Tampilkan postingan dengan label taman nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label taman nasional. Tampilkan semua postingan

Goa Istana Tempat Semedi Bung Karno

19.28


Sering Jadi Jujugan Politisi dan Pejabat

Sebetulnya ada banyak goa di dalam areal Taman Nasional Alas Purwo. Yang terdata sekitar 40 goa. Namun hanya lima goa yang paling sering dikunjungi dan dikenal masyarakat luas. Yaitu goa Istana, Padepokan, Mayangkoro, Mangleng, dan Kucur. Selain karena lokasinya yang mudah dijangkau, keempat goa ini diyakini memiliki nilai mistis. Bahkan, mantan Presiden Soekarno, konon, pernah menjadikan goa ini sebagai tempat semedi.

Dibanding goa-goa lain, goa Istana lebih mudah dijangkau. Letaknya sekitar 67 km dari arah Kota Banyuwangi. Atau sekitar 1,5 km dari arah Pancur. Jalanan yang ditempuh pun relatif lebih bersahabat dibanding goa-goa lain. Goa yang lebarnya tak lebih dari 8 meter dengan panjang 30 meter ini, menurut Plt KTU TN Alas Purwo, Dwi Arianto SH, terbentuk karena naiknya karang akibat lempeng Eurasia terdesak oleh lempeng Indo-Australia. ''Dulu, goa Istana ini berada di dalam lautan,'' kata Dwi. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya ditemukan cangkang kerang dan bebatuan karang di sekitar goa.

Di kalangan warga sekitar, goa Istana dikenal sebagai goa yang menyimpan sejumlah benda dan cerita mistis. Orang yang datang ke goa ini setiap harinya mencapai 100-300 orang. Jumlah itu semakin banyak jika mendekati tanggal 1 Suro pada kalender Jawa. Tujuan pengunjung macam-macam. Tapi, rata-rata, selain ngalab berkah agar tujuannya tercapai, para pengunjung yang datang ada juga untuk mencari benda pusaka seperti keris, batu delima, dan sebagainya. Salah satu benda pusaka yang paling dicari adalah keris Jalak Tilamsari. Pusaka sepanjang 30 cm tanpa lekukan ini, dulunya diyakini dibuat oleh Empu Andajasangkala pada tahun 1186 (Jawa). Sayang, hingga kini, tak seorang pun mengetahui keberadaan keris itu.

Ada cerita mistis dari masyarakat yang masih mempercayai klenik. Siapa yang bertapa di goa ini, dan dalam mimpinya didatangi seorang ratu, maka keinginannya bakal terkabul. Pamor dari cerita itu makin naik tatkala Bung Karno disebut-sebut sering bersemedi di goa itu. Mungkin karena cerita itu, banyak pejabat, politisi, bahkan kalangan militer sering datang ke tempat ini. Menurut cerita warga, terakhir kali pada 1 Suro lalu, seorang pejabat KPK yang namanya sangat terkenal, menginap semalaman di goa ini. Umumnya, orang-orang besar yang datang ke goa ini berharap agar jabatan yang diembannya tetap langgeng atau bahkan bisa terus naik. Calon-calon politikus juga sering datang ke tempat ini menjelang pemilu.

Setiap hari, ruangan dalam goa Istana ini dipenuhi asap dupa yang dibakar para pertapa untuk melengkapi ritualnya. Bagi pengunjung yang pernah datang, kepulan asap dupa tebal yang memenuhi lorong utama goa bukanlah pemandangan aneh dan menyeramkan lagi. Sejak ditemukan puluhan tahun lalu, gua ini diyakini sebagai tempat sakral dan lokasi terakhir bagi seseorang yang ingin mengasah dan melengkapi 'ilmu' yang mereka dapatkan selama lelaku.

Untuk mencapai goa ini, pengunjung harus melewati jalan setapak membelah hutan bambu sejauh 1,5 km dari arah Pancur. Bagi wisatawan, pergi ke goa ini sebaiknya jangan dilakukan pada saat musim hujan seperti sekarang ini. Karena jalan yang dilalui berubah sangat licin. Belum lagi tanah liat yang bercampur air hujan, membuat tanah semakin becek. Banyaknya pengunjung yang datang ke lokasi ini, mengakibatkan jalan yang lebarnya tak lebih dari satu kaki itu mirip rawa-rawa. Kedalamannya sekitar 10-20 cm. Karena itu, jika terpaksa datang di musim penghujan, pengunjung harus lebih hati-hati agar tidak terperosok.

Di depan pintu goa Istana, ada sekitar 20 undak-undakan (tangga dari semen) yang harus dilewati. Sekitar 20 meter di arah tenggara goa, terdapat sebuah pondok dari bambu. Tanpa atap. Luasnya kira-kira 2 x 2 m. Sepertinya baru dibangun. Tiga orang berbaju gamis dengan sorban di kepalanya, duduk tenang memperhatikan para pengunjung. Tak satu kata pun terucap dari bibir mereka. Masuk ke dalam goa, jangan berharap bisa melihat stalakmit maupun stalaktit seperti umumnya goa-goa. Goa Istana tak lebih dari bongkahan batu bolong. Minimnya kadar kapur, menjadikan sejumlah sumber air yang menetes dari langit-langit goa tak mencukupi untuk membuat stalakmit dan stalaktit.

Saat koran ini masuk ke bagian dalam goa, ternyata sudah ada tiga orang pertapa. Seseorang terlihat bersemedi di ujung goa dengan menghadap dinding. Mulutnya komat-kamit. Entah apa yang dia baca. Di belakangnya ada lampu teplek (botol yang diisi minyak tanah yang ujungnya diberi sumbu). Di sebelah kirinya, seorang pertapa tidur hanya beralaskan kapri (bekas tempat beras, seperti karung goni tapi terbuat dari plastik). Awak koran ini yang datang cukup berisik, sama sekali tak dihiraukan. Tampaknya dia betul-betul pulas dalam tidurnya. Di samping pintu masuk, seorang pertapa duduk mengawasi. Cerutu buatan sendiri terjepit erat di sela-sela jari tengah dan telunjuk sebelah kirinya. Sesekali asap pengepul dari bibirnya. ''Dari mana, Mas?'' tiba-tiba pertapa tadi bertanya kepada kami.

Pria yang bersemedi di pintu goa ini rupanya berbeda dengan rekan-rekannya. Dia mau berinteraksi dengan pengunjung. Sayang, pria yang mengaku dari Semarang itu tidak mau menyebut namanya. ''Sebetulnya ada empat orang dalam goa ini,'' kata dia. ''Tapi yang satu orang lagi bertapa di goa kecil itu,'' ujar pria tadi. Dia menunjuk sebuah lubang kecil ke arah depan. Setelah kami perhatikan, ternyata tidak ada lubang sama-sekali. Entah karena mata kami yang tidak bisa melihat, atau karena orang itu yang salah menunjuk.

Saat ditanya, apa tujuannya datang ke goa Istana ini, lelaki berambut gondrong itu tidak mau menjelaskan secara pasti. Yang jelas, kata dia, dirinya berada di goa Istana ini tak dibatasi waktu. ''Pokoknya, kalau sudah dapat, ya saya pulang,'' katanya. Untuk kebutuhan makan selama menjalani ritual ini, dia mengambilnya dari hutan bambu yang banyak tumbuh di sekitar gua. ''Ada juga yang turun ke desa seminggu sekali. Mereka mengumpulkan bahan makanan. Setelah terkumpul, baru kembali lagi,'' katanya.

