Tampilkan postingan dengan label lare oseng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lare oseng. Tampilkan semua postingan

Legenda Putri Rengganis di Banyuwangi

02.29
Rengganis adalah kesenian drama tadisional yang berkembang di Banyuwangi, diperkirakan berasal dari Kerajaan Mataram Islam. Sebetulnya masalah nama kesenian tersebut di Banyuwangi sangat beragam, ada yang menyebut Prabu Roro, ada yang juga yang menyebut Umar Moyo. Namun ada benang merahnya, yaitu nama-nama tersebut mengacu kepada nama tokoh yang diangkat dalam kesenian tersebut. Antara lain Putri Rengganis dan Prabu Roro seorang raja putri dan adipati Umar Moyo dari kerajaan Guparman.

Namun hingga saat ini belum ada penelitian yang mengakitkan dengan keberadaan kesenian serupa yang sampai sekarang masih berkembang di daerah Bantul dan Sleman Togyakarta Sementara cerita yang diangkat dari kesenian "Rengganis" diambil dari buku Serat Menak. Tokoh-tokoh yang populer dalam kesenian Rengganis adalah Jemblung, abdi Umar Moyo, Lam Dahur (kalau dalam pewayangan mirip Werkudoro) Pati Tejo Matal, Jayengrono.

Selain unsur-unsur islam yang sangat menonjol dalam kesenian tersebut, juga ada kalimat-kalimat mantra yang sering diuncapkan Umar Moyo saat meminta kekuatan senjata pamungkasnya, yaitu Kasang Tirto Nadi. Umar Moyo Selalu berucap "Laillah Hailalloh Nabi Ibrohim Kamilulloh. Mbal-Gambal Mustoko malih. Sang Kasang Tirtyo Nadi, aku njaluk panguasamu kasang iso ....."

Setiap tokoh mempunyai karasteristik, seperti tokoh pewayangan. Teknik pentas dan jejer, atau sampa'an seperti dalam wayang orang Setiap adegan, tokoh suatu kerajaan akan keluar bersama-sama. Kecuali permasuiri, Raja dan para patik. Tari setiap tokoh juga mempunyai ciri khas tersendiri, begitu juga gending musik pengiring.

Pada tahun 1960-an, atau ketika pergolakan politik di negeri ini. Selain seni drama yang bersumber cerita dari penyebaran Islam di Persia, Rengganis juga sering digunakan alat Propaganda oleh LESBUMI dari NU. Sementara LKN dengan Angklung Dwi Laras dan (Lekra?) PKI dengan kesenian Genjer-Genjer.

MAKAM SEPANJANG 7M DI ALAS PURWO BANYUWANGI

22.09


Panjang makam tentu menyesuaikan tinggi badan (panjang) jasad penghuninya. Nah, di tepian hutan Taman Nasional Alas Purwo (TNAP), Desa Kalipahit Kecamatan Tegaldelimo, Banyuwangi, ada makam unik yang memiliki panjang sekitar 7 meter.

Komplek makam unik ini berdiri di atas lahan seluas seperempat hektar. Banyak orang menyebut makam itu sebagai makam Eyang Suryo Bujo Negoro alias Mbah Dowo. Eyang Suryo konon seorang misionaris agama Islam sebelum masa para Wali Songo.

"Beliau siar Islam di kawasan sini, sebelum Wali Songo," kisah Juru Kunci Makam Mbah Dowo, Asmat (50).

Asal usul Eyang Suryo Bujo Negoro sendiri tidak diketahui secara pasti. Dibatu nisan juga tidak tertulis tanggal atau tahun kapan Mbah Dowo wafat. Konon peziarah dapat mengetahui sejarah Mbah Dowo dengan cara kontak batin.

"Harus dipanggil secara spritual dulu," tambah Asmat.

Panjang makam yang tak lazim tersebut mengundang rasa penasaran. Benarkah Mbah Dowo semasa hidupnya setinggi 7 meter? Atau jangan-jangan makam tersebut hanya sebuah simbol saja? Atau ada alasan logis lainnya?

Asmat saat ditanya mengaku tidak tahu secara pasti. Dia menjelaskan, saat ditemukan bentuknya memang menyerupai makam lengkap dengan batu nisan terbuat dari batu. Di bagian kaki tumbuh pohon jarak setinggi 3 meter.

Pria berkulit gelap itu menduga, makam tersebut mungkin sebuah petilasan (tempat singgah tokoh zaman dulu). Namun ada pula yang percaya itu memang makam sungguhan.

Seiring berjalannya waktu, makam Mbah Dowo mengalami pemugaran. Karena dari hari ke hari makam misterius tersebut ramai dikunjungi peziarah. Uniknya lagi, peziarah yang datang bukan hanya dari umat Islam. Melainkan umat Hindu juga.

"Yang paling ramai hari Kamis Manis atau bulan Suro," urai Pria asal Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng, Banyuwangi ini.

Peziarah yang datang biasanya hanya berdoa di makam. Atau lelaku ritual dengan cara mengambil air dari sumur dan diwadahi di botol atau gelas. Air tersebut biasanya dibawa pulang peziarah karena dipercaya mujarab bagi ketenangan jiwa.

Sejauh ini juru kunci makam Mbah Dowo beberapa kali bongkar pasang. Sebelum Asmat, ada beberapa juru kunci yang pernah mengabdi. Namun mereka sudah "purna tugas" atau minta digantikan karena tidak kuat tinggal di hutan. "Saya hampir 4 tahun mengabdi," bangganya.


Saat ini di Timur makam berdiri balai cukup luas dan tinggi. Balai ini berfungsi sebagai tempat istirahat peziarah. Persis di Timurnya lagi berdiri rumah bilik bambu yang dihuni oleh Asmat, juru kunci makam Mbah Dowo.

Selain itu komplek makam Mbah Dowo juga sudah dilengkapi dua kamar mandi untuk MCK. Namun lokasi wisata spritual tersebut belum dilengkapi aliran listrik. Hanya lampu minyak yang menjadi satu-satunya penerangan di malam hari.

Misteri Hiu Raksasa Pantai Sukomade / Mbah kliwon

20.58
 
 
Di kalangan nelayan Rajegwesi-Sukomade, Desa Sarongan Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, selain Nyi Roro Kidul, mereka kerap melihat sesosok ikan hiu raksasa. Hiu tersebut berukurun sebesar dua kali rumah tipe rumah sederhana (RS).

 Nelayan setempat memanggil hiu raksasa tersebut dengan nama Mbah Kliwon. Dinamakan Mbah Kliwon, lantaran hiu raksasa tersebut kerap menampakkan diri Jumat Kliwon, penanggalan Jawa.

Di sekujur tubuh Mbah Kliwon ini dipenuhi dengan corak yang menyerupai huruf-huruf arab yang tersusun rapi seolah terangkai sebuah kalimat. Namun tak pernah ada yang bisa membacanya.

"Mbah Kliwon kadang di sekitaran lokasi kami memancing ikan, sekitar Tanjungan" kata para nelayan yang mengaku pernah menjumpai Hiu tersebut..

Berjumpa dengan Mbah Kliwon, bagi nelayan bukan hal yang menakutkan. Justru hal yang diharapkan. Karena kemunculan hiu raksasa tersebut pertanda jika populasi ikan sedang melimpah. Selanjutnya akan berdampak baik pada hasil tangkapan nelayan.

Untuk menghormati Mbah Kliwon, sebelum melaut di hari Jumat Kliwon, penanggalan Jawa, nelayan menggelar selamatan kecil dengan beberapa hidangan makanan. Tradisi tersebut dikemas dengan memanjatkan doa keselamatan pada Yang Maha Kuasa.

Mbah Kliwon bukan hanya sesosok Hiu sebagai simbol rejeki nelayan. Hiu yang menurut warga, lebar mulutnya dua kali daun pintu tersebut terkadang 'membantu' saat nelayan mengalami kondisi genting di laut.

"Tidak semua nelayan yang dibantunya. Hanya orang tertentu saja," kata Ninik, juragan ikan di Pantai Rajegwesi, .

Ninik mencontohkan kisah yang dialami oleh Nelayan Rajegwesi yang bernama Samuji. Samuji yang saat itu sedang melaut nyaris kehilangan nyawanya setelah perahunya pecah dihantam ombak besar.

Bahkan tubuh Samuji tidak ditemukan lagi oleh nelayan lainnya yang melakukan pencarian selama beberapa jam. Namun keesokan paginya, mereka mendapati Samuji sudah berada di Pantai rajegwesi dalam kondisi selamat.

Padahal lokasi tenggelamnya Samuji sangat berjauhan dengan bibir pantai. Warga
akhirnya terkejut dengan pengakuan Samuji jika dirinya dibawa ke tepian oleh sesosok hiu raksasa.

"Pak Samuji bilangnya dibawa ketepi pantai oleh ikan Hiu Raksasa,(Mbah Kliwon)" kata Ninik menirukan pengakuan Samuji, yang saat ini menetap di Pulau Sulawesi mengikuti transmigrasi.

Sumur Sri Tanjung Banyuwangi Diyakini Berkasiat

20.21
Sumur Sri Tanjung di timur pendopo Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, diyakini oleh sebagian masyarakat memiliki beberapa kasiat ampuh bagi orang yang meminumnya.Legenda putri Sri Tanjung ini, hingga kini memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat Osing Banyuwangi, bahkan bagi masyarakat diluar Banyuwangi juga mempercayai kekuatan putri Sri Tanjung itu.



Sumur Sri Tanjung yang terletak di jalan Sidopekso 10, Kelurahan Temenggungan, Kecamatan Banyuwangi Kota, tepatnya di timur pendopo Saba Swagata Blambangan Banyuwangi itu dinyakini masih menyimpan beberapa misteri dan kekuatan gaib.

Tak heran bila setiap harinya, sumur yang hanya berdiamter satu kali dua meter tersebut, selalu didatangi pengunjung yang ingin mengalap berkah.

Biasanya para tamu yang sengaja datang ke sumur Sri Tanjung ini, mempunyai hajat, diantaranya untuk pelaris dagangan, kepangkatan serta obat awet muda.

Menurut juru kunci sumur Sri Tanjung Ki Darusman, para pengunjung yang datang biasa terlebih dahulu diilhami atau didatangi oleh seorang putri yang cantik bernama Sri Tanjung.

