Tampilkan postingan dengan label banyuwangi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label banyuwangi. Tampilkan semua postingan

Ritual Tari Seblang di Banyuwangi

02.41

Ritual Seblang adalah salah satu ritual masyarakat Using yang hanya dapat dijumpai di dua desa dalam lingkungan kecamatan glagah banyuwangi yakni desa Bakungan dan Olihsari. Ritual ini dilaksanakan untuk keperluan bersih desa dan tolak bala, agar desa tetap dalam keadaan aman dan tentram. Ritual ini sama seperti ritual Sintren di wilayah cirebon, Jaran Kepang, dan Sanghyang di Pulau Bali.

Penyelenggaraan tari Seblang di dua desa tersebut juga berbeda waktunya, di desa Olihsari diselenggarakan satu minggu setelah idul fitri, sedangkan di desa Bakungan yang bersebelahan, diselenggarakan seminggu setelah idul adha.

Para penarinya dipilih secara supranatural oleh dukun setempat, dan biasanya penari harus dipilih dari keturunan penari seblang sebelumnya. Di desa Olihsari, penarinya haruslah gadis yang belum akil balik, sedangkan di Bakungan, penarinya haruslah wanita berusia 50 tahun ke atas yang telah mati haid

Tari Seblang ini sebenarnya merupakan tradisi yang sangat tua, hingga sulit dilacak asal usul dimulainya. Namun, catatan sejarah menunjukkan bahwa Seblang pertama yang diketahui adalah Semi, yang juga menjadi pelopor tari Gandrung wanita pertama (meninggal tahun 1973). Setelah sembuh dari sakitnya, maka nazar ibunya (Mak Midah atau Mak Milah) pun harus dipenuhi, Semi akhirnya dijadikan seblang dalam usia kanak-kanaknya hingga setelah menginjak remaja mulai menjadi penari Gandrung.

Tari Seblang ini dimulai dengan upacara yang dibuka oleh sang dukun desa atau pawang. Sang penari ditutup matanya oleh para ibu-ibu yang berada dibelakangnya, sambil memegang tempeh (nampan bamboo). Sang dukun mengasapi sang penari dengan asap dupa sambil membaca mantera. Setelah sang penari kesurupan (taksadarkan diri atau kejiman dalam istilah lokal), dengan tanda jatuhnya tempeh tadi, maka pertunjukan pun dimulai. Si seblang yang sudah kejiman tadi menari dengan gerakan monoton, mata terpejam dan mengikuti arah sang pawang atau dukun serta irama gendhing yang dimainkan. Kadang juga berkeliling desa sambil menari. Setelah beberapa lama menari, kemudian si seblang melempar selendang yang digulung ke arah penonton, penonton yang terkena selendang tersebut harus mau menari bersama si Seblang. Jika tidak, maka dia akan dikejar-kejar oleh Seblang sampai mau menari.

musik pengiring Seblang hanya terdiri dari satu buah kendang, satu buah kempul atau gong dan dua buah saron. Sedangkan di Olihsari ditambah dengan biola sebagai penambah efek musikal.

Dari segi busana, penari Seblang di Olihsari dan Bakungan mempunyai sedikit perbedaan, khususnya pada bagian omprok atau mahkota.

Pada penari Seblang di desa Olihsari, omprok biasanya terbuat dari pelepah pisang yang disuwir-suwir hingga menutupi sebagian wajah penari, sedangkan bagian atasnya diberi bunga-bunga segar yang biasanya diambil dari kebun atau area sekitar pemakaman, dan ditambah dengan sebuah kaca kecil yang ditaruh di bagian tengah omprok.

Pada penari seblang wilayah Bakungan, omprok yang dipakai sangat menyerupai omprok yang dipakai dalam pertunjukan Gandrung, hanya saja bahan yang dipakai terbuat dari pelepah pisang dan dihiasi bunga-bunga segar meski tidak sebanyak penari seblang di Olihsari. Disamping unsure mistik, ritual Seblang ini juga memberikan hiburan bagi para pengunjung maupun warga setempat, dimana banyak adegan-adegan lucu yang ditampilkan oleh sang penari seblang ini.

Teater Janger atau kadang disebut Damarwulan atau Jinggoan, merupakan pertunjukan rakyat yang sejenis dengan ketoprak dan ludruk. Pertunjukan ini hidup dan berkembang di wilayah Banyuwangi, Jawa Timur serta mempunyai lakon atau cerita yang diambil dari kisah-kisah legenda maupun cerita rakyat lainnya. Selain itu juga sama-sama dilengkapi pentas, sound system, layar/ tirai, gamelan, tari-tarian dan lawak. Serta pembagian cerita dalam babak-babak yang dimulai dari setelah Isya hingga menjelang Subuh.

Legenda Putri Rengganis di Banyuwangi

02.29
Rengganis adalah kesenian drama tadisional yang berkembang di Banyuwangi, diperkirakan berasal dari Kerajaan Mataram Islam. Sebetulnya masalah nama kesenian tersebut di Banyuwangi sangat beragam, ada yang menyebut Prabu Roro, ada yang juga yang menyebut Umar Moyo. Namun ada benang merahnya, yaitu nama-nama tersebut mengacu kepada nama tokoh yang diangkat dalam kesenian tersebut. Antara lain Putri Rengganis dan Prabu Roro seorang raja putri dan adipati Umar Moyo dari kerajaan Guparman.

Namun hingga saat ini belum ada penelitian yang mengakitkan dengan keberadaan kesenian serupa yang sampai sekarang masih berkembang di daerah Bantul dan Sleman Togyakarta Sementara cerita yang diangkat dari kesenian "Rengganis" diambil dari buku Serat Menak. Tokoh-tokoh yang populer dalam kesenian Rengganis adalah Jemblung, abdi Umar Moyo, Lam Dahur (kalau dalam pewayangan mirip Werkudoro) Pati Tejo Matal, Jayengrono.

Selain unsur-unsur islam yang sangat menonjol dalam kesenian tersebut, juga ada kalimat-kalimat mantra yang sering diuncapkan Umar Moyo saat meminta kekuatan senjata pamungkasnya, yaitu Kasang Tirto Nadi. Umar Moyo Selalu berucap "Laillah Hailalloh Nabi Ibrohim Kamilulloh. Mbal-Gambal Mustoko malih. Sang Kasang Tirtyo Nadi, aku njaluk panguasamu kasang iso ....."

Setiap tokoh mempunyai karasteristik, seperti tokoh pewayangan. Teknik pentas dan jejer, atau sampa'an seperti dalam wayang orang Setiap adegan, tokoh suatu kerajaan akan keluar bersama-sama. Kecuali permasuiri, Raja dan para patik. Tari setiap tokoh juga mempunyai ciri khas tersendiri, begitu juga gending musik pengiring.

Pada tahun 1960-an, atau ketika pergolakan politik di negeri ini. Selain seni drama yang bersumber cerita dari penyebaran Islam di Persia, Rengganis juga sering digunakan alat Propaganda oleh LESBUMI dari NU. Sementara LKN dengan Angklung Dwi Laras dan (Lekra?) PKI dengan kesenian Genjer-Genjer.

3 Tujuan Wisata Paling Memukau di Banyuwangi

16.20

Siapa sih yang tidak kenal dengan kota yang satu ini? Kota eksotis yang berada di ujung timur dari Provinsi Jawa Timur, kota yang sering menjadi tempat mengantri kapal veri untuk menyebrang ke Pulau Dewata, Bali.

Kota yang dijuluki sebagai "Sunrise of Java" ini memiliki sejuta keindahan alam yang tidak boleh dilewatkan begitu saja ketika kita mampir di Banyuwangi. Ada beberapa rekomendasi tempat wisata yang tidak kalah menarik dengan tempat wisata di kota lainnya.

1. Kawah Ijen “Ijen Crater”


Kawah Ijen yang letaknya di perbatasan Kabupaten Banyuwangi dengan Kabupaten Situbondo. Tempat ini bisa ditempuh 1-2 jam dari Kota Banyuwangi, kemudian dilanjutkan mendaki ke puncak antara 1-2 jam (untuk pemula dan jalan santai). Tidak usah khawatir, rute pendakian dan jalanannya tidak susah karena petugas setempat sudah membuat sedemikian rupa agar pengunjung mudah untuk mencapai puncak. Dan sungguh luar biasa ketika pengunjug sudah dapat mencapai puncaknya karena rasa lelah selama pendakian akan terbayar dengan nuansa indah alami di puncak. Pengunjung akan mendapat bonus tersendiri ketika berkunjung ke kawah ijen di dini hari (karena diizinkannya adalah sekitar pukul 01.00 WIB) di sana, ketika melihat lebih dekat ke kawahnya, ada yang menakjubkan yaitu adanya “Blue Fire”  yang mana hanya ada dua di dunia dan salah satunya itulah yang berada di Banyuwangi, Jawa Timur, Indonesia. Dan setiap tahunnya pemerintah setempat mengadakan acara internasional sebagai salah satu ajang promosi Banyuwangi yaitu ”Tour de Ijen”.