Sudah tiga tahun lebih orang ini berada di goa Istana. Selama itu pula, sudah banyak orang yang datang dan pergi. Rata-rata, setelah apa yang mereka ingini terkabul, seketika itu juga mereka pergi. Ada juga yang datang pada bulan-bulan tertentu. Utamanya mendekati bulan Suro atau Muharram. Yang datang pada bulan tersebut didominasi para pejabat, politisi, kalangan militer, dan pengusaha. Tidak seperti layaknya pejabat, kedatangan mereka seringkali secara diam-diam. Bahkan, dari segi pakaian, kerap kali mereka meniru cara berpakaian orang-orang kebanyakan. Hanya petugas TN Alas Purwo yang mengetahui keberadaan mereka.

Mengapa tidak ada yang bermaksud memberi informasi ke media? ''Waah, itu privasi mereka, Mas. Kami tidak berani. Yang pasti, banyak orang-orang besar datang ke sini,'' ujar seorang petugas TN Alas Purwo. Tak hanya pejabat lokal Banyuwangi, pejabat dari berbagai kota-kota besar di Indonesia, bahkan pejabat istana dan politisi senayan pun sering datang ke Alas Purwo.

Ragam Wisata yang ada di Alas Purwo

19.04

Ragam Wisata di Alas Purwo
1. Pantai Trianggulasi
Pantai ini berpasir putih bersih. Pada bulan April-November sering digunakan sebagai tempat bertelur empat jenis penyu. Yaitu penyu belimbing, sisik, abu-abu, dan hijau.
2. Sadengan
Tempat berkumpulnya hewan-hewan lindung. Seperti banteng, kijang, burung merak, dll.
3. Pura Luhur Giri Salaka
Tempat peribadatan umat Hindu. Umat Hindu Bali sering datang ke tempat ini setiap hari raya dalam kalender Hindu.
4. Ngagelan
Tempat penetasan dan penangkaran penyu. Dari tujuh jenis penyu di dunia, enam jenis penyu terdapat di Indonesia. Empat diantaranya; belimbing, sisik, abu-abu, dan hijau, sering bertelur di Alas Purwo.
5. Cunggur
Daerah konsentrasi burung migran asal Australia. Burung ini bermigrasi di musim dingin menuju Asia untuk mencari makan.
6. Bedul
Hutan magrove yang mensuri pantai Segoro Anakan ini, diklaim terbesar se-Asia. Banyak jenis burung di tempat ini. Antara lain bangau, pecuk ular, trinil, raja udang, pelikan, dll.
7. Pancur
Sungai yang mengalir ke laut dari pantai yang agak terjal sepanjang tahun. Pancur juga menjadi pintu masuk ke goa-goa dan areal surving G-Land alias Plengkung. Di sini juga terdapat masjid, penginapan, dan warung-warung makan.
8. Goa Istana
Tempat semedi selain goa Padepokan, Mayangkoro, Mangleng, dan Kucur
9. Plengkung
Turis mancanegara lebih sering menyebut G-land. Mungkin karena pantainya membentuk huruf G. Lokasi surving ini memiliki ombak tertinggi No 2 di Dunia setelah Hawaii. Ombak tertinggi terjadi pada bulan April-Agustus.
10. Tanjung Sembulungan
Panorama pegunungan dan hutan yang berbatasan dengan laut Muncar. Juga terdapat tebing-tebing karang yang eksotik.
11. Makam Gandrung
Tempat ini sering dijadikan lokasi selamatan nelayan Muncar. Biasanya pada setiap tanggal 15 Suro, dilakukan upacara petik laut dengan melarung aneka jenis sesaji.
12. Kayu Aking
Merupakan wilayah pantai berpasir putih seluas 12 km di sepanjang bibir pantai. Letaknya berbatasan langsung dengan Selat Bali.

TMP Wisma Raga Satria Lokasi Internet Favorit Selalu Ramai

23.30
Pinggir Jalan Raya

Lokasi Internet Favorit Selalu Ramai - Sejak 9 Maret 2013 lalu, Banyuwangi memiliki 1.100 titik wireless fideliity (WiFi) yang dapat digunakan untuk ngenet secara gratis. Dari sekian banyak lokasi, Taman Makam Pahlawan (TMP) Wisma Raga Satria termasuk yang paling disukai warga untuk menjelajahi dunia maya.
Tiga tahun lalu, TMP Wisma Raga Satria masih menjadi lokasi yang sepi. Bahkan bisa dibilang, tempat tersebut terkesan menyeramkan. Walau lokasinya berada di jantung kota Banyuwangi, namun pada malam hari, suasana gelap menjadi ciri khas tempat itu.

Siang Hari
Suasana itu berubah drastis sejak dua tahun silam. Lokasi sunyi dan menyeramkan berubah menjadi ramai saat Pemkab Banyuwangi itu menyulap lokasi tersebut menjadi ruang terbuka hijau (RTH). Bagian depan kawasan itu dinamakan taman Sayu Wiwit. Sedangkan yang bagian belakang, tetap disebut TMP Wisma Raga Satria.
Malam Hari

Pada siang hari, lokasi itu terlihat indah dan sejuk dengan taman rumput hijau dan beberapa tanaman pohon kelapa sawit yang tertata rapi. Sedangkan kalau pada malam hari, suasana gemerlap berbagai jenis lampu menyinari di sela-sela pohon yang berdiri tegak dan menambah keindahan taman itu.
Sejak disulap menjadi RTH, lokasi menjadi jujugan dan ramai dikunjungi warga bersama keluarga.
Kemeriahan taman itu bertambah rmai, sejak di launching-nya program Banyuwangi Digital Society (BDISO) 9 Maret lalu.
Dengan program itu, warga Banyuwangi semakin mudah mendapatkan akses internet di beberapa tempat. Ada sekitar 1.100 titik WiFi yang dipasang mulai dari Kecamatan Wongsorejo hingga Kecamatan Kalibaru. Salah satu lokasi yang dipasang WiFi gratis itu adalah spot taman Sayu Wiwit di kompleks RTH TMP Wisma Raga Satria.
Lokasi taman Sayu Wiwit itu bukan satu-satunya RTH dan fasilitas umum yang dilengkapi fasilitas WiFi gratis. RTH lain , seperti Taman Blambangan, Taman Sritanjung, dan lokasi publik lainnya juga dilengkapi fasilitas akses internet.
Hanya, spot Sayu Wiwit di TMP tersebut menjadi pilihan warga untuk akses internet. Sejak tiga bulan ini terakhir ini, taman itu selalu ramai dipadati warga. Mulai pukul 09.00 setiap hari, warga mulai memadati lokasi yang berhadapan langsung dengan kantor Bupati Banyuwangi itu. Sedangkan kalu malam hari, warga masih terlihat ngenet hingga larut malam. Dalam sehari, praktis lokasi itu tidak pernah sepi dari warga yang sedang berselancar di dunia maya.
Aktivitas akses internet di Taman Sayu Wiwit mulai dibatasi. Saat ini, pengelola RTH TMP Wisma Raga Satria mulai membatasi aktivitas warga pada malam hari. Untuk malam hari, aktivitas ngenet dibatasi hingga pukul 24.00.
mengapa lokasi itu menjadi favorit warga? Sebagian besar pengunjung taman mengaku akses internet di lokasi itu lebih cepat daripada wifi di lokasi lain.
Sebagian besar pengunjung adalah pelajar dan mahasiswa mengaku sudah mengetahui lokasi yang tersedia WiFi gratis. Namun mereka memilih spot Sayu Wiwit sebagai lokasi idaman untuk mengembara melalui dunia maya.
Selain faktor akses internet yang cepat, lokasi itu dipilih karena suasana tamanya menyenangkan. Dari pantauan Jawa Pos Radar Banyuwangi, aktivitas akses internet yang dilakukan warga beraneka ragam. Mulai dari aktivitas pekerjaan, akses materi pelajaran, hingga akses acara-acara hiburan dan olah raga.”Lagi mengerjakan tugas programmer.Internet cepat,” ujar Kiki, seorang siswa SML di TMP Wisma Raga Satria kemarin (2/6).
Sedangkan pengunjung RTH lainnya, seperti Taman Sritanjung dan Taman Blambangan sama-sama ramai. Namun mereka datang, bukan untuk ngenet melainkan untuk berolahraga. Beberapa warga ada terlihat yang melakukan akses internet namun tidak seramai di Taman Sayu Wiwit. Itu pun hanya terjadi pada hari minggu dan hari-hari libur lainnya.