Kebanyakan para peziarah datang pada hari Selasa Kliwon, Selasa Legi, Jum’at Kliwon dan Jum’at Legi. Para penziarah biasanya mengalap berkah dari sumur Sri Tanjung dengan meminum air dan memakai untuk mandi.

Syaratnya sangat ringan, para peziarah harus membawa kembang telon atau bunga pasar berwarna tiga macam untuk persembahan kepada sang dewi ratu Sri Tanjung.

Para penziarah akan didampingi oleh Ki Darusman selaku juru kunci untuk melakukan interaksi dengan dewi putri Sri Tanjung.

Setelah persembahan kembang telon di tempatkan dipinggir sumur maka juru kunci Ki Darusman akan memanggil dewi Sri Tanjung dengan menyalakan dupa wangi untuk mendapatkan do`a restu.

Usai mendapatkan do`a restu, para penziarah baru diperkenankan meminta dan bermunajat kepada Allah SWT dengan melalui sumur Sri Tanjung.

Setelah melakukan ritual do`a maka satu persatu peziarah diminta cuci muka dengan air sumur kemudian meminumnya. Tak jarang para wanita yang datang ke sumur Sri Tanjung ini juga menggunakan air sumur Sri Tanjung untuk mandi.

Para ibu-ibu dan remaja putri mengaku air sumur Sri Tanjung ternyata memiliki kekuatan magis termasuk untuk kencantikan dan obat awet muda.

Ki Darusman selaku juru kunci mengaku baru percaya akan kehebatan sumur Sri Tanjung, setelah pada tahun 1982 ada rombongan dari kraton Solo dan Klaten yang datang khusus ke sumur Sri Tanjung.

Para sesepuh kraton mengatakan bahwa sumur Sri Tanjung adalah salah satu sumur tiban tertua di tanah Jawa, yang merupakan satu-satunya peninggalan sejarah.

Sejak itulah Ki Darusman mau merawat sumur Sri Tanjung, walau para sesepuh dan nenek moyangnya sudah lebih dulu merawat dan sumur Sri Tanjung.

Sementara itu menurut Hasnan Singodimayan, salah satu budayawan Osing Banyuwangi mengatakan Sri Tanjung adalah legenda rakyat Osing Banyuwangi yang dipercaya memiliki kekuatan magis yang sangat luar biasa.

“Legenda tersebut menceritakan bagaimana seorang putri yang sangat cantik jelita dan setia yakni putri Sri Tanjung, difitnah oleh seorang raja yang bernama Sulokromo,” tegasnya.

Untuk merayu sang putri Sri Tanjung, sang raja menyuruh maha patih Sida Paksa suami Sri Tanjung untuk mencarikan gembolo emas yakni seikat tali emas di parang alas, suatu tempat yang tidak bisa dijamah oleh manusia.

Setelah Sida Paksa berangkat, sang raja Sulokromo kemudian merayu putri Sri Tanjung dengan mengatakan kalau suaminya tidak akan bisa kembali lagi namun dengan kesetiaan pada sang suami Sri Tanjung menolak rayuan raja Sulokromo tersebut.

Tanpa diduga maha patih Sida Paksa datang dengan membawa barang yang dipesan oleh sang raja bahkan barang tersebut lebih bagus dari apa yang di pesan oleh sang raja Sulokromo.

Melihat keberhasilan Sida Paksa tersebut, raja kemudian menfitnah Sri Tanjung telah merayu sang raja saat Sida Paksa melaksanakan tugas.

Sida Paksa yang percaya oleh raja kemudian mendatangi Sri Tanjung dan menuduh istrinya telah merayu sang raja walau Sri Tanjung sudah menjelaskan kepada suaminya, namun tetap tidak peryaca dan bahkan berniat membunuhnya.

Sebelum dibunuh Sri Tanjung mengatakan ia rela dibunuh tapi jika rohnya wangi maka ia tidak bersalah, setelah Sida Paksa menancapkan keris ke arah istrinya dan dibuang ke telaga.

Tiba-tiba air telaga tempat berbau wangi dan warnanya berubah menjadi putih, melihat kejadian tersebut Sida Paksa akhirnya sadar kalau istrinya tidak bersalah.

Oleh karena penyesalanya tersebut, akhirnya tanpa sadar Sida Paksa berteriak wangi sumber wangi, sumber wangi, seperti orang gila.

OSING APA OSING??

12.22


Pertanyaan diatas selalu muncul dalam banyak kesempatan di forum pertemuan orang Banyuwangi. Termasuk di  forum GCUAB….yang dilontarkan sdr Arif Wibowo putra Banyuwangi Asli. Bagaimana mungkin ,sebuah nama yang dilekatkan pada orang Banyuwangi asli (asli Banyuwangi) , masih menimbulkan kebingungan cara menuliskan.
Apa boleh buat karena kata itu adalah julukan yang diberikan orang luar kepada orang Banyuwangi asli ,yang nama sebenarnya adalah wong Blambangan.Maka pantaslah orang Banyuwangi aslipun tidak tahu bagaimana tulisan itu……malah dalam Kamus Bahasa Daerah Using _ Indonesia yang disusun Bpk Hasan Ali. pada halaman 457, selain kata using , dicantumkan juga kata ESING.
Contoh sederhana adalah nama saya Ali Sudarmanto , tetapi kawan di facebook memanggil saya AS. Maka jika seorang kawan Facebooker dari Kalimantan , yang mengenal saya dengan AS, dan mencoba mencari saya (AS ), jangankan di Banyuwangi  dikampung sayapun pasti orang tidak tahu.Sehingga muncullah penjelasan yang macam macam , apakak tulisannya ASS, mungkin A.S, malahan mungkin A.S.S(karena ketika di facebook saya menampilkan istri saya berwajah  Arab ,.
Demikian juga kata  Osing /Using/Esing, karena nama itu aneh untuk orang Blambangan,maka dicarilah padan kata diluar Banyuwangi, hingga dari Bali, ada yang Mataram , mungkin dari bahasa Austronesia.
Sebagai nama julukan dari penjajah ( Belanda) dan anteknya ,maka muncullah konotasi negative untuk wong Osing/using/esing   Maka muncullah theory dari ahli Linguistik , Sejarahwan , Budayawan, bahwa Osing /Using /Esing, adalah sebutan untuk orang yang tertutup, tidak mau menerima kedatangan orang luar, makan manusia,orang pinggiran ,diluar kasta ( sangat hina) , ACLAK, BINGKAH , LADAK.
Apakah anda tahu arti Aclak , Bingkah , Ladak.
Aclak, ternyata tidak ada dikamus bahasa Using .Indonesia bapak Hasan Ali.
Seorang penatar Jebeng Tulik Pemda Banyuwangi, mendiskripsikan sebagai   sok tahu. Penyanyi terkenal di Banyuwangi ( Catur Arum )dalam sebuah lagunya Aclak mendiskripsikan tong kosong berbunyi nyaring.
Ladak , kamus bahasa Using .Indonesia memadankan dengan sombong, angkuh ( 240)
Bingkah, kamus bahasa Using Indonesia memadankan kurang ajar, tidak mempunyai sopan ( 41)
Seorang budayawan /seniman mau memberi pengertian dengan  membuat justifikasi yg lebih baik maksud kata kata itu. Tetapi sayang justifikasi itu cuma dimengerti oleh dia dan kelompoknya.
Apakah seperti itukah kita wong Banyuwangi, darah Blambangan yang gagah berani,dari trah/keturunan yang jelas , yang oleh Susuhunan Tawangalun, raja terbesar Blambangan disebut memiliki character KALOKA ( VISIONER) , PRAWIRA, WIBAWA , BERBAHASA ( santun,atau harus kemampuan bahasa perdagangan, atau memiliki interpersonal).
Jawaban dihati anda…..
Dhafa Dhuafa
--------------------------------------------------------
Sun tau rungu
Gendinge Emak ring pucuki bengi hang sintru
Atinesun dhi kudhang-kudhang ambi sinau
Kanggo sangune turu
Lek…
Ojo sampe kelalen
Ambi riwayate bengen
Werruho siro
Kelendi perjuangane Embah-Buyut ring zaman semono
Ngasah ati
Ngumbyah rogo ambi getih hang temetes mili
Meres keringet
Lan ngelebur banyu moto hang jangget
Kanggo sopo lek……..????
Kadung sing kanggo isun lan siro
Myakne eling lan duwe rumongso
Kadung nyatane….
Hang aran bumi Blambangan iki
Dadi saksi tandurane bakti hang sejati
*Terus Emak meneng…
Isun cengeng
Emak mageh meneng..
Ambi nutupi raine nganggo pucuke jarit hang dhi batik cemeng…………

