Tampilkan postingan dengan label wisata osing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisata osing. Tampilkan semua postingan

Ritual Tari Seblang di Banyuwangi

02.41

Ritual Seblang adalah salah satu ritual masyarakat Using yang hanya dapat dijumpai di dua desa dalam lingkungan kecamatan glagah banyuwangi yakni desa Bakungan dan Olihsari. Ritual ini dilaksanakan untuk keperluan bersih desa dan tolak bala, agar desa tetap dalam keadaan aman dan tentram. Ritual ini sama seperti ritual Sintren di wilayah cirebon, Jaran Kepang, dan Sanghyang di Pulau Bali.

Penyelenggaraan tari Seblang di dua desa tersebut juga berbeda waktunya, di desa Olihsari diselenggarakan satu minggu setelah idul fitri, sedangkan di desa Bakungan yang bersebelahan, diselenggarakan seminggu setelah idul adha.

Para penarinya dipilih secara supranatural oleh dukun setempat, dan biasanya penari harus dipilih dari keturunan penari seblang sebelumnya. Di desa Olihsari, penarinya haruslah gadis yang belum akil balik, sedangkan di Bakungan, penarinya haruslah wanita berusia 50 tahun ke atas yang telah mati haid

Tari Seblang ini sebenarnya merupakan tradisi yang sangat tua, hingga sulit dilacak asal usul dimulainya. Namun, catatan sejarah menunjukkan bahwa Seblang pertama yang diketahui adalah Semi, yang juga menjadi pelopor tari Gandrung wanita pertama (meninggal tahun 1973). Setelah sembuh dari sakitnya, maka nazar ibunya (Mak Midah atau Mak Milah) pun harus dipenuhi, Semi akhirnya dijadikan seblang dalam usia kanak-kanaknya hingga setelah menginjak remaja mulai menjadi penari Gandrung.

Tari Seblang ini dimulai dengan upacara yang dibuka oleh sang dukun desa atau pawang. Sang penari ditutup matanya oleh para ibu-ibu yang berada dibelakangnya, sambil memegang tempeh (nampan bamboo). Sang dukun mengasapi sang penari dengan asap dupa sambil membaca mantera. Setelah sang penari kesurupan (taksadarkan diri atau kejiman dalam istilah lokal), dengan tanda jatuhnya tempeh tadi, maka pertunjukan pun dimulai. Si seblang yang sudah kejiman tadi menari dengan gerakan monoton, mata terpejam dan mengikuti arah sang pawang atau dukun serta irama gendhing yang dimainkan. Kadang juga berkeliling desa sambil menari. Setelah beberapa lama menari, kemudian si seblang melempar selendang yang digulung ke arah penonton, penonton yang terkena selendang tersebut harus mau menari bersama si Seblang. Jika tidak, maka dia akan dikejar-kejar oleh Seblang sampai mau menari.

musik pengiring Seblang hanya terdiri dari satu buah kendang, satu buah kempul atau gong dan dua buah saron. Sedangkan di Olihsari ditambah dengan biola sebagai penambah efek musikal.

Dari segi busana, penari Seblang di Olihsari dan Bakungan mempunyai sedikit perbedaan, khususnya pada bagian omprok atau mahkota.

Pada penari Seblang di desa Olihsari, omprok biasanya terbuat dari pelepah pisang yang disuwir-suwir hingga menutupi sebagian wajah penari, sedangkan bagian atasnya diberi bunga-bunga segar yang biasanya diambil dari kebun atau area sekitar pemakaman, dan ditambah dengan sebuah kaca kecil yang ditaruh di bagian tengah omprok.

Pada penari seblang wilayah Bakungan, omprok yang dipakai sangat menyerupai omprok yang dipakai dalam pertunjukan Gandrung, hanya saja bahan yang dipakai terbuat dari pelepah pisang dan dihiasi bunga-bunga segar meski tidak sebanyak penari seblang di Olihsari. Disamping unsure mistik, ritual Seblang ini juga memberikan hiburan bagi para pengunjung maupun warga setempat, dimana banyak adegan-adegan lucu yang ditampilkan oleh sang penari seblang ini.

Teater Janger atau kadang disebut Damarwulan atau Jinggoan, merupakan pertunjukan rakyat yang sejenis dengan ketoprak dan ludruk. Pertunjukan ini hidup dan berkembang di wilayah Banyuwangi, Jawa Timur serta mempunyai lakon atau cerita yang diambil dari kisah-kisah legenda maupun cerita rakyat lainnya. Selain itu juga sama-sama dilengkapi pentas, sound system, layar/ tirai, gamelan, tari-tarian dan lawak. Serta pembagian cerita dalam babak-babak yang dimulai dari setelah Isya hingga menjelang Subuh.

Legenda Putri Rengganis di Banyuwangi

02.29
Rengganis adalah kesenian drama tadisional yang berkembang di Banyuwangi, diperkirakan berasal dari Kerajaan Mataram Islam. Sebetulnya masalah nama kesenian tersebut di Banyuwangi sangat beragam, ada yang menyebut Prabu Roro, ada yang juga yang menyebut Umar Moyo. Namun ada benang merahnya, yaitu nama-nama tersebut mengacu kepada nama tokoh yang diangkat dalam kesenian tersebut. Antara lain Putri Rengganis dan Prabu Roro seorang raja putri dan adipati Umar Moyo dari kerajaan Guparman.

Namun hingga saat ini belum ada penelitian yang mengakitkan dengan keberadaan kesenian serupa yang sampai sekarang masih berkembang di daerah Bantul dan Sleman Togyakarta Sementara cerita yang diangkat dari kesenian "Rengganis" diambil dari buku Serat Menak. Tokoh-tokoh yang populer dalam kesenian Rengganis adalah Jemblung, abdi Umar Moyo, Lam Dahur (kalau dalam pewayangan mirip Werkudoro) Pati Tejo Matal, Jayengrono.

Selain unsur-unsur islam yang sangat menonjol dalam kesenian tersebut, juga ada kalimat-kalimat mantra yang sering diuncapkan Umar Moyo saat meminta kekuatan senjata pamungkasnya, yaitu Kasang Tirto Nadi. Umar Moyo Selalu berucap "Laillah Hailalloh Nabi Ibrohim Kamilulloh. Mbal-Gambal Mustoko malih. Sang Kasang Tirtyo Nadi, aku njaluk panguasamu kasang iso ....."

Setiap tokoh mempunyai karasteristik, seperti tokoh pewayangan. Teknik pentas dan jejer, atau sampa'an seperti dalam wayang orang Setiap adegan, tokoh suatu kerajaan akan keluar bersama-sama. Kecuali permasuiri, Raja dan para patik. Tari setiap tokoh juga mempunyai ciri khas tersendiri, begitu juga gending musik pengiring.

Pada tahun 1960-an, atau ketika pergolakan politik di negeri ini. Selain seni drama yang bersumber cerita dari penyebaran Islam di Persia, Rengganis juga sering digunakan alat Propaganda oleh LESBUMI dari NU. Sementara LKN dengan Angklung Dwi Laras dan (Lekra?) PKI dengan kesenian Genjer-Genjer.

3 Tujuan Wisata Paling Memukau di Banyuwangi

16.20

Siapa sih yang tidak kenal dengan kota yang satu ini? Kota eksotis yang berada di ujung timur dari Provinsi Jawa Timur, kota yang sering menjadi tempat mengantri kapal veri untuk menyebrang ke Pulau Dewata, Bali.

Kota yang dijuluki sebagai "Sunrise of Java" ini memiliki sejuta keindahan alam yang tidak boleh dilewatkan begitu saja ketika kita mampir di Banyuwangi. Ada beberapa rekomendasi tempat wisata yang tidak kalah menarik dengan tempat wisata di kota lainnya.

1. Kawah Ijen “Ijen Crater”


Kawah Ijen yang letaknya di perbatasan Kabupaten Banyuwangi dengan Kabupaten Situbondo. Tempat ini bisa ditempuh 1-2 jam dari Kota Banyuwangi, kemudian dilanjutkan mendaki ke puncak antara 1-2 jam (untuk pemula dan jalan santai). Tidak usah khawatir, rute pendakian dan jalanannya tidak susah karena petugas setempat sudah membuat sedemikian rupa agar pengunjung mudah untuk mencapai puncak. Dan sungguh luar biasa ketika pengunjug sudah dapat mencapai puncaknya karena rasa lelah selama pendakian akan terbayar dengan nuansa indah alami di puncak. Pengunjung akan mendapat bonus tersendiri ketika berkunjung ke kawah ijen di dini hari (karena diizinkannya adalah sekitar pukul 01.00 WIB) di sana, ketika melihat lebih dekat ke kawahnya, ada yang menakjubkan yaitu adanya “Blue Fire”  yang mana hanya ada dua di dunia dan salah satunya itulah yang berada di Banyuwangi, Jawa Timur, Indonesia. Dan setiap tahunnya pemerintah setempat mengadakan acara internasional sebagai salah satu ajang promosi Banyuwangi yaitu ”Tour de Ijen”.