Indahnya Menyusuri Bersihnya Pasir di Pantai Gerajagan

11.53


Grajagan, nama ini sangat familier di Banyuwangi-jawa Timur, Grajagan merupakan pantai yang menarik untuk dikunjungi. Selain luas, nuansa pantai tersebut diselimuti oleh pasir bersih. Persis di seberang pantai, nampak bukit yang gagah terhujam ke bumi dengan kuatnya. Dan di sekitarnyanampak kampung nelayan menambah pesona Grajagan semakin anggun. Wisatawan dapat membeli beberapa jenis ikan laut hasil tangkapan nelayan tersebut. Bahkan ada Gua pertahanan di jaman Jepang juga ada di tempat wisata ini. Grajagan kira-kira 53 km ke arah selatan dari Banyuwangi.

Sepanjang pantai selatan Banyuwangi ini menjanjikan keindahan alamnya yang tiada tara khususnya pada deretan lereng gunung-gunung, perkebunan, pantai, dan lautan yang terbentang luas dari hamparan Samudera Hindia. Seperti halnyaPantai Grajagan ini, Plengkung dan pantai lainnya yang ada di TN Alas Purwo. Grajagan sangat ideal sebagai tempat transit atau sebagai pintu gerbang untuk menuju ke pantai Plengkung. Disamping lokasinya tidak terlalu jauh untuk menuju ke TN Alas Purwo, Grajagan nan indah dan jauh dari kebisingan kota. Dari Grajagan untuk menuju ke Plengkung dibutuhkan waktu sekitar dua jam menyusuri pantai menggunakan perahu sewa, perjalanan tersebut ternyata hampir sama bila kita menggunakan mobil dengan melewati jalur darat. Hal ini disebabkan jalan makadam menuju ke TN Alas Purwo, kondisinya sangat buruk sekali.
Grajagan bisa dijadikan alternatif pilihan bagi wisatawan yang ingin melancong ke TN Alas Purwo dengan menggunakan perahu. Kawasan seluas 314 hektar ini berada di hutan KPH Banyuwangi Selatan, tepatnya di petak 111 BKPH Curahjati atau secara administratif pemerintahan terletak di desa Grajagan, Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi. Wanawisata ini dikelola oleh Kesatuan Bisnis Mandiri – Wisata, Benih dan Usaha lainnya (KBM-WBU) Perum Perhutani Unit II Jawa Timur Di Wanawisata Grajagan, juga tersedia fasilitas berupa penginapan. 
Bagi pengunjung yang ingin bermalam menikmati keheningan alam dengan paduan deburan ombak yang menggebu tak perlu khawatir, dilokasi wisata ini terdapat 10 kamar dan 2 rumah berbentuk bungalow yang menghadap kearah laut. Tarifnyapun sangat variartif dan terjangkau antara 100 ribu – 150 ribu. Pelayanan di Wanawisata ini juga non stop selama 24 jam. Namun wisatawan yang datang di tempat ini kebanyakan hanya wisatawan lokal, jarang sekali turis bermalam disini, ujar Supardi selaku penjaga wanawisata Grajagan yang sudah lebih 14 tahun bekerja ditempat ini.
Kendati demikian, tempat ini tetap layak untuk dijadikan sebagai tempat transit bagi turis yang ingin ke TN Alas Purwo, imbuhnya. Wanawisata Grajagan ini umumnya hanya rame dikunjungi pada hari libur saja, selain bisa menikmati keindahan pantai dengan paduan hutan ini, pengunjung dapat menyaksikan langsung aktifitas nelayan pada pagi hari saat berangkat mencari ikan dan menurunkan ikan hasil tangkapannya.
Pemandangan lain yang bisa dinikmati disini melihat deburan ombak laut lepas dari atas shelter dan tiga gua Jepang yang menghadap kearah laut selatan, yang merupakan peninggalan tentara Jepang pada masa perang dunia kedua. 
Jika ingin menuju lokasi ini sangatlah mudah, ruas  jalannya sudah beraspal dan bias ditempuh menggunakan mobil pribadi atau kendaraan umum hingga ke lokasi. Jika naik kendaraan umum dari arah Kota Banyuwangi bisa naik bus jurusan Jember atau sebaliknya, dan turun di Benculuk, dari Benculuk perjalanan dilanjutkan naik angkutan pedesaan sekitar 12 Km menuju Grajagan.
Perjalanan yang menarik dari Grajagan ke Alas Purwo adalah saat menggunakan perahu sewa, terutama menuju lokasi pantai Ngagelan yang merupakan tempat penangkaran penyu belimbing, abu-abu dan hijau. Hampir setiap malam petugas disini selalu mencari telur penyu untuk ditetaskan, wisatawan yang sudah sampai di Ngagelan ini bisa melepas langsung penyu yang sudah siap dan waktunya dilepas ke laut lepas setiap saat.

Lapter Blimbingsari Pintu Masuk Wisatawan

11.49


Keberadaan lapter atau lapangan terbang Blimbing Sari yang ada di Banyuwangi dapat menjadi pilihan baru yang dapat dipilih bagi wisatawan yang datang dari Bali ke Banyuwangi atau wisatawan dengan paket Bali Plus.

Menurut Kabid pemasaran Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur, Sunarmadji, adanya lapter ini  adalah hasil kerjasama antara pemerintah Propinsi Jawa Timur dengan Propinsi Bali untuk menarik wisatawan Bali agar datang ke Jatim atau Banyuwangi.

Selama ini, lanjut Narmadji, wisatawan yang datang ke Banyuwnagi dari Bali harus melalui jalur yang berbelit-belit (oper). Dengan adanya lapter ini, diharapkan akan dapat menjadi pilihan bagi wisatawan yang ingin ke Banyuwangi dengan cara cepat. “Selama ini kan jalurnya terlalu panjang, masih harus oper-oper, dengan adanya lapter ini, kini bisa langsung dari Bali menuju Banyuwangi”, ujarnya

Ia tidak berharap banyak dengan adanya lapter baru ini. Pasalnya, kapasitas pesawat hanya berkapasitas 7 orang saja. “Ini baru alternative dari berbagai pilihan yang ditawarkan”, ujarnya

Meski begitu, sambutan dari stake holder di Bali menurutnya sangat antusias dengan adanya lapter baru ini. Namun ia tidak menampik adanya kekurangan yang dimiliki obyek wisata Jatim atau Banyuwangi. Salah satunya fasilitas jalan atau infrastruktur yang kurang mendapat perhatian.

