Tampilkan postingan dengan label taman nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label taman nasional. Tampilkan semua postingan

Goa Istana Tempat Semedi Bung Karno

19.28


Sering Jadi Jujugan Politisi dan Pejabat

Sebetulnya ada banyak goa di dalam areal Taman Nasional Alas Purwo. Yang terdata sekitar 40 goa. Namun hanya lima goa yang paling sering dikunjungi dan dikenal masyarakat luas. Yaitu goa Istana, Padepokan, Mayangkoro, Mangleng, dan Kucur. Selain karena lokasinya yang mudah dijangkau, keempat goa ini diyakini memiliki nilai mistis. Bahkan, mantan Presiden Soekarno, konon, pernah menjadikan goa ini sebagai tempat semedi.

Dibanding goa-goa lain, goa Istana lebih mudah dijangkau. Letaknya sekitar 67 km dari arah Kota Banyuwangi. Atau sekitar 1,5 km dari arah Pancur. Jalanan yang ditempuh pun relatif lebih bersahabat dibanding goa-goa lain. Goa yang lebarnya tak lebih dari 8 meter dengan panjang 30 meter ini, menurut Plt KTU TN Alas Purwo, Dwi Arianto SH, terbentuk karena naiknya karang akibat lempeng Eurasia terdesak oleh lempeng Indo-Australia. ''Dulu, goa Istana ini berada di dalam lautan,'' kata Dwi. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya ditemukan cangkang kerang dan bebatuan karang di sekitar goa.

Di kalangan warga sekitar, goa Istana dikenal sebagai goa yang menyimpan sejumlah benda dan cerita mistis. Orang yang datang ke goa ini setiap harinya mencapai 100-300 orang. Jumlah itu semakin banyak jika mendekati tanggal 1 Suro pada kalender Jawa. Tujuan pengunjung macam-macam. Tapi, rata-rata, selain ngalab berkah agar tujuannya tercapai, para pengunjung yang datang ada juga untuk mencari benda pusaka seperti keris, batu delima, dan sebagainya. Salah satu benda pusaka yang paling dicari adalah keris Jalak Tilamsari. Pusaka sepanjang 30 cm tanpa lekukan ini, dulunya diyakini dibuat oleh Empu Andajasangkala pada tahun 1186 (Jawa). Sayang, hingga kini, tak seorang pun mengetahui keberadaan keris itu.

Ada cerita mistis dari masyarakat yang masih mempercayai klenik. Siapa yang bertapa di goa ini, dan dalam mimpinya didatangi seorang ratu, maka keinginannya bakal terkabul. Pamor dari cerita itu makin naik tatkala Bung Karno disebut-sebut sering bersemedi di goa itu. Mungkin karena cerita itu, banyak pejabat, politisi, bahkan kalangan militer sering datang ke tempat ini. Menurut cerita warga, terakhir kali pada 1 Suro lalu, seorang pejabat KPK yang namanya sangat terkenal, menginap semalaman di goa ini. Umumnya, orang-orang besar yang datang ke goa ini berharap agar jabatan yang diembannya tetap langgeng atau bahkan bisa terus naik. Calon-calon politikus juga sering datang ke tempat ini menjelang pemilu.

Setiap hari, ruangan dalam goa Istana ini dipenuhi asap dupa yang dibakar para pertapa untuk melengkapi ritualnya. Bagi pengunjung yang pernah datang, kepulan asap dupa tebal yang memenuhi lorong utama goa bukanlah pemandangan aneh dan menyeramkan lagi. Sejak ditemukan puluhan tahun lalu, gua ini diyakini sebagai tempat sakral dan lokasi terakhir bagi seseorang yang ingin mengasah dan melengkapi 'ilmu' yang mereka dapatkan selama lelaku.

