Tampilkan postingan dengan label aca. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aca. Tampilkan semua postingan

3 Tujuan Wisata Paling Memukau di Banyuwangi

16.20

Siapa sih yang tidak kenal dengan kota yang satu ini? Kota eksotis yang berada di ujung timur dari Provinsi Jawa Timur, kota yang sering menjadi tempat mengantri kapal veri untuk menyebrang ke Pulau Dewata, Bali.

Kota yang dijuluki sebagai "Sunrise of Java" ini memiliki sejuta keindahan alam yang tidak boleh dilewatkan begitu saja ketika kita mampir di Banyuwangi. Ada beberapa rekomendasi tempat wisata yang tidak kalah menarik dengan tempat wisata di kota lainnya.

1. Kawah Ijen “Ijen Crater”


Kawah Ijen yang letaknya di perbatasan Kabupaten Banyuwangi dengan Kabupaten Situbondo. Tempat ini bisa ditempuh 1-2 jam dari Kota Banyuwangi, kemudian dilanjutkan mendaki ke puncak antara 1-2 jam (untuk pemula dan jalan santai). Tidak usah khawatir, rute pendakian dan jalanannya tidak susah karena petugas setempat sudah membuat sedemikian rupa agar pengunjung mudah untuk mencapai puncak. Dan sungguh luar biasa ketika pengunjug sudah dapat mencapai puncaknya karena rasa lelah selama pendakian akan terbayar dengan nuansa indah alami di puncak. Pengunjung akan mendapat bonus tersendiri ketika berkunjung ke kawah ijen di dini hari (karena diizinkannya adalah sekitar pukul 01.00 WIB) di sana, ketika melihat lebih dekat ke kawahnya, ada yang menakjubkan yaitu adanya “Blue Fire”  yang mana hanya ada dua di dunia dan salah satunya itulah yang berada di Banyuwangi, Jawa Timur, Indonesia. Dan setiap tahunnya pemerintah setempat mengadakan acara internasional sebagai salah satu ajang promosi Banyuwangi yaitu ”Tour de Ijen”.


2.  Pulau Merah Red Island

Pulau Merah letaknya di Kabupaten Banyuwangi bagian selatan, untuk menjangkau tempat ini dibutuhkan sekitar 2-3 jam dari Kota Banyuwangi, rute dan medan jalan yang ditempuh sangat mulus, karena pada setia tahunnya rute ini dilewati dalam penyelenggaraan acara “Tour de Ijen” . Pantai dengan pasir putih siap menyambut kedatangan pengunjung yang berkunjung di Pulau Merah tersebut, desiran ombak laut yang besar sangat indah dan mengasyikkan untuk dinikmati. Dan seperti namanya, Pulau Merah, terdapat sebuah pulau kecil diseberang pantai yang menjulang seperti bukit degan tanah berwarna merah. Ombak dan panoramanya sanggup menarik wisatawan betah untuk berada di lokasi. Dan sempat diadakan perlombaan selancar berskala internasional pada 2013 di Pulau Merah tersebut.



3. Teluk Hijau “Green Bay”


Berbeda dengan Pulau Merah, Teluk Hijau memiliki jarak tempuh lebih jauh, butuh 3-4 jam untuk mencapai lokasi atau lebih. Selain itu medan tempuh yang dilewati pun lebih ekstrim, meskipun pada awalnya masih mulus. Letak tempat wisata ini sama dengan Pulau Merah, namun masih jauh lagi jaraknya. Dan ketika rute menuju Teluk Hijau pisah dari rute Pulau Merah, maka jalan bebatuan harus siap ditempuh. Ketika sampai di lokasi, pengunjung harus rela berjalan untuk akhirnya sampai di bibir pantai berkisar antara 2 km yang bisa ditempuh 1 jam perjalanan karena medannya pun cukup menantang. Namun, keindahan pesona teluk akan membayar semua kelelahan dalam perjalanan. Pasirnya yang puih, air lautnya yang biru kehijauan, dan alamnya yang masih asri sungguh luar biasa, berutung ketika pengunjung dapat menjumpai panghuni setempat alias monyet. Keeksotisan Teluk Hijau dapat dinikmati setelah melewati Pantai Batu. Keperawanan Teluk Hijau masih terjaga, karena sebenarnya, belum banyak wisatawan yang tahu tentang wisata Teluk Hijau ini namun, sungguh panoramanya luar biasa indah.