2.  Pulau Merah Red Island

Pulau Merah letaknya di Kabupaten Banyuwangi bagian selatan, untuk menjangkau tempat ini dibutuhkan sekitar 2-3 jam dari Kota Banyuwangi, rute dan medan jalan yang ditempuh sangat mulus, karena pada setia tahunnya rute ini dilewati dalam penyelenggaraan acara “Tour de Ijen” . Pantai dengan pasir putih siap menyambut kedatangan pengunjung yang berkunjung di Pulau Merah tersebut, desiran ombak laut yang besar sangat indah dan mengasyikkan untuk dinikmati. Dan seperti namanya, Pulau Merah, terdapat sebuah pulau kecil diseberang pantai yang menjulang seperti bukit degan tanah berwarna merah. Ombak dan panoramanya sanggup menarik wisatawan betah untuk berada di lokasi. Dan sempat diadakan perlombaan selancar berskala internasional pada 2013 di Pulau Merah tersebut.



3. Teluk Hijau “Green Bay”


Berbeda dengan Pulau Merah, Teluk Hijau memiliki jarak tempuh lebih jauh, butuh 3-4 jam untuk mencapai lokasi atau lebih. Selain itu medan tempuh yang dilewati pun lebih ekstrim, meskipun pada awalnya masih mulus. Letak tempat wisata ini sama dengan Pulau Merah, namun masih jauh lagi jaraknya. Dan ketika rute menuju Teluk Hijau pisah dari rute Pulau Merah, maka jalan bebatuan harus siap ditempuh. Ketika sampai di lokasi, pengunjung harus rela berjalan untuk akhirnya sampai di bibir pantai berkisar antara 2 km yang bisa ditempuh 1 jam perjalanan karena medannya pun cukup menantang. Namun, keindahan pesona teluk akan membayar semua kelelahan dalam perjalanan. Pasirnya yang puih, air lautnya yang biru kehijauan, dan alamnya yang masih asri sungguh luar biasa, berutung ketika pengunjung dapat menjumpai panghuni setempat alias monyet. Keeksotisan Teluk Hijau dapat dinikmati setelah melewati Pantai Batu. Keperawanan Teluk Hijau masih terjaga, karena sebenarnya, belum banyak wisatawan yang tahu tentang wisata Teluk Hijau ini namun, sungguh panoramanya luar biasa indah.

Jadi, nunggu apa lagi? Ayo mari berwisata ke Banyuwangi. I Love Banyuwangi :)

Hotel Santika Banyuwangi Telah di Resmikan

15.53

Akhirnya, Hotel Santika Banyuwangi diresmikan pada Rabu, 11 Maret 2015 ditandai dengan pemukulan gong oleh Bupati Banyuwangi, H Abdullah Azwar Anas M.Si. Peresmian ini juga ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Bupati Banyuwangi, lantas diserahkan kepada PT Graha Sahari Wangi, CEO Kompas Gramedia & General Manager Hotel Santika Banyuwangi, Fabian Cahyadi Hadi.



Hotel Santika Banyuwangi yang merupakan hotel ke-79 dari Santika Indonesia Hotels & Resort dan hotel ke-22 dari kelompok hotel Santika dengan bintang tiga ini semakin melengkapi line-up Santika Hotel Group dalam melayani kebutuhan hotel akan konsumen kelas menengah hingga atas.

Lokasinya yang sangat strategis di pusat kota Banyuwangi, dekat dengan pusat bisnis & wisata serta Bandara Blimbingsari, membuat Hotel Santika Banyuwangi pilihan yang sangat tepat untuk travelers yang melakukan perjalanan bisnis maupun wisata. Travelers tak perlu direpotkan dengan harus menginap di dua tempat yang berbeda, karena Hotel Santika Banyuwangi terjangkau baik dari kawasan bisnis maupun wisata tersebut.

Dengan 125 kamar dan suites yang disediakan, Hotel Santika Banyuwangi memberikan berbagai pilihan kamar untuk para tamunya. Selain itu, adanya fasilitas restaurant, lobby lounge ballroom dan meeting rooms, juga mengakomodir travelers yang ingin mengadakan berbagai macam acara baik perorangan, perusahaan maupun organisasi. Tak perlu khawatir dengan fasilitas, karena Hotel Santika Banyuwangi memiliki pelayanan standar bintang 3, travelers.

Harga Perkamar berkisar Rp. 525.000 per malam untuk Kelas Superior Room dan Rp. 637.000 Untuk Deluxe Room, bagi para wisatawan di seluruh penjuru nusantara, anda tidak perlu ragu lagi untuk berwisata di Banyuwangi karena sarana dan prasarana sudah lengkap :)

Selamat dan sukses untuk Hotel Santika Banyuwangi! semoga artikel ini bermanfaat :)

Pantai Wedi Ireng Surga Wisata Baru di Banyuwangi

15.00
Nama pantainya "pantai wedi ireng" dan pantai ini lokasinya berada di desa Sumber Agung kec. Pesanggaran kab. Banyuwangi. Pantai wedi ireng atau yang juga disebut pantai pasir baja juga sejalur dengan lokasi pantai pulau merah atau red island. Ane kesananya motoran aksesnya mudah bgt kok dijangkau soalnya udah mulus aspalnya

Untuk sampai ke pantai wedi ireng ini ane juga ngelewatin pantai pancer karena lokasinya juga sejalur dengan pantai pancer. Karena ga ada tmpt parkirannya kendaraan bisa di parkir di pasar ikan pancer gan, inshaallah aman kok. Keunikan pantai ini karena pasirnya yang kecoklatan campur dengan pasir warna item dan yang lebih ga akan terlupakan adalah harus lewat bukit dan hutan2 dulu untuk menikmati pemandangan salah satu surga yang tersembunyi ini.

Ane share beberapa pic nih,

Dibandingkan pantai Pulau Merah, pantai yang satu ini jelas kalah populer, meskipun masih berada dalam satu jalur. Masalahnya lokasinya sulit terjangkau.Padahal keindahannya tidak kalah, oleh Teluk Hijau sekali pun. Bahkan ada kemiripan antara pantai Wedi Ireng dengan pantai Teluk Hijau. Bentuknya seperti huruf "W". Namun pantai Wedi Ireng memiliki garis pantai yang lebih panjang. Ada dua sisi pantai di Wedi Ireng, tapi dipisahkan oleh bebatuan di tengah pantai.
Lokasinya yang tersembunyi menjadikan pantai ini belum banyak dirambah wisatawan. Meski tanpa tiket masuk, namun pengunjung wajib menjaga keasrian tempat ini dan membawa pulang sampah yang dihasilkan.

Jika pantai selatan umumnya terkenal dengan ombaknya yang tinggi, namun berbeda dengan Wedi Ireng, keindahan teluk berpasir putih diapit bukit-bukit hijau serta ombaknya yang landai akan menyambut kedatangan wisatawan. Anda pasti akan betah berlama-lama menikmati indahnya pantai wedi ireng ini. Teluk yang sunyi, pasir yang bersih, pepohonan besar nan rindang, hembusan angin pantai yang sepoi-sepoi dan birunya lautan adalah perpaduan sempurna yang memberi kedamaian dihati.

Pantai Wedi Irengrelatif masih belum banyak terjamah oleh wisatawan, jadi kondisi alamnya masih bener-bener masih alami. Keunikan pantai ini terletak pada beberapa elemen yang membentuknya, yaitu pasir halus putih, pasir coklat yang agak kasar dan hamparan batu karang yang menambah eksotisnya pantai Wedhi Ireng.





Lalu dimana keterkaitan nama Wedi Ireng, yang berarti pasir yang berwarna hitam dengan kenyataan pasir pantainya yang terlihat berwarna putih kecoklatan?
Nama Wedi Ireng ternyata merefleksikan salah satu keunikan elemen yang terdapat pada pantai ini. Cobalah Anda keruk pasir pantainya, disana Anda akan menemukannya sekaligus menjawab rasa penasaran tentang keterkaitan nama Wedi Ireng untuk pantai yang indah ini. Dibalik pasir putih pantainya yang terlihat ternyata menyimpan butiran pasir hitam didalamnya. Inilah sebabnya pantai ini disebut dengan sebutan Pantai Wedi Ireng.