Untuk mencapai goa ini, pengunjung harus melewati jalan setapak membelah hutan bambu sejauh 1,5 km dari arah Pancur. Bagi wisatawan, pergi ke goa ini sebaiknya jangan dilakukan pada saat musim hujan seperti sekarang ini. Karena jalan yang dilalui berubah sangat licin. Belum lagi tanah liat yang bercampur air hujan, membuat tanah semakin becek. Banyaknya pengunjung yang datang ke lokasi ini, mengakibatkan jalan yang lebarnya tak lebih dari satu kaki itu mirip rawa-rawa. Kedalamannya sekitar 10-20 cm. Karena itu, jika terpaksa datang di musim penghujan, pengunjung harus lebih hati-hati agar tidak terperosok.

Di depan pintu goa Istana, ada sekitar 20 undak-undakan (tangga dari semen) yang harus dilewati. Sekitar 20 meter di arah tenggara goa, terdapat sebuah pondok dari bambu. Tanpa atap. Luasnya kira-kira 2 x 2 m. Sepertinya baru dibangun. Tiga orang berbaju gamis dengan sorban di kepalanya, duduk tenang memperhatikan para pengunjung. Tak satu kata pun terucap dari bibir mereka. Masuk ke dalam goa, jangan berharap bisa melihat stalakmit maupun stalaktit seperti umumnya goa-goa. Goa Istana tak lebih dari bongkahan batu bolong. Minimnya kadar kapur, menjadikan sejumlah sumber air yang menetes dari langit-langit goa tak mencukupi untuk membuat stalakmit dan stalaktit.

Saat koran ini masuk ke bagian dalam goa, ternyata sudah ada tiga orang pertapa. Seseorang terlihat bersemedi di ujung goa dengan menghadap dinding. Mulutnya komat-kamit. Entah apa yang dia baca. Di belakangnya ada lampu teplek (botol yang diisi minyak tanah yang ujungnya diberi sumbu). Di sebelah kirinya, seorang pertapa tidur hanya beralaskan kapri (bekas tempat beras, seperti karung goni tapi terbuat dari plastik). Awak koran ini yang datang cukup berisik, sama sekali tak dihiraukan. Tampaknya dia betul-betul pulas dalam tidurnya. Di samping pintu masuk, seorang pertapa duduk mengawasi. Cerutu buatan sendiri terjepit erat di sela-sela jari tengah dan telunjuk sebelah kirinya. Sesekali asap pengepul dari bibirnya. ''Dari mana, Mas?'' tiba-tiba pertapa tadi bertanya kepada kami.

Pria yang bersemedi di pintu goa ini rupanya berbeda dengan rekan-rekannya. Dia mau berinteraksi dengan pengunjung. Sayang, pria yang mengaku dari Semarang itu tidak mau menyebut namanya. ''Sebetulnya ada empat orang dalam goa ini,'' kata dia. ''Tapi yang satu orang lagi bertapa di goa kecil itu,'' ujar pria tadi. Dia menunjuk sebuah lubang kecil ke arah depan. Setelah kami perhatikan, ternyata tidak ada lubang sama-sekali. Entah karena mata kami yang tidak bisa melihat, atau karena orang itu yang salah menunjuk.

Saat ditanya, apa tujuannya datang ke goa Istana ini, lelaki berambut gondrong itu tidak mau menjelaskan secara pasti. Yang jelas, kata dia, dirinya berada di goa Istana ini tak dibatasi waktu. ''Pokoknya, kalau sudah dapat, ya saya pulang,'' katanya. Untuk kebutuhan makan selama menjalani ritual ini, dia mengambilnya dari hutan bambu yang banyak tumbuh di sekitar gua. ''Ada juga yang turun ke desa seminggu sekali. Mereka mengumpulkan bahan makanan. Setelah terkumpul, baru kembali lagi,'' katanya.