Jadi, nunggu apa lagi? Ayo mari berwisata ke Banyuwangi. I Love Banyuwangi :)

Kiat Liburan Hemat

20.03


Ada beberapa ide menarik agar kita bisa berlibur tanpa harus keluar banyak uang. Baca berbagai tips berhemat berikut dan terapkan saat liburan akhir tahun!

Mencari cara berlibur yang hemat biaya? Tidak ada yang salah dengan hal itu. Meski sedang berhemat, kita juga bisa berlibur dengan menyenangkan asal direncanakan dengan matang tentang pengeluaran selama liburan.

1. Tujuan liburan
Pastikan anda telah melakukan riset mengenai tujuan-tujuan yang menjadi pilihan Anda untuk berlibur. Jangan sampai Anda melewatkan promo yang sangat menguntungkan Anda dalam hal biaya, seperti diskon, penawaran spesial, dan bonus-bonus.

2. Akomodasi
Jika teman atau kerabat Anda memiliki tempat tinggal di tempat yang dekat dengan tujuan liburan Anda, maka tidak ada salahnya meminta izin untuk meminjam tempat tersebut sebagai akomodasi. Siapa tahu, mereka bisa meminjamkan dengan harga yang jauh lebih murah dibanding hotel, atau bahkan diberikan secara cuma-cuma.

3. Transportasi
Siasati biaya transportasi sepintar mungkin. Jangan sampai biaya transportasi menjadi pengeluaran terbesar Anda selagi berlibur. Jika Anda ingin berlibur keluar kota yang masih terjamah, tidak ada salahnya menggunakan transportasi umum seperti bus antar-kota, atau mungkin kereta api. Jika naik pesawat, memesan tiket dari jauh-jauh hari dan menghindari musim padat wisatawan adalah hal yang sangat bijak. Ketika sampai di tempat tujuan, pelajari baik-baik tentang kendaraan umum seperti bus, angkutan umum, atau MRT untuk yang di luar negeri. Jangan sungkan untuk bertanya pada sekeliling Anda jika Anda tidak mengerti.

4. Konsumsi
Saat berlibur ke suatu tempat, hindari tempat makan terkenal atau yang biasa dikunjungi para turis, karena sudah pasti harga yang ditawarkan sangat tinggi meskipun porsi dan kelezatannya tidak membuat puas perut. Carilah restoran yang lebih sering didatangi oleh masyarakat lokal setempat, biasanya akan lebih murah dengan porsi yang mengenyangkan dan enak.

5. Aktivitas
Pilihlah aktivitas berlibur yang tidak akan menghabiskan banyak biaya. Hiking, berenang, atau sekedar bermain di pinggir pantai adalah pilihan yang paling tepat. Jika pilihan Anda jatuh pada pantai, maka waktunya Anda menjadi ‘detektif’ untuk mencari pantai yang masih sepi pengunjung.

Nah, 5 hal di atas adalah hal-hal yang biasanya menguras kantong Anda selama berlibur. Ternyata, dengan budget sedikit, kita juga bisa berlibur dengan menyenangkan.

Selamat Berlibur!

Saat Sedang Lelah, Kecewa, dan Sedih

19.34
Buat saya, perubahan mood mendadak dari kondisi senang menjadi sedih, adalah hal yang biasa. Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan kita hadapi di hari yang baru. Jadi, hari yang terasa indah di awal, kadang bisa berakhir dengan kekecewaan. Siapa pun pasti pernah mengalaminya, termasuk Anda.

Namun, saya merasa sangat beruntung sebagai orang yang telah menikah, dan dikaruniai seorang putri kecil yang cantik yang pada 8 Maret tahun 2015 kemarin genap berumur 4 tahun (nama web ini saya ambil dari nama putri saya tersebut). Setiap saya pulang bekerja, mereka selalu menyambut saya dengan senyuman dan pelukan hangat. Rasanya, semua beban pekerjaan yang masih menyangkut di pikiran, sirna begitu saja.

Bagi saya, pelukan dan sentuhan dari pasangan, atau pun sang buah hati, berati lebih dari sekadar sentuhan biasa. Begitu sarat kasih sayang dan cinta yang tulus. Maka itu, saya tidak akan pernah meremehkan hal ini. Sebisa mungkin, sebuah pelukan singkat saya berikan kepada anggota keluarga, karena saya sendiri sudah membuktikan efek positifnya bagi jiwa saya.