RUTE MENUJU PANTAI WEDI IRENG

Tidak sulit menemukan pantai Wedi Ireng, tapi dibutuhkan perjuangan untuk mencapainya.Dari pusatkota Banyuwangi, jaraknya sekitar 65 km yang bisa ditempuh selama tiga hingga empat jam perjalanan. Dari Banyuwangi menuju ke Kecamatan Jajag dan ikuti petunjuk jalan menuju Pulau Merah. Wilayah Pedotan merupakan pusat keramaian terakhir dari jalan yang dilewati. Di sini dapat dibeli perbekalan dan keperluan pribadi karena selanjutnya tak ada pertokoan.

Sebelum Pulau Merah, ikuti petunjuk jalan menuju Pantai Pancer yang jaraknya sekitar 3 km dari Pulau Merah. Dari Pancer ada dua jalan menuju Wedi Ireng yang berjarak sekitar 2 km di sebelah barat. Pertama dari tempat pelelangan ikan Pancer lurus mengikuti jalan sekitar dua km. Anda jangan segan bertanya ke warga sekitar dan menitipkan kendaraan Anda di sana.

Pilihan jalan kedua parkir kendaraan di sekitar TPI dan dilanjutkan dengan jalan kaki menuju muara sungai. Pilihan ini hanya direkomendasikan untuk penyuka petualangan karena harus menyebrangi muara, naik turun bukit serta melewati hutan. Di pagi hari, mudah saja melewati muara, karena air hanya setinggi betis. Namun di siang hari, laut pasang sehingga harus menyeberang dengan kapal nelayan, ongkosnya hanya Rp 5 ribu.

Setelah menyeberangi muara, ada dua jalan setapak. Pilih yang kanan atau jalan di sebelah barat dan dari sini Anda akan melewati bukit penuh pohon pisang sebelum masuk hutan. Sekitar 30 menit berjalan di bawah rerimbunan daun dan ditemani kicauan burung-burung liar, kondisi jalan cukup curam dengan kemiringan sekitar 80 derajat, sehingga harus ekstra berhati-hati. Selain itu sewaktu melewati semak belukar banyak ranting-ranting pohon yang berduri, karena itu jangan lupa untuk membawa sebatang kayu sebagai perlindungan diri dari duri-duri yang tajam.

Lelah perjalanan akan terbayarkan oleh pemandangan yang indah pantai Wedi Ireng di depan mata.

Ojek perahu yang siap mengantarkan Anda menuju Pantai Wedi Ireng.

Bagi pengunjung yang tidak memiliki cukup waktu, perjalanan menuju pantai Wedi Ireng ini bisa juga dilakukan menggunakan perahu milik para nelayan di Dusun Pancer, Desa Sumber Agung, Kecamatan Pesanggaran. Banyak perahu-perahu nelayan - mereka menyebutnya ojek perahu - yang siap mengantarkan Anda menuju 'surga' baru Wedi Ireng yang berlatar belakang pulau-pulau kecil.Dengan ongkos Rp 40 ribu, Anda bisa diantar jemput menggunakan perahu kecil. Namun bila hanya untuk mengantar atau menjemput di Pantai Wedi Ireng, nelayan hanya mematok harga Rp 25 ribu dengan perjalanan yang memakan waktu sekitar 30 menit.
Selain itu, ojek perahu ini juga menawarkan beberapa trip laut di wilayah tersebut. Pengunjung diajak mengelilingi beberapa pulau, seperti Pulau Bedil, Pulau Mustika, Pasir Pendek, Batu Mukijo dan transit ke Pantai Wedi Ireng. Ongkosnya Rp 550 ribu untuk maksimal 6 orang.

Gimana gan, bagus kan view pantainya? waktu pertama nyampek ane ngerasa nih pantai mirip banget ama teluk ijo "green bay" tp yang jelas nih pantai punya keunikan tersendiri selain masih jarang yang tau dan tentunya masih alami banget. oh ya boleh ngcamp juga kok dan belom ada tiket masuknya cuman bawa badan ama biaya transport doang.

Semoga bermanfaat :)

Kiat Liburan Hemat

20.03


Ada beberapa ide menarik agar kita bisa berlibur tanpa harus keluar banyak uang. Baca berbagai tips berhemat berikut dan terapkan saat liburan akhir tahun!

Mencari cara berlibur yang hemat biaya? Tidak ada yang salah dengan hal itu. Meski sedang berhemat, kita juga bisa berlibur dengan menyenangkan asal direncanakan dengan matang tentang pengeluaran selama liburan.

1. Tujuan liburan
Pastikan anda telah melakukan riset mengenai tujuan-tujuan yang menjadi pilihan Anda untuk berlibur. Jangan sampai Anda melewatkan promo yang sangat menguntungkan Anda dalam hal biaya, seperti diskon, penawaran spesial, dan bonus-bonus.

2. Akomodasi
Jika teman atau kerabat Anda memiliki tempat tinggal di tempat yang dekat dengan tujuan liburan Anda, maka tidak ada salahnya meminta izin untuk meminjam tempat tersebut sebagai akomodasi. Siapa tahu, mereka bisa meminjamkan dengan harga yang jauh lebih murah dibanding hotel, atau bahkan diberikan secara cuma-cuma.

3. Transportasi
Siasati biaya transportasi sepintar mungkin. Jangan sampai biaya transportasi menjadi pengeluaran terbesar Anda selagi berlibur. Jika Anda ingin berlibur keluar kota yang masih terjamah, tidak ada salahnya menggunakan transportasi umum seperti bus antar-kota, atau mungkin kereta api. Jika naik pesawat, memesan tiket dari jauh-jauh hari dan menghindari musim padat wisatawan adalah hal yang sangat bijak. Ketika sampai di tempat tujuan, pelajari baik-baik tentang kendaraan umum seperti bus, angkutan umum, atau MRT untuk yang di luar negeri. Jangan sungkan untuk bertanya pada sekeliling Anda jika Anda tidak mengerti.

4. Konsumsi
Saat berlibur ke suatu tempat, hindari tempat makan terkenal atau yang biasa dikunjungi para turis, karena sudah pasti harga yang ditawarkan sangat tinggi meskipun porsi dan kelezatannya tidak membuat puas perut. Carilah restoran yang lebih sering didatangi oleh masyarakat lokal setempat, biasanya akan lebih murah dengan porsi yang mengenyangkan dan enak.

5. Aktivitas
Pilihlah aktivitas berlibur yang tidak akan menghabiskan banyak biaya. Hiking, berenang, atau sekedar bermain di pinggir pantai adalah pilihan yang paling tepat. Jika pilihan Anda jatuh pada pantai, maka waktunya Anda menjadi ‘detektif’ untuk mencari pantai yang masih sepi pengunjung.

Nah, 5 hal di atas adalah hal-hal yang biasanya menguras kantong Anda selama berlibur. Ternyata, dengan budget sedikit, kita juga bisa berlibur dengan menyenangkan.

Selamat Berlibur!

Orang Banyuwangi Pilih Pesta Tahun Baru di Bali

07.33


Tahun Baru memang paling asyik dirayakan sambil bersantai dan berlibur. Salah satu cara paling asyik untuk merayakan pergantian tahun ini adalah dengan berkumpul di pusat kota sambil menikmati indahnya kembang api.

Tak heran pusat kota Banyuwangi tepatnya di Taman Blambangan sangat padat dikunjungi oleh beberapa warga asli banyuwangi maupun warga dari luar banyuwangi,

Akan tetapi dari hasil survey team aca.web.id orang banyuwangi menghabiskan hari libur tahun baru yang tetap di banyuwangi adalah 60% dan 40% di Bali. Tetapi di tahun baru 2015 ini persentasenya berbandig mundur dari tahun kemarin, di tahun 2015 ini warga banyuwangi 40% merayakan tahun baru di kota bayuwangi dan 60% nya lagi di Bali.


Hotel Bintang 4 Di Kota Banyuwangi

18.10
Hai semua!! selamat sore

Kali ini saya ingin berbagi info tentang kota Banyuwangi ku tercinta :) 
Saat ini memang paling tren jika kita sedang berlibur/liburan yang slalu jadi tujuan adalah wisata alam dan wisata kuliner yang unik dan belum pernah kita rasakan. 

Contoh wisata alam yang memukau dan yang patut anda kunjungi disaat liburan tiba adalah wisata yang ada di kota Gandrung yaitu Kota Banyuwangi yang penuh dengan wisata alaminya seperti Pantai Pulau merah, Pantai Gerajagan, Pantai Plengkung (yang sangat terkenal dengan ombaknya), Pantai Teluk Ijo, dll.