Sudah tiga tahun lebih orang ini berada di goa Istana. Selama itu pula, sudah banyak orang yang datang dan pergi. Rata-rata, setelah apa yang mereka ingini terkabul, seketika itu juga mereka pergi. Ada juga yang datang pada bulan-bulan tertentu. Utamanya mendekati bulan Suro atau Muharram. Yang datang pada bulan tersebut didominasi para pejabat, politisi, kalangan militer, dan pengusaha. Tidak seperti layaknya pejabat, kedatangan mereka seringkali secara diam-diam. Bahkan, dari segi pakaian, kerap kali mereka meniru cara berpakaian orang-orang kebanyakan. Hanya petugas TN Alas Purwo yang mengetahui keberadaan mereka.

Mengapa tidak ada yang bermaksud memberi informasi ke media? ''Waah, itu privasi mereka, Mas. Kami tidak berani. Yang pasti, banyak orang-orang besar datang ke sini,'' ujar seorang petugas TN Alas Purwo. Tak hanya pejabat lokal Banyuwangi, pejabat dari berbagai kota-kota besar di Indonesia, bahkan pejabat istana dan politisi senayan pun sering datang ke Alas Purwo.

Ragam Wisata yang ada di Alas Purwo

19.04

Ragam Wisata di Alas Purwo
1. Pantai Trianggulasi
Pantai ini berpasir putih bersih. Pada bulan April-November sering digunakan sebagai tempat bertelur empat jenis penyu. Yaitu penyu belimbing, sisik, abu-abu, dan hijau.
2. Sadengan
Tempat berkumpulnya hewan-hewan lindung. Seperti banteng, kijang, burung merak, dll.
3. Pura Luhur Giri Salaka
Tempat peribadatan umat Hindu. Umat Hindu Bali sering datang ke tempat ini setiap hari raya dalam kalender Hindu.
4. Ngagelan
Tempat penetasan dan penangkaran penyu. Dari tujuh jenis penyu di dunia, enam jenis penyu terdapat di Indonesia. Empat diantaranya; belimbing, sisik, abu-abu, dan hijau, sering bertelur di Alas Purwo.
5. Cunggur
Daerah konsentrasi burung migran asal Australia. Burung ini bermigrasi di musim dingin menuju Asia untuk mencari makan.
6. Bedul
Hutan magrove yang mensuri pantai Segoro Anakan ini, diklaim terbesar se-Asia. Banyak jenis burung di tempat ini. Antara lain bangau, pecuk ular, trinil, raja udang, pelikan, dll.
7. Pancur
Sungai yang mengalir ke laut dari pantai yang agak terjal sepanjang tahun. Pancur juga menjadi pintu masuk ke goa-goa dan areal surving G-Land alias Plengkung. Di sini juga terdapat masjid, penginapan, dan warung-warung makan.
8. Goa Istana
Tempat semedi selain goa Padepokan, Mayangkoro, Mangleng, dan Kucur
9. Plengkung
Turis mancanegara lebih sering menyebut G-land. Mungkin karena pantainya membentuk huruf G. Lokasi surving ini memiliki ombak tertinggi No 2 di Dunia setelah Hawaii. Ombak tertinggi terjadi pada bulan April-Agustus.
10. Tanjung Sembulungan
Panorama pegunungan dan hutan yang berbatasan dengan laut Muncar. Juga terdapat tebing-tebing karang yang eksotik.
11. Makam Gandrung
Tempat ini sering dijadikan lokasi selamatan nelayan Muncar. Biasanya pada setiap tanggal 15 Suro, dilakukan upacara petik laut dengan melarung aneka jenis sesaji.
12. Kayu Aking
Merupakan wilayah pantai berpasir putih seluas 12 km di sepanjang bibir pantai. Letaknya berbatasan langsung dengan Selat Bali.

