Tampilkan postingan dengan label wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisata. Tampilkan semua postingan

Ritual Tari Seblang di Banyuwangi

02.41

Ritual Seblang adalah salah satu ritual masyarakat Using yang hanya dapat dijumpai di dua desa dalam lingkungan kecamatan glagah banyuwangi yakni desa Bakungan dan Olihsari. Ritual ini dilaksanakan untuk keperluan bersih desa dan tolak bala, agar desa tetap dalam keadaan aman dan tentram. Ritual ini sama seperti ritual Sintren di wilayah cirebon, Jaran Kepang, dan Sanghyang di Pulau Bali.

Penyelenggaraan tari Seblang di dua desa tersebut juga berbeda waktunya, di desa Olihsari diselenggarakan satu minggu setelah idul fitri, sedangkan di desa Bakungan yang bersebelahan, diselenggarakan seminggu setelah idul adha.

Para penarinya dipilih secara supranatural oleh dukun setempat, dan biasanya penari harus dipilih dari keturunan penari seblang sebelumnya. Di desa Olihsari, penarinya haruslah gadis yang belum akil balik, sedangkan di Bakungan, penarinya haruslah wanita berusia 50 tahun ke atas yang telah mati haid

Tari Seblang ini sebenarnya merupakan tradisi yang sangat tua, hingga sulit dilacak asal usul dimulainya. Namun, catatan sejarah menunjukkan bahwa Seblang pertama yang diketahui adalah Semi, yang juga menjadi pelopor tari Gandrung wanita pertama (meninggal tahun 1973). Setelah sembuh dari sakitnya, maka nazar ibunya (Mak Midah atau Mak Milah) pun harus dipenuhi, Semi akhirnya dijadikan seblang dalam usia kanak-kanaknya hingga setelah menginjak remaja mulai menjadi penari Gandrung.

Tari Seblang ini dimulai dengan upacara yang dibuka oleh sang dukun desa atau pawang. Sang penari ditutup matanya oleh para ibu-ibu yang berada dibelakangnya, sambil memegang tempeh (nampan bamboo). Sang dukun mengasapi sang penari dengan asap dupa sambil membaca mantera. Setelah sang penari kesurupan (taksadarkan diri atau kejiman dalam istilah lokal), dengan tanda jatuhnya tempeh tadi, maka pertunjukan pun dimulai. Si seblang yang sudah kejiman tadi menari dengan gerakan monoton, mata terpejam dan mengikuti arah sang pawang atau dukun serta irama gendhing yang dimainkan. Kadang juga berkeliling desa sambil menari. Setelah beberapa lama menari, kemudian si seblang melempar selendang yang digulung ke arah penonton, penonton yang terkena selendang tersebut harus mau menari bersama si Seblang. Jika tidak, maka dia akan dikejar-kejar oleh Seblang sampai mau menari.

musik pengiring Seblang hanya terdiri dari satu buah kendang, satu buah kempul atau gong dan dua buah saron. Sedangkan di Olihsari ditambah dengan biola sebagai penambah efek musikal.

Dari segi busana, penari Seblang di Olihsari dan Bakungan mempunyai sedikit perbedaan, khususnya pada bagian omprok atau mahkota.

Pada penari Seblang di desa Olihsari, omprok biasanya terbuat dari pelepah pisang yang disuwir-suwir hingga menutupi sebagian wajah penari, sedangkan bagian atasnya diberi bunga-bunga segar yang biasanya diambil dari kebun atau area sekitar pemakaman, dan ditambah dengan sebuah kaca kecil yang ditaruh di bagian tengah omprok.

Pada penari seblang wilayah Bakungan, omprok yang dipakai sangat menyerupai omprok yang dipakai dalam pertunjukan Gandrung, hanya saja bahan yang dipakai terbuat dari pelepah pisang dan dihiasi bunga-bunga segar meski tidak sebanyak penari seblang di Olihsari. Disamping unsure mistik, ritual Seblang ini juga memberikan hiburan bagi para pengunjung maupun warga setempat, dimana banyak adegan-adegan lucu yang ditampilkan oleh sang penari seblang ini.

Teater Janger atau kadang disebut Damarwulan atau Jinggoan, merupakan pertunjukan rakyat yang sejenis dengan ketoprak dan ludruk. Pertunjukan ini hidup dan berkembang di wilayah Banyuwangi, Jawa Timur serta mempunyai lakon atau cerita yang diambil dari kisah-kisah legenda maupun cerita rakyat lainnya. Selain itu juga sama-sama dilengkapi pentas, sound system, layar/ tirai, gamelan, tari-tarian dan lawak. Serta pembagian cerita dalam babak-babak yang dimulai dari setelah Isya hingga menjelang Subuh.

Legenda Putri Rengganis di Banyuwangi

02.29
Rengganis adalah kesenian drama tadisional yang berkembang di Banyuwangi, diperkirakan berasal dari Kerajaan Mataram Islam. Sebetulnya masalah nama kesenian tersebut di Banyuwangi sangat beragam, ada yang menyebut Prabu Roro, ada yang juga yang menyebut Umar Moyo. Namun ada benang merahnya, yaitu nama-nama tersebut mengacu kepada nama tokoh yang diangkat dalam kesenian tersebut. Antara lain Putri Rengganis dan Prabu Roro seorang raja putri dan adipati Umar Moyo dari kerajaan Guparman.

Namun hingga saat ini belum ada penelitian yang mengakitkan dengan keberadaan kesenian serupa yang sampai sekarang masih berkembang di daerah Bantul dan Sleman Togyakarta Sementara cerita yang diangkat dari kesenian "Rengganis" diambil dari buku Serat Menak. Tokoh-tokoh yang populer dalam kesenian Rengganis adalah Jemblung, abdi Umar Moyo, Lam Dahur (kalau dalam pewayangan mirip Werkudoro) Pati Tejo Matal, Jayengrono.

Selain unsur-unsur islam yang sangat menonjol dalam kesenian tersebut, juga ada kalimat-kalimat mantra yang sering diuncapkan Umar Moyo saat meminta kekuatan senjata pamungkasnya, yaitu Kasang Tirto Nadi. Umar Moyo Selalu berucap "Laillah Hailalloh Nabi Ibrohim Kamilulloh. Mbal-Gambal Mustoko malih. Sang Kasang Tirtyo Nadi, aku njaluk panguasamu kasang iso ....."

Setiap tokoh mempunyai karasteristik, seperti tokoh pewayangan. Teknik pentas dan jejer, atau sampa'an seperti dalam wayang orang Setiap adegan, tokoh suatu kerajaan akan keluar bersama-sama. Kecuali permasuiri, Raja dan para patik. Tari setiap tokoh juga mempunyai ciri khas tersendiri, begitu juga gending musik pengiring.

Pada tahun 1960-an, atau ketika pergolakan politik di negeri ini. Selain seni drama yang bersumber cerita dari penyebaran Islam di Persia, Rengganis juga sering digunakan alat Propaganda oleh LESBUMI dari NU. Sementara LKN dengan Angklung Dwi Laras dan (Lekra?) PKI dengan kesenian Genjer-Genjer.

3 Tujuan Wisata Paling Memukau di Banyuwangi

16.20

Siapa sih yang tidak kenal dengan kota yang satu ini? Kota eksotis yang berada di ujung timur dari Provinsi Jawa Timur, kota yang sering menjadi tempat mengantri kapal veri untuk menyebrang ke Pulau Dewata, Bali.

Kota yang dijuluki sebagai "Sunrise of Java" ini memiliki sejuta keindahan alam yang tidak boleh dilewatkan begitu saja ketika kita mampir di Banyuwangi. Ada beberapa rekomendasi tempat wisata yang tidak kalah menarik dengan tempat wisata di kota lainnya.

1. Kawah Ijen “Ijen Crater”


Kawah Ijen yang letaknya di perbatasan Kabupaten Banyuwangi dengan Kabupaten Situbondo. Tempat ini bisa ditempuh 1-2 jam dari Kota Banyuwangi, kemudian dilanjutkan mendaki ke puncak antara 1-2 jam (untuk pemula dan jalan santai). Tidak usah khawatir, rute pendakian dan jalanannya tidak susah karena petugas setempat sudah membuat sedemikian rupa agar pengunjung mudah untuk mencapai puncak. Dan sungguh luar biasa ketika pengunjug sudah dapat mencapai puncaknya karena rasa lelah selama pendakian akan terbayar dengan nuansa indah alami di puncak. Pengunjung akan mendapat bonus tersendiri ketika berkunjung ke kawah ijen di dini hari (karena diizinkannya adalah sekitar pukul 01.00 WIB) di sana, ketika melihat lebih dekat ke kawahnya, ada yang menakjubkan yaitu adanya “Blue Fire”  yang mana hanya ada dua di dunia dan salah satunya itulah yang berada di Banyuwangi, Jawa Timur, Indonesia. Dan setiap tahunnya pemerintah setempat mengadakan acara internasional sebagai salah satu ajang promosi Banyuwangi yaitu ”Tour de Ijen”.


2.  Pulau Merah Red Island

Pulau Merah letaknya di Kabupaten Banyuwangi bagian selatan, untuk menjangkau tempat ini dibutuhkan sekitar 2-3 jam dari Kota Banyuwangi, rute dan medan jalan yang ditempuh sangat mulus, karena pada setia tahunnya rute ini dilewati dalam penyelenggaraan acara “Tour de Ijen” . Pantai dengan pasir putih siap menyambut kedatangan pengunjung yang berkunjung di Pulau Merah tersebut, desiran ombak laut yang besar sangat indah dan mengasyikkan untuk dinikmati. Dan seperti namanya, Pulau Merah, terdapat sebuah pulau kecil diseberang pantai yang menjulang seperti bukit degan tanah berwarna merah. Ombak dan panoramanya sanggup menarik wisatawan betah untuk berada di lokasi. Dan sempat diadakan perlombaan selancar berskala internasional pada 2013 di Pulau Merah tersebut.



3. Teluk Hijau “Green Bay”


Berbeda dengan Pulau Merah, Teluk Hijau memiliki jarak tempuh lebih jauh, butuh 3-4 jam untuk mencapai lokasi atau lebih. Selain itu medan tempuh yang dilewati pun lebih ekstrim, meskipun pada awalnya masih mulus. Letak tempat wisata ini sama dengan Pulau Merah, namun masih jauh lagi jaraknya. Dan ketika rute menuju Teluk Hijau pisah dari rute Pulau Merah, maka jalan bebatuan harus siap ditempuh. Ketika sampai di lokasi, pengunjung harus rela berjalan untuk akhirnya sampai di bibir pantai berkisar antara 2 km yang bisa ditempuh 1 jam perjalanan karena medannya pun cukup menantang. Namun, keindahan pesona teluk akan membayar semua kelelahan dalam perjalanan. Pasirnya yang puih, air lautnya yang biru kehijauan, dan alamnya yang masih asri sungguh luar biasa, berutung ketika pengunjung dapat menjumpai panghuni setempat alias monyet. Keeksotisan Teluk Hijau dapat dinikmati setelah melewati Pantai Batu. Keperawanan Teluk Hijau masih terjaga, karena sebenarnya, belum banyak wisatawan yang tahu tentang wisata Teluk Hijau ini namun, sungguh panoramanya luar biasa indah.