Bendung Impor, Banyuwangi Pacu Pengembangan Buah Lokal

11.52
.
Kabupaten Banyuwangi terus menggenjot pengembangan buah lokal. Kabupaten berjuluk "The Sunrise of Java" ini memang dikenal sebagai salah satu basis hortikultura di Indonesia.
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, sejumlah komoditas andalan antara lain buah naga, jeruk, dan manggis. "Saat ini buah impor membanjiri pasar Indonesia. Kita tak bisa tinggal diam. Gemari buah lokal agar petani sejahtera, ekonomi daerah bergerak," kata Anas saat melakukan panen buah naga di Kecamatan Bangorejo, Banyuwangi, Selasa (5/2).
Anas mengatakan, pihaknya telah melakukan langkah-langkah proteksi buah lokal. Di antaranya melarang buah impor disajikan di wilayah perkantoran Banyuwangi dan di dalam acara-acara di lingkungan Pemkab Banyuwangi. "Dengan demikian, pembelian buah lokal meningkat," ujarnya.
Selain itu, Pemkab Banyuwangi memfasilitasi promosi buah lokal hingga ke luar daerah. "Pemkab juga menyiapkan infrastruktur penunjang seperti jalan-jalan di basis hortikultura hingga peningkatan nilai tambah komoditas hortikultura dengan memproduksi produk turunan dari buah segar," jelas Anas.
Saat ini, luas lahan perkebunan buah naga di Banyuwangi mencapai 678,8 hektar. Produktivitas tanaman buah yang juga diikenal sebagai buah dewa ini, per hektarnya mencapai 30 ton. Produksi buah naga pada 2013 mencapai 20.364 ton, meningkat dibanding 2012 sebesar 12.936 ton.
Anas mengatakan, buah naga asal Banyuwangi telah memenuhi pasar Surabaya, Jakarta, dan Bali. Besarnya produksi buah naga itu juga mampu mendongkrak pendapatan petani. Ditambah, harga buah naga di pasaran lebih terkontrol karena buah naga lebih tahan lama jika dibandingkan dengan komoditas lain seperti cabai atau tomat. 
“Peningkatan penghasilan petani buah naga sangat luar biasa. Jika harganya Rp. 10.000 per kilogram, coba berapa yang dihasilkan jika satu hektar menghasilkan 30 ton,” tutur Bupati.
Bupati Anas mengungkapkan, potensi buah naga juga dapat disinergikan dengan program agro-tourism. Travel agent bisa membangun komunikasi dengan petani agar bisa bekerja sama pada saat musim panen buah naga. "Misalnya setelah dari Pantai Pulau Merah, wisatawan dapat dibawa ke sini untuk memetik langsung buah naga dan menikmatinya. Saya akan dorong konsep semacam ini," tambahnya.
Anas menambahkan, produksi komoditas lain seperti jeruk juga meningkat pesat. Pada 2012, produksi jeruk mencapai 140.602 ton, lalu meningkat pesat menjadi 222.804 ton pada 2013. "Komoditas hortikultura lokal harus juara. Kita bukannya anti-asing, tapi dalam konteks penguatan petani, pemerintah daerah harus ambil sikap. Banyuwangi ada di garda depan proteksi buah lokal. Ini harga mati," kata Anas.
 
Sumber: http://www.jpnn.com/

Pelasan Uling, Unagi Jepang ala Banyuwangi

11.38



Menikmati unagi tidak harus jauh-jauh ke Jepang. Anda bisa menikmatinya di Banyuwangi, Jawa Timur. Unagi merupakan masakan Jepang yang sudah dikonsumsi mulai abad 7 sebagai makanan yang kaya protein, kalsium, vitamin A dan E yang berbahan dari Ikan Sidat.

Ikan Sidat juga populer di Korea. "Masakan berbahan dasar Sidat dianggap sebagai sumber daya tahan untuk laki-laki. Selain itu Sidat mempunyai kandungan gizi 25 kali lebih banyak dibandingkan susu, 2 kali ikan Salmon serta memiliki omega tinggi. Ibu hamil juga bagus mengkonsumsinya karena akan menambah kecerdasan otak bayi dan membuat daya tahan tubuh meningkat," jelasnya.

Tidak susah mendapatkan ikan Sidat di Banyuwangi. Masyarakat dari kabupaten yang dikenal dengan Sunrise of Java lebih mengenal Sidat dengan sebutan Uling. "Kalo di Jepang Sidat tanpa tulang diolah menjadi unagi-no-kabayaki atau sidat panggang yang diberi saus manis kabayaki semacam Teriyaki. Atau ada juga direbus. Kalau di Banyuwangi, Sidat dikenal Uling biasanya dipepes atau dikenal dengan pelasan Uling," Yang banyak di jual di warung makan.

Ikan Sidat dibersihkan dan dipotong-potong serta dicuci bersih. "Untuk bumbunya sederhana hanya cabai merah, cabai rawit, asam jawa, gula merah. Ada juga tomat yang dipotong-potong untuk menghasilkan rasa segar dan pas dengan daging Sidat yang lembut,".

Setelah bumbu siap, maka dicampur dengan Sidat yang sudah dipotong-potong lalu dibungkus daun pisang. "Satu pelasan berisi dua atau tiga potong daging Sidat. Lalu kemudian dikukus sebentar lalu dibakar agar aroma dagingnya keluar. Memang sengaja tidak diambil durinya karena pelanggan bilang sensasinya lebih terasa," katanya.

Mutiara membanderol harga Rp 15.000 per satu pelasan. "Biasanya yang datang dari rombongan luar kota.

Sementara itu Putri Akmal, warga Banyuwangi mengaku sudah beberapa kali makan pelasan Sidat bersama keluarganya. "Saya tahunya ini Uling. Dulu keluarga sering masak kalau pas nangkap di sungai. Soalnya kan belum ada yang membudidayakannya. Jadi masaknya ya kalau pas nemu aja. Saya juga baru tahu kalo di Jepang ini makanan mahal. Kalau di sini murah nggak usah jauh-jauh ke Jepang buat makan Unagi. Di sini ada yang versi Banyuwangi," katanya sambil tertawa.

Daging  Sidat yang lembut pas sekali dengan bumbu tradisional yang bercitra pedas dan asam. "Makannya pake nasi hangat jadi lupa kalo punya utang," hehehehehehe.

Penasaran dengan rasa Pelasan Uling, Unagi Jepang Versi Banyuwangi. Di tunggu di Banyuwangi. Rasanya yang pedas, asam dan segar membuat anda selalu ketagihan.

Pemkab Banyuwangi Menggelar Festival Endog-endogan

00.31


Ribuan telur diarak dalam Festival Endog-endogan yang digelar Pemkab Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis (30/1/2014) dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Festival ini diikuti oleh ribuan peserta yang terdiri atas pelajar mulai tingkat sekolah taman kanak-kanak (TK) hingga SMA, komunitas sanggar, dan perwakilan kelurahan se-Kabupaten Banyuwangi.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banyuwangi, Mohammad Yanuarto Bramuda kepada media mengatakan tema besar festival endog-endogan tahun ini adalah Arak-arakan Endog-endogan. "Arak-arakan endog-endogan adalah salah satu budaya yang dimiliki oleh masyarakat Banyuwangi yang tidak ada di tempat lain," katanya.

Festival Endog-endogan diawali dengan zikir maulid dan pujian-pujian lalu dilanjutkan dengan musik Hadrah Kuntulan dengan judul lagu "Bulan Mulud". Selain itu juga ada penampilan teatrikal yang menceritakan masuknya Islam di Nusantara. Termasuk pula kisah awal Sunan Kalijaga menjadi salah satu Wali Songo hingga perjalanan dakwahnya melalui seni diiringi dengan gending-gending yang pernah dibawakan Sunan Kalijaga seperti Dandanggula, Semarangan, dan Lir-ilir.

"Selain itu juga ada tema teatrikal yang menceritakan masuknya Islam di Bumi Blambangan dengan mengangkat kisah Syekh Maulana Ishak dan Sekar Dalu. Syekh Maulana Ishak yang berhasil menyembuhkan putri Kerajaan Blambangan, Putri Sekar Dalu, hingga akhirnya keduanya menikah. Setelah menjadi bagian keluarga kerajaan, Syekh Maulana pun mengembangkan ajaran Islam dari dalam Istana," jelas Bramuda.

Selain itu juga ada teatrikal yang menjelaskan kisah awal tradisi Endog-endogan di Banyuwangi yang konon diawali pada abad 19. Yakni pertemuan di Bangkalan antara Mbah Kyai Kholil, pimpinan Ponpes Kademangan Bangkalan dengan KH Abdullah Fakih pendiri Ponpes Cemoro Balak, Songgon, Banyuwangi.

Dalam pertemuan tersebut, Kyai Kholil mengatakan bahwa kembange Islam wes lahir di nusantara (Nadlatul Ulama) yang dipersonifikasikan sebagai endhog (telur). Yaitu kulit telur melambangkan kelembagaan NU sendiri, sementara isi telur melambangkan amaliyah.

Sepulang dari pertemuan tersebut, Kyai Fakih pun menyebarkan amanah tersebut dengan cara mengarak keliling kampung gedebog (batang) pisang yang telah dihias dengan tancapan telur-telur dan bunga, dengan disertai lantunan sholawat dan dzikir. "Inilah cikal tradisi endog-endogan yang ada di Banyuwangi," ujar Bramuda.

Selain menampilkan beberapa teatrikal, ada juga beberapa kreasi endog-endogan yang ditampilkan dalam beberapa bentuk seperti bunga, masjid, ataupun dikreasikan dalam bentuk baju.


 Shinta Nurahman (8) yang memakai baju kreasi dari telur mengaku senang ikut bergabung dalam acara tersebut. "Biasanya cuma bawa kembang telur, tapi sekarang sudah dimodifikasi jadi baju yang saya pakai sekarang," katanya sambil menunjukkan beberapa ornamen baju merahnya yang dibuat dari telur.

"Ini kulitnya saja. Tapi ada yang benar-benar dari telur rebus," sambungnya sambil menunjukkan hiasan di bagian kepalanya.

Sementara itu Anton Hidayatullan (47), salah satu warga Blitar mengaku senang melihat Festival Endog-endogan. "Saya kaget saja ada juga karnaval yang bernuansakan Islam seperti ini. Bawa telur rebus yang dihias macam-macam. Unik, baru menemukan tradisi seperti ini di Banyuwangi," ujar  lelaki yang mengaku sedang berlibur di Banyuwangi ini.

Rujak Soto, Kuliner Nyentrik Khas Banyuwangi

00.08


Berbicara kuliner di Kabupaten Banyuwangi yang terkenal dengan julukan "Sunrise of Java" tidak bisa dilepaskan dengan rujak soto. Kuliner nyentrik perpaduan antara rujak sayur dengan soto babat menghasilkan rasa unik yang selalu dicari.

Rujak yang digunakan adalah campuran sayur mayur dengan bumbu kacang serta petis. Untuk pedasnya, bisa disesuaikan dengan pesanan dari konsumen. Bumbu kacang dicampur dengan garam, kacang goreng, gula merah, asam dan juga pisang klutuk (pisang batu) muda.

Menurut Mbak Atun, salah satu penjual rujak soto di Desa Sukowidi, Kecamatan Kalipuro, pisang klutuk merupakan bahan yang wajib dalam rujak soto. "Pisang klutuk ini akan memberikan rasa khas di rujak soto. Kalau nggak ada pisang klutuk rasanya kurang mantep," katanya.