TMP Wisma Raga Satria Lokasi Internet Favorit Selalu Ramai

23.30
Pinggir Jalan Raya

Lokasi Internet Favorit Selalu Ramai - Sejak 9 Maret 2013 lalu, Banyuwangi memiliki 1.100 titik wireless fideliity (WiFi) yang dapat digunakan untuk ngenet secara gratis. Dari sekian banyak lokasi, Taman Makam Pahlawan (TMP) Wisma Raga Satria termasuk yang paling disukai warga untuk menjelajahi dunia maya.
Tiga tahun lalu, TMP Wisma Raga Satria masih menjadi lokasi yang sepi. Bahkan bisa dibilang, tempat tersebut terkesan menyeramkan. Walau lokasinya berada di jantung kota Banyuwangi, namun pada malam hari, suasana gelap menjadi ciri khas tempat itu.

Siang Hari
Suasana itu berubah drastis sejak dua tahun silam. Lokasi sunyi dan menyeramkan berubah menjadi ramai saat Pemkab Banyuwangi itu menyulap lokasi tersebut menjadi ruang terbuka hijau (RTH). Bagian depan kawasan itu dinamakan taman Sayu Wiwit. Sedangkan yang bagian belakang, tetap disebut TMP Wisma Raga Satria.
Malam Hari

Pada siang hari, lokasi itu terlihat indah dan sejuk dengan taman rumput hijau dan beberapa tanaman pohon kelapa sawit yang tertata rapi. Sedangkan kalau pada malam hari, suasana gemerlap berbagai jenis lampu menyinari di sela-sela pohon yang berdiri tegak dan menambah keindahan taman itu.
Sejak disulap menjadi RTH, lokasi menjadi jujugan dan ramai dikunjungi warga bersama keluarga.
Kemeriahan taman itu bertambah rmai, sejak di launching-nya program Banyuwangi Digital Society (BDISO) 9 Maret lalu.
Dengan program itu, warga Banyuwangi semakin mudah mendapatkan akses internet di beberapa tempat. Ada sekitar 1.100 titik WiFi yang dipasang mulai dari Kecamatan Wongsorejo hingga Kecamatan Kalibaru. Salah satu lokasi yang dipasang WiFi gratis itu adalah spot taman Sayu Wiwit di kompleks RTH TMP Wisma Raga Satria.
Lokasi taman Sayu Wiwit itu bukan satu-satunya RTH dan fasilitas umum yang dilengkapi fasilitas WiFi gratis. RTH lain , seperti Taman Blambangan, Taman Sritanjung, dan lokasi publik lainnya juga dilengkapi fasilitas akses internet.
Hanya, spot Sayu Wiwit di TMP tersebut menjadi pilihan warga untuk akses internet. Sejak tiga bulan ini terakhir ini, taman itu selalu ramai dipadati warga. Mulai pukul 09.00 setiap hari, warga mulai memadati lokasi yang berhadapan langsung dengan kantor Bupati Banyuwangi itu. Sedangkan kalu malam hari, warga masih terlihat ngenet hingga larut malam. Dalam sehari, praktis lokasi itu tidak pernah sepi dari warga yang sedang berselancar di dunia maya.
Aktivitas akses internet di Taman Sayu Wiwit mulai dibatasi. Saat ini, pengelola RTH TMP Wisma Raga Satria mulai membatasi aktivitas warga pada malam hari. Untuk malam hari, aktivitas ngenet dibatasi hingga pukul 24.00.
mengapa lokasi itu menjadi favorit warga? Sebagian besar pengunjung taman mengaku akses internet di lokasi itu lebih cepat daripada wifi di lokasi lain.
Sebagian besar pengunjung adalah pelajar dan mahasiswa mengaku sudah mengetahui lokasi yang tersedia WiFi gratis. Namun mereka memilih spot Sayu Wiwit sebagai lokasi idaman untuk mengembara melalui dunia maya.
Selain faktor akses internet yang cepat, lokasi itu dipilih karena suasana tamanya menyenangkan. Dari pantauan Jawa Pos Radar Banyuwangi, aktivitas akses internet yang dilakukan warga beraneka ragam. Mulai dari aktivitas pekerjaan, akses materi pelajaran, hingga akses acara-acara hiburan dan olah raga.”Lagi mengerjakan tugas programmer.Internet cepat,” ujar Kiki, seorang siswa SML di TMP Wisma Raga Satria kemarin (2/6).
Sedangkan pengunjung RTH lainnya, seperti Taman Sritanjung dan Taman Blambangan sama-sama ramai. Namun mereka datang, bukan untuk ngenet melainkan untuk berolahraga. Beberapa warga ada terlihat yang melakukan akses internet namun tidak seramai di Taman Sayu Wiwit. Itu pun hanya terjadi pada hari minggu dan hari-hari libur lainnya.