2.  Pulau Merah Red Island

Pulau Merah letaknya di Kabupaten Banyuwangi bagian selatan, untuk menjangkau tempat ini dibutuhkan sekitar 2-3 jam dari Kota Banyuwangi, rute dan medan jalan yang ditempuh sangat mulus, karena pada setia tahunnya rute ini dilewati dalam penyelenggaraan acara “Tour de Ijen” . Pantai dengan pasir putih siap menyambut kedatangan pengunjung yang berkunjung di Pulau Merah tersebut, desiran ombak laut yang besar sangat indah dan mengasyikkan untuk dinikmati. Dan seperti namanya, Pulau Merah, terdapat sebuah pulau kecil diseberang pantai yang menjulang seperti bukit degan tanah berwarna merah. Ombak dan panoramanya sanggup menarik wisatawan betah untuk berada di lokasi. Dan sempat diadakan perlombaan selancar berskala internasional pada 2013 di Pulau Merah tersebut.



3. Teluk Hijau “Green Bay”


Berbeda dengan Pulau Merah, Teluk Hijau memiliki jarak tempuh lebih jauh, butuh 3-4 jam untuk mencapai lokasi atau lebih. Selain itu medan tempuh yang dilewati pun lebih ekstrim, meskipun pada awalnya masih mulus. Letak tempat wisata ini sama dengan Pulau Merah, namun masih jauh lagi jaraknya. Dan ketika rute menuju Teluk Hijau pisah dari rute Pulau Merah, maka jalan bebatuan harus siap ditempuh. Ketika sampai di lokasi, pengunjung harus rela berjalan untuk akhirnya sampai di bibir pantai berkisar antara 2 km yang bisa ditempuh 1 jam perjalanan karena medannya pun cukup menantang. Namun, keindahan pesona teluk akan membayar semua kelelahan dalam perjalanan. Pasirnya yang puih, air lautnya yang biru kehijauan, dan alamnya yang masih asri sungguh luar biasa, berutung ketika pengunjung dapat menjumpai panghuni setempat alias monyet. Keeksotisan Teluk Hijau dapat dinikmati setelah melewati Pantai Batu. Keperawanan Teluk Hijau masih terjaga, karena sebenarnya, belum banyak wisatawan yang tahu tentang wisata Teluk Hijau ini namun, sungguh panoramanya luar biasa indah.

Jadi, nunggu apa lagi? Ayo mari berwisata ke Banyuwangi. I Love Banyuwangi :)

Hotel Santika Banyuwangi Telah di Resmikan

15.53

Akhirnya, Hotel Santika Banyuwangi diresmikan pada Rabu, 11 Maret 2015 ditandai dengan pemukulan gong oleh Bupati Banyuwangi, H Abdullah Azwar Anas M.Si. Peresmian ini juga ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Bupati Banyuwangi, lantas diserahkan kepada PT Graha Sahari Wangi, CEO Kompas Gramedia & General Manager Hotel Santika Banyuwangi, Fabian Cahyadi Hadi.



Hotel Santika Banyuwangi yang merupakan hotel ke-79 dari Santika Indonesia Hotels & Resort dan hotel ke-22 dari kelompok hotel Santika dengan bintang tiga ini semakin melengkapi line-up Santika Hotel Group dalam melayani kebutuhan hotel akan konsumen kelas menengah hingga atas.

Lokasinya yang sangat strategis di pusat kota Banyuwangi, dekat dengan pusat bisnis & wisata serta Bandara Blimbingsari, membuat Hotel Santika Banyuwangi pilihan yang sangat tepat untuk travelers yang melakukan perjalanan bisnis maupun wisata. Travelers tak perlu direpotkan dengan harus menginap di dua tempat yang berbeda, karena Hotel Santika Banyuwangi terjangkau baik dari kawasan bisnis maupun wisata tersebut.

Dengan 125 kamar dan suites yang disediakan, Hotel Santika Banyuwangi memberikan berbagai pilihan kamar untuk para tamunya. Selain itu, adanya fasilitas restaurant, lobby lounge ballroom dan meeting rooms, juga mengakomodir travelers yang ingin mengadakan berbagai macam acara baik perorangan, perusahaan maupun organisasi. Tak perlu khawatir dengan fasilitas, karena Hotel Santika Banyuwangi memiliki pelayanan standar bintang 3, travelers.

Harga Perkamar berkisar Rp. 525.000 per malam untuk Kelas Superior Room dan Rp. 637.000 Untuk Deluxe Room, bagi para wisatawan di seluruh penjuru nusantara, anda tidak perlu ragu lagi untuk berwisata di Banyuwangi karena sarana dan prasarana sudah lengkap :)

Selamat dan sukses untuk Hotel Santika Banyuwangi! semoga artikel ini bermanfaat :)

Pantai Wedi Ireng Surga Wisata Baru di Banyuwangi

15.00
Nama pantainya "pantai wedi ireng" dan pantai ini lokasinya berada di desa Sumber Agung kec. Pesanggaran kab. Banyuwangi. Pantai wedi ireng atau yang juga disebut pantai pasir baja juga sejalur dengan lokasi pantai pulau merah atau red island. Ane kesananya motoran aksesnya mudah bgt kok dijangkau soalnya udah mulus aspalnya

Untuk sampai ke pantai wedi ireng ini ane juga ngelewatin pantai pancer karena lokasinya juga sejalur dengan pantai pancer. Karena ga ada tmpt parkirannya kendaraan bisa di parkir di pasar ikan pancer gan, inshaallah aman kok. Keunikan pantai ini karena pasirnya yang kecoklatan campur dengan pasir warna item dan yang lebih ga akan terlupakan adalah harus lewat bukit dan hutan2 dulu untuk menikmati pemandangan salah satu surga yang tersembunyi ini.

Ane share beberapa pic nih,

Dibandingkan pantai Pulau Merah, pantai yang satu ini jelas kalah populer, meskipun masih berada dalam satu jalur. Masalahnya lokasinya sulit terjangkau.Padahal keindahannya tidak kalah, oleh Teluk Hijau sekali pun. Bahkan ada kemiripan antara pantai Wedi Ireng dengan pantai Teluk Hijau. Bentuknya seperti huruf "W". Namun pantai Wedi Ireng memiliki garis pantai yang lebih panjang. Ada dua sisi pantai di Wedi Ireng, tapi dipisahkan oleh bebatuan di tengah pantai.
Lokasinya yang tersembunyi menjadikan pantai ini belum banyak dirambah wisatawan. Meski tanpa tiket masuk, namun pengunjung wajib menjaga keasrian tempat ini dan membawa pulang sampah yang dihasilkan.

Jika pantai selatan umumnya terkenal dengan ombaknya yang tinggi, namun berbeda dengan Wedi Ireng, keindahan teluk berpasir putih diapit bukit-bukit hijau serta ombaknya yang landai akan menyambut kedatangan wisatawan. Anda pasti akan betah berlama-lama menikmati indahnya pantai wedi ireng ini. Teluk yang sunyi, pasir yang bersih, pepohonan besar nan rindang, hembusan angin pantai yang sepoi-sepoi dan birunya lautan adalah perpaduan sempurna yang memberi kedamaian dihati.

Pantai Wedi Irengrelatif masih belum banyak terjamah oleh wisatawan, jadi kondisi alamnya masih bener-bener masih alami. Keunikan pantai ini terletak pada beberapa elemen yang membentuknya, yaitu pasir halus putih, pasir coklat yang agak kasar dan hamparan batu karang yang menambah eksotisnya pantai Wedhi Ireng.