Setelah bumbu siap tinggal dicampur dengan campuran sayur yang direbus seperti kangkung, kacang panjang, kubis dan juga potongan tahu dan tempe yang digoreng. Setelah selesai, rujak diwadahi mangkuk dan tinggal dituangi kuah soto babat sapi. "Kalau ada yang mau biasanya ditambah lontong," kata Mbak Atun.

Untuk soto, Mbak Atun memilih soto yang berisi babat, usus dan tetelan daging sapi. Ia bercerita cara membuat soto sama seperti soto pada umumnya. "Bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, kemiri merica. Terus disangrai dan dimasak dengan babat usus dan tetelan daging sapi. Ditambahkan juga dengan bawang prei, lengkuas, daun jeruk, serai, seledri. Kalau sudah siap tinggal dituangkan ke campuran rujak dan diberi bawang goreng, telur asin dan krupuk. Kalau suka bisa ditambahkan dengan kecap manis," jelasnya.

Mbok Atun membandrol rujak soto lengkap dengan telur asin seharga Rp 10.000. "Murah, meriah, enak dan kenyang," katanya.

Langganan Mbak Atun bukan hanya warga di sekitar warungnya tapi juga dari luar kota. "Banyak orang asli Banyuwangi yang tinggal di luar kota mampir ke sini kalau pas pulang kampung. Mereka biasanya menikmati pas waktu makan siang," ungkapnya.

Lalu sejak kapan rujak sota masuk Kabupaten Banyuwangi? Menurut budayawan Banyuwangi, Hasnan Singodimayan kepada Kompas.com, Kamis (16/1/2014), pada tahun 1970-an ada lagu yang berjudul Rujak Singgol yang menjelaskan beberapa nama rujak yang ada di wilayah Banyuwangi.

"Di lagu yang berjudul Rujak Singgol disebutkan beberapa nama rujak, namun nama rujak soto masih belum disebutkan dalam lagu itu. Ada rujak uni, rujak locok, rujak lethok, rujak kecut, rujak cemplung. Namanya semuanya mengarah kepada bahan nama yang digunakan rujak atau mengolah rujak. Seperti rujak wuni yang dibuat dari buah wuni yang rasanya asam," jelasnya.

Menurut Hasnan, rujak soto baru muncul setelah tahun 1970-an dan merupakan hasil dari keisengan penikmat rujak di Banyuwangi.

"Muncul juga rujak bakso dan pecel rawon. Tapi yang identik dengan Banyuwangi adalah rujak soto karena rasa dan perpaduannya memang unik. Seperti akhir dari lagu 'Rujak Singgul', Durung weruh rasane mageh arane, nganeh anehi yang artinya, belum tahu rasanya, masih namanya saja sudah aneh. Seperti itulah rujak soto," jelas Hasnan sambil menyanyikan lagu 'Rujak Singgul'.

Penasaran? Nah jangan bilang pernah mengunjungi Banyuwangi kalau belum menikmati rujak soto. Anda akan menikmati eksperimen kuliner campuran yang rasanya unik dengan sensasi yang istimewa

7 Jenis Ilmu Pelet dan Cara Menangkalnya

12.28



1/ Pelet nyi sari bulu perindu agak sangat hitam,yaitu :
Pelet ini berfungsi untuk mengendam / hipnotis seseorang kepada kita.yang utama untuk memaksakan kehendak kita kepada si target .untuk mengacaukan PIL / WIL sehingga target yang udah berhubungan sex dgn kita akan inget selalu kita tapi si target lupa memberikan kebutuhan biologis sex.

maka kemaluannya pria akan hilang otomatis hampir mirip dengan santet Banyuwangi campur dengan gendam Yogya.berhati-hatilah pelet ini khusus untuk wanita saja….kalau ndk salah bahan medianya ayam hitam saja lalu di sembelih lehernya si ayahm hitamnya untuk ritualnya khusus.

Kelemahannya :
Di hancurkan dengan doa asmaul husna atau doa nya langsung dari nyisari bulu perindu.

2/ Pelet Pelintir merica ,gol putih
Pelet ini berfungsi untuk wanita langsung orgasme setelah kita membaca mantra khusus dari tanah Dayak KALIMANTAN sambil melintir-melintir merica.maka wanita yang di targetkan akan orgasme lgsng / terangsang.pernah saya coba di SMK dulu mengerjain guru wanita saya untuk melinitr merica kalau ndk merica medianya bisa diganti lombok merah kecil…..

khusus pria / kaum Adam.

Kelemahaannnya :
dengan singkep kertas yang udah di tulis Ayat Kursi di taruh di dalam dompet.



3/ Pelet penghancur sukma
Pelet ini berfungsi untuk menembus hati dan jiwanya si target supaya mau dengan kita dengan medianya hanya cukup FOTO saja.pelet dayak sangat Putih.

Kelemahannya :
Foto dibaca-bacain doa rapalan macan putih seperti yang ada diatas seperti begini “YaAllohMuhhamadarosululah ,Ya aku macan putih ,macan Putih ono nang ragaku ,ya Aku Macan Putih ,Yo aku macane Alloh lan macane Muhamaddarasolulah saiki mlebu nang ragaku,amin yah Robbal al Amin.

dibaca dalam hati diarahkan ke hatinya target yang telah tergendam/hipnotis syarat baca doa macan putih setelah puasa 40 hari 40 malam berbuka puasa hanya dengan Nasi Putih,krupuk Sunda yang berwarna putih,minum Air putih Insyaalah Jin Putih aliran Jin Muslim Jin macan Putih akan menjaga sodara dan seluruh keluarga sodara bersama kekasih sodara yang terkena ilmu hitam.

Mengenal Pelet Jawa dan kelemahannya penanggulangan

1/ Pelet gendam asmaradhana .
Pelet ini berfungsi bagi orang yang ruwet dlm soal pacaran .misal si cewek sering di ajak ngesex berulang kali keperawannya diserahkan tp si cowok mau lepas tanggung jawab.intinya Pelet ini fungsinya yaitu meliputi hipnotis dan penyatuan pasangan yang ruwet / mau cerai .nah pelet gendam ini berfungsi untuk hal tsb cocok buat cewek/cowok.

pelet ini sangat keras jadi jgn dibuat maen-maen kalau si target udh manut dan tunduk hrs serius dinikahi kalau tidak si target akan gila sungguhan.ini Pelet gendam golongan Putih.ini bisa untuk cowok/cewek tapi rata-rata yang paling disakiti hatinya cewek.jadi dikhususkan untk cewek saja yah low.

Kelemahannya Pelet ini :
a/ Dilempari Terasi yang udah dihaluskan ke bayangan tubuh target yang ngelmu ilmu tsb di tanah dan di dalam hati berdoa dengan cara bathin “bissmillahhimanirohim demi nama Allah Sejagad,Allohe wong jowo ilang khasiate bar mari tak deleng raine wonge sing ngelmu ,aku mohon ya,Alloh Allohe Muhammadarasululah” ucapkan 4 kali dalam hati “.



2/ Pelet gendam 5 Penjuru .
Pelet ini berfungsi menghipnotis langsung ke targetnya / menggunakan media Foto saja,fungsinya buat mendamaikan kehidupan rumah tangga,orang yang tadinya tidak mencintai kita dalam hati di paksa dengan ilmu pelet ini secara tidak sadar mencintai kita dengan tulus hati dan setia dalam hitungan 15 menit saja langsung tunduk dan manut.

merukunkan suami – isteri yang lagi tengkar,memisahkan PIL / WIL .dikhususkan ke cowok / cewek ingat ini juga sama kerasnya dgn yang diatas dan tidak bisa dianggap maen-maen ini termasuk golongan abangan artinya agak sedikit putih dan agak sedikit hitam.’dont try at home”.

Kelemahannya Pelet ini :
a/ disekitar halaman Rumah ditaburi garam yang sudah di doaai Sabdo Pangucap Syech Siti Jenar dan di dobel dgn ilmu khodam Kolowatu.

3/ Pelet gendam Dewi Lanjar .
Pelet ini berfungsi untuk memaksakan kehendak cinta kita yang udah di tolak ke target sehingga si target di paksa untuk nikah / jadi kan pacar.membantu orang untuk menghancurkan rumah tangganya orang laen hingga orang yang rumah tangganya hancur mau menikah dengan kita.ini pelet golongan hitam yang sangat keras membuat orang jadi tergila-gila kepada kita.

Kelemahan Pelet ini :
a/ Didalam hati kalau bertemu orangnya langsung yang ngelmu ilmu tsb langsung berdoa Bathin dengan bacaan seperti ini :”Bissmillahhimanirohim Alloh sing njogo awakku,Allah sing njogo bojoku,Allah Sing njogo seluruh keluargaku yah “Allah Allahe Muhammadarosulaloh lan Allahe wong sak dunyo Selamatno Keluarga soko Wong Ngelmu – ngelmu ,ilmu Syaitan lan jaga awakku soko Godaan syaitan aL’ajim.”

ingat harus fokus konsentrasi penuh pandangan mata ke target atau orang yang sudah tergendam oleh si target baca 6 kalidalam hati dan campurkan garam ke makanan wanita/pria yangsudah tergendam/hipnotis.setelah anda mensugesti pikiran dan jiwanya secara ucapkan langsung.atau alternatif laen dengan Doa jurus pencak rapalan ajian macan putih seperti begini”YaAllohMuhhamadarosululah ,Ya aku macan putih ,macan Putih ono nang ragaku ,ya Aku Macan Putih ,Yo aku macane Alloh lan macane Muhamaddarasolulah saiki mlebu nang ragaku,amin yah Robbal al Amin.

dibaca dalam hati diarahkan ke hatinya target yang telah tergendam/hipnotis syarat baca doa macan putih setelah puasa 40 hari 40 malam berbuka puasa hanya dengan NAsi Putih,krupuk Sunda yang berwarna putih,minum Air putih Insyaalah Jin Putih aliran Jin Muslim Jin macan Putih akan menjaga sodara dan seluruh keluarga sodara bersama kekasih sodara yang terkena ilmu hitam.