Indahnya Menyusuri Bersihnya Pasir di Pantai Gerajagan

11.53


Grajagan, nama ini sangat familier di Banyuwangi-jawa Timur, Grajagan merupakan pantai yang menarik untuk dikunjungi. Selain luas, nuansa pantai tersebut diselimuti oleh pasir bersih. Persis di seberang pantai, nampak bukit yang gagah terhujam ke bumi dengan kuatnya. Dan di sekitarnyanampak kampung nelayan menambah pesona Grajagan semakin anggun. Wisatawan dapat membeli beberapa jenis ikan laut hasil tangkapan nelayan tersebut. Bahkan ada Gua pertahanan di jaman Jepang juga ada di tempat wisata ini. Grajagan kira-kira 53 km ke arah selatan dari Banyuwangi.

Sepanjang pantai selatan Banyuwangi ini menjanjikan keindahan alamnya yang tiada tara khususnya pada deretan lereng gunung-gunung, perkebunan, pantai, dan lautan yang terbentang luas dari hamparan Samudera Hindia. Seperti halnyaPantai Grajagan ini, Plengkung dan pantai lainnya yang ada di TN Alas Purwo. Grajagan sangat ideal sebagai tempat transit atau sebagai pintu gerbang untuk menuju ke pantai Plengkung. Disamping lokasinya tidak terlalu jauh untuk menuju ke TN Alas Purwo, Grajagan nan indah dan jauh dari kebisingan kota. Dari Grajagan untuk menuju ke Plengkung dibutuhkan waktu sekitar dua jam menyusuri pantai menggunakan perahu sewa, perjalanan tersebut ternyata hampir sama bila kita menggunakan mobil dengan melewati jalur darat. Hal ini disebabkan jalan makadam menuju ke TN Alas Purwo, kondisinya sangat buruk sekali.
Grajagan bisa dijadikan alternatif pilihan bagi wisatawan yang ingin melancong ke TN Alas Purwo dengan menggunakan perahu. Kawasan seluas 314 hektar ini berada di hutan KPH Banyuwangi Selatan, tepatnya di petak 111 BKPH Curahjati atau secara administratif pemerintahan terletak di desa Grajagan, Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi. Wanawisata ini dikelola oleh Kesatuan Bisnis Mandiri – Wisata, Benih dan Usaha lainnya (KBM-WBU) Perum Perhutani Unit II Jawa Timur Di Wanawisata Grajagan, juga tersedia fasilitas berupa penginapan. 
Bagi pengunjung yang ingin bermalam menikmati keheningan alam dengan paduan deburan ombak yang menggebu tak perlu khawatir, dilokasi wisata ini terdapat 10 kamar dan 2 rumah berbentuk bungalow yang menghadap kearah laut. Tarifnyapun sangat variartif dan terjangkau antara 100 ribu – 150 ribu. Pelayanan di Wanawisata ini juga non stop selama 24 jam. Namun wisatawan yang datang di tempat ini kebanyakan hanya wisatawan lokal, jarang sekali turis bermalam disini, ujar Supardi selaku penjaga wanawisata Grajagan yang sudah lebih 14 tahun bekerja ditempat ini.
Kendati demikian, tempat ini tetap layak untuk dijadikan sebagai tempat transit bagi turis yang ingin ke TN Alas Purwo, imbuhnya. Wanawisata Grajagan ini umumnya hanya rame dikunjungi pada hari libur saja, selain bisa menikmati keindahan pantai dengan paduan hutan ini, pengunjung dapat menyaksikan langsung aktifitas nelayan pada pagi hari saat berangkat mencari ikan dan menurunkan ikan hasil tangkapannya.
Pemandangan lain yang bisa dinikmati disini melihat deburan ombak laut lepas dari atas shelter dan tiga gua Jepang yang menghadap kearah laut selatan, yang merupakan peninggalan tentara Jepang pada masa perang dunia kedua. 
Jika ingin menuju lokasi ini sangatlah mudah, ruas  jalannya sudah beraspal dan bias ditempuh menggunakan mobil pribadi atau kendaraan umum hingga ke lokasi. Jika naik kendaraan umum dari arah Kota Banyuwangi bisa naik bus jurusan Jember atau sebaliknya, dan turun di Benculuk, dari Benculuk perjalanan dilanjutkan naik angkutan pedesaan sekitar 12 Km menuju Grajagan.
Perjalanan yang menarik dari Grajagan ke Alas Purwo adalah saat menggunakan perahu sewa, terutama menuju lokasi pantai Ngagelan yang merupakan tempat penangkaran penyu belimbing, abu-abu dan hijau. Hampir setiap malam petugas disini selalu mencari telur penyu untuk ditetaskan, wisatawan yang sudah sampai di Ngagelan ini bisa melepas langsung penyu yang sudah siap dan waktunya dilepas ke laut lepas setiap saat.