Jadi, nunggu apa lagi? Ayo mari berwisata ke Banyuwangi. I Love Banyuwangi :)

Hotel Santika Banyuwangi Telah di Resmikan

15.53

Akhirnya, Hotel Santika Banyuwangi diresmikan pada Rabu, 11 Maret 2015 ditandai dengan pemukulan gong oleh Bupati Banyuwangi, H Abdullah Azwar Anas M.Si. Peresmian ini juga ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Bupati Banyuwangi, lantas diserahkan kepada PT Graha Sahari Wangi, CEO Kompas Gramedia & General Manager Hotel Santika Banyuwangi, Fabian Cahyadi Hadi.



Hotel Santika Banyuwangi yang merupakan hotel ke-79 dari Santika Indonesia Hotels & Resort dan hotel ke-22 dari kelompok hotel Santika dengan bintang tiga ini semakin melengkapi line-up Santika Hotel Group dalam melayani kebutuhan hotel akan konsumen kelas menengah hingga atas.

Lokasinya yang sangat strategis di pusat kota Banyuwangi, dekat dengan pusat bisnis & wisata serta Bandara Blimbingsari, membuat Hotel Santika Banyuwangi pilihan yang sangat tepat untuk travelers yang melakukan perjalanan bisnis maupun wisata. Travelers tak perlu direpotkan dengan harus menginap di dua tempat yang berbeda, karena Hotel Santika Banyuwangi terjangkau baik dari kawasan bisnis maupun wisata tersebut.

Dengan 125 kamar dan suites yang disediakan, Hotel Santika Banyuwangi memberikan berbagai pilihan kamar untuk para tamunya. Selain itu, adanya fasilitas restaurant, lobby lounge ballroom dan meeting rooms, juga mengakomodir travelers yang ingin mengadakan berbagai macam acara baik perorangan, perusahaan maupun organisasi. Tak perlu khawatir dengan fasilitas, karena Hotel Santika Banyuwangi memiliki pelayanan standar bintang 3, travelers.

Harga Perkamar berkisar Rp. 525.000 per malam untuk Kelas Superior Room dan Rp. 637.000 Untuk Deluxe Room, bagi para wisatawan di seluruh penjuru nusantara, anda tidak perlu ragu lagi untuk berwisata di Banyuwangi karena sarana dan prasarana sudah lengkap :)

Selamat dan sukses untuk Hotel Santika Banyuwangi! semoga artikel ini bermanfaat :)

Pantai Wedi Ireng Surga Wisata Baru di Banyuwangi

15.00
Nama pantainya "pantai wedi ireng" dan pantai ini lokasinya berada di desa Sumber Agung kec. Pesanggaran kab. Banyuwangi. Pantai wedi ireng atau yang juga disebut pantai pasir baja juga sejalur dengan lokasi pantai pulau merah atau red island. Ane kesananya motoran aksesnya mudah bgt kok dijangkau soalnya udah mulus aspalnya

Untuk sampai ke pantai wedi ireng ini ane juga ngelewatin pantai pancer karena lokasinya juga sejalur dengan pantai pancer. Karena ga ada tmpt parkirannya kendaraan bisa di parkir di pasar ikan pancer gan, inshaallah aman kok. Keunikan pantai ini karena pasirnya yang kecoklatan campur dengan pasir warna item dan yang lebih ga akan terlupakan adalah harus lewat bukit dan hutan2 dulu untuk menikmati pemandangan salah satu surga yang tersembunyi ini.

Ane share beberapa pic nih,

Dibandingkan pantai Pulau Merah, pantai yang satu ini jelas kalah populer, meskipun masih berada dalam satu jalur. Masalahnya lokasinya sulit terjangkau.Padahal keindahannya tidak kalah, oleh Teluk Hijau sekali pun. Bahkan ada kemiripan antara pantai Wedi Ireng dengan pantai Teluk Hijau. Bentuknya seperti huruf "W". Namun pantai Wedi Ireng memiliki garis pantai yang lebih panjang. Ada dua sisi pantai di Wedi Ireng, tapi dipisahkan oleh bebatuan di tengah pantai.
Lokasinya yang tersembunyi menjadikan pantai ini belum banyak dirambah wisatawan. Meski tanpa tiket masuk, namun pengunjung wajib menjaga keasrian tempat ini dan membawa pulang sampah yang dihasilkan.

Jika pantai selatan umumnya terkenal dengan ombaknya yang tinggi, namun berbeda dengan Wedi Ireng, keindahan teluk berpasir putih diapit bukit-bukit hijau serta ombaknya yang landai akan menyambut kedatangan wisatawan. Anda pasti akan betah berlama-lama menikmati indahnya pantai wedi ireng ini. Teluk yang sunyi, pasir yang bersih, pepohonan besar nan rindang, hembusan angin pantai yang sepoi-sepoi dan birunya lautan adalah perpaduan sempurna yang memberi kedamaian dihati.

Pantai Wedi Irengrelatif masih belum banyak terjamah oleh wisatawan, jadi kondisi alamnya masih bener-bener masih alami. Keunikan pantai ini terletak pada beberapa elemen yang membentuknya, yaitu pasir halus putih, pasir coklat yang agak kasar dan hamparan batu karang yang menambah eksotisnya pantai Wedhi Ireng.





Lalu dimana keterkaitan nama Wedi Ireng, yang berarti pasir yang berwarna hitam dengan kenyataan pasir pantainya yang terlihat berwarna putih kecoklatan?
Nama Wedi Ireng ternyata merefleksikan salah satu keunikan elemen yang terdapat pada pantai ini. Cobalah Anda keruk pasir pantainya, disana Anda akan menemukannya sekaligus menjawab rasa penasaran tentang keterkaitan nama Wedi Ireng untuk pantai yang indah ini. Dibalik pasir putih pantainya yang terlihat ternyata menyimpan butiran pasir hitam didalamnya. Inilah sebabnya pantai ini disebut dengan sebutan Pantai Wedi Ireng.


RUTE MENUJU PANTAI WEDI IRENG

Tidak sulit menemukan pantai Wedi Ireng, tapi dibutuhkan perjuangan untuk mencapainya.Dari pusatkota Banyuwangi, jaraknya sekitar 65 km yang bisa ditempuh selama tiga hingga empat jam perjalanan. Dari Banyuwangi menuju ke Kecamatan Jajag dan ikuti petunjuk jalan menuju Pulau Merah. Wilayah Pedotan merupakan pusat keramaian terakhir dari jalan yang dilewati. Di sini dapat dibeli perbekalan dan keperluan pribadi karena selanjutnya tak ada pertokoan.

Sebelum Pulau Merah, ikuti petunjuk jalan menuju Pantai Pancer yang jaraknya sekitar 3 km dari Pulau Merah. Dari Pancer ada dua jalan menuju Wedi Ireng yang berjarak sekitar 2 km di sebelah barat. Pertama dari tempat pelelangan ikan Pancer lurus mengikuti jalan sekitar dua km. Anda jangan segan bertanya ke warga sekitar dan menitipkan kendaraan Anda di sana.

Pilihan jalan kedua parkir kendaraan di sekitar TPI dan dilanjutkan dengan jalan kaki menuju muara sungai. Pilihan ini hanya direkomendasikan untuk penyuka petualangan karena harus menyebrangi muara, naik turun bukit serta melewati hutan. Di pagi hari, mudah saja melewati muara, karena air hanya setinggi betis. Namun di siang hari, laut pasang sehingga harus menyeberang dengan kapal nelayan, ongkosnya hanya Rp 5 ribu.

Setelah menyeberangi muara, ada dua jalan setapak. Pilih yang kanan atau jalan di sebelah barat dan dari sini Anda akan melewati bukit penuh pohon pisang sebelum masuk hutan. Sekitar 30 menit berjalan di bawah rerimbunan daun dan ditemani kicauan burung-burung liar, kondisi jalan cukup curam dengan kemiringan sekitar 80 derajat, sehingga harus ekstra berhati-hati. Selain itu sewaktu melewati semak belukar banyak ranting-ranting pohon yang berduri, karena itu jangan lupa untuk membawa sebatang kayu sebagai perlindungan diri dari duri-duri yang tajam.

Lelah perjalanan akan terbayarkan oleh pemandangan yang indah pantai Wedi Ireng di depan mata.

Ojek perahu yang siap mengantarkan Anda menuju Pantai Wedi Ireng.

Bagi pengunjung yang tidak memiliki cukup waktu, perjalanan menuju pantai Wedi Ireng ini bisa juga dilakukan menggunakan perahu milik para nelayan di Dusun Pancer, Desa Sumber Agung, Kecamatan Pesanggaran. Banyak perahu-perahu nelayan - mereka menyebutnya ojek perahu - yang siap mengantarkan Anda menuju 'surga' baru Wedi Ireng yang berlatar belakang pulau-pulau kecil.Dengan ongkos Rp 40 ribu, Anda bisa diantar jemput menggunakan perahu kecil. Namun bila hanya untuk mengantar atau menjemput di Pantai Wedi Ireng, nelayan hanya mematok harga Rp 25 ribu dengan perjalanan yang memakan waktu sekitar 30 menit.
Selain itu, ojek perahu ini juga menawarkan beberapa trip laut di wilayah tersebut. Pengunjung diajak mengelilingi beberapa pulau, seperti Pulau Bedil, Pulau Mustika, Pasir Pendek, Batu Mukijo dan transit ke Pantai Wedi Ireng. Ongkosnya Rp 550 ribu untuk maksimal 6 orang.

Gimana gan, bagus kan view pantainya? waktu pertama nyampek ane ngerasa nih pantai mirip banget ama teluk ijo "green bay" tp yang jelas nih pantai punya keunikan tersendiri selain masih jarang yang tau dan tentunya masih alami banget. oh ya boleh ngcamp juga kok dan belom ada tiket masuknya cuman bawa badan ama biaya transport doang.

Semoga bermanfaat :)

Nikmati Suasana Pantai Yang Hening Di Pulau Nusa Lembongan-Bali

18.28


 Liburan akhir tahun sudah di depan mata, saatnya bagi Anda untuk memilih lokasi menghabiskan waktu bersama keluarga atapun pasangan.

Bagi Anda yang memutuskan liburan di Bali, tetapi ingin menikmati suasana pantai yang lebih hening, ada baiknya mengalihkan tujuan ke Pulau Nusa Lembongan, Kabupaten Klungkung.

Pulau yang terletak terpisah dari daratan Pulau Bali ini berdekatan dengan Nusa Penida dan Nusa Ceningan, sehingga Anda dapat berkunjung sekaligus ke pulau lain ketika menginap di Lembongan.

Ada dua tipe perjalanan yang dapat dilakukan ke Lembongan. Pertama, membeli paket wisata yang ditawarkan oleh agen perjalanan dan Anda harus membayar biaya lebih besar tetapi tidak perlu repot-repot mengatur wisata, karena semua sudah ditangani agen perjalanan.

Jika tipe ini Anda pilih maka keberangkatan menggunakan kapal jenis besar di Pelabuhan Benoa dan Tanjung Benoa dengan lama tempuh sekitar 45 menit.

Sementara itu, tipe‎ kedua adalah mengurus sendiri. Jika tipe ini yang dipilih maka penyeberangannya harus melalui Pantai Sanur ‎dengan membayar tiket sekitar Rp75.000 per orang. Jarak tempuh menuju Lembongan dari Sanur sekitar 20 menit jika arus laut normal dan lokasi turunnya di Tanjung Sanghyang dan Jungut Batu.