Dan untuk mendukung semua sektor pariwisata tersebut kali ini Bupati Banyuwangi gak tanggung - tanggung untuk memajukan kota Banyuwangi, kali ini Hotel Bintang 4 akan segera hadir di Kota Banyuwangi.

Hotel Santika yang terletak di kawasan Sobo lebih tepatnya Sebelum patung kuda jika dari arah selatan.

Dan ini adalah sebagian hasil jepretan saya pas saya melintas dari arah Banyuwangi Kota:



Info tentang Hotel Santika Banyuwangi ditunggu aja ya, karena ini hotel masih blm slesai pengerjaannya :)

semoga artikel ini bermanfaat :)



Konser Dewa 19 Di Banyuwangi Sangat Megah

19.20

Konser Reuni Dewa 19 di Lapangan Blambangan, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu malam 20 Desember 2014 dihelat lebih megah dibandingkan konser sebelumnya di Malang. Manajer acara, Husein Al Bana, mengatakan, panggung di Banyuwangi berukuran 28 x 16 meter didukung sound system berkapasitas 200 ribu watt dan pencahayaan sebesar 14 ribu watt. 

"Semuanya dua kali lebih besar dibandingkan di Malang," kata Husein dalam konferensi pers di Pendopo Kabupaten Banyuwangi, Sabtu sore 20 Desember 2014.

Ahmad Dhani dkk rencananya akan membawakan 13 lagu yang pernah populer bersama Ari Lasso. Dhani juga mengajak ketiga anaknya yang tergabung dalam Lucky Laki Band dan TRIAD sebagai band pembuka.

Meski digelar lebih megah, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menjamin bahwa konser tersebut tidak memakai dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. "Sama sekali tanpa APBD," kata Azwar saat konferensi pers di Pendopo Kabupaten, Sabtu sore, 20 Desember 2014. 

Penyelenggaraan konser tersebut, kata Azwar, berasal dari dana CSR sejumlah perusahaan yang berinvestasi di daerahnya. 

Konser Reuni Dewa 19 dikemas dengan kampanye anti narkoba dan HIV/AIDS. Selain menampilkan musisi papan atas, Pemerintah Banyuwangi juga menampilkan penyanyi lokal Suliyana serta ajian tarian Jejer Gandrung. Acara ini untuk merayakan Hari Jadi Kabupaten Banyuwangi ke-243.



Maju terus Banyuwangiku :)

Aplikasi Wisata Banyuwangi Untuk Android Anda

10.58


Perkembangan teknologi yang makin canggih dimanfaatkan betul oleh Pemkab Banyuwangi, Jawa Timur. Untuk meningkatkan kunjungan wisatawan kabupaten berjuluk `The Sunrise of Java`, Pemkab Banyuwangi melakukan terobosan dengan merilis aplikasi berbasis Android bekerja sama dengan Telkomsel.

Dalam website Kabupaten Banyuwangi, Bupati Abdullah Azwar Anas mengatakan, pendekatan promosi wisata harus selalu relevan dengan perilaku pasar. Saat ini, Indonesia tercatat sebagai negara kelima terbesar pengguna telepon pintar (smartphone). Mengutip riset Yahoo! dan Mindshare, pengguna smartphone di Indonesia mencapai 41 juta pada pertengahan 2013 dan akan menjadi 103,7 juta pengguna dalam tiga tahun mendatang.

”Penetrasi penggunaan smartphone diprediksi akan terus naik, termasuk yang berbasis sistem operasi Android. Sistem operasi Android sedang melejit mengalahkan sistem operasi yang lainnya. Karena itu, kami meluncurkan aplikasi wisata berbasis Android,” ujar Bupati Anas.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pengguna internet di Indonesia hingga akhir 2013 sudah mencapai 71,19 juta orang. Mayoritas di antaranya mengakses internet melalui telepon seluler atau ponsel. Pasar itulah yang dibidik oleh Banyuwangi untuk mempromosikan sektor pariwisatanya.

”Hampir setengah dari para pengguna internet adalah kaum muda yang bisa dikategorikan sebagai kelas menengah. Mereka adalah penggerak pasar sektor pariwisata,” tutur Bupati Anas.

Peluncuran aplikasi tersebut digelar di Taman Budaya Jawa Timur di Surabaya, Jumat (11/4/2014). Hari itu juga ditandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) antara Pemkab Banyuwangi dan Telkomsel untuk mendorong promosi wisata daerah, baik melalui sarana teknologi informasi maupun pemasaran luar ruang. Pihak Telkomsel diwakili oleh Executive VP Telkomsel Jawa Bali Yetty Kusumawati.
Terkait kerja sama dengan Telkomsel, Anas mengatakan, pihaknya mengapresiasi peran serta operator telekomunikasi dalam memajukan daerah.

”Tentu pemerintah daerah tidak bisa bergerak sendirian. Telkomsel sebagai operator milik pemerintah Indonesia sangat berperan ikut membantu kami,” ujarnya.
Sejumlah kerja sama yang dilakukan antara lain dalam bentuk location based advertising di mana semua pengguna Telkomsel yang memasuki Banyuwangi akan menerima SMS pemberitahuan tentang daerah-daerah wisata yang ada di kabupaten tersebut.

”Jadi kalau Anda lewat Banyuwangi, akan terima itu SMS. Dari sana informasi bisa didapatkan, selain dari saluran lain seperti aplikasi Android, media massa, dan sebagainya,” tutur Bupati Anas.
Internet menjadi salah satu rujukan informasi utama. Informasi tidak hanya dari dari pengelola tempat wisata dan pemerintah daerah, tapi juga dari pihak lain seperti blogger maupun rekomendasi teman. Secara berkala, Banyuwangi mengundang media massa, blogger, dan tokoh-tokoh berpengaruh untuk datang.

”Dari sanalah informasi menyebar. Kami mengoptimalkan media konvensional dan social media, mulai dari Twitter, Facebook, Youtube, Path, dan Instagram,” beber Bupati Anas.
Dengan berbagai promosi itu, sektor pariwisata di Banyuwangi terus bergeliat menjadi penopang ekonomi masyarakat setelah sektor pertanian dan industri pengolahan.

Bupati Anas mengatakan, semua sektor industri kreatif yang berbasis pariwisata mengalami peningkatan kinerja. Mulai dari sektor jasa hiburan kebudayaan, sektor kuliner yang terepresentasi dari nilai tambah restoran, sektor perhotelan, sektor tekstil dan kerajinan, serta sektor industri.
Lebih lanjut, Anas mengatakan perkembangan sektor industri berbasis wisata tersebut selaras dengan pertumbuhan sektor pertanian yang berdasarkan data BPS terjadi nilai tambah dari Rp 12 triliun menjadi Rp 13,9 triliun.

”Ini bukti bahwa integrasi antar-sektor, yaitu dari sektor primer (pertanian) ke sektor sekunder (industri pengolahan) dan tersier (jasa, termasuk wisata), berlangsung dengan baik, sehingga pertumbuhan ekonomi merata,” kata Bupati Anas.
Pada Jumat-Sabtu lalu, di Taman Budaya Jawa Timur, Kota Surabaya diselenggarakan atraksi seni budaya serta usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), Banyuwangi turut serta sebagai peserta pameran.

Sumber: http://news.liputan6.com

PANTAI RAJEKWESI, AKUARIUM PENYU TERBUKA

22.34
Tahun 1980-an, hampir sepanjang pantai selatan Jawa menjadi habitat penyu-penyu langka seperti penyu belimbing, sisik, dan hijau. Kini setelah wilayah selatan kian ramai dengan aktivitas nelayan, habitat penyu kian terdesak. Pantai Rajegwesi menjadi sedikit dari habitat penyu langka yang tersisa. Saat liburan sekolah tempat ini layak dituju.

Pantai Rajegwesi terbentang di selatan Banyuwangi, Jawa Timur. Letaknya di perbatasan hutan dan masuk dalam Taman Nasional Meru Betiri. Butuh waktu 2-3 jam untuk mencapai kawasan tersebut dari kota Banyuwangi. Jalurnya menembus perkebunan karet dan kakao dengan kondisi jalan berbatu.

Namun pantai ini menjadi salah satu tempat habitat penyu langka, di antaranya penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu slengkrah (Lepidochelys olivacea), dan penyu belimbing (Dermochelys coriacea). Pada waktu-waktu tertentu tukik atau anak penyu yang sebelumnya telah ditangkarkan, dilepas di pantai ini untuk tumbuh dan berkembang.

Sebelumnya, penyu-penyu itu ditangkarkan di pusat penangkaran penyu pantai Sukamade. Dibandingkan dengan Rajegwesi, Sukamade jauh lebih terpencil. Akses menuju pantai tersebut hanya bisa ditempuh dengan mobil bergardan ganda atau trail. Namun justru di tempat terpencil itu, penyu-penyu bisa bertelur dengan lebih aman, minim gangguan manusia dan habitatnya pun terjaga.