Lapter Blimbingsari Pintu Masuk Wisatawan

11.49


Keberadaan lapter atau lapangan terbang Blimbing Sari yang ada di Banyuwangi dapat menjadi pilihan baru yang dapat dipilih bagi wisatawan yang datang dari Bali ke Banyuwangi atau wisatawan dengan paket Bali Plus.

Menurut Kabid pemasaran Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur, Sunarmadji, adanya lapter ini  adalah hasil kerjasama antara pemerintah Propinsi Jawa Timur dengan Propinsi Bali untuk menarik wisatawan Bali agar datang ke Jatim atau Banyuwangi.

Selama ini, lanjut Narmadji, wisatawan yang datang ke Banyuwnagi dari Bali harus melalui jalur yang berbelit-belit (oper). Dengan adanya lapter ini, diharapkan akan dapat menjadi pilihan bagi wisatawan yang ingin ke Banyuwangi dengan cara cepat. “Selama ini kan jalurnya terlalu panjang, masih harus oper-oper, dengan adanya lapter ini, kini bisa langsung dari Bali menuju Banyuwangi”, ujarnya

Ia tidak berharap banyak dengan adanya lapter baru ini. Pasalnya, kapasitas pesawat hanya berkapasitas 7 orang saja. “Ini baru alternative dari berbagai pilihan yang ditawarkan”, ujarnya

Meski begitu, sambutan dari stake holder di Bali menurutnya sangat antusias dengan adanya lapter baru ini. Namun ia tidak menampik adanya kekurangan yang dimiliki obyek wisata Jatim atau Banyuwangi. Salah satunya fasilitas jalan atau infrastruktur yang kurang mendapat perhatian.

“Ya, kita memang masih memiliki kekurangan dari segi infrastruktur, jalan-jalan yang masih rusak dan membutuhkan perbaikan. Tapi itu akan segera kita perbaiki”, lanjut Narmadji.

Menurutnya banyak obyek wisata yang ditawarkan di Banyuwangi, seperti Kawah Ijen, Ijen Resort, perkebunan, alas purwo, Pantai Plengkung, dll.
Namun ke depan, setelah pembenahan infrastruktur-infrasturktur, Disbudpar Jatim bakal menambah pengoperasian pesawat Foker yang dapat mengangkut penumpang berkapasitas 50-60an orang.