“Ya, kita memang masih memiliki kekurangan dari segi infrastruktur, jalan-jalan yang masih rusak dan membutuhkan perbaikan. Tapi itu akan segera kita perbaiki”, lanjut Narmadji.

Menurutnya banyak obyek wisata yang ditawarkan di Banyuwangi, seperti Kawah Ijen, Ijen Resort, perkebunan, alas purwo, Pantai Plengkung, dll.
Namun ke depan, setelah pembenahan infrastruktur-infrasturktur, Disbudpar Jatim bakal menambah pengoperasian pesawat Foker yang dapat mengangkut penumpang berkapasitas 50-60an orang.

“Saat ini memang masih terbatas kapasitas penumpangnya, hanya 7 orang (pesawat kecil). Namun setelah semuanya tertata akan kita jadwalkan penerbagan dua kali sehari dengan pesawat Foker”. Akunya. luk

Pesona Sunset di Segara Anakan

11.46


Tiga perahu “Gondang-Gandung” terlihat beriringan menuju barat daya, menyusuri hutan bakau, sementara para wisatawan terlihat menikmati pemandangan berupa satwa penghuni mangrove.

Kami pun tidak ketinggalan mengabadikan momen ini, sambil berharap ada kejutan baru yang bakal mengisi kamera digital.

Yup...saat menyusuri Alas Purwo dari pantai Ngagelan (Marengan) kesebelah utara, para wisatawan bisa menikmati Rowo Bedul ( penduduk sekitar lebih suka menyebutnya Segara Anakan) lokasi hutan mangrove ini terletak di kecamatan Purwoharjo. Jika ditempuh dari pantai Ngagelan, wisatawan harus berjalan sekitar 1 km, menyusuri hutan jati dengan rimbun. Ada tiga rute yang bisa ditempuh, yakni dari Banyuwangi - Srono - Muncar-Tegaldlimo-Sumberasri-Bedul, kemudian dari Banyuwangi-srono-benculuk-purwoharjo-sumberasri-bedul serta dari Jember-benculuk-Purwoharjo-sumberasri-Bedul

Sekedar infomasi, luas hutan mangrove sekitar 2.300 hektar, hutan ini berada di kawasan Taman Nasional Alas Purwo dan di Kawasan Perhutani.  Di rawa bedul, masih di sektor Ngagelan, terdapat dermaga perahu yang akan membawa wisatawan keliling rawa bedul. Jika kesulitan mendapatkan informasi, kita bisa memesan ke pemandu wisata yang ada di pantai Ngagelan.

Sensasi menaiki perahu di Segara Anakan akan terasa menyenangkan jika dilakukan sore hari. Sebab suasana menjelang malam di Rawa Bedul, terlihat memukau, karena Matahari tenggelam di sela-sela hutan mangrove. Banyak satwa di hutan bakau yang bisa dinikmati, mulai dari kera, biawak, burung elang, burung dara laut, belibis, bangau, ikan terbang, kodok rawa (mudskeper), king fisher, kecuk, kirik-kirik hingga burung migran dari benua Australia.

Sambil menunggu matahari yang bersiap ke peraduan. Sepanjang perjalanan, wisatawan juga dapat menikmati hidangan yang disiapkan dalam satu paket wisata ini. Nasi putih dibungkus daun pisang dengan lauk ikan laut, serta lalapan sambal siap menemani wisatawan menikmati 27 jenis mangrove di sepanjang kanan dan kiri segara anakan.

Perahu ”Gondang-Gandung” yang beroperasi di Rawa Bedul dapat menampung sekitar 10 wisatawan. Dengan motor penggerak berbahan bakar diesel, moda transportasi penduduk setempat ini akan membawa wisatawan menuju dermaga Pandang yang terletak di desa bedul, kecamatan Purwoharjo.Setelah sampai di dermaga bedul, maka wisatawan bisa menginap, pengelola wisata bedul menyediakan Home Stay di rumah penduduk sekitar hutan mangrove yang telah ditunjuk.

Tips Berwisata di Rawa Bedul:

1. Jangan membuang sampah di Rawa.

2. Sebaiknya membawa lotion anti nyamuk, sebab di hutan sektor Marengan, banyak nyamuk

3. Jika hendak bermalam, tidak ada salahnya membawa perlengkapan mancing. Sebab sensasi memancing di Rawa Bedul cukup menyenangkan.

4. Bawalah senter karena tidak ada penerangan. Cahaya yang tersedia hanya pantulan sinar rembulan.

Selamat berwisata di Rawa Bedul

Surga Penyu di Pantai Ngagelan

11.32


Hujan mulai turun di sepanjang Alas Purwo, ketika kami memasuki kawasan pantai Ngagelan. Di rumah yang disediakan oleh pengelola Taman Nasional Alas Purwo, tampak wisatawan dari Jerman asik mengamati poster WWF Indonesia bertuliskan ”Selamatkan Penyu”. Gubuk kayu ini bukanlah penginapan, melainkan pusat informasi dan penangkaran Penyu.

Ngagelan terletak 7 km ke arah barat dari pantai Trianggulasi. Warga sekitar alas Purwo lebih suka menyebutnya Pantai Marengan. Jarak tempuh dari pos Rowo bendu sekitar 30 menit, jalan yang ditempuh cukup eksotis, karena disebelah kanan dan kiri terdapat pepohonan tinggi yang subur.
Topografi wilayahnya tidak jauh berbeda dengan pantai lain yang membentang sepanjang bibir pantai selatan alas purwo. Menariknya adalah, pada bulan Mei dan Juni, pantai ini kerap dikunjungi oleh penyu-penyu dari Samudra Hindia (laut selatan) yang ingin menetas. Seolah tanpa dikomando, ratusan penyu ini mendarat di bibir pantai dan menetaskan telurnya.

Hamparan pasir yang bersih dengan kombinasi hutan mangrove dan hutan tropis membuat penyu-penyu ini merasa nyaman untuk menetaskan telurnya. Paidi, petugas penangkaran penyu mengatakan, pada bulan April, Mei dan Juni, ketika angin pasat dari timur membawa udara hangat ke pesisir pulau Jawa, penyu – penyu dari laut selatan mendarat di bibir pantai. Siklus cuaca ini menjadi salah satu faktor penyu untuk melakukan persalinan.

Persalinan Penyu di pantai Ngagelan menjadi daya tarik wisata bahari. Setiap malam, ada sekitar 30 penyu yang melakukan persalinan. Meski bertelur pada malam hari, namun penyu tersebut tidak akan mendarat bila di pantai tersebut dikunjungi orang.

Itulah sebabnya, bagi wisatawan yang hendak mengambil gambar, maka harus menunggu hingga pukul 23.00, waktu inilah yang tepat karena air laut mulai sampai di bibir pantai, dan penyu sudah bersiap pasir. Setelah melakukan persalinan di pasir, penyu tersebut kembali ke laut. Selanjutnya, petugas Taman Nasional Alas Purwo mengambil telur tersebut untuk ditetaskan secara semi alami.

Di pusat penangkaran penyu (masih dalam komplek pantai Ngagelan) terdapat bak-bak penetasan Setelah telur menetas, bayi penyu diberikan perawatan sampai berumur 5 bulan. Pasir di pantai Ngagelan sangat kondusif bagi proses bersalin empat jenis penyu antara lain jenis penyu abu-abu (lupidochelys olivaceae), penyu hijau (chelonian mydas), penyu sisik (eretmochelys imbricate) serta penyu belimbing (darmochelys coreacea). Jenis –jenis tersebut adalah empat penyu dari tujuh jenis penyu yang ada didunia.