Seorang terapis keluarga dari luar negeri, Virginia Satir, mengatakan bahwa untuk bertahan hidup kita membutuhkan empat pelukan dalam sehari. Untuk kesehatan, diperlukan delapan pelukan per hari. Dan untuk pertumbuhan, awet muda, dan kebahagian kita membutuhkan 12 pelukan seharinya. Menakjubkan, ya?

Temuan tersebut didukung oleh beberapa penelitian yang menyebutkan bahwa pelukan dapat menyembuhkan berbagai penyakit fisik dan psikis. Karena, disadari atau tidak, seseorang yang mendapat pelukan, atau yang memeluk, merasakan adanya kekuatan cinta yang mengelilingi mereka. Kekuatan cinta inilah yang membuat kekebalan tubuh seseorang meningkat. Saat berpelukan, tubuh melepaskan oxytocin, hormon yang berhubungan dengan perasaan damai dan cinta. Hormon ini membuat jantung dan pikiran menjadi sehat. Oxytocin baru bisa keluar jika manusia memiliki kehidupan sehat dan merasa damai serta tentram.

Sekarang, coba Anda ingat-ingat, kapan terakhir kali Anda memeluk pasangan dengan kasih sayang yang tulus, bukan sekadar pelukan rutin biasa? Bila jawabannya, setiap hari, itu sudah bagus. Beberapa pasangan yang sudah menikah lebih dari 25 tahun, mengakui bahwa mereka sering menyentuh dan memeluk dalam kesehariannya. Dengan kebiasaan tersebut, mereka merasa keterikatan yang kuat dan saling membutuhkan antara satu dengan yang lain, tidak pernah hilang.

Jangan remehkan juga sebuah sentuhan. Saat berjalan bersama pasangan di tempat umum, saya masih selalu bergandengan tangan layaknya ABG yang baru mulai berpacaran. Sebisa mungkin kebiasaan itu tidak akan saya hilangkan. Dia pun tidak ragu untuk menunjukkan kasih sayangnya kepada saya di depan banyak orang, walaupun kami tidak menunjukkannya secara berlebih. Hanya sekadar bergandengan tangan atau rangkulan di bahu atau pinggang.

Sayangnya, beberapa teman mengaku risih melakukan hal tersebut, dengan alasan malu dengan umur. Kenapa harus malu? Untuk bersentuhan, berpelukan, dan menunjukkan kasih sayang kepada pasangan, tidak ada aturan yang membatasi usia seseorang yang boleh atau tidak boleh melakukannya. Ekspresikan cinta Anda, maka Anda pun akan senantiasa menerima perlakuan penuh cinta dari pasangan hidup Anda.

Atau, kalau memang masih malu memperlihatkan kemesraan di depan umum, lakukanlah saat sedang berdua atau di rumah. Biarkan Anda yang memulainya. Sentuhan ringan di bahunya saat pulang kerja, elusan sayang di kepala ketika Anda lewat di dekatnya, atau hanya senyuman manis penuh rasa sayang. Hidup pun akan terasa semakin indah, bila kebiasaan menyentuh dan memeluk ini mulai dilakukan jug oleh pasangan Anda.

Seorang master Reiki di Mumbai, India, berkata, "Pelukan adalah salah satu alat untuk bertransformasi. Dengan pelukan, satu pribadi dengan pribadi lain semakin dekat. Jika hubungan Anda dengan orang lain renggang, salah satu cara agar hubungan itu menghangat adalah dengan memeluknya. Jika rumah tangga Anda diambang kehancuran, cobalah memeluk pasangan Anda 20 kali sehari. Saya yakin Anda berdua tak akan bercerai. Selain itu, hidup Anda berdua akan lebih bahagia, sehat, dan awet muda. Serta Anda akan terhindar dari stres dan depresi."

DRIVE – MELEPASMU

22.46
Assalamualaikum all teman2 blogger kali ini saya ingin menumpahkan kegalauan saya dengan pasangan saya yang sampai saat ini benar2 tidak bisa mengerti dengan perasaan saya :(, disini saya sebagai seorang ayah dan terus berusaha bertanggung jawab pada keluarga tapi saya selalu salah dimatanya, dan pada akhirnya dia memilih berpisah dari saya :'( padahal saya sangat mencintainya dan saya sangat menyayanginya lebih dari apapun , berawal dari suatu pertengkaran kecil yang sebenarnya bukanlah hal yang penting hingga akhirnya menjadi seperti ini, di sisi lain ada pihak ketiga yang sudah menunggu dia lepas dari saya :'(. tapi saya tetap sadar setiap ada kata "Hello" dan mau gak mau pasti ada kata "Goodbye".