      Dari 1.000 tukik yang dilepas, hanya seekor yang bisa bertahan hingga dewasa dan kemudian bertelur lagi


Kepala Balai Taman Nasional Meru Betiri Bambang Darmodjo mengatakan, pada waktu malam di saat-saat tertentu, penyu mendarat di pantai untuk bertelur. ”Terkadang dua atau tiga ekor, tetapi bisa jadi 4-6 ekor penyu yang mendarat untuk bertelur. Tapi bisa jadi mereka mendarat namun tak jadi bertelur karena terusik keramaian,” katanya.

Penyu hijau misalnya, bisa menetaskan 100 butir telur di pantai. Telur-telur itu dikubur oleh induknya di pasir pantai untuk mengerami dan melindunginya dari babi hutan atau binatang lain pemangsa telur.

Kondisi pantai yang masih bersih dan sepi mendukung perkembangbiakan penyu-penyu yang kini sudah langka tersebut. Warga setempat seperti nelayan pun memberi ruang pada fauna langka. Mereka hanya menambatkan perahu di sisi barat pantai, adapun di sisi timur dibiarkan kosong dan menjadi habitat hewan-hewan seperti penyu, dan hewan laut lainnya.

Pantai Rajegwesi dan Sukamade selama ini menjadi lokasi wisata konservasi. Pada musim-musim tertentu, wisatawan dari dalam negeri dan mancanegara datang khusus untuk melihat penyu bertelur atau melepas tukik di pantai,” kata Bambang.

Seperti April lalu, Banyuwangi Turtle Sea Foundation mengajak anak-anak SD untuk melepas penyu di pantai Rajegwesi. Tukik-tukik itu berasal dari pantai Sukamade yang kemudian ditangkarkan di tempat penangkaran penyu di Ketapang, Banyuwangi. Davina (12), salah satu anak yang ikut melepas tukik terlihat senang bukan main saat penyu kecilnya lepas dari tangan dan berlari menyambut ombak. Davina baru sekali ini melihat tukik di alam bebas. Biasanya ia hanya melihatnya di akuarium.

Kegembiraan serupa tergambar di wajah anak-anak SDN Sarongan yang ikut melepas tukik. Menurut Westin Dwi, siswa kelas VI SD Sarongan, menyaksikan penyu bertelur sudah menjadi sesuatu yang langka. Karena itu ketika ada kegiatan yang berkaitan dengan penyu mereka bersemangat untuk ikut serta.

”Telur-telur penyu dibantu untuk ditetaskan kemudian saat menjelang dewasa harus dilepas agar mereka bisa hidup di alam bebas. Suatu saat kami berharap bisa melihat penyu itu kembali dan bertelur,” kata Westin yang hidup di lingkungan nelayan.

Pendiri Banyuwangi Sea Turtle Foundation Wiyanto Hadi Tanojo mengatakan, dirinya memang mengajak anak-anak untuk melepas tukik bersama agar mereka mengenal dan lebih menyayangi hewan-hewan langka itu. Kelak, saat mereka dewasa, rasa sayang terhadap lingkungan itu diharapkan mengakar di jiwa mereka.

Penyu-penyu di Meru Betiri sendiri kini terancam punah. Tak semua telur bisa menetas, atau berkembang menjadi penyu dewasa yang bisa bertelur lagi.
Telur yang baru saja dihasilkan induk kadang habis disantap hewan lain seperti babi hutan. Tidak jarang telur penyu dicuri dan diperdagangkan. Ketika telur sudah berubah menjadi tukik, tidak serta-merta mereka bisa bertahan di alam terbuka. Mereka juga kerap menjadi mangsa elang laut atau hewan lainnya.

Berdasarkan data dari Taman Nasional Meru Betiri, sepanjang tahun 2011 saja tercatat sebanyak 979 penyu yang mendarat dan bertelur di pantai Sukamade. Jumlah telur yang ditanam sebanyak 111.718 butir, namun hanya 81.023 ekor yang menetas jadi tukik. ”Dari 1.000 tukik yang dilepas mungkin hanya seekor yang bisa bertahan hingga dewasa dan kemudian bertelur lagi,” kata Bambang.

Rajegwesi menjadi bagian dari habitat penyu di Meru Betiri. Jika pantai seperti Rajegwesi tetap terjaga ekosistemnya, penyu pun tetap punya ruang hidup yang leluasa.

MAKAM SEPANJANG 7M DI ALAS PURWO BANYUWANGI

22.09


Panjang makam tentu menyesuaikan tinggi badan (panjang) jasad penghuninya. Nah, di tepian hutan Taman Nasional Alas Purwo (TNAP), Desa Kalipahit Kecamatan Tegaldelimo, Banyuwangi, ada makam unik yang memiliki panjang sekitar 7 meter.

Komplek makam unik ini berdiri di atas lahan seluas seperempat hektar. Banyak orang menyebut makam itu sebagai makam Eyang Suryo Bujo Negoro alias Mbah Dowo. Eyang Suryo konon seorang misionaris agama Islam sebelum masa para Wali Songo.

"Beliau siar Islam di kawasan sini, sebelum Wali Songo," kisah Juru Kunci Makam Mbah Dowo, Asmat (50).

Asal usul Eyang Suryo Bujo Negoro sendiri tidak diketahui secara pasti. Dibatu nisan juga tidak tertulis tanggal atau tahun kapan Mbah Dowo wafat. Konon peziarah dapat mengetahui sejarah Mbah Dowo dengan cara kontak batin.

"Harus dipanggil secara spritual dulu," tambah Asmat.

Panjang makam yang tak lazim tersebut mengundang rasa penasaran. Benarkah Mbah Dowo semasa hidupnya setinggi 7 meter? Atau jangan-jangan makam tersebut hanya sebuah simbol saja? Atau ada alasan logis lainnya?

Asmat saat ditanya mengaku tidak tahu secara pasti. Dia menjelaskan, saat ditemukan bentuknya memang menyerupai makam lengkap dengan batu nisan terbuat dari batu. Di bagian kaki tumbuh pohon jarak setinggi 3 meter.

Pria berkulit gelap itu menduga, makam tersebut mungkin sebuah petilasan (tempat singgah tokoh zaman dulu). Namun ada pula yang percaya itu memang makam sungguhan.

Seiring berjalannya waktu, makam Mbah Dowo mengalami pemugaran. Karena dari hari ke hari makam misterius tersebut ramai dikunjungi peziarah. Uniknya lagi, peziarah yang datang bukan hanya dari umat Islam. Melainkan umat Hindu juga.

"Yang paling ramai hari Kamis Manis atau bulan Suro," urai Pria asal Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng, Banyuwangi ini.

Peziarah yang datang biasanya hanya berdoa di makam. Atau lelaku ritual dengan cara mengambil air dari sumur dan diwadahi di botol atau gelas. Air tersebut biasanya dibawa pulang peziarah karena dipercaya mujarab bagi ketenangan jiwa.

Sejauh ini juru kunci makam Mbah Dowo beberapa kali bongkar pasang. Sebelum Asmat, ada beberapa juru kunci yang pernah mengabdi. Namun mereka sudah "purna tugas" atau minta digantikan karena tidak kuat tinggal di hutan. "Saya hampir 4 tahun mengabdi," bangganya.


Saat ini di Timur makam berdiri balai cukup luas dan tinggi. Balai ini berfungsi sebagai tempat istirahat peziarah. Persis di Timurnya lagi berdiri rumah bilik bambu yang dihuni oleh Asmat, juru kunci makam Mbah Dowo.

Selain itu komplek makam Mbah Dowo juga sudah dilengkapi dua kamar mandi untuk MCK. Namun lokasi wisata spritual tersebut belum dilengkapi aliran listrik. Hanya lampu minyak yang menjadi satu-satunya penerangan di malam hari.

Air Terjun Kembar Wonorejo / Tirto Kemanten

21.07


Air terjun ini terletak di dusun Wonorejo desa Kalibaru Wetan kecamatan Kalibaru, Air Terjun ini terdiri dari 2 terjunan air di kanan dan kiri.. yahh inilah makanya disebut kemanten, aliaran airnya dari lereng Gunung Raung, pemandangan alam di sekitarnya amat menakjubkan seperti Tanaman kopi dan Coklat menyelimuti sekitar lokasi sehingga menambah keindahan panoramanya.

Sangat disarankan bagi para calon pengunjung agar membawa bekal Makanan, minuman, dan kebutuhan lainnya. Karena di Wisata Air Terjun Kemanten sangat jarang bahkan tidak ada pedagang jika anda berkunjung pada hari - hari kerja, kecuali jika anda berkunjung pada hari - hari libur itupun hanya pedagang - pedagang kecil / asongan.