4/ Pelet gendam Ratu Pantai selatan.
Pelet ini difungsikan kepada kaum ADAM saja untuk ditujukan ke kaum hawa.seperti kita minta sesuatu ke wanita semuanya langsung dituruti,mulai minta sex bersetubuh,minta perhiasan dan duit .ini golongan abangan agak hitam dan agak putih; tergantung pemakainya juga kalau pemakainya baik akan jd baik dan pemakainya jahat akan jd jahat.rata-rata pelet gendam ratu pantai selatan ini dimanfaatkan kaum Adam untuk kejahatan jalanan.kamsudnya untk mencopet di bus atau jalan dgn cara hipnotis pelet ini dgn hanya dicolek,di tampar punggungnya si target atau hanya melihat si target.

Kelemahan Pelet ini :
a/ Cara antisipasi lempar pembalut yang ada darah perawannya ke muka pelaku langsng hilang khasiatnya atau balas tamparan punggungnya secara reflek saja atau kalau dicolek org tidak di kenal bales colekannya dgn reflek.

Sejarah Asal Usul Nama BANYUWANGI

12.03

Menurut sejarah wilayah timur pulau jawa yaitu tepatnya dikabupaten banyuwangi pada jaman dahulu kala Banyuwangi memiliki kekayaan alam yang melimpah ruah yang dipimpin oleh seorang Prabu Sulahkromo. Waktu beliau memerintah dibantu oleh seorang patih yang Gagah perkasa, arif , ganteng yang bernama Patih Sidopekso.
Istrinya Patih Sidopekso yang bernama sritanjung adalah seorang wanita yang cantik jelita baik budinya bahkan sampai-sampai Raja-raja dinegeri lain tergila-gila dengan kecantikannya. Agar tercapainyanya Tujuan Raja maka Raja menipu dengan cara merayu Sri Tanjung, dan memerintahkan Patih Sidopekso untuk menunaikan kewajiban yang tidak mungkin dilakukan oleh manusia.
Sidopekso tanpa merasa khawatir dengan tegas dan gagah berani melakukan perintah Raja tersebut. Akhirnya Patih Sidopekso berangkat untuk menunaikan tugas Raja. Prabu Sulahkromo kurang Ajar, yaitu menipu dan merayu dengan cara membuat fitnah kepada Sri Tanjung tetapi ternyata keinginan Raja tidak terwujud karena Sri Tanjung memiliki pendirian yang kuat dia malah terus mendoakan untuk keselamatan suaminya . Akhirnya sang Raja tidak terima rasa cintanya ditolah oleh Sri Tanjung.
Setelah Patih Sidopekso pulang dari menunaikan tugasnya, sang patih langsung menghadap sang Raja Sulahkrama. Akhirnya Akal Busuk Raja keluar, patih sidopekso difitnah dia mengatakan pada sat patih keluar istana Sri Tanjung menghadap raja untuk mengajak berbuat serong  dengan raja.
Tanpa pikir panjang, sang patih langsung menemui sri tanjung  sambil marah-marah dan menuduh sri tanjung tanpa alasan. Namun tentu saja Sri Tanjung berontah dan membantah semua tuduhan akhirnya tanpa pikir panjang Prabu Sidopekso mengancam sri tanjung dan akan membunuhnya. Sri tanjung diseret dipinggir sungai namun sebelum Sri Tanjung dibunuh Sri Tanjung memohon kepada suaminya sebagai bukti kejujurannya dia ingin nantinya Jasadnya diceburkan kesungai itu. Jika darahnya berbau busuk maka dia Bersalah namun Jika darahnya berbau Harum maka dia Tidak bersalah.
Namun Patih sidopekso tetap tidak menghiraukannya, dia mengambil sebilah keris dan menusukkan kepada Sri Tanjung sampai dia meninggal dunia setelah itu jasad sri tanjung diceburkan kesungai namun apa yang terjadi? Ternyata air sungai berbau harum sambil berkata ‘’Banyu wangi …Banyu Wangi yang artinya AIR HARUM maka sampai sekarang daerah itu dinamakan BANYUWANGI.

Agro Wisata Tamansuruh, Banyuwangi

14.00


Taman wisata dan pemandian “Tamansuruh,” Merupakan Obyek Wisata Andalan dan Representatif
Banyuwangi adalah daerah di Jawa Timur yang kaya akan potensi alamnya, khususnya potensi objek wisata, seperti wisata pantai/laut, wisata gunung, wisata kebun, juga didukung dengan Taman Nasional Meru Betiri dan Taman Nasional Baluran. Kini tambah satu lagi tempat tujuan wisata yang cukup representatif yakni Taman Wisata dan Pemandian “Tamansuruh” yang terletak di Dusun Wonosari, Desa Tamansuruh, Kecamatan Glagah, 8 km ke arah barat kota Banyuwangi. Objek wisata Tamansuruh memiliki nilai tambah tersendiri, di samping lokasinya masuk dataran tinggi, bebatuan, hawanya sejuk dan asli. Ditambah lagi dengan dua kolam pemandian bagi orang dewasa dan anak-anak serta tempat majnan anak-anak. Juga di lokasi ini telah tumbuh pohon durian yang jumlahnya cukup ban yak, serta tanaman langka lainnya masih cukup banyak terpelihara, belum lagi sejurnlah bunga-bunga yang tertata sangat apik nan asri.
Lokasi wisata dan pemandian “Tamansuruh” yang memiliki luas 3,5 hektar dulunya adalah tanah yang tidak produktif karena bebatuan dan padas, namun di tengah lokasi ini terdapat sumber air yang bersih dan dingin. Mata air ini adalah sumber menggolo dan sumber waras dan sumber-sumber kecil lainnya. Pohon-pohon bambu dan kopi serta pohon kelapa juga banyak tumbuh dan kini telah tertata dengan baik. Taman wisata dan pemandian “Tamansuruh” ini terwujud berkat kepedulian Ir. H. Soesanto Soewandi dan Hj. Sukowati SS sebagai manajer, untuk mewujudkan tempat tujuan wisata bagi orang-orang Banyuwangi khususnya memang dibutuhkan waktu cukup panjang. Bahkan kedua orang tersebut mempunyai angan-angan taman Wisata dan Pemandian “Tamansuruh” ini menjadi “Sengkalingnya” nya Banyuwangi, atau Selektanya Banyuwangi.

Ir.H. Soesanto Soewandi, kepada Gema Blambangan menjelaskan, untuk dapat mewujudkan angan-angannya ini membutuhkan perhatian cukup besar. Pada 1993 lalu ia melakukan survey dan ternyata tempat ini masuk dalam surveinya. Lalu mulai melakukan pembelian tanah, kepada beberapa warga disana. “Baru awal 1998 kami melakukan pembangunannya. Alhamdulillah pada akhir 1998 lalu sudah bisa dibuka untuk umum,” ujarnya. Menurut Ny. Hj. Sukowati SS, untuk investasi pembangunan Taman Wisata dan Pemandian ini menelan dana Rp700 juta, dengan investasi yang ditanam cukup besar ini, membuat Ny. Sukowati tidak main-main. Menurut rencana Taman Wisata ini akan terus dikembangkan agar betul-betul menjadi tempat tujuan wisata yang handal. “Yah, tujuan pertama kami adalah membuat tempat tujuan wisata bagi masyarakat Banyuwangi atau tamu-tamu dari luar agar benar-benar betah tinggal di Banyuwangi,” ujar Ny. Hj. Sukowati SS yang dibenarkan Soesanto.
Secara rinci Soesanto mengatakan, dibangunnya dua kolam renang ini semata-mata memanfaatkan sumber air waras yang jernih dan bersih serta dingin, kolam renang bagi orang dewasa dibangun dengan luas 750 m² serta luas pelataran dan ruang tunggu alam 2000 m². Sedangkan kolam renang anak-anak dengan luas kolam 300 m² dan merniliki pelataran seluas 600 m² yang dilengkapi ruang tunggu dan ruang bilas. Disamping itu tersedia tempat bermain anak-anak yang cukup representatif dimaksudkan untuk memanjakan anak-anak, sehingga anak-anak akan menjadi betah bermain. Tempat ini memiliki luas 2000 m². Bahkan dalam program pengembangannya nanti akan mengarah pada wisata agro. Di lokasi ini akan ditanami buah-buahan berkualitas yang cocok dengan alam Banyuwangi serta pengenalan tanaman-tanaman langka, dengan luas areal 1,5 hektar. Di dalam lokasi taman wisata ini terdapat beberapa bangunan penunjang, seperti tempat parkir seluas 600 m², kantin dengan aneka masakan khas Banyuwangi, warung cinderamata, ruang tunggu, musholla, pentas hiburan, dan tenda-tenda istirahat. Untuk menuju ke lokasi wisata yang satu ini, tidak terlalu sulit karena pengunjung bisa memanfaatkan angkutan pedesaan jurusan perkebunan Kalibendo, hanya dengan waktu tempuh sekitar 1 jam.
Konon, menurut cerita beberapa warga masyarakat sekitar lokasi Taman Wisata ini bahwa sumber waras yang digunakan untuk mengisi kedua kolam renang tersebut memiliki keajaiban tersendiri. Dulu, menurut cerita Pak Achwan sesepuh Dusun Wonosari itu, seseorang Kepala Desa Mojopanggung menderita sakit yang sulit disembuhkan. Lalu orang tersebut menerima wangsit kalau dirinya disuruh mandi di sumber itu, lalu wangsit itu dilaksanakan, ternyata Kepala Desa yang sakit itu langsung sembuh dari sakitnya. Akhirnya, melihat kenyataan itu Kades yang sembuh dari sakitnya itu mempunyai niat untuk melaksanakan selamatan (kenduri, Red) di sekitar sumber air itu. Disaksikan masyarakat sekitar lokasi itu Kades memberi nama sumber mata air itu dengan nama “Sumber Waras”. Sejak itu, pengalaman kades tersebut diikuti masyarakat lain yang sakit, mandi di sumber waras, dan banyak yang sembuh. Kepercayaan masyarakat hingga kini terus berjalan, bahkan pihak pengelola Taman Wisata dan Pemandian “Tamansuruh” memberikan kartu free pas khusus kepada masyarakat setempat untuk dapat masuk ke lokasi tersebut.
Meski lokasi ini sudah terbangun dengan cukup representatif, pengelola tidak mau berbuat dengan semena-mena terhadap warga di sekitarnya. Pengelola sejak awal pembangunannya menggunakan tenaga kerja dari warga setempat hingga sekarang. Seperti kantin-kantin yang ada dalam lokasi wisata yang dibangun pengelola dimanfaatkan oleh warga, khususnya yang tanahnya dibebaskan untuk objek wisata itu. Mereka bisa menjual masakan khas Banyuwangi sesuai selera pengunjung dan cinderamata sesuai kebutuhan pengunjung. Selain itu, masyarakat sekitar lokasi ini yang memiliki lahan kosong bisa menampung parkir kendaraan bila tempat parkir yang tersedia sudah penuh. Ini merupakan penghasilan tambahan bagi warga sekitar lokasi-wisata. “Kami benar-benar akan memberi peluang pekerjaan bagi warga sekitar sini, dan mengangkat harkat masyarakat. Otomatis dengan adanya lokasi ini tanah mereka harganya menjadi mahal