Saya rasa lirik lagu ini cocok untuk kisah cinta saya DRIVE – MELEPASMU

Tak mungkin menyalahkan waktu
Tak mungkin menyalahkan keadaan
Kau datang di saat membutuhkanmu
Dari masalah hidupku bersamanya

reff:
Semakin ku menyayangimu
Semakin ku harus melepasmu dari hidupku
Tak ingin lukai hatimu lebih dari ini
Kita tak mungkin trus bersama

Satu saat nanti kau kan dapatkan
Seorang yang akan dampingi hidupmu
Biarkan ini menjadi kenangan
Dua hati yang tak pernah menyatu

repeat reff

Maafkan aku yang membiarkanmu
Masuk ke dalam hidupku ini
Maafkan aku yang harus melepasmu
Walau ku tak ingin

Mungkin ada sobat blogger yang punya saran agar hubungan ini tetap terjalin dan tidak ada kata perpisahan diantara saya dan pasangan saya.


Sekolah Pilot Negeri Hadir di Banyuwangi

21.27

Blimbingsari - Banyuwangi - Jawa Timur
Sumber Daya manusia merupakan faktor vital dalam industri penerbangan. Indonesia membutuhkan banyak penerbang. Setidaknya dibutuhkan sekitar 800 pilot per tahun. Adapun untuk kawasan Asia, kebutuhannya mencapai sekitar 185.000 pilot hingga 2031. 

”Fasilitas pendidikan ini adalah bagian dari upaya pemerintah menyiapkan sumberdaya manusia (SDM) penerbang yang andal di tengah semakin berkembangnya industri penerbangan nasional. Saat ini jumlah maskapai dan rute terus berkembang, sehingga di sisi hulunya, seperti kesiapan SDM, harus benar-benar bagus,” ujar Kepala Badan Pengembangan SDM Kementerian Perhubungan, Santoso Eddy Wibowo di sela-sela peresmian gedung LP3B di Banyuwangi.

Sebelumnya, sekolah pilot ini merupakan bagian dari jurusan Akademi Teknik Keselamatan Penerbangan (ATKP) Surabaya. Bandara Blimbingsari, Banyuwangi, digunakan saat praktik penerbangan. Dengan rampungnya gedung LP3B, berarti pengembangan dari jurusan yang ada di ATKP Surabaya menjadi sekolah tersendiri. Saat ini sudah ada 47 taruna yang bersekolah di LP3B. 

Sekolah pilot negeri di Banyuwangi yang secara resmi disebut Loka Pendidikan dan Pelatihan Penerbang Banyuwangi (LP3B) ini merupakan fasilitas pendidikan pilot kedua yang dimiliki pemerintah setelah sekolah serupa di Curug, Tangerang, Banten yang berdiri pada 1952. 

Santoso mengatakan, tahun ini Kementerian Perhubungan juga telah menambah tiga pesawat latih jenis Cessna 172 SP dan tiga simulator full motion untuk sarana pendidikan pilot di Banyuwangi yang menelan dana Rp34 miliar. Tahun depan, akan ada penambahan empat pesawat latih. Hingga 2016, seiring dengan pemenuhan fasilitas ideal, dibutuhkan dana Rp200 miliar. 

”LP3B ini akan menjadi pusat pendidikan yang unggul. Kami juga bekerja sama dengan Boeing untuk melakukan supervisi untuk meningkatkan kualitas SDM di industri penerbangan, termasuk para pilot di sekolah ini,” kata Santoso. 

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas gembira dengan kehadiran sekolah pilot tersebut. Kehadiran LP3B akan semakin melengkapi infrastruktur pendidikan yang ada di kabupaten berjuluk The Sunrise of Java tersebut, yang juga telah memiliki Politeknik Negeri Banyuwangi. 

”Penerbangan adalah sektor vital dan pengungkit ekonomi. Banyuwangi ingin ikut berkontribusi pada peningkatan kualitas industri penerbangan nasional. Apalagi, kami punya bandara berkonsep bagus, tahun depan Bandara Blimbingsari Banyuwangi yang telah ada akan diubah menjadi green airport, bandara tanpa AC pertama di Indonesia,” kata Anas. 