 Tips berwisata di Ngagelan:
1. Jangan mengambil apapun, termasuk tumbuhan dan benda lain, karena akan merusak ekosistem yang ada.
2. Sebaiknya membawa kamera digital karena banyak momen yang bisa diabadikan.
3. Bawalah bekal yang cukup, karena jarak pantai ngagelan dari pos Rowo bendo (warung dan pusat makanan) mencapai 5 Km.
4. Berilah tip untuk guide, karena mungkin anda membutuhkan berbagai informasi yang dibutuhkan untuk kegiatan wisata Anda.

Selamat berkunjung di Surga Penyu.

Geredoan - Tradisi Mencari Jodoh Khas Banyuwangi

11.23
( Geredoan - Tradisi Mencari Jodoh Khas Banyuwangi )



Banyuwangi adalah kota atau daerah yang memiliki multi kebudayaan yang patut dibanggakan oleh masyarakat Using. Kebudayaan yang ada di Bumi Blambangan pun berjalan secara turun menurun. Seperti halnya adalah Geredoan, yang ada di daerah Kecamatan Kabat, Banyuwangi.

          Geredoan adalah tradisi yang dilakukan untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Geredoan berasal dari kata Gredo yang artinya menggoda. Sebab, yang menggoda dalam tradisi ini adalah si pria, bukan si gadis. Tradisi ini merupakan salah satu rangkaian dari beberapa acara yang dilaksanakan masyarakat Using.

          Acara ini dimulai malam hari sebelum Muludan Gedi dilaksanakan, yaitu sehabis Maghrib sampai pukul 00.00 WIB. Karena begitu terkenalnya tradisi ini, seolah – olah menempatkan Geredoan sebagai tradisi yang terpisah dari Muludan Gedi. Dan pemuda-pemuda Banyuwangi pun sangat senang bila tradisi ini diadakan. Karena itulah yang membuat mereka memiliki rasa “ Cinta Banyuwangi  “.

          Tradisi ini dimulai saat warga Kecamatan Kabat mengundang banyak gadis dari desa lain. Mereka di undang untuk membantu memasak atau mempersiapkan untuk acara Muludan Gedi besoknya. Ketika mereka memasak, si pemuda mulai mengintip si gadis yang berada di dapur dari celah gedhek ( anyaman bambu ). Tanpa di undang pun, si pemuda berbondong-bondong untuk datang. Mereka yang boleh mengikuti tradisi ini adalah pemuda yang belum pernah menikah atau yang sudah menikah namun sudah bercerai ( duda atau janda ). Setelah mereka mendapatkan gadis yang diinginkan, si pemuda mulai menggeredo dan mengajak si gadis untuk mengobrol di teras rumah. Biasanya si pemuda menggeredo si gadis dengan pantun yang menggunakan bahasa Using. Lalu, jika dirasa sudah memiliki kecocokan, mereka bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih dalam dengan cara menemui keluarga si gadis.

          Jika dari satu rumah si pemuda tidak mendapatkan gadis yang diinginkan, meraka boleh pindah ke rumah yang lain untuk mendapatkan gadis sesuai keinginan mereka. Jadi mereka bebas untuk mampir  dari rumah warga yang satu ke rumah warga yang lainnya. Sebab itulah, pemuda-pemuda Banyuwangi, khususnya pemuda Kecamatan Kabat sangat antusias jika tradisi ini dilaksanakan. Karena begitu banyaknya, kisah yang mempertemukan jodoh bagi mereka, maka tradisi ini dijadikan sebagai ajang untuk mencari jodoh.

          Geredoan sangat menarik untuk diikuti semua pemuda yang belum mendapatkan jodoh, sehingga pemuda-pemuda dari desa lain atau dari kota lain di seluruh Indonesia bisa datang ke Kecamatan Kabat untuk mengikuti tradisi ini. Seiring dengan adanya event “ Banyuwangi Digital Society.

Asal-Usul Ritual Kebo-Keboan Banyuwangi

11.17


Membahas tuntas Kota Banyuwangi, akan terkuak sebuah suku yang memiliki kesenian unik, yaitu Suku Using. Masyarakat Using adalah keturunan Kerajaan Blambangan, mereka memiliki kesenian Kebo-Keboan yang merupakan suatu permohonan kepada Tuhan agar panen mereka subur dan dijauhi dari malapetaka.

Meski zaman kian beralih, namun setiap tahun masyarakat Banyuwangi berupaya keras mempertahankan kemurnian dan kesakralan kebudayaan mereka. Konon, tradisi ini dimulai sejak abad-18, ketika itu masyarakat Desa Alasmalang dilanda musibah wabah penyakit berkepanjangan yang disebut brindeng atau pagebluk. Peyakit ini tidak ditemukan obatnya, bagi yang terkena pada pagi hari, maka sore harinya akan mati, jika malam kena, paginya akan mati, begitulah seterusnya.

Selain itu, masyarakat Alasmalang yang sebagian besar bermata pencaharian petani itu pun lahan pertaniannya dilanda hama tikus yang amat besar, mereka terancam gagal panen. Bertindaklah salah satu sepuh desa, yaitu Mbah Buyut Karti untuk mengambil tindakan, guna melenyapkan penyakit pagebluk dan hama tikus tersebut. Ia menggelar ruwatan atau ritual, beberapa orang manusia didandani seperti kerbau, dari sinilah kemudian nama “Kebo-Keboan” muncul.

Mengapa kerbau? Ya, karena kerbau merupakan hewan yang diakui sebagai mitra petani di sawah, kerbau yang diperankan manusia itu melambangkan betapa hubungan mitra antara petani dengan kerbau harus dipertahankan. Seluruh tubuh didandani dengan coretan hitam dari arang, lengkap dengan tanduk kerbau, ini juga sebagai simbol yang menunjukan bahwa kerbau merupakan tumpuan mata pencaharian masyarakat Alasmalang yang mayoritas sebagai petani.

Ritual Kebo-Keboan terbagi atas beberapa tahapan, tujuh hari sebelum pelaksanaan, sang pawang melakukan meditasi di beberapa tempat yang dianggap keramat, yaitu, di Watu Loso (sebuah batu yang berbentuk seperti tikar),  Watu Gajah (batu yang berbentuk seperti gajah) dan Watu Tumpeng (batu yang berbentuk seperti tumpeng).

Pawang tersebut haruslah keturunan Mbah Buyut Karti, ia juga diwajibkan menyediakan sesaji yang terdiri dari tumpeng, peras, air kendi, kinang ayu, aneka jenang hingga inkung ayam, serta kue, dan nasi tumpeng yang nantinya dibagikan kepada masyarakat yang hadir.

Rombongan peserta ritual berjuluk Ider Bumi ini akan berjalan menuju bendungan yang dibuka sehingga air mengaliri jalanan yang telah ditanami palawija. Aroma kemenyan tercium sesaat lepas dupa dibakar  menemani hingga proses ritual selesai.

Rombongan kerbau tersebut kemudian berkubang dan membajak sawah seperti pada umumnya yang diikuti oleh beberapa orang pemuda yang menanami benih padi. Puncaknya adalah ketika warga berebut benih padi yang ditanam tadi, namun itu tidak mudah karena “kerbau-kerbau” yang sudah diberi mantra akan secara beringas menyeruduk warga yang berusaha mengambil benih padi tadi. Benih padi dipercaya sebagai penolak bala, mendatangkan keberuntungan dan membawa berkah. Tradisi ini diakhiri dengan pagelaran wayang kulit malam harinya.