Memang Banyuwangi Kaya dengan Wisata Alamnya :)

Telaga Umbul Pule

21.02


Umbul Pule adalah sebuah telaga yang terletak di Kecamatan Glenmore Kabupaten Banyuwangi yang sangat jernih yang airnya tak pernah surut walaupun musim kemarau panjang datang,sehingga air yang dikeluarkan oleh mata air Umbul oleh penduduk sekitar digunakan untuk mengembangkan usaha di sektor pertanian dan perikanan. Di samping itu, sumber mata air dari sini juga digunakan pihak PDAM untuk memenuhi kebutuhan air di daerah sekitar.

Misteri Hiu Raksasa Pantai Sukomade / Mbah kliwon

20.58
 
 
Di kalangan nelayan Rajegwesi-Sukomade, Desa Sarongan Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, selain Nyi Roro Kidul, mereka kerap melihat sesosok ikan hiu raksasa. Hiu tersebut berukurun sebesar dua kali rumah tipe rumah sederhana (RS).

 Nelayan setempat memanggil hiu raksasa tersebut dengan nama Mbah Kliwon. Dinamakan Mbah Kliwon, lantaran hiu raksasa tersebut kerap menampakkan diri Jumat Kliwon, penanggalan Jawa.

Di sekujur tubuh Mbah Kliwon ini dipenuhi dengan corak yang menyerupai huruf-huruf arab yang tersusun rapi seolah terangkai sebuah kalimat. Namun tak pernah ada yang bisa membacanya.

"Mbah Kliwon kadang di sekitaran lokasi kami memancing ikan, sekitar Tanjungan" kata para nelayan yang mengaku pernah menjumpai Hiu tersebut..

Berjumpa dengan Mbah Kliwon, bagi nelayan bukan hal yang menakutkan. Justru hal yang diharapkan. Karena kemunculan hiu raksasa tersebut pertanda jika populasi ikan sedang melimpah. Selanjutnya akan berdampak baik pada hasil tangkapan nelayan.

Untuk menghormati Mbah Kliwon, sebelum melaut di hari Jumat Kliwon, penanggalan Jawa, nelayan menggelar selamatan kecil dengan beberapa hidangan makanan. Tradisi tersebut dikemas dengan memanjatkan doa keselamatan pada Yang Maha Kuasa.

Mbah Kliwon bukan hanya sesosok Hiu sebagai simbol rejeki nelayan. Hiu yang menurut warga, lebar mulutnya dua kali daun pintu tersebut terkadang 'membantu' saat nelayan mengalami kondisi genting di laut.

"Tidak semua nelayan yang dibantunya. Hanya orang tertentu saja," kata Ninik, juragan ikan di Pantai Rajegwesi, .

Ninik mencontohkan kisah yang dialami oleh Nelayan Rajegwesi yang bernama Samuji. Samuji yang saat itu sedang melaut nyaris kehilangan nyawanya setelah perahunya pecah dihantam ombak besar.

Bahkan tubuh Samuji tidak ditemukan lagi oleh nelayan lainnya yang melakukan pencarian selama beberapa jam. Namun keesokan paginya, mereka mendapati Samuji sudah berada di Pantai rajegwesi dalam kondisi selamat.

Padahal lokasi tenggelamnya Samuji sangat berjauhan dengan bibir pantai. Warga
akhirnya terkejut dengan pengakuan Samuji jika dirinya dibawa ke tepian oleh sesosok hiu raksasa.

"Pak Samuji bilangnya dibawa ketepi pantai oleh ikan Hiu Raksasa,(Mbah Kliwon)" kata Ninik menirukan pengakuan Samuji, yang saat ini menetap di Pulau Sulawesi mengikuti transmigrasi.

Sumur Sri Tanjung Banyuwangi Diyakini Berkasiat

20.21
Sumur Sri Tanjung di timur pendopo Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, diyakini oleh sebagian masyarakat memiliki beberapa kasiat ampuh bagi orang yang meminumnya.Legenda putri Sri Tanjung ini, hingga kini memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat Osing Banyuwangi, bahkan bagi masyarakat diluar Banyuwangi juga mempercayai kekuatan putri Sri Tanjung itu.



Sumur Sri Tanjung yang terletak di jalan Sidopekso 10, Kelurahan Temenggungan, Kecamatan Banyuwangi Kota, tepatnya di timur pendopo Saba Swagata Blambangan Banyuwangi itu dinyakini masih menyimpan beberapa misteri dan kekuatan gaib.

Tak heran bila setiap harinya, sumur yang hanya berdiamter satu kali dua meter tersebut, selalu didatangi pengunjung yang ingin mengalap berkah.

Biasanya para tamu yang sengaja datang ke sumur Sri Tanjung ini, mempunyai hajat, diantaranya untuk pelaris dagangan, kepangkatan serta obat awet muda.

Menurut juru kunci sumur Sri Tanjung Ki Darusman, para pengunjung yang datang biasa terlebih dahulu diilhami atau didatangi oleh seorang putri yang cantik bernama Sri Tanjung.

Kebanyakan para peziarah datang pada hari Selasa Kliwon, Selasa Legi, Jum’at Kliwon dan Jum’at Legi. Para penziarah biasanya mengalap berkah dari sumur Sri Tanjung dengan meminum air dan memakai untuk mandi.

Syaratnya sangat ringan, para peziarah harus membawa kembang telon atau bunga pasar berwarna tiga macam untuk persembahan kepada sang dewi ratu Sri Tanjung.

Para penziarah akan didampingi oleh Ki Darusman selaku juru kunci untuk melakukan interaksi dengan dewi putri Sri Tanjung.

Setelah persembahan kembang telon di tempatkan dipinggir sumur maka juru kunci Ki Darusman akan memanggil dewi Sri Tanjung dengan menyalakan dupa wangi untuk mendapatkan do`a restu.

Usai mendapatkan do`a restu, para penziarah baru diperkenankan meminta dan bermunajat kepada Allah SWT dengan melalui sumur Sri Tanjung.

Setelah melakukan ritual do`a maka satu persatu peziarah diminta cuci muka dengan air sumur kemudian meminumnya. Tak jarang para wanita yang datang ke sumur Sri Tanjung ini juga menggunakan air sumur Sri Tanjung untuk mandi.

Para ibu-ibu dan remaja putri mengaku air sumur Sri Tanjung ternyata memiliki kekuatan magis termasuk untuk kencantikan dan obat awet muda.

Ki Darusman selaku juru kunci mengaku baru percaya akan kehebatan sumur Sri Tanjung, setelah pada tahun 1982 ada rombongan dari kraton Solo dan Klaten yang datang khusus ke sumur Sri Tanjung.

Para sesepuh kraton mengatakan bahwa sumur Sri Tanjung adalah salah satu sumur tiban tertua di tanah Jawa, yang merupakan satu-satunya peninggalan sejarah.

Sejak itulah Ki Darusman mau merawat sumur Sri Tanjung, walau para sesepuh dan nenek moyangnya sudah lebih dulu merawat dan sumur Sri Tanjung.

Sementara itu menurut Hasnan Singodimayan, salah satu budayawan Osing Banyuwangi mengatakan Sri Tanjung adalah legenda rakyat Osing Banyuwangi yang dipercaya memiliki kekuatan magis yang sangat luar biasa.

“Legenda tersebut menceritakan bagaimana seorang putri yang sangat cantik jelita dan setia yakni putri Sri Tanjung, difitnah oleh seorang raja yang bernama Sulokromo,” tegasnya.

Untuk merayu sang putri Sri Tanjung, sang raja menyuruh maha patih Sida Paksa suami Sri Tanjung untuk mencarikan gembolo emas yakni seikat tali emas di parang alas, suatu tempat yang tidak bisa dijamah oleh manusia.

Setelah Sida Paksa berangkat, sang raja Sulokromo kemudian merayu putri Sri Tanjung dengan mengatakan kalau suaminya tidak akan bisa kembali lagi namun dengan kesetiaan pada sang suami Sri Tanjung menolak rayuan raja Sulokromo tersebut.

Tanpa diduga maha patih Sida Paksa datang dengan membawa barang yang dipesan oleh sang raja bahkan barang tersebut lebih bagus dari apa yang di pesan oleh sang raja Sulokromo.

Melihat keberhasilan Sida Paksa tersebut, raja kemudian menfitnah Sri Tanjung telah merayu sang raja saat Sida Paksa melaksanakan tugas.