Adapun jadwal keberangkatan mulai pukul 09.00 hingga 15.00 dan begitu pula sebaliknya dari Lembongan. Menurut salah seorang penduduk setempat, I Komang Gede Wirawan, waktu yang tepat memulai wisata di Lembongan adalah pagi hari.

"Selain ombaknya masih belum tinggi, kalau mau jalan-jalan sehari sorenya sudah bisa balik ke Sanur," ujarnya, Senin (22/12/2014).

Di kawasan Lembongan sangat mudah mencari lokasi penginapan, dari yang tarifnya untuk backpacker hingga puluhan dolar Amerika Serikat. Berbagai wisata air yang dapat dinikmati seperti menyelam, snorkeling dan bermain kano.

Bahkan jika Anda beruntung, pada pagi hari dapat menyaksikan belasan ikan lumba-lumba mencari makan di sekitar Tanjung Sanghyang.

Selain itu, wisata menikmati hasil tanam rumput laut juga patut dicoba. Tepatnya di Desa Pejukutan terdapat belasan kelompok petani rumput laut.

Cobalah datang ketika petani sedang memanen rumput laut pada dini hari, dijamin akan melihat puluhan sinar temaram petani yang seperti kunang-kunang berhamburan di lautan. Selamat menikmati liburan mengasikkan di Lembongan.

PANTAI RAJEKWESI, AKUARIUM PENYU TERBUKA

22.34
Tahun 1980-an, hampir sepanjang pantai selatan Jawa menjadi habitat penyu-penyu langka seperti penyu belimbing, sisik, dan hijau. Kini setelah wilayah selatan kian ramai dengan aktivitas nelayan, habitat penyu kian terdesak. Pantai Rajegwesi menjadi sedikit dari habitat penyu langka yang tersisa. Saat liburan sekolah tempat ini layak dituju.

Pantai Rajegwesi terbentang di selatan Banyuwangi, Jawa Timur. Letaknya di perbatasan hutan dan masuk dalam Taman Nasional Meru Betiri. Butuh waktu 2-3 jam untuk mencapai kawasan tersebut dari kota Banyuwangi. Jalurnya menembus perkebunan karet dan kakao dengan kondisi jalan berbatu.

Namun pantai ini menjadi salah satu tempat habitat penyu langka, di antaranya penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu slengkrah (Lepidochelys olivacea), dan penyu belimbing (Dermochelys coriacea). Pada waktu-waktu tertentu tukik atau anak penyu yang sebelumnya telah ditangkarkan, dilepas di pantai ini untuk tumbuh dan berkembang.

Sebelumnya, penyu-penyu itu ditangkarkan di pusat penangkaran penyu pantai Sukamade. Dibandingkan dengan Rajegwesi, Sukamade jauh lebih terpencil. Akses menuju pantai tersebut hanya bisa ditempuh dengan mobil bergardan ganda atau trail. Namun justru di tempat terpencil itu, penyu-penyu bisa bertelur dengan lebih aman, minim gangguan manusia dan habitatnya pun terjaga.

      Dari 1.000 tukik yang dilepas, hanya seekor yang bisa bertahan hingga dewasa dan kemudian bertelur lagi


Kepala Balai Taman Nasional Meru Betiri Bambang Darmodjo mengatakan, pada waktu malam di saat-saat tertentu, penyu mendarat di pantai untuk bertelur. ”Terkadang dua atau tiga ekor, tetapi bisa jadi 4-6 ekor penyu yang mendarat untuk bertelur. Tapi bisa jadi mereka mendarat namun tak jadi bertelur karena terusik keramaian,” katanya.

Penyu hijau misalnya, bisa menetaskan 100 butir telur di pantai. Telur-telur itu dikubur oleh induknya di pasir pantai untuk mengerami dan melindunginya dari babi hutan atau binatang lain pemangsa telur.

Kondisi pantai yang masih bersih dan sepi mendukung perkembangbiakan penyu-penyu yang kini sudah langka tersebut. Warga setempat seperti nelayan pun memberi ruang pada fauna langka. Mereka hanya menambatkan perahu di sisi barat pantai, adapun di sisi timur dibiarkan kosong dan menjadi habitat hewan-hewan seperti penyu, dan hewan laut lainnya.

Pantai Rajegwesi dan Sukamade selama ini menjadi lokasi wisata konservasi. Pada musim-musim tertentu, wisatawan dari dalam negeri dan mancanegara datang khusus untuk melihat penyu bertelur atau melepas tukik di pantai,” kata Bambang.

Seperti April lalu, Banyuwangi Turtle Sea Foundation mengajak anak-anak SD untuk melepas penyu di pantai Rajegwesi. Tukik-tukik itu berasal dari pantai Sukamade yang kemudian ditangkarkan di tempat penangkaran penyu di Ketapang, Banyuwangi. Davina (12), salah satu anak yang ikut melepas tukik terlihat senang bukan main saat penyu kecilnya lepas dari tangan dan berlari menyambut ombak. Davina baru sekali ini melihat tukik di alam bebas. Biasanya ia hanya melihatnya di akuarium.

Kegembiraan serupa tergambar di wajah anak-anak SDN Sarongan yang ikut melepas tukik. Menurut Westin Dwi, siswa kelas VI SD Sarongan, menyaksikan penyu bertelur sudah menjadi sesuatu yang langka. Karena itu ketika ada kegiatan yang berkaitan dengan penyu mereka bersemangat untuk ikut serta.

”Telur-telur penyu dibantu untuk ditetaskan kemudian saat menjelang dewasa harus dilepas agar mereka bisa hidup di alam bebas. Suatu saat kami berharap bisa melihat penyu itu kembali dan bertelur,” kata Westin yang hidup di lingkungan nelayan.

Pendiri Banyuwangi Sea Turtle Foundation Wiyanto Hadi Tanojo mengatakan, dirinya memang mengajak anak-anak untuk melepas tukik bersama agar mereka mengenal dan lebih menyayangi hewan-hewan langka itu. Kelak, saat mereka dewasa, rasa sayang terhadap lingkungan itu diharapkan mengakar di jiwa mereka.

Penyu-penyu di Meru Betiri sendiri kini terancam punah. Tak semua telur bisa menetas, atau berkembang menjadi penyu dewasa yang bisa bertelur lagi.
Telur yang baru saja dihasilkan induk kadang habis disantap hewan lain seperti babi hutan. Tidak jarang telur penyu dicuri dan diperdagangkan. Ketika telur sudah berubah menjadi tukik, tidak serta-merta mereka bisa bertahan di alam terbuka. Mereka juga kerap menjadi mangsa elang laut atau hewan lainnya.

Berdasarkan data dari Taman Nasional Meru Betiri, sepanjang tahun 2011 saja tercatat sebanyak 979 penyu yang mendarat dan bertelur di pantai Sukamade. Jumlah telur yang ditanam sebanyak 111.718 butir, namun hanya 81.023 ekor yang menetas jadi tukik. ”Dari 1.000 tukik yang dilepas mungkin hanya seekor yang bisa bertahan hingga dewasa dan kemudian bertelur lagi,” kata Bambang.

Rajegwesi menjadi bagian dari habitat penyu di Meru Betiri. Jika pantai seperti Rajegwesi tetap terjaga ekosistemnya, penyu pun tetap punya ruang hidup yang leluasa.

Air Terjun Kembar Wonorejo / Tirto Kemanten

21.07


Air terjun ini terletak di dusun Wonorejo desa Kalibaru Wetan kecamatan Kalibaru, Air Terjun ini terdiri dari 2 terjunan air di kanan dan kiri.. yahh inilah makanya disebut kemanten, aliaran airnya dari lereng Gunung Raung, pemandangan alam di sekitarnya amat menakjubkan seperti Tanaman kopi dan Coklat menyelimuti sekitar lokasi sehingga menambah keindahan panoramanya.

Sangat disarankan bagi para calon pengunjung agar membawa bekal Makanan, minuman, dan kebutuhan lainnya. Karena di Wisata Air Terjun Kemanten sangat jarang bahkan tidak ada pedagang jika anda berkunjung pada hari - hari kerja, kecuali jika anda berkunjung pada hari - hari libur itupun hanya pedagang - pedagang kecil / asongan.

Memang Banyuwangi Kaya dengan Wisata Alamnya :)

Telaga Umbul Pule

21.02


Umbul Pule adalah sebuah telaga yang terletak di Kecamatan Glenmore Kabupaten Banyuwangi yang sangat jernih yang airnya tak pernah surut walaupun musim kemarau panjang datang,sehingga air yang dikeluarkan oleh mata air Umbul oleh penduduk sekitar digunakan untuk mengembangkan usaha di sektor pertanian dan perikanan. Di samping itu, sumber mata air dari sini juga digunakan pihak PDAM untuk memenuhi kebutuhan air di daerah sekitar.

Sumur Sri Tanjung Banyuwangi Diyakini Berkasiat

20.21
Sumur Sri Tanjung di timur pendopo Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, diyakini oleh sebagian masyarakat memiliki beberapa kasiat ampuh bagi orang yang meminumnya.Legenda putri Sri Tanjung ini, hingga kini memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat Osing Banyuwangi, bahkan bagi masyarakat diluar Banyuwangi juga mempercayai kekuatan putri Sri Tanjung itu.



Sumur Sri Tanjung yang terletak di jalan Sidopekso 10, Kelurahan Temenggungan, Kecamatan Banyuwangi Kota, tepatnya di timur pendopo Saba Swagata Blambangan Banyuwangi itu dinyakini masih menyimpan beberapa misteri dan kekuatan gaib.

Tak heran bila setiap harinya, sumur yang hanya berdiamter satu kali dua meter tersebut, selalu didatangi pengunjung yang ingin mengalap berkah.

Biasanya para tamu yang sengaja datang ke sumur Sri Tanjung ini, mempunyai hajat, diantaranya untuk pelaris dagangan, kepangkatan serta obat awet muda.

Menurut juru kunci sumur Sri Tanjung Ki Darusman, para pengunjung yang datang biasa terlebih dahulu diilhami atau didatangi oleh seorang putri yang cantik bernama Sri Tanjung.

Kebanyakan para peziarah datang pada hari Selasa Kliwon, Selasa Legi, Jum’at Kliwon dan Jum’at Legi. Para penziarah biasanya mengalap berkah dari sumur Sri Tanjung dengan meminum air dan memakai untuk mandi.

Syaratnya sangat ringan, para peziarah harus membawa kembang telon atau bunga pasar berwarna tiga macam untuk persembahan kepada sang dewi ratu Sri Tanjung.

Para penziarah akan didampingi oleh Ki Darusman selaku juru kunci untuk melakukan interaksi dengan dewi putri Sri Tanjung.

Setelah persembahan kembang telon di tempatkan dipinggir sumur maka juru kunci Ki Darusman akan memanggil dewi Sri Tanjung dengan menyalakan dupa wangi untuk mendapatkan do`a restu.

Usai mendapatkan do`a restu, para penziarah baru diperkenankan meminta dan bermunajat kepada Allah SWT dengan melalui sumur Sri Tanjung.

Setelah melakukan ritual do`a maka satu persatu peziarah diminta cuci muka dengan air sumur kemudian meminumnya. Tak jarang para wanita yang datang ke sumur Sri Tanjung ini juga menggunakan air sumur Sri Tanjung untuk mandi.

Para ibu-ibu dan remaja putri mengaku air sumur Sri Tanjung ternyata memiliki kekuatan magis termasuk untuk kencantikan dan obat awet muda.