Anas mengatakan, sebagai negara kepulauan dengan 17.000 buah pulau dan 240 juta jiwa penduduk, Indonesia adalah pasar besar bagi industri penerbangan. Saat ini, industri penerbangan nasional tengah berada pada momentum emas untuk terus melaju. Pertumbuhannya mencapai kisaran 15-18 persen per tahun. Karena itu, pengembangan SDM pilot melalui sekolah pilot di Banyuwangi ini akan sangat mendukung terciptanya industri penerbangan nasional yang kompetitif. 

”Indonesia harus mengantisipasi kebijakan ASEAN Open Sky 2015 dan kebijakan pasar penerbangan tunggal ASEAN 2020. Kita membutuhkan setidaknya tambahan 4.000 pilot, 1.000 pengatur lalu lintas, dan 4.500 teknisi,” ujar Anas. (kw)

Agro Wisata Pancoran Rogojampi

22.00


Pemandian Pancoran terletak di Kecamatan Rogojampi. Desa Pancoran, sekitar 17 km dari kota Banyuwangi ke arah selatan. Para pengunjung dapat mandi di pemandian dan bermain Water Boom. Arena bermain disediakan untuk anak-anak. Para pengunjung dapat menikmati makan siang di cafetaria yang ada di pemandian. 


 Selain itu, juga ada wahana mainan anak-anak seperti kereta, kuda terbang (sejenis komedi putar), ayunan, dan kendaraan ATV yang bisa disewa.  Rata2 harga sewanya terbilang murah berkisar Rp 3000 – Rp 5000. Sementara itu, biaya masuk ke wahana Pemandian ini Rp 7.000,- tiap orang.

Gambar gambar diatas belum termasuk danau buatan, yang baru saja di buat. Sengaja tidak saya jepret karena pada waktu itu masih dalam tahap pembuatan. Untuk temen2 yang penasaran langsung aja datang ke Agro Wisata Pancoran Alamatnya di Ds. Pancoran Kec. Rogojampi Kab. Banyuwangi.

Indahnya Menyusuri Bersihnya Pasir di Pantai Gerajagan

11.53


Grajagan, nama ini sangat familier di Banyuwangi-jawa Timur, Grajagan merupakan pantai yang menarik untuk dikunjungi. Selain luas, nuansa pantai tersebut diselimuti oleh pasir bersih. Persis di seberang pantai, nampak bukit yang gagah terhujam ke bumi dengan kuatnya. Dan di sekitarnyanampak kampung nelayan menambah pesona Grajagan semakin anggun. Wisatawan dapat membeli beberapa jenis ikan laut hasil tangkapan nelayan tersebut. Bahkan ada Gua pertahanan di jaman Jepang juga ada di tempat wisata ini. Grajagan kira-kira 53 km ke arah selatan dari Banyuwangi.