Lalu dimana keterkaitan nama Wedi Ireng, yang berarti pasir yang berwarna hitam dengan kenyataan pasir pantainya yang terlihat berwarna putih kecoklatan?
Nama Wedi Ireng ternyata merefleksikan salah satu keunikan elemen yang terdapat pada pantai ini. Cobalah Anda keruk pasir pantainya, disana Anda akan menemukannya sekaligus menjawab rasa penasaran tentang keterkaitan nama Wedi Ireng untuk pantai yang indah ini. Dibalik pasir putih pantainya yang terlihat ternyata menyimpan butiran pasir hitam didalamnya. Inilah sebabnya pantai ini disebut dengan sebutan Pantai Wedi Ireng.


RUTE MENUJU PANTAI WEDI IRENG

Tidak sulit menemukan pantai Wedi Ireng, tapi dibutuhkan perjuangan untuk mencapainya.Dari pusatkota Banyuwangi, jaraknya sekitar 65 km yang bisa ditempuh selama tiga hingga empat jam perjalanan. Dari Banyuwangi menuju ke Kecamatan Jajag dan ikuti petunjuk jalan menuju Pulau Merah. Wilayah Pedotan merupakan pusat keramaian terakhir dari jalan yang dilewati. Di sini dapat dibeli perbekalan dan keperluan pribadi karena selanjutnya tak ada pertokoan.

Sebelum Pulau Merah, ikuti petunjuk jalan menuju Pantai Pancer yang jaraknya sekitar 3 km dari Pulau Merah. Dari Pancer ada dua jalan menuju Wedi Ireng yang berjarak sekitar 2 km di sebelah barat. Pertama dari tempat pelelangan ikan Pancer lurus mengikuti jalan sekitar dua km. Anda jangan segan bertanya ke warga sekitar dan menitipkan kendaraan Anda di sana.

Pilihan jalan kedua parkir kendaraan di sekitar TPI dan dilanjutkan dengan jalan kaki menuju muara sungai. Pilihan ini hanya direkomendasikan untuk penyuka petualangan karena harus menyebrangi muara, naik turun bukit serta melewati hutan. Di pagi hari, mudah saja melewati muara, karena air hanya setinggi betis. Namun di siang hari, laut pasang sehingga harus menyeberang dengan kapal nelayan, ongkosnya hanya Rp 5 ribu.

Setelah menyeberangi muara, ada dua jalan setapak. Pilih yang kanan atau jalan di sebelah barat dan dari sini Anda akan melewati bukit penuh pohon pisang sebelum masuk hutan. Sekitar 30 menit berjalan di bawah rerimbunan daun dan ditemani kicauan burung-burung liar, kondisi jalan cukup curam dengan kemiringan sekitar 80 derajat, sehingga harus ekstra berhati-hati. Selain itu sewaktu melewati semak belukar banyak ranting-ranting pohon yang berduri, karena itu jangan lupa untuk membawa sebatang kayu sebagai perlindungan diri dari duri-duri yang tajam.

Lelah perjalanan akan terbayarkan oleh pemandangan yang indah pantai Wedi Ireng di depan mata.

Ojek perahu yang siap mengantarkan Anda menuju Pantai Wedi Ireng.

Bagi pengunjung yang tidak memiliki cukup waktu, perjalanan menuju pantai Wedi Ireng ini bisa juga dilakukan menggunakan perahu milik para nelayan di Dusun Pancer, Desa Sumber Agung, Kecamatan Pesanggaran. Banyak perahu-perahu nelayan - mereka menyebutnya ojek perahu - yang siap mengantarkan Anda menuju 'surga' baru Wedi Ireng yang berlatar belakang pulau-pulau kecil.Dengan ongkos Rp 40 ribu, Anda bisa diantar jemput menggunakan perahu kecil. Namun bila hanya untuk mengantar atau menjemput di Pantai Wedi Ireng, nelayan hanya mematok harga Rp 25 ribu dengan perjalanan yang memakan waktu sekitar 30 menit.
Selain itu, ojek perahu ini juga menawarkan beberapa trip laut di wilayah tersebut. Pengunjung diajak mengelilingi beberapa pulau, seperti Pulau Bedil, Pulau Mustika, Pasir Pendek, Batu Mukijo dan transit ke Pantai Wedi Ireng. Ongkosnya Rp 550 ribu untuk maksimal 6 orang.

Gimana gan, bagus kan view pantainya? waktu pertama nyampek ane ngerasa nih pantai mirip banget ama teluk ijo "green bay" tp yang jelas nih pantai punya keunikan tersendiri selain masih jarang yang tau dan tentunya masih alami banget. oh ya boleh ngcamp juga kok dan belom ada tiket masuknya cuman bawa badan ama biaya transport doang.

Semoga bermanfaat :)

Kiat Liburan Hemat

20.03


Ada beberapa ide menarik agar kita bisa berlibur tanpa harus keluar banyak uang. Baca berbagai tips berhemat berikut dan terapkan saat liburan akhir tahun!

Mencari cara berlibur yang hemat biaya? Tidak ada yang salah dengan hal itu. Meski sedang berhemat, kita juga bisa berlibur dengan menyenangkan asal direncanakan dengan matang tentang pengeluaran selama liburan.

1. Tujuan liburan
Pastikan anda telah melakukan riset mengenai tujuan-tujuan yang menjadi pilihan Anda untuk berlibur. Jangan sampai Anda melewatkan promo yang sangat menguntungkan Anda dalam hal biaya, seperti diskon, penawaran spesial, dan bonus-bonus.

2. Akomodasi
Jika teman atau kerabat Anda memiliki tempat tinggal di tempat yang dekat dengan tujuan liburan Anda, maka tidak ada salahnya meminta izin untuk meminjam tempat tersebut sebagai akomodasi. Siapa tahu, mereka bisa meminjamkan dengan harga yang jauh lebih murah dibanding hotel, atau bahkan diberikan secara cuma-cuma.

3. Transportasi
Siasati biaya transportasi sepintar mungkin. Jangan sampai biaya transportasi menjadi pengeluaran terbesar Anda selagi berlibur. Jika Anda ingin berlibur keluar kota yang masih terjamah, tidak ada salahnya menggunakan transportasi umum seperti bus antar-kota, atau mungkin kereta api. Jika naik pesawat, memesan tiket dari jauh-jauh hari dan menghindari musim padat wisatawan adalah hal yang sangat bijak. Ketika sampai di tempat tujuan, pelajari baik-baik tentang kendaraan umum seperti bus, angkutan umum, atau MRT untuk yang di luar negeri. Jangan sungkan untuk bertanya pada sekeliling Anda jika Anda tidak mengerti.

4. Konsumsi
Saat berlibur ke suatu tempat, hindari tempat makan terkenal atau yang biasa dikunjungi para turis, karena sudah pasti harga yang ditawarkan sangat tinggi meskipun porsi dan kelezatannya tidak membuat puas perut. Carilah restoran yang lebih sering didatangi oleh masyarakat lokal setempat, biasanya akan lebih murah dengan porsi yang mengenyangkan dan enak.

5. Aktivitas
Pilihlah aktivitas berlibur yang tidak akan menghabiskan banyak biaya. Hiking, berenang, atau sekedar bermain di pinggir pantai adalah pilihan yang paling tepat. Jika pilihan Anda jatuh pada pantai, maka waktunya Anda menjadi ‘detektif’ untuk mencari pantai yang masih sepi pengunjung.

Nah, 5 hal di atas adalah hal-hal yang biasanya menguras kantong Anda selama berlibur. Ternyata, dengan budget sedikit, kita juga bisa berlibur dengan menyenangkan.

Selamat Berlibur!

MULAI 1 MEI 2014, GARUDA TERBANG KE BANYUWANGI

11.57
Maskapai penerbangan Garuda Indonesia resmi menggarap rute Surabaya - Banyuwangi - Denpasar mulai Kamis, 1 Mei 2014. Perusahaan penerbangan pelat merah itu akan menggunakan pesawat ATR 72-600 yang baru saja didatangkan dari pabriknya di Perancis. 

Maskapai yang masuk jajaran perusahaan penerbangan terbaik dunia itu akan terbang reguler tiap hari ke Banyuwangiyang kini mulai dilirik sebagai daerah investasi dan pariwisata. Garuda terbang tiap hari dari Denpasar menuju Banyuwangi, lalu dilanjutkan ke Surabaya. Demikian pula sebaliknya, Garuda berangkat dari Surabaya menuju Banyuwangi, lalu berlanjut ke Denpasar.