Unsur mistik dalam tradisi Kebo-Keboan memang masih kental. Sesajen harus dipenuhi tanpa ada yang kurang, jika itu terjadi tidak jarang akan terjadi kesurupan. Walaupun begitu, tradisi ini sarat akan nilai kebersamaan, ketelitian, gotong royong, dan religious, tak heran jika masih dipertahankan oleh masyarakat Banyuwangi.

Asal-Usul Gandrung Banyuwangi

01.15


Menelusuri Asal-Usul Gandrung Banyuwangi

Kesenian daerah Blambangan merupakan bentuk karya seni yang bersifat spesifik. Sifat khas yang dimiliki disebabkan adanya faktor putaran biografis yakni letak daerah Blambangan sebagian dari pulau Jawa berdekatan dengan Bali dan Madura. Faktor historisnya dan pertumbuhan seni budaya daerah Blambangan pada dekade terakhir erat hubungannya dengan Bali. Dalam kesempatan ini penulis mencoba menuangkan kembali berdasarkan dari berbagai sumber tentang “Asal-Usul Gandrung Banyuwangi”.

Konon pada pen­yelenggaraan upacara pada jaman kerajaan Majapahit, sering dilakukan pemen­tasan tari di istana yang dikenal dengan sebutan tari “juru angin”. Seorang wanita yang pandai menari dan menyanyi dengan gayanya sangat erotis. Penari tersebut diikuti oleh seorang buyut (Lansia) yaitu seorang penari pria bertugas sebagai puna kawan penari juru angin tersebut. Bentuk tarian
sebagai prototype, suatu bentuk kesenian yang sekarang dikenal dengan sebutan “gandrung”. Hal itu kiranya dapat diasumsikan dari bentuk penampilan penari yang selalu diikuti penabuh kluncing atau disebut seorang pengundang.
Tugas seorang pengundang tersebut memberikan penampilan yang mirip dengan gaya lawak pada saat penari gandrung tampil, Bisa dimaklumi pada jaman kehidupan kerajaan, maka daerah yang jauh dari pusat kerajaan perkembangan seni budaya mengikuti pola seni budaya pusat (kerajaan). Dalam perkembangan masa sekitar tahun 1890-an di daerah Blambangan berkembang suatu bentuk kesenian gandrung yang pelarinya terdiri dari anak-anak laki-laki berusia antara 7 sampai 16 tahun, mereka berdandan mirip penari gandrung wanita.
Adapun pementasan gandrung laki-laki pada saat itu dengan cara keliling masuk kepelosok desa, kemudian penari tersebut mendapat imbalan inatura. Sedangkan gamelan pengiringnya berupa kendang dan terbang (rebana). Penari gandrung yang kesohor waktu itu bernama Marsan. Penari gandrung laki-laki waktu itu hanya mampu bertahan sampai usia 16 tahun. Sedangkan Marsan sampai mencapai usia 40 tahun, dan tetap memilih sebagai penari gandrung sampai akhir hayatnya. Untuk memilih siapa patner penarinya, biasanya sigandrung melempar ujung sampur (selendang) kearah penonton yang mengelilinginya. Pelaksanaan pementasan biasanya dilakukan pada malam hari di halaman terbuka. Pada perkembangan berikutnya sekitar tahun 1895- diangkatlah penari gandrung wanita yang kebetulan dia seorang penari sebiang bernama semi.
Penari gandrung pertama yang bernama Semi tersebut adalah putri dari seorang penduduk Desa Cungking Kecamatan Giri, bernama mak Midah. Desa Cungking sampai tahun 1800-an penduduknya masih memeluk agama Ciwa. Di Desa Cungking tersebut hingga sekarang masih memiliki suatu jenis kesenian sebiang, yakni di kelurahan Bakungan.


GANDRUNG PADA PERKEMBANGAN SEKARANG
Perkembangan kesenian gandrung pada saat sekarang berjalan secara musiman. Kalau oh ac1 ritonan gandrung di suatu tempat ia a terbentuk gandrung paju yang memang untuk memenuhi kontrak mereka yang mempunyai hajatan, entah itu khitanan, dan resepsi pernikahan. Biasanya dimulai dtfri 21.00 sampai pukul 4 dini hari, sekadar memenuhi suatu acara tertentu. Seni paju gandrung atau dikenal dengan ungkapan tanggapan, ada kalanya dilakukan pada siang hariStatus gandrung masa kini mengarah kepada masalah hiburan, dalam kesempatan itu biasanya penari gandrung berfungsi sebagai alat media bagi tuan rumah (yang punya hajatan) dalam menjamu tamu tamunya.
Adapun urutan penampilan biasanya diawali dengan tarian “jejer”, baru menyusul tari dan gending sesuai permintaan para tamu. Selanjutnya pada gjchir penampilan ditutup dengan tarian sebiang. Urutan penari para tamu biasanya terdiri empat orang yang bergantian dalam melakukan tari paju. Urutan tari paju tersebut disesuaikan dengan rangking kedudukan tamu dalam masyarakat, atau menurut urutan datangnya peralatan tersebut. Dalam mengatur urutan tamu penari gandrung dibantu oleh seorang penari gedog atau lajimnya disebut pramugari.
Dalam penampilan gandrung tanggapan itu biasanya selalu terjadi sedikit krodit antar tamu pendatang. Cukup memprihatinkan lagi setiap tontonan gandrung tanggapan identik ada minuman memabukkan. Sambil mengibarkan uang kertas pemaju berambisi ingin terus menari mengandalkan isi kantong. “Wuuullll” itu yang selalu terucap dari mulut pemaju yang dalam keadaan play, tidak menyadari di belakang panggung masih antri menunggu giliran.

Taman Nasional Alas Purwo

00.59

 

 

A. Selayang Pandang

Taman Nasional Alas Purwo (atau biasa disingkat Alas Purwo) terletak di ujung timur Pulau Jawa, tepatnya di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Bagi masyarakat sekitar, nama alas purwo memiliki arti sebagai hutan pertama, atau hutan tertua di Pulau Jawa. Oleh sebab itu, tak heran bila masyarakat sekitar menganggap Alas Purwo sebagai hutan keramat. Sehingga, selain diminati sebagai tujuan wisata alam, kawasan Alas Purwo juga diyakini memiliki situs-situs yang dianggap mistis yang menjadi magnet bagi para peziarah untuk melakukan berbagai ritual di hutan ini.

Taman nasional yang diresmikan melalui SK Menteri Kehutanan No. 283/Kpts-II/92 ini merupakan perwakilan tipe ekosistem hutan hujan dataran rendah di Pulau Jawa. Ketinggiannya berada pada kisaran 0—322 meter di atas permukaan laut (dpl) dengan topografi datar, bergelombang ringan, dengan puncak tertinggi di Gunung Lingga Manis (322 meter dpl). Berdasarkan ekosistemnya, tipe-tipe hutan di Taman Nasional Alas Purwo dapat dibagi menjadi hutan bambu, hutan pantai, hutan bakau/mangrove, hutan tanaman, hutan alam, dan padang penggembalaan (Feeding Ground). Jika diamati sekilas, dari luas lahan sekitar 43.420 hektar, taman nasional ini didominasi oleh hutan bambu, yang menempati areal sekitar 40 % dari seluruh area yang ada.
Secara umum, keadaan tanah di taman ini sebagian besar adalah tanah liat berpasir, sedangkan sebagian kecil lainnya berupa tanah lempung. Curah hujan per tahun rata-rata berkisar antara 1.000—1.500 mm dengan temperatur antara 27°-30° C, dan kelembaban udara antara 40—85 %. Biasanya, musim kemarau terjadi pada bulan April sampai Oktober, sementara musim penghujan terjadi sebaliknya, yaitu pada bulan Oktober hingga April.