Ki Darusman selaku juru kunci mengaku baru percaya akan kehebatan sumur Sri Tanjung, setelah pada tahun 1982 ada rombongan dari kraton Solo dan Klaten yang datang khusus ke sumur Sri Tanjung.

Para sesepuh kraton mengatakan bahwa sumur Sri Tanjung adalah salah satu sumur tiban tertua di tanah Jawa, yang merupakan satu-satunya peninggalan sejarah.

Sejak itulah Ki Darusman mau merawat sumur Sri Tanjung, walau para sesepuh dan nenek moyangnya sudah lebih dulu merawat dan sumur Sri Tanjung.

Sementara itu menurut Hasnan Singodimayan, salah satu budayawan Osing Banyuwangi mengatakan Sri Tanjung adalah legenda rakyat Osing Banyuwangi yang dipercaya memiliki kekuatan magis yang sangat luar biasa.

“Legenda tersebut menceritakan bagaimana seorang putri yang sangat cantik jelita dan setia yakni putri Sri Tanjung, difitnah oleh seorang raja yang bernama Sulokromo,” tegasnya.

Untuk merayu sang putri Sri Tanjung, sang raja menyuruh maha patih Sida Paksa suami Sri Tanjung untuk mencarikan gembolo emas yakni seikat tali emas di parang alas, suatu tempat yang tidak bisa dijamah oleh manusia.

Setelah Sida Paksa berangkat, sang raja Sulokromo kemudian merayu putri Sri Tanjung dengan mengatakan kalau suaminya tidak akan bisa kembali lagi namun dengan kesetiaan pada sang suami Sri Tanjung menolak rayuan raja Sulokromo tersebut.

Tanpa diduga maha patih Sida Paksa datang dengan membawa barang yang dipesan oleh sang raja bahkan barang tersebut lebih bagus dari apa yang di pesan oleh sang raja Sulokromo.

Melihat keberhasilan Sida Paksa tersebut, raja kemudian menfitnah Sri Tanjung telah merayu sang raja saat Sida Paksa melaksanakan tugas.

Sida Paksa yang percaya oleh raja kemudian mendatangi Sri Tanjung dan menuduh istrinya telah merayu sang raja walau Sri Tanjung sudah menjelaskan kepada suaminya, namun tetap tidak peryaca dan bahkan berniat membunuhnya.

Sebelum dibunuh Sri Tanjung mengatakan ia rela dibunuh tapi jika rohnya wangi maka ia tidak bersalah, setelah Sida Paksa menancapkan keris ke arah istrinya dan dibuang ke telaga.

Tiba-tiba air telaga tempat berbau wangi dan warnanya berubah menjadi putih, melihat kejadian tersebut Sida Paksa akhirnya sadar kalau istrinya tidak bersalah.

Oleh karena penyesalanya tersebut, akhirnya tanpa sadar Sida Paksa berteriak wangi sumber wangi, sumber wangi, seperti orang gila.

Pantai Plengkung

21.06
Pantai Plengkung Surganya para Pe-selancar


Pelengkung dikenal sebagai pantai terbaik untuk surfing di dunia. Nama plengkung juga sering disebut dengan G-Land. huruh G berasal dari kata Grajagan, nama dari sebuah teluk yang memiliki pmbak yang besar. G-Land dikelilingi hutan hujan tropis yang masih alami. Disini ditawarkan olahraga surfing yang digemari para pe-surfer dan sidarankan hanya untuk para pe-surfer yang profesional. Mei sampai oktober adalah bulan terbaik untuk surfing. Tidak diragukan lagi bahwa G-Land merupakan surge bagi para peselancar.
Kebanyakan peselancar berangkat dari Bali melalui banyuwangi langsung ke G-Land atau ke grajagan. Kemudian, mereka menyewa boat menuju pantai plengkung.
 AKOMODASI
Ada Cottage dan jungle camp dekat pantai tersedia untuk para pengunjung. Bagaimana mencapai pantai plengkung atau G-Land? Pantai pengkung terletak di pantai selatan banyuwangi, ujung timur jawa timur. Para pengunjung dapat mencapai pantai ini lewat dua jalur, yaitu lewat darat – laut.
  1. LEWAT DARAT : Banyuwangi – kalipahit berjarak 59 km dan bisa di tempuh dengan naik bus. Dari kalipahit-pasaranyar menempuh jarak 3 km dengan ojek motor atau menyewa mobil. Dari pasaranyar – trianggulasi – pancur menempuh perjalanan 15 km, lalu pancur plengkung berjarak 9 km, dicapai dengan mobil khusus.
  2. LEWAT DARAT-LAUT : Banyuwangi – benculuk menempuh jarak 35 km dengan naik bus atau kendaraan umum lainnya. Gempuluk – grajagan berjarak 18 km dapat di tempuh dengan kendaraan umum. Grajagan – plengkung dilanjutkan dengan speed boat.
Jika penumpang memilih melalui grajagan, tersedia penginapan di pantai grajagan. Para pengunjung bisa menikmati keindahan pentai grajagan sebelum berangkat ke pantai plengkung.



PANTAI TELUK HIJAU, SURGA YANG TERSEMBUNYI DI BANYUWANGI

10.29
 Banyuwangi  tak hanya memiliki Pantai Plengkung yang indah, tapi juga Teluk Hijau. Teluk Hijau atau juga sering disebut Green Bay, namanya mungkin tidak sepopuler Rajegwesi dengan bantengnya, atau Sukamade dengan penyunya. Tetapi teluk ini mempunyai daya tarik tersendiri dengan pesona pasir putih nan lembut, air terjun setinggi 8 meter dan pemandangan karang yang indah. Sesuai dengan namanya, teluk ini berwarna hijau jika dilihat dari jauh. Ini berbeda dengan kebanyakan teluk atau laut yang biasanya berwarna biru. Kenapa bisa begitu? Apa mungkin karena ada banyak ganggang hijau? Entahlah….Yang jelas warna hijaunya sangat indah.



Teluk Hijau terletak di Kabupaten Banyuwangi, bagian selatan Pesanggrahan, Desa Sarongan. Wilayahnya termasuk dalam Taman Nasional Meru Betiri. Inilah surga yang tersembunyi di Banyuwangi. Pantai yang masih tersembunyi dan sepi ini memiliki hamparan pasir putih yang menawan. Pasirnya begitu halus, sehingga mudah melekat di kulit. Perpaduan antara pasir putih, air laut yang jernih berwarna kehijauan dan suasana yang asri akan membuat siapapun yang melihatnya merasa kagum.

Kebanyakan wisatawan mengunjungi Taman Nasional Meru Betiri dan Sukamade sebagai tujuan utama. Sebelum sampai di dua tempat tersebut, kita akan melewati Teluk Hijau. Sehingga Teluk Hijau hanya menjadi tempat persinggahan. Pengunjung hanya berhenti sejenak dan melihat Teluk Hijau yang eksotis dari kejauhan di atas bukit. Namun surga Teluk Hijau yang sebenarnya berada di pantainya.





Untuk mencapai Teluk Hijau, pengunjung harus menuruni bukit dan melewati hutan sebelum sampai di pantai, karena pantai Teluk Hijau letaknya di balik tebing karang setelah Pantai Batu. Jika bertemu dengan pantai yang dipenuhi hamparan batu, berarti Anda berada di Pantai Batu. Di sini hampir tidak nampak pasir layaknya pantai kebanyakan, yang terlihat hanyalah hamparan bebatuan bulat, mulai dari seukuran kepalan tangan sampai sebesar batuan yang ada di tengah sungai.


Dari pantai Batu, lokasi Teluk Hijau semakin dekat. Langkahkan lagi sedikit kaki dan Anda pun akan tiba di Teluk Hijau yang berpasir putih dan airnya sangat jernih. 







Di sini kita bisa berenang atau sekedar bermain air di pantainya. Tidak jauh dari pantai terdapat bukit  kecil. Di satu sisinya ada bebatuan berwarna kuning kecoklatan. Di sisi timur sekitar 20 meter dari pantai kita akan menjumpai air terjun dengan debit air yang sedang. Benar-benar unik bukan? Selama musim hujan volume air akan lebih cepat dan indah. Jadi meskipun jauh dari pemukiman, anda tidak perlu susah susah mendapatkan air bersih untuk membilas badan selepas berenang di pantai.





Untuk yang suka kemping, di lokasi ini juga cukup bagus untuk mendirikan tenda. Yang perlu diperhatikan jika kemping di Teluk Hijau adalah kondisi pasang surut air laut. JIka kondisi air pasang, maka ombak bisa menjamah seluruh permukaan pantai. Karena itu tenda sebaiknya didirikan di daerah semak/perdu agar man dari jangkauan ombak ketika air laut pasang. Jadi jangan membangun tenda di tepi pantai.

Satu hal lagi, di kawasan ini tumbuh bunga yang termasuk langka, bunga Raflesia. Bunga Raflesia ini menjadi perhatian tersendiri bagi dinas kehutanan di daerah tersebut. Karena selain menjadi objek pariwisata, bunga ini pun dilindungi.






 RUTE MENUJU TELUK HIJAU
Ada 2 cara menuju teluk ijo dari tempat pintu masuk :

1. Lewat Darat

Teluk ijo berlokasi di Kecamatan Pesanggaran tepatnya di desa Sarongan. Berjarak sekitar 90 km arah selatan dari kota Banyuwangi. Untuk menuju pantai ini dari Banyuwangi kita tinggal mengikuti petunjuk arah menuju Pesanggaran-Sarongan-Sukamade yang masih satu jalur dengan rute menuju pantai sukamade Taman Nasional Merubetiri.

Untuk menuju Teluk Hijau atau yang biasa disebut Teluk Ijo oleh penduduk lokal, pengunjung harus menuju Desa Pesanggrahan terlebih dahulu. Baru kemudian, lanjut ke Desa Sarongan dengan kondisi jalan yang cukup rusak.

Dari desa Kandangan, Sarongan, bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua. Namun, perjalanan dengan kendaraan hanya bisa dicapai sekitar hampir 1 km saja. Sampai di Rajegwesi anda akan berjumpa dengan pertigaan: yang ke kiri menuju pantai Rajegwesi dan yang ke kanan menuju Teluk Hijau dan Sukamade.

Letak Teluk Hijau tak terlalu jauh dari pemukiman penduduk yang paling akhir di daerah Rajegwesi. Oleh karena itu, jika anda membawa kendaran lebih baik jika kendaraan itu dititipkan ke penduduk. Lalu, perjalanan menuju Teluk Hijau dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Jarak menuju Teluk Hijau sekitar 2km. Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai Teluk Hijau adalah sekitar 30 menit di jalan utama dan 30 menit di jalan setapak.

Jangan sampai terjebak dengan pantai yang penuh dengan batu (yang mirip batu sungai), karena bukan itu yang disebut dengan Teluk Hijau. Tetapi teruslah berjalan di tepi pantai hingga melewati sedikit semak atau perdu. Di balik semak itulah Teluk Hijau berada.

Penujuk arah menuju Teluk ijo sudah cukup jelas, jadi tidak usah takut nyasar.

Rute pada google maps
Lihat pada google maps

2. Lewat Laut

Ini adalah cara paling mudah. Anda bisa menyewa perahu dari pantai Rajekwesi langsung menuju Teluk Hijau. Ongkosnya sekitar Rp 200.000,- PP. Teluk Hijau dapat dicapai dalam waktu 45 menit one way nya. Tapi anda harus punya nyali karena dengan perahu kecil tersebut dan melalui ombak laut selatan. Namun anda akan mendapatkan pengalaman yang baik selama perjalanan dengan perahu tersebut.