Selendang Arum , Songgon - Banyuwangi

02.36

Air terjun (Waterfall) dengan pesona memukau baru ditemukan di lereng Gunung Raung aliran Sungai Badeng, tepatnya di Dusun Sumberasih, Desa Sumberarum, Kecamatan Songgon. Air terjun tersebut memiliki ketinggian sekitar 20 meter.
Air terjun satu ini dinilai lebih indah jika dibandingkan dengan air terjun lider di Dusun Lider, desa setempat.  Keistimewaan air terjun satu ini terlihat pada dinding tebing yang dialiri air. Sebab itulah, bebatuan tersebut tampak licin memancarkan kilauan saat cuaca cerah.
Penemuan terjun tersebut tampaknya membuat heboh warga sekitar. Bagaimana tidak, warga sekitar selama ini tidak pernah mengetahui adanya terjun tersebut. Mengingat, lokasi air terjun tersebut memang berada di balik rimbunnya pohon.
Tentu saja, keberadaan terjun tersebut tidak pernah dijamah oleh warga sekitar. Padahal, tak jauh dari lokasi terjun tersebut ada hamparan lahan yang ditanami sayur sladah.
Warga sekitar hanya mengetahui air terjun delik. Selain sudah dikenal, akses menuju lokasi air terjun delik itu memang  mudah. Mengingat, aliran air dari air terjun tersebut sebagian mengaliri lahan yang ditanami sayur sladah.
Penemuan air terjun nan eksotik itu bermula saat dua perangkat desa mencari lokasi air terjun delik.. ‘’Saya hanya penasaran ingin lihat air terjun delik. Katanya bagus,’’ ujar Sugiono, kepala urusan kesejahteraan rakyat (Kaur Kesra), desa setempat saat bersama koran ini mengunjungi air terjun kemarin.
Setelah mengetahui air terjun delik, air terjun tersebut masih belum cukup untuk ‘’dijual’’ sebagai tempat wisata. Namun demikian, dia menanyakan kepada para petani sladah barang kali ada air terjun lain untuk dilihatnya. ‘’Tapi, katanya di bawah lagi ada grojokan,’’ kata Sugiono mengenang.
Karena diselimuti rasa penasaran, dia bersama petani tersebut melihat dari atas grojokan yang dimaksud tersebut. Tapi, setelah dilihat dari atas, pemandangan air terjun tersebut cukup potensial. ‘’Setelah tahu dari atas, saya harus bisa melihat dari bawah,’’ katanya.
Dia pun memutuskan untuk mencari jalan hingga sampai ke bawah. Tapi, kendalanya tidak ada rute yang bisa dijangkau untuk bisa melihat dari bawah. ‘’Saya terpaksa turun ke tebing, cari jalan sendiri dengan teman saya,’’ kisahnya.
Usaha keras tersebut membuahkan hasil, dia pun kaget bukan kepalang melihat panorama air terjun tersebut. ‘’Apa yang saya cari tidak sia-sia. Akhirnya, saya rembukan sama warga untuk membuka jalan agar bisa dilalui pengunjung. Ini bekas-bekas jalan yang masih baru dibuat,’’ terangnya.
Dalam rembug dengan warga itu, akhirnya disepakati jika nama air terjun tersebut dengan nama selendang arum. ‘’Nama itu diambil karena batu-batu itu membentuk selendang. Air terjun ini saya rasa paling indah di Banyuwangi

TMP Wisma Raga Satria Lokasi Internet Favorit Selalu Ramai

23.30
Pinggir Jalan Raya

Lokasi Internet Favorit Selalu Ramai - Sejak 9 Maret 2013 lalu, Banyuwangi memiliki 1.100 titik wireless fideliity (WiFi) yang dapat digunakan untuk ngenet secara gratis. Dari sekian banyak lokasi, Taman Makam Pahlawan (TMP) Wisma Raga Satria termasuk yang paling disukai warga untuk menjelajahi dunia maya.
Tiga tahun lalu, TMP Wisma Raga Satria masih menjadi lokasi yang sepi. Bahkan bisa dibilang, tempat tersebut terkesan menyeramkan. Walau lokasinya berada di jantung kota Banyuwangi, namun pada malam hari, suasana gelap menjadi ciri khas tempat itu.

Siang Hari
Suasana itu berubah drastis sejak dua tahun silam. Lokasi sunyi dan menyeramkan berubah menjadi ramai saat Pemkab Banyuwangi itu menyulap lokasi tersebut menjadi ruang terbuka hijau (RTH). Bagian depan kawasan itu dinamakan taman Sayu Wiwit. Sedangkan yang bagian belakang, tetap disebut TMP Wisma Raga Satria.
Malam Hari

Pada siang hari, lokasi itu terlihat indah dan sejuk dengan taman rumput hijau dan beberapa tanaman pohon kelapa sawit yang tertata rapi. Sedangkan kalau pada malam hari, suasana gemerlap berbagai jenis lampu menyinari di sela-sela pohon yang berdiri tegak dan menambah keindahan taman itu.
Sejak disulap menjadi RTH, lokasi menjadi jujugan dan ramai dikunjungi warga bersama keluarga.
Kemeriahan taman itu bertambah rmai, sejak di launching-nya program Banyuwangi Digital Society (BDISO) 9 Maret lalu.
Dengan program itu, warga Banyuwangi semakin mudah mendapatkan akses internet di beberapa tempat. Ada sekitar 1.100 titik WiFi yang dipasang mulai dari Kecamatan Wongsorejo hingga Kecamatan Kalibaru. Salah satu lokasi yang dipasang WiFi gratis itu adalah spot taman Sayu Wiwit di kompleks RTH TMP Wisma Raga Satria.
Lokasi taman Sayu Wiwit itu bukan satu-satunya RTH dan fasilitas umum yang dilengkapi fasilitas WiFi gratis. RTH lain , seperti Taman Blambangan, Taman Sritanjung, dan lokasi publik lainnya juga dilengkapi fasilitas akses internet.
Hanya, spot Sayu Wiwit di TMP tersebut menjadi pilihan warga untuk akses internet. Sejak tiga bulan ini terakhir ini, taman itu selalu ramai dipadati warga. Mulai pukul 09.00 setiap hari, warga mulai memadati lokasi yang berhadapan langsung dengan kantor Bupati Banyuwangi itu. Sedangkan kalu malam hari, warga masih terlihat ngenet hingga larut malam. Dalam sehari, praktis lokasi itu tidak pernah sepi dari warga yang sedang berselancar di dunia maya.
Aktivitas akses internet di Taman Sayu Wiwit mulai dibatasi. Saat ini, pengelola RTH TMP Wisma Raga Satria mulai membatasi aktivitas warga pada malam hari. Untuk malam hari, aktivitas ngenet dibatasi hingga pukul 24.00.
mengapa lokasi itu menjadi favorit warga? Sebagian besar pengunjung taman mengaku akses internet di lokasi itu lebih cepat daripada wifi di lokasi lain.
Sebagian besar pengunjung adalah pelajar dan mahasiswa mengaku sudah mengetahui lokasi yang tersedia WiFi gratis. Namun mereka memilih spot Sayu Wiwit sebagai lokasi idaman untuk mengembara melalui dunia maya.
Selain faktor akses internet yang cepat, lokasi itu dipilih karena suasana tamanya menyenangkan. Dari pantauan Jawa Pos Radar Banyuwangi, aktivitas akses internet yang dilakukan warga beraneka ragam. Mulai dari aktivitas pekerjaan, akses materi pelajaran, hingga akses acara-acara hiburan dan olah raga.”Lagi mengerjakan tugas programmer.Internet cepat,” ujar Kiki, seorang siswa SML di TMP Wisma Raga Satria kemarin (2/6).
Sedangkan pengunjung RTH lainnya, seperti Taman Sritanjung dan Taman Blambangan sama-sama ramai. Namun mereka datang, bukan untuk ngenet melainkan untuk berolahraga. Beberapa warga ada terlihat yang melakukan akses internet namun tidak seramai di Taman Sayu Wiwit. Itu pun hanya terjadi pada hari minggu dan hari-hari libur lainnya.

Indahnya Menyusuri Bersihnya Pasir di Pantai Gerajagan

11.53


Grajagan, nama ini sangat familier di Banyuwangi-jawa Timur, Grajagan merupakan pantai yang menarik untuk dikunjungi. Selain luas, nuansa pantai tersebut diselimuti oleh pasir bersih. Persis di seberang pantai, nampak bukit yang gagah terhujam ke bumi dengan kuatnya. Dan di sekitarnyanampak kampung nelayan menambah pesona Grajagan semakin anggun. Wisatawan dapat membeli beberapa jenis ikan laut hasil tangkapan nelayan tersebut. Bahkan ada Gua pertahanan di jaman Jepang juga ada di tempat wisata ini. Grajagan kira-kira 53 km ke arah selatan dari Banyuwangi.