B. Keistimewaan

Taman Nasional Alas Purwo sangat tepat bagi para pelancong yang gemar menjelajahi hutan, mengamati tumbuhan dan satwa liar, atau penggemar wisata pantai, penikmat selancar air (surfing), atau mereka yang menyukai wisata ziarah. Taman Nasional Alas Purwo memang memiliki hutan yang masih alami, beberapa pantai dan teluk yang indah, serta situs-situs mistis yang kerap menjadi lokasi bersemedi atau tirakat masyarakat setempat dan para pendatang.
Mengunjungi Taman Nasional Alas Purwo, wisatawan dapat mengamati kekayaan flora dan fauna yang ada. Taman nasional ini memiliki setidaknya 13 jenis bambu dan 548 jenis tumbuhan lain yang terdiri dari rumput, herba, semak, liana, dan pohon. Tumbuhan khas dan endemik yang terdapat di taman nasional ini yaitu sawo kecik (manilkara kauki) dan bambu manggong (gigantochloa manggong). Tumbuhan lainnya adalah ketapang (terminalia cattapa), nyamplung (calophyllum inophyllum), kepuh (sterculia foetida), dan keben (barringtonia asiatica).
Kondisi alamnya yang masih alami membuat Taman Nasional Alas Purwo menjadi habitat yang cocok bagi berbagai satwa liar, seperti lutung budeng (trachypithecus auratus auratus), banteng (bos javanicus javanicus), ajag (cuon alpinus javanicus), rusa (cervus timorensis russa), macan tutul (panthera pardus melas), kucing bakau (prionailurus bengalensis javanensis), serta burung merak (pavo muticus) dan ayam hutan (gallus gallus). Tak hanya satwa darat, satwa air yang langka dan dilindungi seperti penyu lekang (lepidochelys olivacea), penyu belimbing (dermochelys coriacea), penyu sisik (eretmochelys imbricata), serta penyu hijau (chelonia mydas) juga menjadi penghuni di pantai selatan taman nasional ini (Pantai Ngagelan).
Selain area hutan, Taman Nasional Alas Purwo juga memiliki padang savana bernama Sadengan dengan luas + 20 hektar, terletak sekitar 12 km dari pintu masuk taman nasional di Pasar Anyar. Padang savana ini merupakan padang penggembalaan satwa liar seperti banteng, kijang, rusa, kancil, babi hutan, burung merak, ayam hutan, dan berbagai jenis burung lainnya. Tentu saja, di tempat ini wisatawan dapat mengamati langsung aktivitas hewan-hewan liar tersebut.

Padang savana Sadengan tempat penggembalaan hewan-hewan liar
Sekitar 1,5 km dari padang savana Sadengan, terdapat Pantai Trianggulasi. Nama trianggulasi diambil dari sebuah Tugu Trianggulasi, yaitu tugu penanda untuk keperluan pemetaan yang berada di pantai ini. Pantai Trianggulasi memiliki hamparan pasir putih yang cukup luas dengan formasi hutan pantai yang didominasi oleh pohon bogem dan nyamplung. Lokasi ini cukup cocok untuk kegiatan wisata bahari, berkemah, maupun menyaksikan matahari tenggelam (sunset). Pantai ini juga menyediakan wisma tamu dan pesanggrahan yang dapat digunakan wisatawan sebelum melanjutkan penjelajahan ke obyek-obyek wisata berikutnya.

Pemandangan alam di Pantai Trianggulasi
Dari Pantai Trianggulasi, berjarak sekitar 5 km arah barat merupakan lokasi Pantai Ngagelan, tempat untuk menyaksikan berbagai jenis penyu. Pantai ini menjadi tujuan penyu untuk bertelur, serta menjadi lokasi khusus penangkaran penyu. Penyu-penyu tersebut umumnya mendarat di pantai pada bulan Januari sampai September setiap tahun. Pada bulan-bulan tertentu pula, biasanya diadakan kegiatan pelepasan penyu-penyu yang sudah siap terjun ke alam bebas.
Lokasi wisata lainnya yang terkenal di mata para peselancar dunia adalah Plengkung yang biasa juga disebut G-Land. Nama Plengkung merupakan nama lokal, sementara G-Land disematkan oleh wisatawan asing yang sangat terkesan dengan gulungan ombak pantai ini. Nama G-Land memiliki berbagai konotasi, antara lain: “Green”, merujuk pada lokasinya yang berhimpitan dengan hutan primer yang masih alami; “Great”, merujuk pada ombaknya yang merupakan salah satu ombak terbaik di dunia untuk olahraga selancar; serta “Grajagan” yaitu nama sebuah pelabuhan nelayan setempat yang menjadi lokasi penyeberangan menuju G-Land sebelum dibangun jalan yang melintasi taman nasional. Kawasan G-Land biasanya ramai dengan aktivitas para peselancar pada bulan Mei sampai Oktober, di mana kondisi ombak sedang bagus-bagusnya untuk berselancar.
Plengkung atau G-Land dapat dikatakan baru dikenal sejak tahun 1970-an, ketika dua orang peselancar asal Kalifornia, Amerika Serikat,  bernama Gerry Lopez dan Mike Boyum mencoba keganasan ombak di Semenanjung Blambangan ini. Rupanya dua peselancar ini sangat terkesan dengan ombak setinggi 4—6 meter yang memanjang sekitar 2 km dan bergulung-gulung membentuk formasi 7 gelombang. Formasi gelombang macam ini merupakan salah satu formasi terbaik di dunia dan menjadi incaran para peselancar kelas dunia. Dua orang inilah yang kemudian mempopulerkan G-Land sebagai lokasi berselancar kepada para peselancar lain di seluruh dunia.
Gulungan ombak di G-Land dapat disamakan dengan tiga lokasi lain di mancanegara, antara lain di Oahu (Hawaii), Fiji, dan Tahiti. Namun, ombak di G-Land dianggap memiliki kelebihan tersendiri, yaitu ombak yang besar, keras, dan panjang. Berbeda dengan ombak di Oahu, misalnya, yang memiliki ombak besar tetapi relatif lebih pendek. Dengan kelebihan tersebut, tidak mengherankan jika kejuaraan berselancar internasional Quiksilver Pro pernah diadakan di G-Land tiga kali berturut-turut, yaitu tahun 1995, 1996, dan 1997. Sayangnya, krisis ekonomi di Indonesia pada tahun 1998 yang kemudian disusul dengan berbagai kerusuhan sosial menjadikan panitia penyelenggara urung mengadakan kembali kejuaraan tersebut di G-Land.

Ombak di G-Land yang sangat disukai para peselancar dunia
Dari Plengkung atau G-Land, wisatawan dapat meluncur ke arah utara, sekitar 8 km, menuju Pantai Pancur. Di pantai ini tersedia bumi perkemahan (Camping Ground) untuk mereka yang senang berkemah di tepi pantai. Wisatawan juga dapat menikmati keindahan tepi pantai yang tersusun dari pecahan karang hitam dan pasir gotri (pasir ringan dari pecahan karang dan kerang yang berbentuk kerikil-kerikil kecil). Jika melintasi pantai ini, wisatawan disarankan menggunakan alas kaki, sebab jika tidak hamparan pasir gotri tersebut akan menimbulkan rasa nyeri di telapak kaki.