DENPASAR – Banyuwangi- SURABAYA
Denpasar - Banyuwangi
Berangkat dari Denpasar pukul 07.00 WITA dan tiba di Banyuwangi pukul 06.45 WIB.
Banyuwangi - Surabaya
Dari Banyuwangi pukul 07.15 WIB dan tiba di Surabaya pukul 07.55 WIB.

SURABAYA – Banyuwangi- DENPASAR
Surabaya - Banyuwangi
Berangkat pukul 08.30 WIB dan tiba di Banyuwangi pukul 09.20 WIB.
Banyuwangi - Denpasar
Berangkat pukul 09.50 WIB dan tiba di Denpasar pukul 11.30 WITA.

"Jadwal itu sesuai 'slot time' penerbangan yang sudah disepakati antara pihak maskapai, bandara dan Kementerian Perhubungan," ujar Suprayogi, Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

”Kami berharap masuknya Garuda bisa mendonorkan darah baru bagi pergerakan ekonomi Banyuwangi,” ujar Bupati BanyuwangiAbdullah Azwar Anas. Kehadiran Garuda menambah pilihan jadwal terbang ke Banyuwangisetelah sebelumnya sudah ada Wings Air yang menggarap rute Surabaya-Banyuwangi tiap hari sejak 2012. ”Aksesibilitas kini sangat mudah, sehingga investor dan wisatawan bisa lebih banyak masuk ke Banyuwangi," tutur Anas.

Pergerakan investasi di Banyuwangiterus bertumbuh, di mana pada 2013 mencapai Rp 3,2 triliun, naik 175 persen dibanding 2012. Kunjungan wisatawan mancanegara juga meningkat tajam hampir 100 persen dari 5.502 orang pada 2012 menjadi 10.462 orang.

Adapun wisatawan nusantara meningkat dari 860.831 orang menjadi 1.057.952 orang."Saya yakin turis akan semakin banyak datang ke Kawah Ijen, Pantai Pulau Merah, Sukamade, Pantai Plengkung, maupun untuk menikmati wisata budaya. Demikian pula investasi bisa meningkat pesat. Muara dari semua itu adalah ekonomi lokal yang bergerak dinamis, kesejahteraan masyarakat naik,” kata Anas.

Anas mengatakan, keputusan cepat Garuda untuk masuk ke Banyuwangi menunjukkan prospektifnya daerah tersebut. "Industri manufaktur kami tumbuh, agribisnis kami kuat, pariwisata sedang berkembang pesat. Semoga kehadiran Garuda bisa mengakselerasikan pergerakan ekonomi di daerah kami," tuturnya.

Direktur Layanan Garuda Indonesia, Faik Fahmi, mengatakan, pihaknya melirik pasar Banyuwangi karena perkembangan daerah yang pesat. Kehadiran Garuda diharapkan bisa ikut berkontribusi bagi peningkatan kunjungan wisatawan dan memudahkan investor untuk masuk Banyuwangi."Garuda telah masuk dalam Sky Team Global Alliance dengan 19 maskapai dunia, sehingga saling terhubung. Penerbangan dari Meksiko, misalnya, sudah bisa pesan langsung tiket keBanyuwangi karena terhubung dengan Garuda," ujar Faik.

Perkembangan penumpang pesawat di Bandara Blimbingsari Banyuwangi sendiri cukup menjanjikan. Pada 2011, jumlah penumpang di bandara tersebut mencapai 7.000 orang, lalu melonjak menjadi 24.000 orang pada 2012. Pada 2013, meningkat lagi menjadi 44.000 orang. 

"Tahun ini dengan ada dua maskapai, kami targetkan bisa 100.000 penumpang di Bandara Blimbingsari Banyuwangi," kata Anas. Dia mengatakan, bandara juga telah diperpanjang landasan pacunya menjadi 1.800 meter. Tahun ini, tingkat ketebalan landasan akan ditingkatkan dari 12 PCN (pavement classification number) menjadi 25 PCN dengan dana Rp65 miliar dari APBN, sehingga bisa didarati pesawat dengan badan yang lebih besar.


Tahun ini, Bandara Blimbingsari akan diubah menjadi green airport (bandara berkonsep hijau) pertama di Indonesia dengan terminal baru seluas 3.500 meter persegi. Bandara ini didesain tanpa AC, kecuali di ruangan tertentu. Sirkulasi udara diatur dengan kisi-kisi dan lebih banyak ruang terbuka. Aliran air juga ikut membantu menyejukkan udara. Di sekeliling terminal, bahkan di atas terminal, tanaman hijau membentang.

Jpnn.com, Republika.co.id

PANTAI RAJEKWESI, AKUARIUM PENYU TERBUKA

22.34
Tahun 1980-an, hampir sepanjang pantai selatan Jawa menjadi habitat penyu-penyu langka seperti penyu belimbing, sisik, dan hijau. Kini setelah wilayah selatan kian ramai dengan aktivitas nelayan, habitat penyu kian terdesak. Pantai Rajegwesi menjadi sedikit dari habitat penyu langka yang tersisa. Saat liburan sekolah tempat ini layak dituju.

Pantai Rajegwesi terbentang di selatan Banyuwangi, Jawa Timur. Letaknya di perbatasan hutan dan masuk dalam Taman Nasional Meru Betiri. Butuh waktu 2-3 jam untuk mencapai kawasan tersebut dari kota Banyuwangi. Jalurnya menembus perkebunan karet dan kakao dengan kondisi jalan berbatu.

Namun pantai ini menjadi salah satu tempat habitat penyu langka, di antaranya penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu slengkrah (Lepidochelys olivacea), dan penyu belimbing (Dermochelys coriacea). Pada waktu-waktu tertentu tukik atau anak penyu yang sebelumnya telah ditangkarkan, dilepas di pantai ini untuk tumbuh dan berkembang.

Sebelumnya, penyu-penyu itu ditangkarkan di pusat penangkaran penyu pantai Sukamade. Dibandingkan dengan Rajegwesi, Sukamade jauh lebih terpencil. Akses menuju pantai tersebut hanya bisa ditempuh dengan mobil bergardan ganda atau trail. Namun justru di tempat terpencil itu, penyu-penyu bisa bertelur dengan lebih aman, minim gangguan manusia dan habitatnya pun terjaga.

      Dari 1.000 tukik yang dilepas, hanya seekor yang bisa bertahan hingga dewasa dan kemudian bertelur lagi


Kepala Balai Taman Nasional Meru Betiri Bambang Darmodjo mengatakan, pada waktu malam di saat-saat tertentu, penyu mendarat di pantai untuk bertelur. ”Terkadang dua atau tiga ekor, tetapi bisa jadi 4-6 ekor penyu yang mendarat untuk bertelur. Tapi bisa jadi mereka mendarat namun tak jadi bertelur karena terusik keramaian,” katanya.

Penyu hijau misalnya, bisa menetaskan 100 butir telur di pantai. Telur-telur itu dikubur oleh induknya di pasir pantai untuk mengerami dan melindunginya dari babi hutan atau binatang lain pemangsa telur.

Kondisi pantai yang masih bersih dan sepi mendukung perkembangbiakan penyu-penyu yang kini sudah langka tersebut. Warga setempat seperti nelayan pun memberi ruang pada fauna langka. Mereka hanya menambatkan perahu di sisi barat pantai, adapun di sisi timur dibiarkan kosong dan menjadi habitat hewan-hewan seperti penyu, dan hewan laut lainnya.

Pantai Rajegwesi dan Sukamade selama ini menjadi lokasi wisata konservasi. Pada musim-musim tertentu, wisatawan dari dalam negeri dan mancanegara datang khusus untuk melihat penyu bertelur atau melepas tukik di pantai,” kata Bambang.

Seperti April lalu, Banyuwangi Turtle Sea Foundation mengajak anak-anak SD untuk melepas penyu di pantai Rajegwesi. Tukik-tukik itu berasal dari pantai Sukamade yang kemudian ditangkarkan di tempat penangkaran penyu di Ketapang, Banyuwangi. Davina (12), salah satu anak yang ikut melepas tukik terlihat senang bukan main saat penyu kecilnya lepas dari tangan dan berlari menyambut ombak. Davina baru sekali ini melihat tukik di alam bebas. Biasanya ia hanya melihatnya di akuarium.

Kegembiraan serupa tergambar di wajah anak-anak SDN Sarongan yang ikut melepas tukik. Menurut Westin Dwi, siswa kelas VI SD Sarongan, menyaksikan penyu bertelur sudah menjadi sesuatu yang langka. Karena itu ketika ada kegiatan yang berkaitan dengan penyu mereka bersemangat untuk ikut serta.