Sida Paksa yang percaya oleh raja kemudian mendatangi Sri Tanjung dan menuduh istrinya telah merayu sang raja walau Sri Tanjung sudah menjelaskan kepada suaminya, namun tetap tidak peryaca dan bahkan berniat membunuhnya.

Sebelum dibunuh Sri Tanjung mengatakan ia rela dibunuh tapi jika rohnya wangi maka ia tidak bersalah, setelah Sida Paksa menancapkan keris ke arah istrinya dan dibuang ke telaga.

Tiba-tiba air telaga tempat berbau wangi dan warnanya berubah menjadi putih, melihat kejadian tersebut Sida Paksa akhirnya sadar kalau istrinya tidak bersalah.

Oleh karena penyesalanya tersebut, akhirnya tanpa sadar Sida Paksa berteriak wangi sumber wangi, sumber wangi, seperti orang gila.

Tradisi Gelar Pitu Di Kabupaten Banyuwangi

11.18


BANYUWANGI  merupakan salah satu daerah di  Jawa Timur  yang kaya akan seni Budaya, Masayarakat Banyuwangi sangat menjunjung tinggi tradisi yang telah ada dari zaman nenek moyang beberapa tahun silam. Salah satu tradisi yang masih di jaga oleh masyarakat Banyuwangi adalah Tradisi Gelar Pitu di Desa Glagah (30 Menit Perjalanan dari Pusat Kota)
Setiap Lebaran hari ketujuh atau 7 Syawal tahun Hijriyah, warga Dukuh Kopen Kidul, Dusun Kampung Baru, Desa / Kecamatan Glagah, memperingati Lebaran Ketupat yang disebut Gelar Pitu.
Istilah gelar Pitu berasal dari kata Gelar yang artinya menggelar atau menata, sedangkan pitu berarti pitutur atau ucapan. Jadi jika di artikan Gelar Pitu mengandung makna menata ucapan dari buyut Saridin, yang telah memberikan tujuh wejangan kepada keturunannya. Salah satu isi wejangannya adalah keturunan Mbah Saridin diminta melaksanakan sedekah bumi yang dilaksanakan di halaman atau di tengah jalan. Selamatan itu dilaksanakan dengan menggunakan pelepah pisang atau biasa di sebutAncak. Tradisi ini menurut tokoh yang dituakan di desa tersebut telah di laksanakan sejak akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20.
Dalam tradisi ini, masyarakat setempat menggelar ritual penyucian Barong dan mahkota (omprok) Seblang serta gunungan ketupat yang diarak dan didoakan di makam leluhur; Mbah Saridin; yang diyakini sebagai pelopor pembabat hutan untuk di jadikan perkampungan.
Setiap tahunnya tampak warga sesepuh adat mensucikan barong, mahkota Seblang, dan gunungan ketupat di makam leluhur. Kegiatan ini bertujuan untuk menolak bala dan wujud sukur atas keamanan dan rejeki.
Dalam Tradisi ini terdapat pula alunan musik yang terdengar begitu unik dan menggema dari pengeras suara yang terpasang, suara alunan musik yang rancak dalam tradisi ini sangat berbeda dari suara alat music yang kita kenal.
Alunan suara yang sangat rancak dan ceria tersebut di alunkan oleh beberapa buah lesung (peralatan dapur Tradisonal) yang di tabuh oleh delapan perempuan, sang penabuh selalu menunjukkan senyum kecil yang tak henti-hentinya merka suguhkan; hal ini di lakukan untuk mennjukkan rasa bahagia, oleh warga sekitar kegiatan ini di sebut Gedogan.
Kegiatan tidak berhenti sampai disitu saja, ketika alunan music di suarakan, 6 orang laki-laki yang berpakaian khas Banyuwangi (memakai pakaian serba hitam dan udeng khas Banyuwangi) berjalan menuju areal persawahan. Mereka bermaksud mengambil air suci dari sebuah mata air yang berlokasi di pinggir sungai (mata air ini terletak sekitar 2 KM dari lokasi gelar pitu). Aroma kemenyan yang merupakan sebuah syarat juga Nampak disepanjang jalan menuju air tersebut, yang asapnya menunjukkan jalan menuju lokasi air suci yang akan di ambil oleh seorang dalam dua wadah kendi yang nantinya akan di diamkan selama beberapa jam. Selain aroma kemenyan, hal yang menarik dalam perjalanan tradisi ini adalah si pembakar kemenyan yang tiba-tiba kesurupan ketika sampai di gubuk tengah sawah (gubuk tersebut di yakini merupakan padepokan milik Mbah Saridin). Pada sore hari, satu kendi air yang telah diisi penuh tersebut digunakan untuk memandikan kepala Barong. Sedangkan satu kendi lainnya di gunakan untuknyekar di makam leluhur desa Glagah dan keluarganya. Dalam tradisi ini, pengunjung juga akan disuguhi berbagai kesenian tradisional Banyuwangi, seperti Kuntulan, tari Gandrung, Barong, dan juga terdapat angklung paglak.
Setelah semua pagelaran di laksankan dalam Tradisi Gelar Pitu, tradisi terakhir yang di suguhkan adalah upaca arak-arakan Ketupat Gunggungan(seluruh ketupat tersebut diisi uang antara Rp. 1.000,- sampai Rp. 5.000,-) yang di arak mengelilingi kampung, pada saat yang sama, warga menyediakan masakan dalam Ancak di sepanjang jalan desa yang di lewati oleh arak-arakan hingga arak-arakan berakhir ditempat akhir yang telah ditentukan (untuk tahun ini berada di musola yang berlokasi di Dukuh Kopen Kidul).
Antara percaya atau tidak, hal mistik yang terjadi ketika di lakukan arak-arakan adalah jumlah uang yang berubah menjadi Rp. 10.000 – Rp. 20.000,- ketika ketupat tersebut sudah ada di genggaman warga. Tidak hanya hal tersebut yang unik, ketika ketupat yang di dapatkan berisi uang, maka dipercaya rejeki kita akan lancar dalam 1 tahun kedepan, begitu pula sebaliknya, jika ketupat kosong, maka rejeki kita akan menurun dalam 1 tahun ke depan.
Tradisi Gelar Pitu adalah satu dari banyak tradisi yang ada di Kabupaten Banyuwangi yang di gelar hanya satu tahun satu kali, jadi saying sekali jika tidak menyaksikan tradisi ini. So keep ur vacation for the next best tradition of Banyuwangi.

TRADISI PETHIK LAUT DESA GRAJAKAN BANYUWANGI

11.12


TRADISI petik laut yang dilakukan di desa Grajakan Kec. Purwoharjo Kab. Banyuwangi merupakan sebuah TRADISI yang dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat atau warga desa Grajakan, karena Tardhisi Petik laut ini merupakan warisan dari nenek moyang.

a. Tujuan mengapa mengadakan TRADISI petik laut
Tujuan mengapa mengadakan tardhisi petik laut yang dilakukan oleh warga desa Grajakan mempunyai tujuan yaitu merupakan bentuk rasa syukur kepada Alam dengan maksud supaya hasil laut meripah ruah.

b. Apakah harus ditentukan/tanggal/bulan dan mengapa demikian
Warga desa Grajakan masih merupakan orang jawa yang selalu menggunakan perhitungan dalam segala hal, maka tanggal, bulan masih ditentukan karena merupakan hitungan dari nenek moyang, tanggal petik laut ditentukan perhitungan pertengahan bulan sura hari jum’at legi tanggal 15 dimana merupakan pergantian tahun. Adapun ketentuan-ketentuan yang dilakukan antara lain
1. Sehari sebelum melakukan TRADISI yaitu melakukan ngaji yang dialkuakn pagi sampai sore.
2. Ngendurenan/ berkatan yang dilakukan sehabis magrib setelah pengajian usai.
3. Ider bum yaitu memutari desa Grajakan dengan membawa ambeng dan diletakan diperempatan jalan.
4. Tokoh desa melakukan ider bumi
5. Hiburan seperti wayangan, jangeran dan sebagainya.
6. Setelah pagi datang. Mengadakan ruwatan murwakala(kesialan)
7. Diantara jam 11 siang pesiapan “Larukan Sesajen” yait mengahantarkan sesajan ketengah laut dengan prau-prau kecil.
8. Ditutup dengan hiburan untuk masyarakat.
c. Bagimana tanggapan Masyarakat Sekitar
Tanggapan masyarakat sekitar bersifat positif, dan setuju karena mereka percaya bila tidak melakukan TRADISI tersebut Alam akan marah dan tidak lagi memberikan hasil yang melimpah