“Saat ini memang masih terbatas kapasitas penumpangnya, hanya 7 orang (pesawat kecil). Namun setelah semuanya tertata akan kita jadwalkan penerbagan dua kali sehari dengan pesawat Foker”. Akunya. luk

Pesona Sunset di Segara Anakan

11.46


Tiga perahu “Gondang-Gandung” terlihat beriringan menuju barat daya, menyusuri hutan bakau, sementara para wisatawan terlihat menikmati pemandangan berupa satwa penghuni mangrove.

Kami pun tidak ketinggalan mengabadikan momen ini, sambil berharap ada kejutan baru yang bakal mengisi kamera digital.

Yup...saat menyusuri Alas Purwo dari pantai Ngagelan (Marengan) kesebelah utara, para wisatawan bisa menikmati Rowo Bedul ( penduduk sekitar lebih suka menyebutnya Segara Anakan) lokasi hutan mangrove ini terletak di kecamatan Purwoharjo. Jika ditempuh dari pantai Ngagelan, wisatawan harus berjalan sekitar 1 km, menyusuri hutan jati dengan rimbun. Ada tiga rute yang bisa ditempuh, yakni dari Banyuwangi - Srono - Muncar-Tegaldlimo-Sumberasri-Bedul, kemudian dari Banyuwangi-srono-benculuk-purwoharjo-sumberasri-bedul serta dari Jember-benculuk-Purwoharjo-sumberasri-Bedul

Sekedar infomasi, luas hutan mangrove sekitar 2.300 hektar, hutan ini berada di kawasan Taman Nasional Alas Purwo dan di Kawasan Perhutani.  Di rawa bedul, masih di sektor Ngagelan, terdapat dermaga perahu yang akan membawa wisatawan keliling rawa bedul. Jika kesulitan mendapatkan informasi, kita bisa memesan ke pemandu wisata yang ada di pantai Ngagelan.

Sensasi menaiki perahu di Segara Anakan akan terasa menyenangkan jika dilakukan sore hari. Sebab suasana menjelang malam di Rawa Bedul, terlihat memukau, karena Matahari tenggelam di sela-sela hutan mangrove. Banyak satwa di hutan bakau yang bisa dinikmati, mulai dari kera, biawak, burung elang, burung dara laut, belibis, bangau, ikan terbang, kodok rawa (mudskeper), king fisher, kecuk, kirik-kirik hingga burung migran dari benua Australia.

Sambil menunggu matahari yang bersiap ke peraduan. Sepanjang perjalanan, wisatawan juga dapat menikmati hidangan yang disiapkan dalam satu paket wisata ini. Nasi putih dibungkus daun pisang dengan lauk ikan laut, serta lalapan sambal siap menemani wisatawan menikmati 27 jenis mangrove di sepanjang kanan dan kiri segara anakan.

Perahu ”Gondang-Gandung” yang beroperasi di Rawa Bedul dapat menampung sekitar 10 wisatawan. Dengan motor penggerak berbahan bakar diesel, moda transportasi penduduk setempat ini akan membawa wisatawan menuju dermaga Pandang yang terletak di desa bedul, kecamatan Purwoharjo.Setelah sampai di dermaga bedul, maka wisatawan bisa menginap, pengelola wisata bedul menyediakan Home Stay di rumah penduduk sekitar hutan mangrove yang telah ditunjuk.

Tips Berwisata di Rawa Bedul:

1. Jangan membuang sampah di Rawa.

2. Sebaiknya membawa lotion anti nyamuk, sebab di hutan sektor Marengan, banyak nyamuk

3. Jika hendak bermalam, tidak ada salahnya membawa perlengkapan mancing. Sebab sensasi memancing di Rawa Bedul cukup menyenangkan.

4. Bawalah senter karena tidak ada penerangan. Cahaya yang tersedia hanya pantulan sinar rembulan.

Selamat berwisata di Rawa Bedul