”Telur-telur penyu dibantu untuk ditetaskan kemudian saat menjelang dewasa harus dilepas agar mereka bisa hidup di alam bebas. Suatu saat kami berharap bisa melihat penyu itu kembali dan bertelur,” kata Westin yang hidup di lingkungan nelayan.

Pendiri Banyuwangi Sea Turtle Foundation Wiyanto Hadi Tanojo mengatakan, dirinya memang mengajak anak-anak untuk melepas tukik bersama agar mereka mengenal dan lebih menyayangi hewan-hewan langka itu. Kelak, saat mereka dewasa, rasa sayang terhadap lingkungan itu diharapkan mengakar di jiwa mereka.

Penyu-penyu di Meru Betiri sendiri kini terancam punah. Tak semua telur bisa menetas, atau berkembang menjadi penyu dewasa yang bisa bertelur lagi.
Telur yang baru saja dihasilkan induk kadang habis disantap hewan lain seperti babi hutan. Tidak jarang telur penyu dicuri dan diperdagangkan. Ketika telur sudah berubah menjadi tukik, tidak serta-merta mereka bisa bertahan di alam terbuka. Mereka juga kerap menjadi mangsa elang laut atau hewan lainnya.

Berdasarkan data dari Taman Nasional Meru Betiri, sepanjang tahun 2011 saja tercatat sebanyak 979 penyu yang mendarat dan bertelur di pantai Sukamade. Jumlah telur yang ditanam sebanyak 111.718 butir, namun hanya 81.023 ekor yang menetas jadi tukik. ”Dari 1.000 tukik yang dilepas mungkin hanya seekor yang bisa bertahan hingga dewasa dan kemudian bertelur lagi,” kata Bambang.

Rajegwesi menjadi bagian dari habitat penyu di Meru Betiri. Jika pantai seperti Rajegwesi tetap terjaga ekosistemnya, penyu pun tetap punya ruang hidup yang leluasa.

Air Terjun Kembar Wonorejo / Tirto Kemanten

21.07


Air terjun ini terletak di dusun Wonorejo desa Kalibaru Wetan kecamatan Kalibaru, Air Terjun ini terdiri dari 2 terjunan air di kanan dan kiri.. yahh inilah makanya disebut kemanten, aliaran airnya dari lereng Gunung Raung, pemandangan alam di sekitarnya amat menakjubkan seperti Tanaman kopi dan Coklat menyelimuti sekitar lokasi sehingga menambah keindahan panoramanya.

Sangat disarankan bagi para calon pengunjung agar membawa bekal Makanan, minuman, dan kebutuhan lainnya. Karena di Wisata Air Terjun Kemanten sangat jarang bahkan tidak ada pedagang jika anda berkunjung pada hari - hari kerja, kecuali jika anda berkunjung pada hari - hari libur itupun hanya pedagang - pedagang kecil / asongan.

Memang Banyuwangi Kaya dengan Wisata Alamnya :)

Telaga Umbul Pule

21.02


Umbul Pule adalah sebuah telaga yang terletak di Kecamatan Glenmore Kabupaten Banyuwangi yang sangat jernih yang airnya tak pernah surut walaupun musim kemarau panjang datang,sehingga air yang dikeluarkan oleh mata air Umbul oleh penduduk sekitar digunakan untuk mengembangkan usaha di sektor pertanian dan perikanan. Di samping itu, sumber mata air dari sini juga digunakan pihak PDAM untuk memenuhi kebutuhan air di daerah sekitar.

Misteri Hiu Raksasa Pantai Sukomade / Mbah kliwon

20.58
 
 
Di kalangan nelayan Rajegwesi-Sukomade, Desa Sarongan Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, selain Nyi Roro Kidul, mereka kerap melihat sesosok ikan hiu raksasa. Hiu tersebut berukurun sebesar dua kali rumah tipe rumah sederhana (RS).

 Nelayan setempat memanggil hiu raksasa tersebut dengan nama Mbah Kliwon. Dinamakan Mbah Kliwon, lantaran hiu raksasa tersebut kerap menampakkan diri Jumat Kliwon, penanggalan Jawa.

Di sekujur tubuh Mbah Kliwon ini dipenuhi dengan corak yang menyerupai huruf-huruf arab yang tersusun rapi seolah terangkai sebuah kalimat. Namun tak pernah ada yang bisa membacanya.

"Mbah Kliwon kadang di sekitaran lokasi kami memancing ikan, sekitar Tanjungan" kata para nelayan yang mengaku pernah menjumpai Hiu tersebut..

Berjumpa dengan Mbah Kliwon, bagi nelayan bukan hal yang menakutkan. Justru hal yang diharapkan. Karena kemunculan hiu raksasa tersebut pertanda jika populasi ikan sedang melimpah. Selanjutnya akan berdampak baik pada hasil tangkapan nelayan.

Untuk menghormati Mbah Kliwon, sebelum melaut di hari Jumat Kliwon, penanggalan Jawa, nelayan menggelar selamatan kecil dengan beberapa hidangan makanan. Tradisi tersebut dikemas dengan memanjatkan doa keselamatan pada Yang Maha Kuasa.

Mbah Kliwon bukan hanya sesosok Hiu sebagai simbol rejeki nelayan. Hiu yang menurut warga, lebar mulutnya dua kali daun pintu tersebut terkadang 'membantu' saat nelayan mengalami kondisi genting di laut.

"Tidak semua nelayan yang dibantunya. Hanya orang tertentu saja," kata Ninik, juragan ikan di Pantai Rajegwesi, .

Ninik mencontohkan kisah yang dialami oleh Nelayan Rajegwesi yang bernama Samuji. Samuji yang saat itu sedang melaut nyaris kehilangan nyawanya setelah perahunya pecah dihantam ombak besar.

Bahkan tubuh Samuji tidak ditemukan lagi oleh nelayan lainnya yang melakukan pencarian selama beberapa jam. Namun keesokan paginya, mereka mendapati Samuji sudah berada di Pantai rajegwesi dalam kondisi selamat.

Padahal lokasi tenggelamnya Samuji sangat berjauhan dengan bibir pantai. Warga
akhirnya terkejut dengan pengakuan Samuji jika dirinya dibawa ke tepian oleh sesosok hiu raksasa.

"Pak Samuji bilangnya dibawa ketepi pantai oleh ikan Hiu Raksasa,(Mbah Kliwon)" kata Ninik menirukan pengakuan Samuji, yang saat ini menetap di Pulau Sulawesi mengikuti transmigrasi.

Sumur Sri Tanjung Banyuwangi Diyakini Berkasiat

20.21
Sumur Sri Tanjung di timur pendopo Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, diyakini oleh sebagian masyarakat memiliki beberapa kasiat ampuh bagi orang yang meminumnya.Legenda putri Sri Tanjung ini, hingga kini memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat Osing Banyuwangi, bahkan bagi masyarakat diluar Banyuwangi juga mempercayai kekuatan putri Sri Tanjung itu.



Sumur Sri Tanjung yang terletak di jalan Sidopekso 10, Kelurahan Temenggungan, Kecamatan Banyuwangi Kota, tepatnya di timur pendopo Saba Swagata Blambangan Banyuwangi itu dinyakini masih menyimpan beberapa misteri dan kekuatan gaib.

Tak heran bila setiap harinya, sumur yang hanya berdiamter satu kali dua meter tersebut, selalu didatangi pengunjung yang ingin mengalap berkah.

Biasanya para tamu yang sengaja datang ke sumur Sri Tanjung ini, mempunyai hajat, diantaranya untuk pelaris dagangan, kepangkatan serta obat awet muda.

Menurut juru kunci sumur Sri Tanjung Ki Darusman, para pengunjung yang datang biasa terlebih dahulu diilhami atau didatangi oleh seorang putri yang cantik bernama Sri Tanjung.

Kebanyakan para peziarah datang pada hari Selasa Kliwon, Selasa Legi, Jum’at Kliwon dan Jum’at Legi. Para penziarah biasanya mengalap berkah dari sumur Sri Tanjung dengan meminum air dan memakai untuk mandi.

Syaratnya sangat ringan, para peziarah harus membawa kembang telon atau bunga pasar berwarna tiga macam untuk persembahan kepada sang dewi ratu Sri Tanjung.

Para penziarah akan didampingi oleh Ki Darusman selaku juru kunci untuk melakukan interaksi dengan dewi putri Sri Tanjung.

