cangkir plastik yang paling jelek. Lantas, setelah semua mendapatkan cangkirnya, sang guru pun mulai menuangi cangkir itu dengan kopi panas dari teko yang telah disiapkannya.

“Mari, silakan diminum,” ajak sang guru, yang kemudian ikut mengisi kopi dan meminum dari cangkir terakhir yang paling jelek. “Bagaimana rasanya? Nikmat kan? Ini dari kopi hasil kebun keluarga saya sendiri.”

“Wah, enak sekali Pak.. Ini kopi paling sedap yang pernah saya minum,” timpal salah satu murid yang langsung diiyakan oleh teman yang lain.

“Nah, kopinya enak ya? Tapi, apakah kalian tadi memperhatikan. Kalian hampir saja berebut untuk memilih cangkir yang paling bagus hingga hanya menyisakan satu cangkir paling jelek ini?” tanya sang guru.

Murid-murid itu pun saling berpandangan. Mereka bertanya-tanya, apa maksud gurunya bertanya seperti itu. Maka sang guru pun kembali meneruskan ucapannya. “Tak salah memang untuk memilih apa saja yang terbaik. Malahan, itu sangat manusiawi. Tapi masalahnya, ketika kalian tidak mendapatkan cangkir yang bagus, perasaan kalian mulai terganggu. Kalian melihat cangkir yang dipegang orang lain dan mulai membandingkannya. Akibatnya, pikiran kalian terfokus pada cangkir. Padahal yang kalian nikmati bukanlah cangkir, melainkan kopinya. Dan, kalian sendiri mengaku bahwa kopi ini adalah kopi terenak. Jadi, tolong pikirkan baik-baik. Hidup kita seperti  kopi dalam cangkir tersebut. Sedangkan cangkirnya adalah pekerjaan, jabatan, dan harta benda yang kalian miliki.”

Sang guru pun kembali meneruskan wejangannya. “Karena itu, jangan pernah biarkan cangkir memengaruhi kopi yang kita nikmati. Cangkir bukanlah yang utama, sebab kualitas kopi itulah yang terpenting. Jangan berpikir bahwa kekayaan yang melimpah, karier yang bagus, dan pekerjaan mapan yang kalian banggakan tadi merupakan jaminan kebahagiaan. Namun sejatinya, kualitas hidup kita ditentukan oleh ‘apa yang ada di dalam’ bukan ‘apa yang kelihatan dari luar’. Apa gunanya kita memiliki segalanya, namun kita tidak pernah merasakan damai, sukacita, dan rasa bahagia dalam kehidupan kita? Itu sangat menyedihkan, karena itu sama seperti kita menikmati kopi basi yang disajikan di sebuah cangkir kristal yang mewah dan mahal. Jadi, kunci menikmati kopi bukanlah seberapa bagus cangkirnya, tetapi seberapa bagus kualitas kopinya.”

Semua murid itu pun tertunduk malu. Mereka merasakan inilah reuni yang membuat mereka kembali “membumi”. Mereka pun berjanji, akan menjadikan pembelajaran cangkir kopi tersebut untuk menjadikan sukses yang diraih memberi kemanfaatkan kepada lebih banyak orang, dan bukannya menjebak mereka dalam kesombongan.