Pantai Pancur yang terkenal dengan pasir gotrinya
Obyek wisata yang juga menarik di Taman Nasional Alas Purwo adalah Segara Anakan, yaitu sebuah teluk kecil sepanjang 18,8 kilometer dengan lebar rata-rata 400 meter. Di teluk yang menghadap ke Samudera Hindia ini, wisatawan dapat bersampan, berenang, memancing, bermain ski air, atau mengamati tumbuhan mangrove dan burung-burung migran dari Australia. Segara Anakan terkenal sebagai pantai yang memiliki kawasan hutan mangrove terluas di Jawa Timur. Tercatat setidaknya 26 jenis mangrove di kawasan ini yang didominasi oleh rhizopora, bruguiera, avicenia, dan sonneratia. Selain menyaksikan mangrove, pada bulan Oktober hingga Desember, wisatawan juga dapat menikmati ribuan burung migran dari Australia. Ribuan burung tersebut terdiri dari 16 jenis burung, seperti cekakak suci (halcyon chloris/todirhampus sanctus), burung kirik-kirik laut (merops philippinus), trinil pantai (actitis hypoleucos), dan trinil semak (tringa glareola).
Tak hanya obyek-obyek wisata alam, Taman Nasional Alas Purwo juga memiliki situs-situs ziarah yang banyak dikunjungi wisatawan untuk memohon berkah. Situs-situs ziarah tersebut tidak dapat dilepaskan dari legenda Alas Purwo sebagai tempat terakhir pelarian rakyat Majapahit yang tersingkir akibat menguatnya desakan penyebaran agama Islam saat itu. Salah satu bukti sejarah yang masih nampak adalah Pura Luhur Giri Salaka, yaitu tempat ibadah bagi masyarakat Hindu di sekitar taman nasional (biasa disebut orang Blambangan). Masyarakat Hindu di sini diyakini merupakan keturunan rakyat Majapahit yang berpindah menuju Semenanjung Belambangan. Pura Luhur Giri Salaka biasanya ramai dikunjungi penganut agama Hindu pada saat dilangsungkannya upacara Pagerwesi, yaitu upacara mensyukuri anugerah ilmu pengetahuan yang diturunkan oleh para dewata. Upacara ini dilakukan setiap 210 hari sekali.

Pura Luhur Giri Salaka di dalam area Taman Nasional Alas Purwo
Selain pura tersebut, masih ada dua gua yang dianggap keramat, yaitu Gua Padepokan dan Gua Istana, yang menjadi lokasi pilihan bagi mereka yang menyukai olah semedi atau meditasi. Taman Nasional Alas Purwo sebetulnya memiliki sekitar 40 buah gua, baik berupa gua alam maupun gua buatan yang sangat cocok untuk para penjelajah gua. Salah satu gua buatan yang banyak dikunjungi wisatawan adalah Gua Jepang, yang di dalamnya terdapat dua buah meriam peninggalan Jepang sepanjang 6 meter. Apabila masih memiliki waktu yang cukup, wisatawan juga dapat menikmati pesona Gunung Kawah Ijen, sebuah gunung yang kesohor karena penambangan belerangnya, yang masih berada dalam kawasan Taman Nasional Alas Purwo. Gunung Kawah Ijen terletak sekitar 33 km arah utara dari taman nasional ini.

C. Lokasi

Taman Nasional Alas Purwo terletak di Kecamatan Tegaldlimo dan Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Indonesia.

D. Akses

Kota Banyuwangi terletak sekitar 290 km arah timur Kota Surabaya (Ibu Kota Provinsi Jawa Timur) dan dapat ditempuh dengan bus atau kereta api. Sementara dari Pulau Bali, Banyuwangi terletak sekitar 10 km arah barat yang hanya dipisahkan oleh Selat Bali. Untuk menyeberang ke Banyuwangi, wisatawan dapat memanfaatkan jasa Kapal Ferry dari Pelabuhan Gilimanuk menuju Pelabuhan Ketapang.
Dari Kota Banyuwangi, Taman Nasional Alas Purwo, dapat dicapai dengan menggunakan mobil sewaan (carter mobil Colt) menuju Pasar Anyar dengan jarak tempuh sekitar 65 km. Dari Pasar Anyar wisatawan dapat menyewa truk atau ojek menuju pos pintu utama di Rawa Bendo. Untuk jasa ojek, wisatawan harus membayar sektar Rp 20.000 menuju Rawa Bendo (Januari 2009). Wisatawan yang ingin memasuki kawasan Taman Nasional Alas Purwo biasanya diwajibkan mendaftarkan diri serta membayar tiket di Pos Rawa Bendo ini.  Dari Rawa Bendo, wisatawan dapat memulai penjelajahan hutan, mengunjungi situs-situs ziarah, atau langsung menuju obyek wisata pantai, seperti Segara Anakan, Pantai Trianggulasi, Pantai Ngagelan, serta lokasi surfing di Plengkung.

E. Harga Tiket

Untuk masuk ke Taman Nasional Alas Purwo pengunjung harus membayar tiket masuk di Pos Rawa Bendo. Pembayaran tiket masuk dibedakan menurut pekerjaan/profesi pengunjung. Besaran harga tiket masih dalam konfirmasi.

F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Kawasan Taman Nasional Alas Purwo telah dilengkapi fasilitas pemandu, yaitu para Jagawana (penjaga hutan) atau asisten Jagawana yang dapat dimintai bantuan untuk memandu penjelajahan. Untuk jasa pemandu ini, wisatawan harus merogoh kocek antara Rp 75.000 sampai Rp 150.000 per hari. Di kantor pengawasan taman nasional juga terdapat beberapa mobil Jeep untuk patroli serta sepeda motor trail yang dapat disewa untuk keperluan penjelajahan. Apabila membawa kendaraan pribadi, wisatawan juga dijamin tidak akan kesasar menyusuri hutan karena telah dilengkapi papan-papan petunjuk menuju berbagai obyek wisata di dalam taman nasional ini. Papan petunjuk tersebut juga dilengkapi keterangan jarak yang harus ditempuh (berapa kilometer), serta sarana menuju lokasi (misalnya dapat ditempuh dengan mobil, sepeda motor, atau jalan kaki).

Salah satu papan petunjuk di Taman Nasional Alas Purwo
Selain memiliki beberapa lokasi perkemahan, di beberapa pantai seperti di Pantai Trianggulasi dan kawasan Plengkung atau G-Land juga telah tersedia penginapan. Bahkan di kawasan G-Land saat ini telah memiliki beberapa cottage bagi para peselancar yang dibangun dengan nuansa yang alami dan menyatu dengan alam. Bahan-bahan bangunannya misalnya terdiri dari kayu, bambu, dan tali-temali dari ijuk. Tak hanya itu, suasana alami juga terlihat dari lampu minyak tanah yang dipakai, serta ruang tidur yang menyerupai gerobak sapi tempo dulu. Dengan kelebihan-kelebihan tersebut, conttage yang diperuntukkan bagi para peselancar dunia ini dihargai sekitar 30 US Dollar per malam. Jika Anda menginginkan penginapan yang lebih sederhana, terdapat beberapa wisma tamu di Pos Rawa Bendo seharga Rp 100.000 per malam. Selain itu, di sekitar Pos Rawa Bendo juga terdapat beberapa warung makan