Setelah persembahan kembang telon di tempatkan dipinggir sumur maka juru kunci Ki Darusman akan memanggil dewi Sri Tanjung dengan menyalakan dupa wangi untuk mendapatkan do`a restu.

Usai mendapatkan do`a restu, para penziarah baru diperkenankan meminta dan bermunajat kepada Allah SWT dengan melalui sumur Sri Tanjung.

Setelah melakukan ritual do`a maka satu persatu peziarah diminta cuci muka dengan air sumur kemudian meminumnya. Tak jarang para wanita yang datang ke sumur Sri Tanjung ini juga menggunakan air sumur Sri Tanjung untuk mandi.

Para ibu-ibu dan remaja putri mengaku air sumur Sri Tanjung ternyata memiliki kekuatan magis termasuk untuk kencantikan dan obat awet muda.

Ki Darusman selaku juru kunci mengaku baru percaya akan kehebatan sumur Sri Tanjung, setelah pada tahun 1982 ada rombongan dari kraton Solo dan Klaten yang datang khusus ke sumur Sri Tanjung.

Para sesepuh kraton mengatakan bahwa sumur Sri Tanjung adalah salah satu sumur tiban tertua di tanah Jawa, yang merupakan satu-satunya peninggalan sejarah.

Sejak itulah Ki Darusman mau merawat sumur Sri Tanjung, walau para sesepuh dan nenek moyangnya sudah lebih dulu merawat dan sumur Sri Tanjung.

Sementara itu menurut Hasnan Singodimayan, salah satu budayawan Osing Banyuwangi mengatakan Sri Tanjung adalah legenda rakyat Osing Banyuwangi yang dipercaya memiliki kekuatan magis yang sangat luar biasa.

“Legenda tersebut menceritakan bagaimana seorang putri yang sangat cantik jelita dan setia yakni putri Sri Tanjung, difitnah oleh seorang raja yang bernama Sulokromo,” tegasnya.

Untuk merayu sang putri Sri Tanjung, sang raja menyuruh maha patih Sida Paksa suami Sri Tanjung untuk mencarikan gembolo emas yakni seikat tali emas di parang alas, suatu tempat yang tidak bisa dijamah oleh manusia.

Setelah Sida Paksa berangkat, sang raja Sulokromo kemudian merayu putri Sri Tanjung dengan mengatakan kalau suaminya tidak akan bisa kembali lagi namun dengan kesetiaan pada sang suami Sri Tanjung menolak rayuan raja Sulokromo tersebut.

Tanpa diduga maha patih Sida Paksa datang dengan membawa barang yang dipesan oleh sang raja bahkan barang tersebut lebih bagus dari apa yang di pesan oleh sang raja Sulokromo.

Melihat keberhasilan Sida Paksa tersebut, raja kemudian menfitnah Sri Tanjung telah merayu sang raja saat Sida Paksa melaksanakan tugas.

Sida Paksa yang percaya oleh raja kemudian mendatangi Sri Tanjung dan menuduh istrinya telah merayu sang raja walau Sri Tanjung sudah menjelaskan kepada suaminya, namun tetap tidak peryaca dan bahkan berniat membunuhnya.

Sebelum dibunuh Sri Tanjung mengatakan ia rela dibunuh tapi jika rohnya wangi maka ia tidak bersalah, setelah Sida Paksa menancapkan keris ke arah istrinya dan dibuang ke telaga.

Tiba-tiba air telaga tempat berbau wangi dan warnanya berubah menjadi putih, melihat kejadian tersebut Sida Paksa akhirnya sadar kalau istrinya tidak bersalah.

Oleh karena penyesalanya tersebut, akhirnya tanpa sadar Sida Paksa berteriak wangi sumber wangi, sumber wangi, seperti orang gila.

Pantai Plengkung

21.06
Pantai Plengkung Surganya para Pe-selancar


Pelengkung dikenal sebagai pantai terbaik untuk surfing di dunia. Nama plengkung juga sering disebut dengan G-Land. huruh G berasal dari kata Grajagan, nama dari sebuah teluk yang memiliki pmbak yang besar. G-Land dikelilingi hutan hujan tropis yang masih alami. Disini ditawarkan olahraga surfing yang digemari para pe-surfer dan sidarankan hanya untuk para pe-surfer yang profesional. Mei sampai oktober adalah bulan terbaik untuk surfing. Tidak diragukan lagi bahwa G-Land merupakan surge bagi para peselancar.
Kebanyakan peselancar berangkat dari Bali melalui banyuwangi langsung ke G-Land atau ke grajagan. Kemudian, mereka menyewa boat menuju pantai plengkung.
 AKOMODASI
Ada Cottage dan jungle camp dekat pantai tersedia untuk para pengunjung. Bagaimana mencapai pantai plengkung atau G-Land? Pantai pengkung terletak di pantai selatan banyuwangi, ujung timur jawa timur. Para pengunjung dapat mencapai pantai ini lewat dua jalur, yaitu lewat darat – laut.
  1. LEWAT DARAT : Banyuwangi – kalipahit berjarak 59 km dan bisa di tempuh dengan naik bus. Dari kalipahit-pasaranyar menempuh jarak 3 km dengan ojek motor atau menyewa mobil. Dari pasaranyar – trianggulasi – pancur menempuh perjalanan 15 km, lalu pancur plengkung berjarak 9 km, dicapai dengan mobil khusus.
  2. LEWAT DARAT-LAUT : Banyuwangi – benculuk menempuh jarak 35 km dengan naik bus atau kendaraan umum lainnya. Gempuluk – grajagan berjarak 18 km dapat di tempuh dengan kendaraan umum. Grajagan – plengkung dilanjutkan dengan speed boat.
Jika penumpang memilih melalui grajagan, tersedia penginapan di pantai grajagan. Para pengunjung bisa menikmati keindahan pentai grajagan sebelum berangkat ke pantai plengkung.



PANTAI TELUK HIJAU, SURGA YANG TERSEMBUNYI DI BANYUWANGI

10.29
 Banyuwangi  tak hanya memiliki Pantai Plengkung yang indah, tapi juga Teluk Hijau. Teluk Hijau atau juga sering disebut Green Bay, namanya mungkin tidak sepopuler Rajegwesi dengan bantengnya, atau Sukamade dengan penyunya. Tetapi teluk ini mempunyai daya tarik tersendiri dengan pesona pasir putih nan lembut, air terjun setinggi 8 meter dan pemandangan karang yang indah. Sesuai dengan namanya, teluk ini berwarna hijau jika dilihat dari jauh. Ini berbeda dengan kebanyakan teluk atau laut yang biasanya berwarna biru. Kenapa bisa begitu? Apa mungkin karena ada banyak ganggang hijau? Entahlah….Yang jelas warna hijaunya sangat indah.



Teluk Hijau terletak di Kabupaten Banyuwangi, bagian selatan Pesanggrahan, Desa Sarongan. Wilayahnya termasuk dalam Taman Nasional Meru Betiri. Inilah surga yang tersembunyi di Banyuwangi. Pantai yang masih tersembunyi dan sepi ini memiliki hamparan pasir putih yang menawan. Pasirnya begitu halus, sehingga mudah melekat di kulit. Perpaduan antara pasir putih, air laut yang jernih berwarna kehijauan dan suasana yang asri akan membuat siapapun yang melihatnya merasa kagum.

Kebanyakan wisatawan mengunjungi Taman Nasional Meru Betiri dan Sukamade sebagai tujuan utama. Sebelum sampai di dua tempat tersebut, kita akan melewati Teluk Hijau. Sehingga Teluk Hijau hanya menjadi tempat persinggahan. Pengunjung hanya berhenti sejenak dan melihat Teluk Hijau yang eksotis dari kejauhan di atas bukit. Namun surga Teluk Hijau yang sebenarnya berada di pantainya.





Untuk mencapai Teluk Hijau, pengunjung harus menuruni bukit dan melewati hutan sebelum sampai di pantai, karena pantai Teluk Hijau letaknya di balik tebing karang setelah Pantai Batu. Jika bertemu dengan pantai yang dipenuhi hamparan batu, berarti Anda berada di Pantai Batu. Di sini hampir tidak nampak pasir layaknya pantai kebanyakan, yang terlihat hanyalah hamparan bebatuan bulat, mulai dari seukuran kepalan tangan sampai sebesar batuan yang ada di tengah sungai.