Kapan ya bisa kesana lagi :D




OSING APA OSING??

12.22


Pertanyaan diatas selalu muncul dalam banyak kesempatan di forum pertemuan orang Banyuwangi. Termasuk di  forum GCUAB….yang dilontarkan sdr Arif Wibowo putra Banyuwangi Asli. Bagaimana mungkin ,sebuah nama yang dilekatkan pada orang Banyuwangi asli (asli Banyuwangi) , masih menimbulkan kebingungan cara menuliskan.
Apa boleh buat karena kata itu adalah julukan yang diberikan orang luar kepada orang Banyuwangi asli ,yang nama sebenarnya adalah wong Blambangan.Maka pantaslah orang Banyuwangi aslipun tidak tahu bagaimana tulisan itu……malah dalam Kamus Bahasa Daerah Using _ Indonesia yang disusun Bpk Hasan Ali. pada halaman 457, selain kata using , dicantumkan juga kata ESING.
Contoh sederhana adalah nama saya Ali Sudarmanto , tetapi kawan di facebook memanggil saya AS. Maka jika seorang kawan Facebooker dari Kalimantan , yang mengenal saya dengan AS, dan mencoba mencari saya (AS ), jangankan di Banyuwangi  dikampung sayapun pasti orang tidak tahu.Sehingga muncullah penjelasan yang macam macam , apakak tulisannya ASS, mungkin A.S, malahan mungkin A.S.S(karena ketika di facebook saya menampilkan istri saya berwajah  Arab ,.
Demikian juga kata  Osing /Using/Esing, karena nama itu aneh untuk orang Blambangan,maka dicarilah padan kata diluar Banyuwangi, hingga dari Bali, ada yang Mataram , mungkin dari bahasa Austronesia.
Sebagai nama julukan dari penjajah ( Belanda) dan anteknya ,maka muncullah konotasi negative untuk wong Osing/using/esing   Maka muncullah theory dari ahli Linguistik , Sejarahwan , Budayawan, bahwa Osing /Using /Esing, adalah sebutan untuk orang yang tertutup, tidak mau menerima kedatangan orang luar, makan manusia,orang pinggiran ,diluar kasta ( sangat hina) , ACLAK, BINGKAH , LADAK.
Apakah anda tahu arti Aclak , Bingkah , Ladak.
Aclak, ternyata tidak ada dikamus bahasa Using .Indonesia bapak Hasan Ali.
Seorang penatar Jebeng Tulik Pemda Banyuwangi, mendiskripsikan sebagai   sok tahu. Penyanyi terkenal di Banyuwangi ( Catur Arum )dalam sebuah lagunya Aclak mendiskripsikan tong kosong berbunyi nyaring.
Ladak , kamus bahasa Using .Indonesia memadankan dengan sombong, angkuh ( 240)
Bingkah, kamus bahasa Using Indonesia memadankan kurang ajar, tidak mempunyai sopan ( 41)
Seorang budayawan /seniman mau memberi pengertian dengan  membuat justifikasi yg lebih baik maksud kata kata itu. Tetapi sayang justifikasi itu cuma dimengerti oleh dia dan kelompoknya.
Apakah seperti itukah kita wong Banyuwangi, darah Blambangan yang gagah berani,dari trah/keturunan yang jelas , yang oleh Susuhunan Tawangalun, raja terbesar Blambangan disebut memiliki character KALOKA ( VISIONER) , PRAWIRA, WIBAWA , BERBAHASA ( santun,atau harus kemampuan bahasa perdagangan, atau memiliki interpersonal).
Jawaban dihati anda…..
Dhafa Dhuafa
--------------------------------------------------------
Sun tau rungu
Gendinge Emak ring pucuki bengi hang sintru
Atinesun dhi kudhang-kudhang ambi sinau
Kanggo sangune turu
Lek…
Ojo sampe kelalen
Ambi riwayate bengen
Werruho siro
Kelendi perjuangane Embah-Buyut ring zaman semono
Ngasah ati
Ngumbyah rogo ambi getih hang temetes mili
Meres keringet
Lan ngelebur banyu moto hang jangget
Kanggo sopo lek……..????
Kadung sing kanggo isun lan siro
Myakne eling lan duwe rumongso
Kadung nyatane….
Hang aran bumi Blambangan iki
Dadi saksi tandurane bakti hang sejati
*Terus Emak meneng…
Isun cengeng
Emak mageh meneng..
Ambi nutupi raine nganggo pucuke jarit hang dhi batik cemeng…………

Bali TIDAK BENAR pernah menjajah Blambangan

12.04


Tulisan tentang Bali  pernah menjajah Blambangan sering penulis temui baik dari para sejarahwan maupun penulis sejarah lokal. Tulisan tersebut ada yang mendasarkan pada kesenian Banywangi memiliki kemiripan dengan Bali atau yang mendasarkan pada tulisan Babad yang terbit di kerajaan Bali.
Saya telah menulis  tentang ketidak benaran pernyataan kesenian Blambangan dipengaruhi Bali,pada tulisan yang berthema..Benarkah Kesenian Banyuwangi dipengaruhi Bali pada blog ini. Maka saya akan menulis dari aspek kesejarahan tentang ketidak benaran penjajahan Bali di Blambangan . Hal ini dimungkinkan munculnya pendekatan atau methode baru yaitu Logic of History yang dikembangkan oleh C.Behan Mc Cullagh , Associate Professor Bidang Filsafat Sejarah di La Trobe University Australia, yaitu dengan melakukan tinjauan yang lebih komprehensive , dari hanya sekedar bersumber pada cerita Babad .
Yang menarik lagi pernyataan Sejarahwan dan penulis  sejarah tentang penjajahan Blambangan juga simpang siur mulai dari aspek waktunya maupun siapa yang menjajahnya.
•    Ada sejarahwan yang menyatakan  dari tahun 1547  pada masa Waturenggong sampai … ,kemudian berhasil membebaskan diri ,dan mulai lagi pada masa Mengwi
•    Ada sejarahwan yang menyatakan setelah masa Tawangalun yaitu tahun 1697 sampai dengan  1764,
. Ada  juga masa Waturenggong ( Gelgel)  , Buleleng, Mengwi
•   Ada yang menyatakan setelah masa Tawangalun dengan urutan berbeda Buleleng, Gelgel, Mengwi.
•   Ada yang menyatakan Mengwi  dengan waktu yang berbeda beda .Drs I Made Sudjana MA,mencatat pada tahun 1763 sampai dengan 1768.
•    Ada yang tanpa menyebutkan tahun dan kerajaannya.
Sesuai metode Logic of History,.diatas mengharuskan kita membandingkan Bali dan Blambangan.
BALI
  •   Luas pulau Bali hanya 5000 km persegi atau hanya separuh dari Blambangan 10,000 km2 . Apalagi kalo Blambangan dibandingkan dengan Buleleng max 500 km persegi ,begitu juga Gel Gel /Klungkung, Mengwi
  • Kerajaan di Bali pada masa jauh  hanya bertumpu pada suwilih ( upeti dari petani), dan Bali bukan tanah yang subur. Hanya dengan kerja keras dan rasa cinta yang mendalam orang Bali mampu berkehidupan lebih baik.•
  • Tidak ada keahlian maritim di Bali.Sekedar contoh dalam pertempuran Buleleng dan Mengwi menyiagakan armada 40 buah perahu mayang, pancalang , jukung .Pasukan Mengwi bergerak sejak Juni 1766 , tetapi pada Juli 1766, sudah kehabisan Logistik (kelaparan) .Baca Nagari Tawon hal .6
  • Lebih dari itu dalam konsepsi religius Hindu menurut DR.  Agus  Aris Munandar ( dosen Universitas Indonesia )  tentang jagat raya sebagai berikut.
    1.  Ajaran Hindu menyatakan bahwa daratan adalah tempat penting , tempat itu dinamakan Jambhudwipa,sebagai lokasi bermukimnya manusia. Dengan demikian kerajaan kerajaan yang bercorak Hinduismedi Jawa lebih mementingkan In Ward Looking. Dan tidak memperhatikan daerah daerah di luar Jambhudwipa.
    2.    Dalam konsep Makrokosmos Hinduisme menyatakan bahwa ditengah Jambhudwipa terdapat gunung Mahameru sebagai pusat alam semesta Axis Mundi antara tiga dunia ( Bhurloka , Bhuwarloka, dan Swarloka ). Bhurloka adalah bagian kaki gunung , tempat tinggal manusia, ditengah Bhuwarloka , tempat tinggal para orang suci dan para pertapa, sedang Swarloka di puncak Mahameru  terdapat sorga ,istana istana bersemayamnya para dewa ( Sudarsana). Dalam konsep ini daerah tepian pantai , laut dan lautan dianggapa derah nista dan kotor, tempat tinggal roh roh jahat, para raksasa, dan machluk rendah lainnya. Oleh karena  itu perhatian ke laut , pelayaran di laut dan menjelajah lautan bukan aktivitas  yang disenangi oleh pemeluk agama Hindu.
BLAMBANGAN.
• Luasnya 10000km2, negara agrarish dan subur ( Negra Krtagama) , dan memiliki pelabuhan yang sangat ramai Panarukan ( berita Tome de Peres, pelaut , penjelajah Portugis), Ulupampang ( berita dari penjelajah, pedagang Inggris)
BABAD BALI.
Sepanjang yang diketahui  dari Babad ,kerajaan di Bali  dimulai dari kerajaan Gelgel 1450 , dilanjutkan dengan Klungkung mulai tahun , kemudian muncul Mengwi (1629) , Buleleng (1660).
Raja2 dari Bali menurut Babad di Bali yang menguasai Blambangan.
•    Kerajaan Gelgel menjajah Blambangan ketika diperintah Dalem Watu Renggong ( 1460 sd1550),.Pada saat itu Ibu nagari Blambangan berada di Panarukan dan kerajaan Blambangan memiliki hubungan yang luas dengan Portugis .Lebih dari itu Drs I Made Sudjana MA juga menolak bahwa Dalem Waturenggong menguasai Blambangan ( Nagari Tawon Madu 27).Setelah Dalem Watu Renggong Gelgel menurun terus menerus , lalu metamorphosis menjadi Klungkung (Sejarah kerajaan Gelgel).
•    Kerajaan Mengwi menjajah Blambangan  ketika masa I Gusti Agung Ngurah Made Agung 1627 sd 1650.Pada masa ini adalah masa Tawangalun I , pelabuhan Ulu Pampang berkembang dengan cepat , kemudian mengantarkan ke masa jaya Tawangalun II. Setelah I Gusti Agung Ngurah Made Agung , Mengwipun menurun.( Sejarah kerajaan Mengwi), yang memungkinkan Buleleng berdiri pada tahun 1660.
•    Raja Buleleng I Gusti Ngurah Panji Sakti (1660 sd 1697) dalam babad Buleleng diceritakan mengusai Blambangan.( juga Soegianto Sastrodiwiryo : I Gusti Panji Sakti Raja Buleleng 15991680. Kayu Mas Agung 1995).Padahal pada masa ini Blambangan berada pada masa jaya dibawah Tawangalun II.Masa yang berdasarkan hasil penelitian DR. Sri Margana adalah masa jaya kerajaan Blambangan. Setelah masa itu Buleleng itu menurun malah dikuasai Mengwi .
Dari catatan diatas  ada satu kesamaan cerita, yaitu setiap masa keemasan masa raja Gelgel, Mengwi, Buleleng , raja nya pasti diceritakan pernah menguasai kerajaan Blambangan. Jadi cerita menguasai kerajaan Blambangan menjadi simbol kebesaran raja raja Bali. Ini bisa dipahami bila kita kaitkan fungsi Babad dalam kerajaan Bali. Babad dalam kerajaan Bali, adalah sebuah naskah suci, yang menjadi bukti legalitas kerajaan Bali dan utamanya menceritakan tentang leluhur mereka yang berasal dari Majapahit serta memiliki kekuasaan yang amat luas. ( DR.Robin Tatu .)
Disatu sisi juga  menjelaskan bahwa masa jaya  kerajaan Gelgel maupun Mengwi dan Buleleng bersamaan dengan masa jaya di Blambangan . Malah masa jaya Blambangan jauh lebih lama dari kerajaan Gelgel,Mengwi maupun Buleleng yaitu sampai  masa Tawangalun II ( 1691).Sedang  Gelgel malah sudah metamorphosis menjadi Klungkung, kemudian  terbelah menjadi kerajaan kecil Mengwi, Buleleng , Badung dan kemudian terjadi peperangan yang acuut antara kerajaan kecil itu. Dan pada saat yang sama Blambangan malah memasuki masa Kertayuga ( 1736 sd 1762) ..Nagari Tawon Madu (35)
Drs I Made Sudjana MA (Leiden) dengan susah payah mencari bukti , akhirnya menyimpulkan bahwa Mengwi menguasai Blambangan pada 1763 sd 1768…..padahal pada masa itu Mengwi juga sudah sangat lemah karena masa jaya Mengwi terjadi pada tahun1627 sd 1650
Dengan bukti bukti seperti tersebut diatas  cerita penguasaan Blambangan oleh Bali menurut saya sengaja di hembuskan oleh VOC untuk adu domba  antara Bali dengan Blambangan .
Pertanyaan lebih lanjut , mengapa VOC perlu membangun legalitas seperti itu?
Seperti diketahui dalam tulisan sejarahwan yang mengutip sejarahwan Belanda,dicatat  bahwa akhir dari masa pendudukan Bali di Blambangan adalah pembunuhan sadis antara kedua belah pihak yang muncul akibat akumulasi  kebencian antara kedua belah pihak . Jika melihat pernyataan tersebut maka rasanya peristiwa itu menjadi sumber dendam yang akan tidak pernah tuntas sampai saat ini. Lebih dari itu malahan sumber dari Belanda menyebutkan bahwa sebutan sebutan yang mengejek orang Blambangan muncul dari Bali. Sayang usaha itu tidak berhasil hubungan antara wong Bali dan wong Blambangan tetap baik dan saling membangun.
Bukti lebih lanjut membuktikan bahwa cerita itu sengaja dibangun Belanda untuk menutupi adanya pembunuhan besar besaran  orang Blambangan oleh VOC sebanyak 90% orang Blambangan ( History of Java ,Thomas Stanford Raffless). VOC rupanya ingin mengalihkan bahwa menyusutnya penduduk Blambangan secara drastis , sebagai akibat pertikaian antara orang Bali dengan orang Blambangan , dan sebab penyakit yang berjangkit di Blambangan.
Pada saat itu sebenarnya kekuasaan VOC sudah sangat lemah diluar Jawa dan hanya di Jawa , VOC masih sangat kokoh.Hanya Blambangan yang tak tersentuh.Ketika 1743 , Raja Pakubuwana II dari Mataram menyerahkan Java’s Onsthoek ….. (Perebutan hegemoni Blambangan 40) …….Tetapi tak terduga Belanda harus menghadapi perlawanan yang luar biasa………penduduk di kawasan ini berkeras menolak pemerintahan Belanda. Dan terlibat dalam pertarungan yang panjang melawan VoC ,hampir hampir mengorbankan segalanya untuk mempertahankan idealisme mereka. Kemudian Inggris pada akhir abad ke 18 Inggris menambah panas situasi tersebut ketika mulai mengusik kawasan ini dalam rangka mencari komoditas alternative untuk perdagangan di Cina ( DR. Sri Margana. Perebutan Hegemoni Blambangan ,2)
Apalagi setelah pertempuran Blambangan ini, Perang wong Agung Wilis dilanjutkan P .Rempeg Jagapati dan juga pemberontakan lainnya di Nusantara yang semasa dengan itu . VOC dipailitkan /dibubarkan (31 desember1799) , dan lebih dari itu akhirnya Belanda dijajah Napoleon Bonaparte ( 1797 sd 1816), kemudian Belgia memisahkan diri dari Blambangan.