Sepanjang pantai selatan Banyuwangi ini menjanjikan keindahan alamnya yang tiada tara khususnya pada deretan lereng gunung-gunung, perkebunan, pantai, dan lautan yang terbentang luas dari hamparan Samudera Hindia. Seperti halnyaPantai Grajagan ini, Plengkung dan pantai lainnya yang ada di TN Alas Purwo. Grajagan sangat ideal sebagai tempat transit atau sebagai pintu gerbang untuk menuju ke pantai Plengkung. Disamping lokasinya tidak terlalu jauh untuk menuju ke TN Alas Purwo, Grajagan nan indah dan jauh dari kebisingan kota. Dari Grajagan untuk menuju ke Plengkung dibutuhkan waktu sekitar dua jam menyusuri pantai menggunakan perahu sewa, perjalanan tersebut ternyata hampir sama bila kita menggunakan mobil dengan melewati jalur darat. Hal ini disebabkan jalan makadam menuju ke TN Alas Purwo, kondisinya sangat buruk sekali.
Grajagan bisa dijadikan alternatif pilihan bagi wisatawan yang ingin melancong ke TN Alas Purwo dengan menggunakan perahu. Kawasan seluas 314 hektar ini berada di hutan KPH Banyuwangi Selatan, tepatnya di petak 111 BKPH Curahjati atau secara administratif pemerintahan terletak di desa Grajagan, Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi. Wanawisata ini dikelola oleh Kesatuan Bisnis Mandiri – Wisata, Benih dan Usaha lainnya (KBM-WBU) Perum Perhutani Unit II Jawa Timur Di Wanawisata Grajagan, juga tersedia fasilitas berupa penginapan. 
Bagi pengunjung yang ingin bermalam menikmati keheningan alam dengan paduan deburan ombak yang menggebu tak perlu khawatir, dilokasi wisata ini terdapat 10 kamar dan 2 rumah berbentuk bungalow yang menghadap kearah laut. Tarifnyapun sangat variartif dan terjangkau antara 100 ribu – 150 ribu. Pelayanan di Wanawisata ini juga non stop selama 24 jam. Namun wisatawan yang datang di tempat ini kebanyakan hanya wisatawan lokal, jarang sekali turis bermalam disini, ujar Supardi selaku penjaga wanawisata Grajagan yang sudah lebih 14 tahun bekerja ditempat ini.
Kendati demikian, tempat ini tetap layak untuk dijadikan sebagai tempat transit bagi turis yang ingin ke TN Alas Purwo, imbuhnya. Wanawisata Grajagan ini umumnya hanya rame dikunjungi pada hari libur saja, selain bisa menikmati keindahan pantai dengan paduan hutan ini, pengunjung dapat menyaksikan langsung aktifitas nelayan pada pagi hari saat berangkat mencari ikan dan menurunkan ikan hasil tangkapannya.
Pemandangan lain yang bisa dinikmati disini melihat deburan ombak laut lepas dari atas shelter dan tiga gua Jepang yang menghadap kearah laut selatan, yang merupakan peninggalan tentara Jepang pada masa perang dunia kedua. 
Jika ingin menuju lokasi ini sangatlah mudah, ruas  jalannya sudah beraspal dan bias ditempuh menggunakan mobil pribadi atau kendaraan umum hingga ke lokasi. Jika naik kendaraan umum dari arah Kota Banyuwangi bisa naik bus jurusan Jember atau sebaliknya, dan turun di Benculuk, dari Benculuk perjalanan dilanjutkan naik angkutan pedesaan sekitar 12 Km menuju Grajagan.
Perjalanan yang menarik dari Grajagan ke Alas Purwo adalah saat menggunakan perahu sewa, terutama menuju lokasi pantai Ngagelan yang merupakan tempat penangkaran penyu belimbing, abu-abu dan hijau. Hampir setiap malam petugas disini selalu mencari telur penyu untuk ditetaskan, wisatawan yang sudah sampai di Ngagelan ini bisa melepas langsung penyu yang sudah siap dan waktunya dilepas ke laut lepas setiap saat.

Lapter Blimbingsari Pintu Masuk Wisatawan

11.49


Keberadaan lapter atau lapangan terbang Blimbing Sari yang ada di Banyuwangi dapat menjadi pilihan baru yang dapat dipilih bagi wisatawan yang datang dari Bali ke Banyuwangi atau wisatawan dengan paket Bali Plus.

Menurut Kabid pemasaran Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur, Sunarmadji, adanya lapter ini  adalah hasil kerjasama antara pemerintah Propinsi Jawa Timur dengan Propinsi Bali untuk menarik wisatawan Bali agar datang ke Jatim atau Banyuwangi.

Selama ini, lanjut Narmadji, wisatawan yang datang ke Banyuwnagi dari Bali harus melalui jalur yang berbelit-belit (oper). Dengan adanya lapter ini, diharapkan akan dapat menjadi pilihan bagi wisatawan yang ingin ke Banyuwangi dengan cara cepat. “Selama ini kan jalurnya terlalu panjang, masih harus oper-oper, dengan adanya lapter ini, kini bisa langsung dari Bali menuju Banyuwangi”, ujarnya

Ia tidak berharap banyak dengan adanya lapter baru ini. Pasalnya, kapasitas pesawat hanya berkapasitas 7 orang saja. “Ini baru alternative dari berbagai pilihan yang ditawarkan”, ujarnya

Meski begitu, sambutan dari stake holder di Bali menurutnya sangat antusias dengan adanya lapter baru ini. Namun ia tidak menampik adanya kekurangan yang dimiliki obyek wisata Jatim atau Banyuwangi. Salah satunya fasilitas jalan atau infrastruktur yang kurang mendapat perhatian.

“Ya, kita memang masih memiliki kekurangan dari segi infrastruktur, jalan-jalan yang masih rusak dan membutuhkan perbaikan. Tapi itu akan segera kita perbaiki”, lanjut Narmadji.

Menurutnya banyak obyek wisata yang ditawarkan di Banyuwangi, seperti Kawah Ijen, Ijen Resort, perkebunan, alas purwo, Pantai Plengkung, dll.
Namun ke depan, setelah pembenahan infrastruktur-infrasturktur, Disbudpar Jatim bakal menambah pengoperasian pesawat Foker yang dapat mengangkut penumpang berkapasitas 50-60an orang.

“Saat ini memang masih terbatas kapasitas penumpangnya, hanya 7 orang (pesawat kecil). Namun setelah semuanya tertata akan kita jadwalkan penerbagan dua kali sehari dengan pesawat Foker”. Akunya. luk

Pesona Sunset di Segara Anakan

11.46


Tiga perahu “Gondang-Gandung” terlihat beriringan menuju barat daya, menyusuri hutan bakau, sementara para wisatawan terlihat menikmati pemandangan berupa satwa penghuni mangrove.

Kami pun tidak ketinggalan mengabadikan momen ini, sambil berharap ada kejutan baru yang bakal mengisi kamera digital.

Yup...saat menyusuri Alas Purwo dari pantai Ngagelan (Marengan) kesebelah utara, para wisatawan bisa menikmati Rowo Bedul ( penduduk sekitar lebih suka menyebutnya Segara Anakan) lokasi hutan mangrove ini terletak di kecamatan Purwoharjo. Jika ditempuh dari pantai Ngagelan, wisatawan harus berjalan sekitar 1 km, menyusuri hutan jati dengan rimbun. Ada tiga rute yang bisa ditempuh, yakni dari Banyuwangi - Srono - Muncar-Tegaldlimo-Sumberasri-Bedul, kemudian dari Banyuwangi-srono-benculuk-purwoharjo-sumberasri-bedul serta dari Jember-benculuk-Purwoharjo-sumberasri-Bedul

Sekedar infomasi, luas hutan mangrove sekitar 2.300 hektar, hutan ini berada di kawasan Taman Nasional Alas Purwo dan di Kawasan Perhutani.  Di rawa bedul, masih di sektor Ngagelan, terdapat dermaga perahu yang akan membawa wisatawan keliling rawa bedul. Jika kesulitan mendapatkan informasi, kita bisa memesan ke pemandu wisata yang ada di pantai Ngagelan.

Sensasi menaiki perahu di Segara Anakan akan terasa menyenangkan jika dilakukan sore hari. Sebab suasana menjelang malam di Rawa Bedul, terlihat memukau, karena Matahari tenggelam di sela-sela hutan mangrove. Banyak satwa di hutan bakau yang bisa dinikmati, mulai dari kera, biawak, burung elang, burung dara laut, belibis, bangau, ikan terbang, kodok rawa (mudskeper), king fisher, kecuk, kirik-kirik hingga burung migran dari benua Australia.

Sambil menunggu matahari yang bersiap ke peraduan. Sepanjang perjalanan, wisatawan juga dapat menikmati hidangan yang disiapkan dalam satu paket wisata ini. Nasi putih dibungkus daun pisang dengan lauk ikan laut, serta lalapan sambal siap menemani wisatawan menikmati 27 jenis mangrove di sepanjang kanan dan kiri segara anakan.

Perahu ”Gondang-Gandung” yang beroperasi di Rawa Bedul dapat menampung sekitar 10 wisatawan. Dengan motor penggerak berbahan bakar diesel, moda transportasi penduduk setempat ini akan membawa wisatawan menuju dermaga Pandang yang terletak di desa bedul, kecamatan Purwoharjo.Setelah sampai di dermaga bedul, maka wisatawan bisa menginap, pengelola wisata bedul menyediakan Home Stay di rumah penduduk sekitar hutan mangrove yang telah ditunjuk.

Tips Berwisata di Rawa Bedul:

1. Jangan membuang sampah di Rawa.

2. Sebaiknya membawa lotion anti nyamuk, sebab di hutan sektor Marengan, banyak nyamuk

3. Jika hendak bermalam, tidak ada salahnya membawa perlengkapan mancing. Sebab sensasi memancing di Rawa Bedul cukup menyenangkan.

4. Bawalah senter karena tidak ada penerangan. Cahaya yang tersedia hanya pantulan sinar rembulan.

Selamat berwisata di Rawa Bedul

Surga Penyu di Pantai Ngagelan

11.32


Hujan mulai turun di sepanjang Alas Purwo, ketika kami memasuki kawasan pantai Ngagelan. Di rumah yang disediakan oleh pengelola Taman Nasional Alas Purwo, tampak wisatawan dari Jerman asik mengamati poster WWF Indonesia bertuliskan ”Selamatkan Penyu”. Gubuk kayu ini bukanlah penginapan, melainkan pusat informasi dan penangkaran Penyu.