Dari pantai Batu, lokasi Teluk Hijau semakin dekat. Langkahkan lagi sedikit kaki dan Anda pun akan tiba di Teluk Hijau yang berpasir putih dan airnya sangat jernih. 







Di sini kita bisa berenang atau sekedar bermain air di pantainya. Tidak jauh dari pantai terdapat bukit  kecil. Di satu sisinya ada bebatuan berwarna kuning kecoklatan. Di sisi timur sekitar 20 meter dari pantai kita akan menjumpai air terjun dengan debit air yang sedang. Benar-benar unik bukan? Selama musim hujan volume air akan lebih cepat dan indah. Jadi meskipun jauh dari pemukiman, anda tidak perlu susah susah mendapatkan air bersih untuk membilas badan selepas berenang di pantai.





Untuk yang suka kemping, di lokasi ini juga cukup bagus untuk mendirikan tenda. Yang perlu diperhatikan jika kemping di Teluk Hijau adalah kondisi pasang surut air laut. JIka kondisi air pasang, maka ombak bisa menjamah seluruh permukaan pantai. Karena itu tenda sebaiknya didirikan di daerah semak/perdu agar man dari jangkauan ombak ketika air laut pasang. Jadi jangan membangun tenda di tepi pantai.

Satu hal lagi, di kawasan ini tumbuh bunga yang termasuk langka, bunga Raflesia. Bunga Raflesia ini menjadi perhatian tersendiri bagi dinas kehutanan di daerah tersebut. Karena selain menjadi objek pariwisata, bunga ini pun dilindungi.






 RUTE MENUJU TELUK HIJAU
Ada 2 cara menuju teluk ijo dari tempat pintu masuk :

1. Lewat Darat

Teluk ijo berlokasi di Kecamatan Pesanggaran tepatnya di desa Sarongan. Berjarak sekitar 90 km arah selatan dari kota Banyuwangi. Untuk menuju pantai ini dari Banyuwangi kita tinggal mengikuti petunjuk arah menuju Pesanggaran-Sarongan-Sukamade yang masih satu jalur dengan rute menuju pantai sukamade Taman Nasional Merubetiri.

Untuk menuju Teluk Hijau atau yang biasa disebut Teluk Ijo oleh penduduk lokal, pengunjung harus menuju Desa Pesanggrahan terlebih dahulu. Baru kemudian, lanjut ke Desa Sarongan dengan kondisi jalan yang cukup rusak.

Dari desa Kandangan, Sarongan, bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua. Namun, perjalanan dengan kendaraan hanya bisa dicapai sekitar hampir 1 km saja. Sampai di Rajegwesi anda akan berjumpa dengan pertigaan: yang ke kiri menuju pantai Rajegwesi dan yang ke kanan menuju Teluk Hijau dan Sukamade.

Letak Teluk Hijau tak terlalu jauh dari pemukiman penduduk yang paling akhir di daerah Rajegwesi. Oleh karena itu, jika anda membawa kendaran lebih baik jika kendaraan itu dititipkan ke penduduk. Lalu, perjalanan menuju Teluk Hijau dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Jarak menuju Teluk Hijau sekitar 2km. Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai Teluk Hijau adalah sekitar 30 menit di jalan utama dan 30 menit di jalan setapak.

Jangan sampai terjebak dengan pantai yang penuh dengan batu (yang mirip batu sungai), karena bukan itu yang disebut dengan Teluk Hijau. Tetapi teruslah berjalan di tepi pantai hingga melewati sedikit semak atau perdu. Di balik semak itulah Teluk Hijau berada.

Penujuk arah menuju Teluk ijo sudah cukup jelas, jadi tidak usah takut nyasar.

Rute pada google maps
Lihat pada google maps

2. Lewat Laut

Ini adalah cara paling mudah. Anda bisa menyewa perahu dari pantai Rajekwesi langsung menuju Teluk Hijau. Ongkosnya sekitar Rp 200.000,- PP. Teluk Hijau dapat dicapai dalam waktu 45 menit one way nya. Tapi anda harus punya nyali karena dengan perahu kecil tersebut dan melalui ombak laut selatan. Namun anda akan mendapatkan pengalaman yang baik selama perjalanan dengan perahu tersebut.


Kapan ya bisa kesana lagi :D




OSING APA OSING??

12.22


Pertanyaan diatas selalu muncul dalam banyak kesempatan di forum pertemuan orang Banyuwangi. Termasuk di  forum GCUAB….yang dilontarkan sdr Arif Wibowo putra Banyuwangi Asli. Bagaimana mungkin ,sebuah nama yang dilekatkan pada orang Banyuwangi asli (asli Banyuwangi) , masih menimbulkan kebingungan cara menuliskan.
Apa boleh buat karena kata itu adalah julukan yang diberikan orang luar kepada orang Banyuwangi asli ,yang nama sebenarnya adalah wong Blambangan.Maka pantaslah orang Banyuwangi aslipun tidak tahu bagaimana tulisan itu……malah dalam Kamus Bahasa Daerah Using _ Indonesia yang disusun Bpk Hasan Ali. pada halaman 457, selain kata using , dicantumkan juga kata ESING.
Contoh sederhana adalah nama saya Ali Sudarmanto , tetapi kawan di facebook memanggil saya AS. Maka jika seorang kawan Facebooker dari Kalimantan , yang mengenal saya dengan AS, dan mencoba mencari saya (AS ), jangankan di Banyuwangi  dikampung sayapun pasti orang tidak tahu.Sehingga muncullah penjelasan yang macam macam , apakak tulisannya ASS, mungkin A.S, malahan mungkin A.S.S(karena ketika di facebook saya menampilkan istri saya berwajah  Arab ,.
Demikian juga kata  Osing /Using/Esing, karena nama itu aneh untuk orang Blambangan,maka dicarilah padan kata diluar Banyuwangi, hingga dari Bali, ada yang Mataram , mungkin dari bahasa Austronesia.
Sebagai nama julukan dari penjajah ( Belanda) dan anteknya ,maka muncullah konotasi negative untuk wong Osing/using/esing   Maka muncullah theory dari ahli Linguistik , Sejarahwan , Budayawan, bahwa Osing /Using /Esing, adalah sebutan untuk orang yang tertutup, tidak mau menerima kedatangan orang luar, makan manusia,orang pinggiran ,diluar kasta ( sangat hina) , ACLAK, BINGKAH , LADAK.
Apakah anda tahu arti Aclak , Bingkah , Ladak.
Aclak, ternyata tidak ada dikamus bahasa Using .Indonesia bapak Hasan Ali.
Seorang penatar Jebeng Tulik Pemda Banyuwangi, mendiskripsikan sebagai   sok tahu. Penyanyi terkenal di Banyuwangi ( Catur Arum )dalam sebuah lagunya Aclak mendiskripsikan tong kosong berbunyi nyaring.
Ladak , kamus bahasa Using .Indonesia memadankan dengan sombong, angkuh ( 240)
Bingkah, kamus bahasa Using Indonesia memadankan kurang ajar, tidak mempunyai sopan ( 41)
Seorang budayawan /seniman mau memberi pengertian dengan  membuat justifikasi yg lebih baik maksud kata kata itu. Tetapi sayang justifikasi itu cuma dimengerti oleh dia dan kelompoknya.
Apakah seperti itukah kita wong Banyuwangi, darah Blambangan yang gagah berani,dari trah/keturunan yang jelas , yang oleh Susuhunan Tawangalun, raja terbesar Blambangan disebut memiliki character KALOKA ( VISIONER) , PRAWIRA, WIBAWA , BERBAHASA ( santun,atau harus kemampuan bahasa perdagangan, atau memiliki interpersonal).
Jawaban dihati anda…..
Dhafa Dhuafa
--------------------------------------------------------
Sun tau rungu
Gendinge Emak ring pucuki bengi hang sintru
Atinesun dhi kudhang-kudhang ambi sinau
Kanggo sangune turu
Lek…
Ojo sampe kelalen
Ambi riwayate bengen
Werruho siro
Kelendi perjuangane Embah-Buyut ring zaman semono
Ngasah ati
Ngumbyah rogo ambi getih hang temetes mili
Meres keringet
Lan ngelebur banyu moto hang jangget
Kanggo sopo lek……..????
Kadung sing kanggo isun lan siro
Myakne eling lan duwe rumongso
Kadung nyatane….
Hang aran bumi Blambangan iki
Dadi saksi tandurane bakti hang sejati
*Terus Emak meneng…
Isun cengeng
Emak mageh meneng..
Ambi nutupi raine nganggo pucuke jarit hang dhi batik cemeng…………

Sang Maestro /Diva /Super Star Gandrung..TEMU.