BANYUALIT ( Blambangan ) ,BANJIR DARAH YANG TERLUPAKAN.

11.54


Dalam buku Perebutan Hegemoni Blambangan DR .Sri Margana menulis:
•    Penyerahan kawasan ini ( Java Ooesthoek yaitu Malang ,Probolinggo , Pasuruan , Blambangan , berdasarkan  klaim teritorial kuno Mataram , yang sebenarnya   jauh dari realitas politik aktual. (  41)
•    Banyualit banjir darah pada 31 Maret  1768

Penyerahan Java Oosthoek  dari Pakubuwana II ke VOC
Sultan Pakubuwana II ,baru berumur 15 tahun ketika diangkat menjadi Sultan Mataram( 1726 -1749) . Dia adalah putra Amangkurat III, menggantikan Amangkurat IV ( 1719 -1726). Karena masih muda dan kurang mampu dalam pemerintahan , Mataram terus  dilanda perebutan kekuasaan . Malahan pada tahun 1742 , pemberontak berhasil merebut ibukota Mataram Kartasura .Kartasura dalam keadaan hancur  luluh lantak , dan Pakubuwana II, kemudian diasingkan . Untuk merebut kembali tahtanya Pakubuwana meminta bantuan VOC dan VOC menyodorkan sebuah perjanjian yang sangat memberatkan Mataram , yaitu menggadaikan kedaulatan Mataram kepada VOC , selama Mataram belum mampu melunasi hutang biaya perang.   Pada tahun 1743 VOC dapat menumpas pemberontak dan mendudukan kembali Pakubuwana II sebagai Sultan Mataram. Untuk melunasi hutang hutang biaya perang itulah Pakubuwana II antara lain menyerahkan Java Ooosthoek (Pasuruan , Malang, Probolinggo, Blambangan ).
DR. Sri Margana menyebut  penyerahan kawasan ini ,  berdasarkan klaim teritorial kuno Mataram , yang sebenarnya jauh dari realitas politik aktual.(Perebutan Hegemoni Blambangan  41)  Karena pada saat itu Pasruan, Malang , Probolinggo masih dikuasai oleh keturunan Untung Suropati yang tidak pernah tunduk pada kekuasaan Mataram demikian juaga Blambangan tidak pernah ditundukan oleh Mataram dan malahan  pada 1736 sampai dengan 1762 mengalami masa Kertayoga , dalam keadaan aman  makmur tentrem , kertaraharja.  ( Drs I Made Sudjana M A. Nagari Tawon Madu 35. Maka menarik untuk mengetahui sejarah Kesultanan Mataram
Kesultanan Mataram sampai Pakubuwana II
Kesultanan Mataram berasal dari suatu daerah  Kesultanan Pajang  yang disebut Bumi Mentaok  yang dihadiahkan Sultan Pajang Hadiwijaya kepada   Ki Ageng Selo dan Ki Ageng Pemanahan atas jasanya dalam perang mengalahkan Arya Penangsang.Tahun 1584  ketika Ki Ageng Pemanahan meninggal . Sultan Pajang mengangkat putra Ki Ageng Pemanahan , Sutawijaya  yang juga putra angkatnya sebagai adipati dengan gelar “Senapati Ing Ngalaga.
Tahun 1587 , Sutawijaya memberontak pada Sultan Hadiwijaya. Ketika pasukan Pajang akan menggempur Sutawijaya , pasukan Sultan Hadiwijaya dihadang letusan gunung Merapi. Sutawijaya selamat.Sejak itu Bumi Mentaok memisahkan diri dari kesultanan Pajang , dan mendirikan kerajaan Mataram.Meskipun sebagian besar para Wali Sanga  menolak berdirinya kerajaan Mataram , berkat persetujuan Sunan Giri , kesultanan Mataram bisa berdiri.  (DR.Purwadi  Da’wah Wali Sanga) .Sutawijaya kemudian bergelar “ Senapati Ingalaga Sayidin Panatagama” atau lebih dikenal Panembahan Senopati.  Tahun 1601, Panembahan Senopati wafat, kemudian digantikan  Panembahan Hanyakrawati.  Tahun 1613, Panembahan Hanyakrawati wafat digantikan putranya Pangeran Haryo Martopuro. Karena sering sakit kemudian digantikan oleh kakaknya R.Mas Rangsang. Pada tahun 1625 , Mas Rangsang menginvasi ( mengirim ) expedisi militer ke Jawa Timur , melibatkan 30 ribu prajurit. Sultan mampu menguasai sebagian besar Jawa Timur dan Madura, tetapi tidak  menaklukan kedaton Giri . Penyerbuan ke Blambangan juga kurang berhasil meskipun , Sultan Agung membawa 5000 penduduk Blambangan ke Mataram. Orang Blambangan yang dikenal sakti ( digdaya ) dijadikan percobaan senjata . Apabila senjata itu dapat melukai wong Blambangan , maka senjata itu lulus sebagai senjata sakti . Wong Blambangan juga menjadi umpan  dalam penyerangan ke Batavia pada tahun 1628 – 1629 .
Bahwa Blambangan belum dikuasai Sultan Agung , sesuai dengan pernyataan Sultan Agung yang dikutip Sir Stanford Raffless .
Thomas  Stanford Raffles mengutip pernyataan Sultan Agung bahwa , masih ada dua kerajaan yang paling berbahaya belum terkalahkan yaitu Sumedang dan Blambangan..    Thomas Stanford Rafless  Hystori of Java  509
Peta kekuasaan Sultan Agung dari Wikipedia .
Setelah menaklukan sebagian Jawa Timur dan Madura , R. Mas Rangsang menggunakan gelar “Sultan Agung Senapati Ingalaga Abdurachman.
Setelah menguasai sebagaian Jawa Timur dan Madura, Sultan Agung  berkoalisi dengan Kesultanan Cirebon dan Banten menyerbu VOC di Batavia. Sayang penyerbuan  mengalami kegagalan. Tetapi Mataram tetap kokoh berdiri , dan Sultan Agung meneruskan perlawanannya kepada VOC. Pada tahun 1636 sampai dengan 1640 , Sultan Agung sekali lagi menyerang Jawa Timur dan Blambangan . Penyerangan ini menurut DR .Sri Margana lebih menyerupai perampokan daripada pendudukan ( Perebutan Hegemoni Blambangan .40).  Tahun1646 Sultan Agung wafat dengan penuh kewibawaan dan digantikan putranya , dan bergelar Amangkurat I.( 1646 sd 1677).                     Berbeda dengan Sultan Agung , putra yang menggantikannya , dikenal sebagai raja TIRAN ( DR. Sri Margana . PHB 37  dan Trilogi Genduk DUKU JB . Mangunwijaya) sehingga  banyak penguasa bawahannya yang bangkit melawan raja Tiran ini.Salah satu pemberontakan yang terkenal dipimpin  Trunojoyo.  Walaupun Amangkurat I meminta bantuan VOC , namun Trunojoyo dapat menguasai keraton Mataram dan memaksa Amangkurat mengungsi dan mati di Tegalarum (1677).Sejak Amangkurat I , Mataram selalu dirundung perebutan kekuasaan yang tidak pernah berhenti .
Sebagai pengganti  diangkat  putranya sebagai Amangkurat II, karena dalam pengasingan maka kekuasaan dipegang Pangeran Puger. Pangeran Puger mulai memerintah dengan gelar Susuhunan Ing Ngalaga . Tetapi Amangkurat II( 1680 – 1703) dengan bantuan VOC menurunkan Pangeran Puger. Bantuan VOC ini menurut WS Rendra dalam satu diskusi yang digagas REPUBLIKA , harus dibayar mahal, yaitu menyerahkan kewenangan maritim pantai utara Jawa ke VOC, maka sejak itulah kekuatan Maritim Jawa hancur . Disisi lain  ketidak puasan di internal juga tidak bisa diatasi dan pemberontakan tetap berlangsung.. Ketika Amangkurat II wafat dan kekuasaan diserahkan pada putranya Amangkurat III (1703).Sekali lagi Pangeran  Puger / Mas Drajat melakukan pemberontakan . Kali ini VOC mendukung Pangeran Puger sehingga dapat merebut tahta dari Amangkurat III , dan  Amangkurat III  melarikan diri ke Jawa Timur berlindung pada Adipati Untung . Pada tahun 1704  dengan bantuan VOC Pangeran Puger , diangkat sebagai Paku Buwono I  dan memburu  Amangkurat III di Jawa Timur.. Tahun 1708 , Sultan Amangkurat III ditangkap , dan dibuang ke Ceylon.  Pada tahun 1719 Pakubuwono I meninggal dan digantikan putranya dengan gelar Amangkurat IV. Putra Amangkurat III, melakukan pemberontakan .Dan dapat merebut tahta , kemudian naik tahta dengan gelar Pakubuwana II.( 1723).Pada masa Pakubuwana II, pemberontakan muncul kembali malah pemberontak dapat memakzulkan Pakubuwana II . Pakubuwana II kemudian meminta bantuan VOC , dan VOC menekan dengan perjanjian yang sangat berat ( menggadaikan kedaulatan Mataram pada VOC  selama belum melunasi hutang biaya perang ).
Pada 1743. Ibukota Kartasura dapat direbut dari tangan pemberontak dalam   keadaan luluh lantak .Karena itulah kemudian Pakubuwana II menyerahkan Java Oosthoek ( Pasuruan , Malang, Probolinggo, dan sebagian Lumajang) pada VOC. Dan
Masa penyerahan Java Oosthoek  sampai dengan Perjanjian Salatiga.
Setelah penyerahan Java Oosthoek ,  ternyata tidak serta merta membuat VOC mampu merebut daerah tersebut ,karena kuatnya kedudukan keturunan Untung Suropati  di Pasuruan , Malang , Probolinggo . Di pihak lain  Blambangan malah membangun hubungan dengan Inggris.