Ngagelan terletak 7 km ke arah barat dari pantai Trianggulasi. Warga sekitar alas Purwo lebih suka menyebutnya Pantai Marengan. Jarak tempuh dari pos Rowo bendu sekitar 30 menit, jalan yang ditempuh cukup eksotis, karena disebelah kanan dan kiri terdapat pepohonan tinggi yang subur.
Topografi wilayahnya tidak jauh berbeda dengan pantai lain yang membentang sepanjang bibir pantai selatan alas purwo. Menariknya adalah, pada bulan Mei dan Juni, pantai ini kerap dikunjungi oleh penyu-penyu dari Samudra Hindia (laut selatan) yang ingin menetas. Seolah tanpa dikomando, ratusan penyu ini mendarat di bibir pantai dan menetaskan telurnya.

Hamparan pasir yang bersih dengan kombinasi hutan mangrove dan hutan tropis membuat penyu-penyu ini merasa nyaman untuk menetaskan telurnya. Paidi, petugas penangkaran penyu mengatakan, pada bulan April, Mei dan Juni, ketika angin pasat dari timur membawa udara hangat ke pesisir pulau Jawa, penyu – penyu dari laut selatan mendarat di bibir pantai. Siklus cuaca ini menjadi salah satu faktor penyu untuk melakukan persalinan.

Persalinan Penyu di pantai Ngagelan menjadi daya tarik wisata bahari. Setiap malam, ada sekitar 30 penyu yang melakukan persalinan. Meski bertelur pada malam hari, namun penyu tersebut tidak akan mendarat bila di pantai tersebut dikunjungi orang.

Itulah sebabnya, bagi wisatawan yang hendak mengambil gambar, maka harus menunggu hingga pukul 23.00, waktu inilah yang tepat karena air laut mulai sampai di bibir pantai, dan penyu sudah bersiap pasir. Setelah melakukan persalinan di pasir, penyu tersebut kembali ke laut. Selanjutnya, petugas Taman Nasional Alas Purwo mengambil telur tersebut untuk ditetaskan secara semi alami.

Di pusat penangkaran penyu (masih dalam komplek pantai Ngagelan) terdapat bak-bak penetasan Setelah telur menetas, bayi penyu diberikan perawatan sampai berumur 5 bulan. Pasir di pantai Ngagelan sangat kondusif bagi proses bersalin empat jenis penyu antara lain jenis penyu abu-abu (lupidochelys olivaceae), penyu hijau (chelonian mydas), penyu sisik (eretmochelys imbricate) serta penyu belimbing (darmochelys coreacea). Jenis –jenis tersebut adalah empat penyu dari tujuh jenis penyu yang ada didunia.

 Tips berwisata di Ngagelan:
1. Jangan mengambil apapun, termasuk tumbuhan dan benda lain, karena akan merusak ekosistem yang ada.
2. Sebaiknya membawa kamera digital karena banyak momen yang bisa diabadikan.
3. Bawalah bekal yang cukup, karena jarak pantai ngagelan dari pos Rowo bendo (warung dan pusat makanan) mencapai 5 Km.
4. Berilah tip untuk guide, karena mungkin anda membutuhkan berbagai informasi yang dibutuhkan untuk kegiatan wisata Anda.

Selamat berkunjung di Surga Penyu.

Geredoan - Tradisi Mencari Jodoh Khas Banyuwangi

11.23
( Geredoan - Tradisi Mencari Jodoh Khas Banyuwangi )



Banyuwangi adalah kota atau daerah yang memiliki multi kebudayaan yang patut dibanggakan oleh masyarakat Using. Kebudayaan yang ada di Bumi Blambangan pun berjalan secara turun menurun. Seperti halnya adalah Geredoan, yang ada di daerah Kecamatan Kabat, Banyuwangi.

          Geredoan adalah tradisi yang dilakukan untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Geredoan berasal dari kata Gredo yang artinya menggoda. Sebab, yang menggoda dalam tradisi ini adalah si pria, bukan si gadis. Tradisi ini merupakan salah satu rangkaian dari beberapa acara yang dilaksanakan masyarakat Using.

          Acara ini dimulai malam hari sebelum Muludan Gedi dilaksanakan, yaitu sehabis Maghrib sampai pukul 00.00 WIB. Karena begitu terkenalnya tradisi ini, seolah – olah menempatkan Geredoan sebagai tradisi yang terpisah dari Muludan Gedi. Dan pemuda-pemuda Banyuwangi pun sangat senang bila tradisi ini diadakan. Karena itulah yang membuat mereka memiliki rasa “ Cinta Banyuwangi  “.

          Tradisi ini dimulai saat warga Kecamatan Kabat mengundang banyak gadis dari desa lain. Mereka di undang untuk membantu memasak atau mempersiapkan untuk acara Muludan Gedi besoknya. Ketika mereka memasak, si pemuda mulai mengintip si gadis yang berada di dapur dari celah gedhek ( anyaman bambu ). Tanpa di undang pun, si pemuda berbondong-bondong untuk datang. Mereka yang boleh mengikuti tradisi ini adalah pemuda yang belum pernah menikah atau yang sudah menikah namun sudah bercerai ( duda atau janda ). Setelah mereka mendapatkan gadis yang diinginkan, si pemuda mulai menggeredo dan mengajak si gadis untuk mengobrol di teras rumah. Biasanya si pemuda menggeredo si gadis dengan pantun yang menggunakan bahasa Using. Lalu, jika dirasa sudah memiliki kecocokan, mereka bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih dalam dengan cara menemui keluarga si gadis.

          Jika dari satu rumah si pemuda tidak mendapatkan gadis yang diinginkan, meraka boleh pindah ke rumah yang lain untuk mendapatkan gadis sesuai keinginan mereka. Jadi mereka bebas untuk mampir  dari rumah warga yang satu ke rumah warga yang lainnya. Sebab itulah, pemuda-pemuda Banyuwangi, khususnya pemuda Kecamatan Kabat sangat antusias jika tradisi ini dilaksanakan. Karena begitu banyaknya, kisah yang mempertemukan jodoh bagi mereka, maka tradisi ini dijadikan sebagai ajang untuk mencari jodoh.

          Geredoan sangat menarik untuk diikuti semua pemuda yang belum mendapatkan jodoh, sehingga pemuda-pemuda dari desa lain atau dari kota lain di seluruh Indonesia bisa datang ke Kecamatan Kabat untuk mengikuti tradisi ini. Seiring dengan adanya event “ Banyuwangi Digital Society.

Asal-Usul Ritual Kebo-Keboan Banyuwangi

11.17


Membahas tuntas Kota Banyuwangi, akan terkuak sebuah suku yang memiliki kesenian unik, yaitu Suku Using. Masyarakat Using adalah keturunan Kerajaan Blambangan, mereka memiliki kesenian Kebo-Keboan yang merupakan suatu permohonan kepada Tuhan agar panen mereka subur dan dijauhi dari malapetaka.

Meski zaman kian beralih, namun setiap tahun masyarakat Banyuwangi berupaya keras mempertahankan kemurnian dan kesakralan kebudayaan mereka. Konon, tradisi ini dimulai sejak abad-18, ketika itu masyarakat Desa Alasmalang dilanda musibah wabah penyakit berkepanjangan yang disebut brindeng atau pagebluk. Peyakit ini tidak ditemukan obatnya, bagi yang terkena pada pagi hari, maka sore harinya akan mati, jika malam kena, paginya akan mati, begitulah seterusnya.

Selain itu, masyarakat Alasmalang yang sebagian besar bermata pencaharian petani itu pun lahan pertaniannya dilanda hama tikus yang amat besar, mereka terancam gagal panen. Bertindaklah salah satu sepuh desa, yaitu Mbah Buyut Karti untuk mengambil tindakan, guna melenyapkan penyakit pagebluk dan hama tikus tersebut. Ia menggelar ruwatan atau ritual, beberapa orang manusia didandani seperti kerbau, dari sinilah kemudian nama “Kebo-Keboan” muncul.

Mengapa kerbau? Ya, karena kerbau merupakan hewan yang diakui sebagai mitra petani di sawah, kerbau yang diperankan manusia itu melambangkan betapa hubungan mitra antara petani dengan kerbau harus dipertahankan. Seluruh tubuh didandani dengan coretan hitam dari arang, lengkap dengan tanduk kerbau, ini juga sebagai simbol yang menunjukan bahwa kerbau merupakan tumpuan mata pencaharian masyarakat Alasmalang yang mayoritas sebagai petani.

Ritual Kebo-Keboan terbagi atas beberapa tahapan, tujuh hari sebelum pelaksanaan, sang pawang melakukan meditasi di beberapa tempat yang dianggap keramat, yaitu, di Watu Loso (sebuah batu yang berbentuk seperti tikar),  Watu Gajah (batu yang berbentuk seperti gajah) dan Watu Tumpeng (batu yang berbentuk seperti tumpeng).

Pawang tersebut haruslah keturunan Mbah Buyut Karti, ia juga diwajibkan menyediakan sesaji yang terdiri dari tumpeng, peras, air kendi, kinang ayu, aneka jenang hingga inkung ayam, serta kue, dan nasi tumpeng yang nantinya dibagikan kepada masyarakat yang hadir.

Rombongan peserta ritual berjuluk Ider Bumi ini akan berjalan menuju bendungan yang dibuka sehingga air mengaliri jalanan yang telah ditanami palawija. Aroma kemenyan tercium sesaat lepas dupa dibakar  menemani hingga proses ritual selesai.

Rombongan kerbau tersebut kemudian berkubang dan membajak sawah seperti pada umumnya yang diikuti oleh beberapa orang pemuda yang menanami benih padi. Puncaknya adalah ketika warga berebut benih padi yang ditanam tadi, namun itu tidak mudah karena “kerbau-kerbau” yang sudah diberi mantra akan secara beringas menyeruduk warga yang berusaha mengambil benih padi tadi. Benih padi dipercaya sebagai penolak bala, mendatangkan keberuntungan dan membawa berkah. Tradisi ini diakhiri dengan pagelaran wayang kulit malam harinya.

Unsur mistik dalam tradisi Kebo-Keboan memang masih kental. Sesajen harus dipenuhi tanpa ada yang kurang, jika itu terjadi tidak jarang akan terjadi kesurupan. Walaupun begitu, tradisi ini sarat akan nilai kebersamaan, ketelitian, gotong royong, dan religious, tak heran jika masih dipertahankan oleh masyarakat Banyuwangi.