12.10
Pada tanggal 5 Desember 2012, Dewan Kesenian Jakarta, sebuah lembaga Kesenian yang bergengsi di Indonesia mengadakan pagelaran Maestro Tari Tradisional. Dan dari daerah ujung timur p.Jawa, Banyuwangi ditampilkan  sang Maestro Gandrung Temu.
GANDRUNG  icon Kabupaten Banyuwangi.
Banyuwangi adalah daerah  dimana darah seni mengalir deras yang dengan kuat menjaga kesenian tradisionalnya.Kecintaan masyarakat terhadap Peradaban Blambangan yang besar telah mampu menjadi tameng  Kesenian tradisional Banyuwangi dari gempuran kesenian modern yang menggempur Indonesia tanpa ampun.Kecintaan terhadap seni tradisi ini dibuktikan pada setiap kegiatan orang Banyuwangi , baik dalam perayaan sunatan, perkawinan,selalu ada kesenian tradisionil. Begitu juga dalam kegiatan halal bil halal orang Banyuwangi di Perantauan, kesenian Banyuwangi Gandrung , Angklung Blambangan, Rebana  menjadi bagian yang tak terpisahkan.
Dan Gandrung menjadi salah satu kesenian yang paling populer,karena itulah Pem Da Banyuwangi telah menjadikan Gandrung sebagai Icon Kabupaten Banyuwangi.

 TEMU Sang Maestro.
Nama Temu yang sederhana ini selalu dirangkai dengan kesenian yang digelutinya  yaitu Gandrung  sehingga namanya menjadi Gandrung Temu. Tak terpisahkan. Tidak seorangpun yang meragukan kepiawaian dan dedikasi Temu sebagai seorang penari Gandrung. Maka pantaslah dia disebut Sang Maestro. Tulisan Maria Hartiningsih di  Kompas, 26 Oktober 2007, memberi gambaran tentang sosok Temu secara lengkap.
Sejarah hidup Temu sebagai penari Gandrung kental diwarnai tradisi. Waktu kecil, ceritanya, ia sakit-sakitan, tak mau makan. Orangtua membawanya kepada seorang dukun bernama Mbah Kar untuk di-suwuk ( diobati). Sepulang dari situ, Temu kecil tiba-tiba minta makan. Ibunya membawa dia ke rumah juragan Gandrung bernama Mbah Ti’ah. Di situ Temu makan sangat lahap. Lalu Mbah Ti’ah mengatakan, “Jadikan dia gandrung kalau sudah besar.”
Sejak itu, Temu kecil mulai suka menari. Darah seni sebenarnya mengalir dari garis ayahnya. Sang ayah adalah penari dalam kesenian tradisionil . Kakeknya ahli mocoan lontar. Meski awalnya tak mau jadi penari Gandrung, Temu mulai naik pentas pada usia 15 tahun. Tahun 1969 itu penari Gandrung  berada di puncak kejayaan.
“Mula-mula takut,” kenangnya. Tak lebih dari setahun, Temu menapak jenjang sri panggung. Honornya jauh di atas penari-penari seniornya. Lirik lagu ciptaannya mengena dan sering menohok persoalan yang dihadapi penonton. Temu mengaku tak pernah baca mantra sebelum pentas. “Kalau pakai itu, cuma bertahan sebentar,” katanya. Untuk menjaga kualitas suara, ia tak makan pedas dan gorengan, dan mempertahankan syarat utama: menahan kencing semalaman atau sekitar sembilan jam!
Bagi Temu, hidup adalah berkesenian. Gandrung membuatnya menggandrungi hidup, seberat apa pun jalannya. Kibasan sampur Gandrung seperti mengibaskan ketaktertanggungan pada masalah. Karena itu, meski menyandarkan hidup pada Gandrung, uang bukan segalanya. Seperti paradoks. Ia mempertaruhkan hidupnya di situ, sekaligus tak kenal kompetisi: Gandrung lebih penting ketimbang dirinya.
Suara Temu bagian Eksotisme “TIMUR”
Sikap itu tanpa disadari menjadikannya “mangsa” bisnis kesenian dan kebudayaan yang jaring-jaringnya melampaui batas desa, bahkan wilayah negara. Temu, yang tidak pernah menyelesaikan pendidikan Sekolah Rakyat itu, tidak tahu bahwa ia tergulung ke dalam gelombang pasar bebas, di mana multikulturalisme dimaknai tak lebih sebagai komoditi, minus penghargaan pada hak kekayaan intelektual. Suatu pelanggaran yang banal.
Suara Temu menjadi bagian eksotisme “Timur” yang terus direproduksi dan secara bisnis memberikan keuntungan besar. Farida Indriastuti, kontributor lepas kantor berita Italia yang melakukan penelitian tentang multikulturalisme-diselenggarakan oleh Srinthil, majalah perempuan multikultural-menemukan, CD Temu Songs Before Dawn (Lagu Menjelang Fajar) dijual di AS antara 15 dollar-18 dollar AS, di Eropa sekitar 20 euro per keping.
Nilai jualnya di satu online lebih dari 12.000 keping. Padahal lebih dari 10 online menjual reproduksi suaranya. Pertengahan Juli 1992, Amazon.com AS mencatat penjualan “Songs Before Dawn” sebanyak 284.999 copy dalam 24 jam. Foto Temu menari ditaruh di sampul belakang CD, sementara sampul depannya berhias penari Gandrung lain dari Banyuwangi. Hak ciptanya dipegang suatu lembaga pendidikan terkemuka di AS.
Nama Temu tak disebut sama sekali di situ.
Temu hanya tahu pernah ada orang asing yang merekam gambar dan suaranya, katanya, untuk proyek kebudayaan Indonesia. Lama rekamannya 10 jam, dengan upah Rp 60.000 atau Rp 6.000 per jam, dan Rp 25.000 per orang atau Rp 2.500 per jam untuk enam panjak (nayaga). Katanya, rekaman itu bukan untuk keperluan komersial. Di tingkat lokal pun sama saja. Suara emasnya sudah menghasilkan enam album Gandrung dan satu album versi Jaipong untuk karaoke. Honornya dihitung per paket, antara Rp 1 juta sampai Rp 1,5 juta, tak tergantung berapa keping CD atau kaset yang terjual. Menurut penyelidikan Farida, VCD Temu pernah terjual 10.000 keping sehari.
Suatu hari, seorang pejabat memberi tahu, Temu mendapat penghargaan internasional. Ternyata penghargaan itu dari Dinas Pariwisata bekerja sama dengan Pendidikan Seni Nusantara (PNN). Gambar dari sertifikat “internasional” itu dibingkai kayu murahan berupa fotokopi sampul rekaman VCD dari proyek kesenian rakyat lembaga filantrofi internasional yang merekam suara dan tarian Temu bertahun-tahun lalu itu.
“Lha saya bisa apa?” itu jawabnya ketika ditanya bagaimana ia menyikapi semua itu. “Saya kembalikan saja pada Yang Punya Hidup.”  Sejak tahun 1980 Temu hidup sendiri. “Malas nggodok wedang. Capek,” katanya. Dua perkawinannya gagal, tanpa anak. Sekarang ia mengasuh cucu keponakan dan merawat kakak ibunya “Enak sih punya suami. Tapi daripada sakit gigi, he-he-he..”
Seandainya dilahirkan kembali, apakah ia mau meniti jalan yang sama, sebagai penari Gandrung? Jawab Temu, “Saya mau tidur pada waktunya orang tidur. Bukan teriak-teriak nyanyi dan pencilatan menari..”
Tarian Kehidupan Gandrung Temu
Tarian Gandrung Temu adalah tarian kehidupan. Setiap geraknya adalah riwayat. Panggungnya keseharian, di mana musim panen dan paceklik adalah dua musim yang satu dan garisnya abu-abu. Temu Mesti adalah penari Gandrung terkemuka di Banyuwangi, Jawa Timur. Meski usianya 53 tahun, posisinya dalam kesenian tradisional Banyuwangi itu belum tergeser oleh para penari muda. Tinggi badannya sekitar 170 cm, berperawakan sedang. Suaranya yang melengking jernih masih belum tertandingi.
Namun, seperti banyak seniman tradisional, hidupnya jauh dari kemoderenan.