Disamping itu ternyata VOC tidak mampu membuat Mataram reda dari perebutan kekuasaan, walaupun VOC mengendalikan seluruh kekuasaan Mataram. Raja Mataram diangkat dan digaji oleh VOC. Kekacauan politik  , terus berlangsung . Setelah pengangkatan kembali  Pakubuwana II  oleh VOC ,P.Mangkubumi memberontak kembali  dan berlangsung selama 10 tahun sampai masa  Pakubuwanna III . Kemudian ditanda tangani  Perjanjian Giyanti pada tgl 13 Februari 1755 dan  Mataram terbelah menjadi dua yaitu  Kasunanan Surakarta. Dan Kesultanan Ngayogjakarta. Pangeran Mangkubumi menjadi Sultan Ngayogjakarta bergelar  Sultan Hamengkubuwono I Setiap penyelesaian peperangan , selalu mempertajam kuku kekuasaan VOC menancap tajam .Tetapi pada tahun 1757, perpecahan kembali terjadi antara R. Mas Said ( Pangeran Sambernyawa ) dengan Pakubuwono III, VOC, dan Hamengkubuwono I. Akhirnya ditanda tangani perjanjian Salatiga  , Mataram dipecah lagi . R.Mas Said diangkat sebagai penguasa atas sebuah kepangeranan , Praja Mangkunegaran yang terlepas dari Surakarta .
Dengan demikian ,menjadi jelas pernyataan DR. Sri Margana , bahwa Mataram tidak pernah  menguasai Malang , Probolinggo , Blambangan
Pertahanan yang kuat keturunan Untung Suropati dan Blambangan.
Setelah perjanjian Salatiga 1757,  VOC mendapat dana yang cukup besar dari Mataram , persiapan menggempur Java Oostoek dimulai Ternyata persiapan penyerangan pada Java Oostoek tidaklah mudah, karena  VOC memerlukan kekuatan tempur yang sangat besar untuk menghadapi kekuatan keturunan Untung Suropati dan Blambangan yang sangat kuat.
Keturunan Untung Suropati tentu sangat menyesalkan penyerahan Java Oosthoek oleh Pakubuwana II kepada Belanda, karena ayahanda Amangkurat III , ditolong dan dilindungi oleh Suropati. Ibarat kebaikan dibalas dengan penghianatan. Karena itu keturunan Untung Suropati segera memperkuat diri.
Sementara itu  Blambangan memanfaatkan meningkatkan hubungan dengan Inggris , karena Inggris telah  terusir dari Banten ( 1600) , Jakarta, Banda (1625)maka hubungan  Blambangan dengan  Inggris sejak tahun 1600 , telah maju dengan pesat.Dan Inggris mulai menjadikan Blambangan sebagai pijakan untuk menguasai Sumatera dan Borneo.( Stanford Raffless , History of Java.140).Karena Inggris telah memiliki hubungan yang sangat baik dengan Blambangan  sejak tahun 1600, maka Inggris  hanya membutuhkan pijakan di Sumatera. Semula Inggris ,berkeinginan mengikat perjanjian dengan Sultanah Aceh Zaqiyat ud din Inayat Shah, tetapi Sultanah menolak. Kemudian Inggris menghubungi kedatuan Baros dan Pariaman. Baros dan Pariaman dapat menerima tawaran tersebut , karena  VOC yang dikenal ganas  juga mulai melirik  Pariaman.Tetapi dua hari menjelang keberangkatan armada Inggris ke Pariaman , Kedatuan Bengkulu juga mengirimkan utusan ke Inggris  ,meminta Inggris dapat melindungi Bengkulu dari  penjajahan VOC . ( Untuk diingat kalau VOC  menekankan kekuasaan, sedang EIC ( Inggris) menekankan hubungan dagang. Maka Inggrispun membangun pijakan di Bengkulu. ( Alaan Harfield (1995): Bencolen : A history of the Honourable East India Company’s , Garrison  on the west coast Sumatra ( 1685 -1825). Pada tahun 1685  utusan Inggris  disambut Orang kaya Lela, dan Patih Setia raja Muda. Hubungan dagang kemudian dilanjutkan pembangunan  Garrison ( kompleks Militer)  berupa benteng , yaitu benteng Malborough dan juga membangun faktory.  ( Firdaus Burhan (1988) Bengkulu  Dalam Sejarah ).
Berita  VOC tentang  Blambangan penuh kebohongan,
Hubungan  antara VOC dengan Blambangan rupanya sejak awal telah menimbulkan ketidak senangan VOC. Kapal VOC yang singgah di Panarukan pada tanggal  17 Januari 1959 , dan berada disana selama tiga bulan tidak mendapatkan apapun.  Karena perlakuan itu kemudian VOC mengarang cerita , bahwa Blambangan dikepung pasukan Pasuruan.Dan karena itu Blambangan minta bantuan kepada Gel Gel , dan Gel Gel mengirim pasukan 20.OOO  ke Panarukan. ( Jarig Cornellis Molema , De eerste schipvart der Hollanders naar Oost Indie 1595 1597 via DR. Sri Margana , Perebutan Hegemoni Blambangn 162).Padahal berdasar sejarah Kerajaan Gel Gel , masa jaya Gel Gel dibawah  Watu renggong telah berakhir pada tahun 1550.Dan setelah itu Gel Gel merosot dan methamorphosis menjadi Klungkung. Dan Gel Gel bukanlah kerajaan Maritim . Perahu Bali pada saat itu hanya mampu memuat maximal 15 orang. Jadi tidak mungkin Gel Gel mengirim 1500 kapal , untuk tentara dan logistik. Hal ini juga tidak dipercaya oleh Drs I Made Sudjana  Nagari Tawon Madu 27).
Tetapi rupanya laporan resmi tersebut rupanya perlu ditambah fitnah yang lebih besar lagi oleh seorang  anggota armada pertama Belanda  ( Frank der does ) menulis dalam Journal 2 April 1595 sd 13 Juni 1597  dia diberitahu  oleh seorang bangsawan Blambangan bahwa bupati Pasuruan melamar putri raja Blambangan ( pada saat itu Thomas Cavendish  berada di Blambangan ) . Sang raja menerima lamaran tersebut namun setelah malam pertama ,sang putri Blambangan dibunuh oleh suaminya . Pembunuhan itu terjadi karena sang putri tidak mau masuk Islam . Berita ini juga tidak berdasar karena Thomas cavendish  ( Thomas Candish menurut I Made Sudjana MA) yang berada di Blambangan tidak pernah menulis kejadian tersebut.Menurut I Made Sudjana , Thomas Candish , penjelajah Inggris  membawa kapal dagang Preety dan Wilhems singgah di Blambangan,   selama dua minggu tinggal di Blambangan, membeli logistik , kemudian berlayar melanjutkan perjalanan ke timur.  (Drs I.Made Sudajana . Nagari Tawon Madu23)
Juga ketika VOC mengirim utusan Jeremias van Vliet menghadap susuhunan Tawangalun pada tahun 1690, untuk menjalin hubungan dengan VOC untuk membendung pengaruh Inggris yang semakin kuat ,  permintaan hubungan ini tidak ada kelanjutannya . Maka  VOC memutar balikkan fakta bahwa selat Bali rusuh dan penuh kekacauan  (Drs I Made Sudjana  Nagari Tawon Madu 62). Ternyata pernyataan itu harus ditafsirkan bahwa Ulu Pampang telah menjadi tempat yang paling sering dikunjungi kapal kapal Inggris untuk melanjutkan perjalanannya ke Timur menuju Pasir dan Banjarmasin ( Borneo)( I Made Sudjana M A , Nagari tawon Madu 60) dan tempat berkumpul pedagang Nusantara bagian Timur untuk meneruskan hubungan dagang dengan kerajaan Melayu , China  dan India.
Mereka memilih lewat lautan Hindia dan menjadikan Ulu Pampang sebagai pelabuhan persinggahan. Maka Ulupampang menjadi pelabuhan yang ramai karena menjadi  pertemuan pedagang Nusantara dan Inggris . Ini terbukti  sejak awal tahun 1600an Ulupampang mampu mengekspor , sarang burung walet seharga f 4000 , bahan lilin 10 pikul , dan beras 600 ton setiap tahun.  ( Drs I.Made Sudjana MA .Nagari Tawon Madu  22) .
Pantaslah hal itu   telah merobah  motivasi Inggris, kalau awalnya hanya sebagai tempat persinggahan maka pada tahun 1760 , Ulu Pampang /Blambangan mulai dilirik sebagai tempat berpijak. Pada tahun 1765 , konsul EIC merekomendasikan beberapa pelabuhan yang cukup tepat untuk  pendirian perwakilan perdagangan EIC , termasuk di Blambangan( DR. Sri Margana Perebutan Hegemoni Blambangan 49). Setelah itu yaitu tahun 1766 ,kehadiran kapal  Inggris semakin sering . Sebelumnya hanya sekitar 6 bulan sekali , maka mulai tahun 1766 hampir setiap bulan , bahkan kadang kadang dua kali setiap bulan , ( Drs I Made Sudjana  MA. Negara Tawon Madu 61) . Dan  pada bulan Agustus 1766 tiga kapal besar Inggris  diikuti lima kapal belas chialoup, dan dua puluh lima pecalang dan seratus kapal yang lebih kecil , membawa pelaut bugis dan Madura tiba di Blambangan di bawah komando Edward Coles ( DR. Sri Margana Perebutan Hegemoni Blambangan 49).  Tidak dijelaskan apa yang dilakukan oleh armada yang sangat besar ini. Tetapi Thomas Stanford Raffless menjelaskan bahwa setelah itu ,seorang berkebangsaan Inggris ,  Mr.Yesse ,mulai membangun pemukiman di Blambangan . Pemukiman itu dinilai   sangat tepat. Demikian baiknya tempat itu sehingga tempat tersebut disamakan kedudukannya dengan Pinang di Malaya.(Thomas Stanford Raffless History of Java 144).Dukungan dari pemerintah Blambangan juga sangat membantu.Selain itu , Stanford Raffless,juga memuji keberhasilan pemerintahan Blambangan . Thomas Stanford Raffless menyesalkan kegagalan pembangunan pemukiman itu, dan mengemukakan analisa bahwa kegagalan pembangunan tersebut karena pemukiman tersebut semata mata disebabkan dikhususkan untuk militer, tanpa ada pedagang profesional atau pedagang petualang yang disertakan di pemukiman tersebut. (Ho J.148)