Pantai Plengkung

21.06
Pantai Plengkung Surganya para Pe-selancar


Pelengkung dikenal sebagai pantai terbaik untuk surfing di dunia. Nama plengkung juga sering disebut dengan G-Land. huruh G berasal dari kata Grajagan, nama dari sebuah teluk yang memiliki pmbak yang besar. G-Land dikelilingi hutan hujan tropis yang masih alami. Disini ditawarkan olahraga surfing yang digemari para pe-surfer dan sidarankan hanya untuk para pe-surfer yang profesional. Mei sampai oktober adalah bulan terbaik untuk surfing. Tidak diragukan lagi bahwa G-Land merupakan surge bagi para peselancar.
Kebanyakan peselancar berangkat dari Bali melalui banyuwangi langsung ke G-Land atau ke grajagan. Kemudian, mereka menyewa boat menuju pantai plengkung.
 AKOMODASI
Ada Cottage dan jungle camp dekat pantai tersedia untuk para pengunjung. Bagaimana mencapai pantai plengkung atau G-Land? Pantai pengkung terletak di pantai selatan banyuwangi, ujung timur jawa timur. Para pengunjung dapat mencapai pantai ini lewat dua jalur, yaitu lewat darat – laut.
  1. LEWAT DARAT : Banyuwangi – kalipahit berjarak 59 km dan bisa di tempuh dengan naik bus. Dari kalipahit-pasaranyar menempuh jarak 3 km dengan ojek motor atau menyewa mobil. Dari pasaranyar – trianggulasi – pancur menempuh perjalanan 15 km, lalu pancur plengkung berjarak 9 km, dicapai dengan mobil khusus.
  2. LEWAT DARAT-LAUT : Banyuwangi – benculuk menempuh jarak 35 km dengan naik bus atau kendaraan umum lainnya. Gempuluk – grajagan berjarak 18 km dapat di tempuh dengan kendaraan umum. Grajagan – plengkung dilanjutkan dengan speed boat.
Jika penumpang memilih melalui grajagan, tersedia penginapan di pantai grajagan. Para pengunjung bisa menikmati keindahan pentai grajagan sebelum berangkat ke pantai plengkung.



PANTAI TELUK HIJAU, SURGA YANG TERSEMBUNYI DI BANYUWANGI

10.29
 Banyuwangi  tak hanya memiliki Pantai Plengkung yang indah, tapi juga Teluk Hijau. Teluk Hijau atau juga sering disebut Green Bay, namanya mungkin tidak sepopuler Rajegwesi dengan bantengnya, atau Sukamade dengan penyunya. Tetapi teluk ini mempunyai daya tarik tersendiri dengan pesona pasir putih nan lembut, air terjun setinggi 8 meter dan pemandangan karang yang indah. Sesuai dengan namanya, teluk ini berwarna hijau jika dilihat dari jauh. Ini berbeda dengan kebanyakan teluk atau laut yang biasanya berwarna biru. Kenapa bisa begitu? Apa mungkin karena ada banyak ganggang hijau? Entahlah….Yang jelas warna hijaunya sangat indah.



Teluk Hijau terletak di Kabupaten Banyuwangi, bagian selatan Pesanggrahan, Desa Sarongan. Wilayahnya termasuk dalam Taman Nasional Meru Betiri. Inilah surga yang tersembunyi di Banyuwangi. Pantai yang masih tersembunyi dan sepi ini memiliki hamparan pasir putih yang menawan. Pasirnya begitu halus, sehingga mudah melekat di kulit. Perpaduan antara pasir putih, air laut yang jernih berwarna kehijauan dan suasana yang asri akan membuat siapapun yang melihatnya merasa kagum.

Kebanyakan wisatawan mengunjungi Taman Nasional Meru Betiri dan Sukamade sebagai tujuan utama. Sebelum sampai di dua tempat tersebut, kita akan melewati Teluk Hijau. Sehingga Teluk Hijau hanya menjadi tempat persinggahan. Pengunjung hanya berhenti sejenak dan melihat Teluk Hijau yang eksotis dari kejauhan di atas bukit. Namun surga Teluk Hijau yang sebenarnya berada di pantainya.





Untuk mencapai Teluk Hijau, pengunjung harus menuruni bukit dan melewati hutan sebelum sampai di pantai, karena pantai Teluk Hijau letaknya di balik tebing karang setelah Pantai Batu. Jika bertemu dengan pantai yang dipenuhi hamparan batu, berarti Anda berada di Pantai Batu. Di sini hampir tidak nampak pasir layaknya pantai kebanyakan, yang terlihat hanyalah hamparan bebatuan bulat, mulai dari seukuran kepalan tangan sampai sebesar batuan yang ada di tengah sungai.


Dari pantai Batu, lokasi Teluk Hijau semakin dekat. Langkahkan lagi sedikit kaki dan Anda pun akan tiba di Teluk Hijau yang berpasir putih dan airnya sangat jernih. 







Di sini kita bisa berenang atau sekedar bermain air di pantainya. Tidak jauh dari pantai terdapat bukit  kecil. Di satu sisinya ada bebatuan berwarna kuning kecoklatan. Di sisi timur sekitar 20 meter dari pantai kita akan menjumpai air terjun dengan debit air yang sedang. Benar-benar unik bukan? Selama musim hujan volume air akan lebih cepat dan indah. Jadi meskipun jauh dari pemukiman, anda tidak perlu susah susah mendapatkan air bersih untuk membilas badan selepas berenang di pantai.





Untuk yang suka kemping, di lokasi ini juga cukup bagus untuk mendirikan tenda. Yang perlu diperhatikan jika kemping di Teluk Hijau adalah kondisi pasang surut air laut. JIka kondisi air pasang, maka ombak bisa menjamah seluruh permukaan pantai. Karena itu tenda sebaiknya didirikan di daerah semak/perdu agar man dari jangkauan ombak ketika air laut pasang. Jadi jangan membangun tenda di tepi pantai.

Satu hal lagi, di kawasan ini tumbuh bunga yang termasuk langka, bunga Raflesia. Bunga Raflesia ini menjadi perhatian tersendiri bagi dinas kehutanan di daerah tersebut. Karena selain menjadi objek pariwisata, bunga ini pun dilindungi.






 RUTE MENUJU TELUK HIJAU
Ada 2 cara menuju teluk ijo dari tempat pintu masuk :

1. Lewat Darat

Teluk ijo berlokasi di Kecamatan Pesanggaran tepatnya di desa Sarongan. Berjarak sekitar 90 km arah selatan dari kota Banyuwangi. Untuk menuju pantai ini dari Banyuwangi kita tinggal mengikuti petunjuk arah menuju Pesanggaran-Sarongan-Sukamade yang masih satu jalur dengan rute menuju pantai sukamade Taman Nasional Merubetiri.

Untuk menuju Teluk Hijau atau yang biasa disebut Teluk Ijo oleh penduduk lokal, pengunjung harus menuju Desa Pesanggrahan terlebih dahulu. Baru kemudian, lanjut ke Desa Sarongan dengan kondisi jalan yang cukup rusak.

Dari desa Kandangan, Sarongan, bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua. Namun, perjalanan dengan kendaraan hanya bisa dicapai sekitar hampir 1 km saja. Sampai di Rajegwesi anda akan berjumpa dengan pertigaan: yang ke kiri menuju pantai Rajegwesi dan yang ke kanan menuju Teluk Hijau dan Sukamade.

Letak Teluk Hijau tak terlalu jauh dari pemukiman penduduk yang paling akhir di daerah Rajegwesi. Oleh karena itu, jika anda membawa kendaran lebih baik jika kendaraan itu dititipkan ke penduduk. Lalu, perjalanan menuju Teluk Hijau dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Jarak menuju Teluk Hijau sekitar 2km. Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai Teluk Hijau adalah sekitar 30 menit di jalan utama dan 30 menit di jalan setapak.

Jangan sampai terjebak dengan pantai yang penuh dengan batu (yang mirip batu sungai), karena bukan itu yang disebut dengan Teluk Hijau. Tetapi teruslah berjalan di tepi pantai hingga melewati sedikit semak atau perdu. Di balik semak itulah Teluk Hijau berada.

Penujuk arah menuju Teluk ijo sudah cukup jelas, jadi tidak usah takut nyasar.

Rute pada google maps
Lihat pada google maps

2. Lewat Laut

Ini adalah cara paling mudah. Anda bisa menyewa perahu dari pantai Rajekwesi langsung menuju Teluk Hijau. Ongkosnya sekitar Rp 200.000,- PP. Teluk Hijau dapat dicapai dalam waktu 45 menit one way nya. Tapi anda harus punya nyali karena dengan perahu kecil tersebut dan melalui ombak laut selatan. Namun anda akan mendapatkan pengalaman yang baik selama perjalanan dengan perahu tersebut.


Kapan ya bisa kesana lagi :D