Strategy Tumpes Kelor/Membunuh musuh sampai habis
Pembangunan pemukiman militer inilah yang memacu penyerbuan VOC ke Java Ooosthoek.Karena dengan demikian Inggris telah memiliki dua Garisson ( Kompleks Militer), satu di Bengkulu , benteng Malborough dan satu lagi di Blambangan ( diduga Inggrisan). Maka  pada tahun 1767 setelah mendapat kepastian bantuan dari Mataram, Madura ( Panembahan Cakraningrat IV),Surabaya,  maka  dibangunlah expedisi yang sangat besar untuk menggempur  keturunan Untung Suropati dan  Blambangan .
Dalam menggempur Untung Suropati , Belanda mengadopsi Strategy  Tumpes Kelor dari Mataram , yaitu membunuh habis sampai keakar akarnya seluruh keturunan Untung Suropati (  Margana 98). Rupanya pola pikiran inilah yang berlanjut dalam penyerbuan ke Blambangan.
Setelah VOC menggempur lebih dahulu keturunan Untung Suropati dan melakukan Tumpes Kelor ( membunuh sampai habis), kemudian VOC dan sekutunya melanjutkan menyerang  Blambangan. Penyerbuan ini dipimpin dipimpin Erdwiyn Blanke terdiri atas 25 buah kapal besar dan puluhan kapal kecil , yang memuat 335 serdadu Eropa, dan 3000 laskar madura, mataram, Pasuruan, menggempur Panarukan pada tanggal 27 Pebruari 1767. Setelah Panarukan bumi hangus armada Erdwiyn Blanke melaju ke Banyualit  Pemilihan Banyualit ( sekarang Blimbingasari) karena pantai ini berada di tengah kekuatan Blambangan , yaitu Toyo Arum , Kota Lateng dan Ulupampang. Banyualit menjadi ajang pertempuran armada Blambangan dilaut maupun didarat.  Blambangan kalah dalam technology dan strategy , sehingga Banyualit banjir darah. Dan jatuh ketangan VOC pada 31Maret 1767( NTM63).
VOC sekali lagi menyusun berita kebohongan yang luar biasa .
Berdasar  Surat Resmi Kapten Blanke pada Gubernur Johannes VOS 31 Maret 1767 folio 131 136  via Perebutan Hegemoni Blambangan . DR . Sri margana 64).Menyatakan bahwa di Banyualit , VOC tidak mengalami perlawanan sama sekali.  Karena orang Blambangan telah muak dengan Bali ,dan kedatangan VOC digunakan oleh orang Blambangan berontak pada orang Bali. Ketika VOC memasuki kota, mereka melihat pemandangan yang mengerikan. Terjadi pembantaian besar besaran terhadap orang Bali . Kepala manusia tersebar dimana mana, sebagian besar orang Bali. Tetapi rupanya pasukan Belanda tidak puas , dan memburu orang Bali  yang masih bersembunyi di hutan Belantara.
Adakah fakta 2 yang mendukung orang Bali menguasai Blambangan .
Pernyataan Blanke  bahwa Blambangan dikuasai orang 2 Bali tidak memiliki fakta fakta yang kuat  . Berdasarkan penelitian bahwa terhadap kerajaan Mengwi dan Buleleng didapat fakta sebagai berikut;
•    Kerajaan Mengwi mengalami   masa Jaya  ketika I Gusti Agung Ngurah Made Agung 1627 sd 1650.Pada masa ini adalah masa Tawangalun I , pelabuhan Ulu Pampang berkembang dengan cepat , kemudian mengantarkan ke masa jaya Tawangalun II. Setelah I Gusti Agung Ngurah Made Agung , Mengwipun menurun.( Sejarah kerajaan Mengwi), yang memungkinkan Buleleng berdiri pada tahun 1660.
•    Kerajaan  Buleleng mengalami masa Jaya pada I Gusti Ngurah Panji Sakti (1660 sd 1697) dalam babad Buleleng diceritakan mengusai Blambangan.( juga Soegianto Sastrodiwiryo : I Gusti Panji Sakti Raja Buleleng 15991680. Kayu Mas Agung 1995).Padahal pada masa ini Blambangan berada pada masa jaya dibawah Tawangalun II.Masa yang berdasarkan hasil penelitian DR. Sri Margana adalah masa jaya kerajaan Blambangan.Setelah masa itu Buleleng itu menurun malah dikuasai Mengwi .
Dari fakta itu jelas VOC telah melakukan kebohongan sejarah . Mengwi maupun Buleleng sudah tidak memiliki kekuatan apapun pada tahun 1767, malahan mereka saling bertempur satu dengan yang lain. Buleleng dan Mengwi adalah kerajaan agrarish, yang tidak memiliki kekuatan maritim. Mengwi dekat Denpasar, maupun Buleleng dekat Singaraja  sangat tidak mungkin mengerahkan armada laut, dengan kapal yang hanya bermuatan 15 orang perkapal, mengarungi arus Samudra Hindia yang ganas.
Dengan demikian , sebenarnya Kapten Blanke dengan satuan armada yang sangat besar, telah melakukan pembantaian terhadap prajurit Blambangan. Surat yang dibuatnya hanyalah  cuci tangan dan mengadu domba orang Blambangan dengan orang Bali.
Dan apa gunanya kalo VOC mendapat dukungan rakyat Blambangan , VOC membangun benteng di Banyualit
Pendirian Benteng  dan banjir darah  ke dua di Banyualit.
Untuk mempertahankan kedudukannya di Blambangan , VOC membangun benteng di Banyualit .Pembangunan benteng ini menambah kesengsaraan rakyat Blambangan . Ribuan penduduk Blambangan dipekerjakan untuk secepatnya menyelesaikan Benteng tersebut tanpa mendapat upah , dan makan . Setelah itu VOC juga membangun benteng di Ulu Pampang.  Penderitaan rakyat Blambangan tak terkirakan . Para petinggi Blambangan diwajibkan menyerahkan dua ekor kerbau, dan menyerahkan uang sebesar 3.5 gulden . ( I Made Sudjana MA . Nagari Tawon Madu .67 )
Benteng ini cukup besar , dalam kondisi yang sangat kritis Van Rijcke menggambarkan bahwa Benteng Banyualit didapat 78  sakit, 59 meninggal. Untuk mempertahankan benteng  Van Rijcke dibutuhkan  bantuan pasukan setidaknya 100 orang Eropa, dan 2000 prajurit pribumi  juga dibutuhkan dua meriam yang baik, dan 20 koyang beras dan daging sapi untuk orang orang yang sakit , lebih banyak tepung dan spek (asinan daging babi ) bagi mereka yang sehat dan juga uang tunai.  ( Kondisi tentara Kompeni di Banyualit ,folio 30 VOC 3248 Surat dinas dari Gubernur Johannes Vos pada gubernur Jendral Petrus Albertus van der Parra  21 Maret 1768 , via DR . Sri Margana Perebutan Hegemoni Blambangan 127).
Dengan melihat kondisi Benteng Banyualit , dapat diduga Benteng ini hampir sebesar benteng Malborough yang dibangun Inggris di Bengkulu.Yaitu benteng Inggris kedua yang terbesar di Asia.
Disisi lain perjoangan yang  dipimpin Wong Agung Wilis mendapat dukungan yang besar dari rakyat dan para bangsawan Blambangan pedagang Bugis, Melayu, Bali , Lombok , China . Maka pada  Maret 1768  ,setahun setelah VOC menduduki Banyualit dan Ulupampang  pasukan Wong Agung Wilis bangkit dan menyerbu benteng  Banyualit .  Sekali lagi Banyualit menjadi daerah pertempuran dahsyat .  Menghadapi serangan Wong Agung Wilis yang amat dahsyat  VOC mendatangkan bantuan dari Surabaya. Bantuan dipimpin A.Groen  membawa 13 kapal yang memuat 302 orang serdadu Eropa, 1000 orang laskar Madura, 400 orang dari Surabaya, 1700 laskar Lumajang. Benar pasukan Blambangan  kalah dan Wong Agung Wilis tertangkap , kemudian dibuang ke Banda pada tanggal 6 September 1768. ( NTm 68).Ternyata Wong Agung Wilis dapat melepaskan diri dari Banda dan memimpin perlawanan dari Bali. Dan  semangat pertempuran Banyualit tidak pernah padam dihati  rakyat Blambangan dan  menghilhami pemberontakan P.Rempeg Jagapati , yang terkenal dengan PUPUTAN Bayu.
Banyualit digantikan Blimbingsari.
Rakyat Banyuwangi saat ini hanya mengenal Blimbingsari .  Bekas benteng VOC yang memakan ribuan  pekerja rakyat Blambangan pun hilang dari bumi , begitu juga  sejarah pertempurannya, yang menyebabkan banjir darah telah terlupakan.
Belanda begitu rapi menghapus jejaknya. Tetapi cerita kepahlawanan tidak pernah luntur dari ingatan leluhur . Walaupun jejak benteng telah dihapuskan , catatan sejarah diputar balikkan, tetapi secara pasti leluhur Blambangan masih mampu mewariskan . Seperti dikatakan Leonardo  Da Vinci , pelukis , filsafat, budayawan , scienties besar mengucapkan; Fakta sejarah tak akan pernah mati walau diabaikan.