Sepanjang pantai selatan Banyuwangi ini menjanjikan keindahan alamnya yang tiada tara khususnya pada deretan lereng gunung-gunung, perkebunan, pantai, dan lautan yang terbentang luas dari hamparan Samudera Hindia. Seperti halnyaPantai Grajagan ini, Plengkung dan pantai lainnya yang ada di TN Alas Purwo. Grajagan sangat ideal sebagai tempat transit atau sebagai pintu gerbang untuk menuju ke pantai Plengkung. Disamping lokasinya tidak terlalu jauh untuk menuju ke TN Alas Purwo, Grajagan nan indah dan jauh dari kebisingan kota. Dari Grajagan untuk menuju ke Plengkung dibutuhkan waktu sekitar dua jam menyusuri pantai menggunakan perahu sewa, perjalanan tersebut ternyata hampir sama bila kita menggunakan mobil dengan melewati jalur darat. Hal ini disebabkan jalan makadam menuju ke TN Alas Purwo, kondisinya sangat buruk sekali.
Grajagan bisa dijadikan alternatif pilihan bagi wisatawan yang ingin melancong ke TN Alas Purwo dengan menggunakan perahu. Kawasan seluas 314 hektar ini berada di hutan KPH Banyuwangi Selatan, tepatnya di petak 111 BKPH Curahjati atau secara administratif pemerintahan terletak di desa Grajagan, Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi. Wanawisata ini dikelola oleh Kesatuan Bisnis Mandiri – Wisata, Benih dan Usaha lainnya (KBM-WBU) Perum Perhutani Unit II Jawa Timur Di Wanawisata Grajagan, juga tersedia fasilitas berupa penginapan. 
Bagi pengunjung yang ingin bermalam menikmati keheningan alam dengan paduan deburan ombak yang menggebu tak perlu khawatir, dilokasi wisata ini terdapat 10 kamar dan 2 rumah berbentuk bungalow yang menghadap kearah laut. Tarifnyapun sangat variartif dan terjangkau antara 100 ribu – 150 ribu. Pelayanan di Wanawisata ini juga non stop selama 24 jam. Namun wisatawan yang datang di tempat ini kebanyakan hanya wisatawan lokal, jarang sekali turis bermalam disini, ujar Supardi selaku penjaga wanawisata Grajagan yang sudah lebih 14 tahun bekerja ditempat ini.
Kendati demikian, tempat ini tetap layak untuk dijadikan sebagai tempat transit bagi turis yang ingin ke TN Alas Purwo, imbuhnya. Wanawisata Grajagan ini umumnya hanya rame dikunjungi pada hari libur saja, selain bisa menikmati keindahan pantai dengan paduan hutan ini, pengunjung dapat menyaksikan langsung aktifitas nelayan pada pagi hari saat berangkat mencari ikan dan menurunkan ikan hasil tangkapannya.
Pemandangan lain yang bisa dinikmati disini melihat deburan ombak laut lepas dari atas shelter dan tiga gua Jepang yang menghadap kearah laut selatan, yang merupakan peninggalan tentara Jepang pada masa perang dunia kedua. 
Jika ingin menuju lokasi ini sangatlah mudah, ruas  jalannya sudah beraspal dan bias ditempuh menggunakan mobil pribadi atau kendaraan umum hingga ke lokasi. Jika naik kendaraan umum dari arah Kota Banyuwangi bisa naik bus jurusan Jember atau sebaliknya, dan turun di Benculuk, dari Benculuk perjalanan dilanjutkan naik angkutan pedesaan sekitar 12 Km menuju Grajagan.
Perjalanan yang menarik dari Grajagan ke Alas Purwo adalah saat menggunakan perahu sewa, terutama menuju lokasi pantai Ngagelan yang merupakan tempat penangkaran penyu belimbing, abu-abu dan hijau. Hampir setiap malam petugas disini selalu mencari telur penyu untuk ditetaskan, wisatawan yang sudah sampai di Ngagelan ini bisa melepas langsung penyu yang sudah siap dan waktunya dilepas ke laut lepas setiap saat.

Surga Penyu di Pantai Ngagelan

11.32


Hujan mulai turun di sepanjang Alas Purwo, ketika kami memasuki kawasan pantai Ngagelan. Di rumah yang disediakan oleh pengelola Taman Nasional Alas Purwo, tampak wisatawan dari Jerman asik mengamati poster WWF Indonesia bertuliskan ”Selamatkan Penyu”. Gubuk kayu ini bukanlah penginapan, melainkan pusat informasi dan penangkaran Penyu.

Ngagelan terletak 7 km ke arah barat dari pantai Trianggulasi. Warga sekitar alas Purwo lebih suka menyebutnya Pantai Marengan. Jarak tempuh dari pos Rowo bendu sekitar 30 menit, jalan yang ditempuh cukup eksotis, karena disebelah kanan dan kiri terdapat pepohonan tinggi yang subur.
Topografi wilayahnya tidak jauh berbeda dengan pantai lain yang membentang sepanjang bibir pantai selatan alas purwo. Menariknya adalah, pada bulan Mei dan Juni, pantai ini kerap dikunjungi oleh penyu-penyu dari Samudra Hindia (laut selatan) yang ingin menetas. Seolah tanpa dikomando, ratusan penyu ini mendarat di bibir pantai dan menetaskan telurnya.

Hamparan pasir yang bersih dengan kombinasi hutan mangrove dan hutan tropis membuat penyu-penyu ini merasa nyaman untuk menetaskan telurnya. Paidi, petugas penangkaran penyu mengatakan, pada bulan April, Mei dan Juni, ketika angin pasat dari timur membawa udara hangat ke pesisir pulau Jawa, penyu – penyu dari laut selatan mendarat di bibir pantai. Siklus cuaca ini menjadi salah satu faktor penyu untuk melakukan persalinan.

Persalinan Penyu di pantai Ngagelan menjadi daya tarik wisata bahari. Setiap malam, ada sekitar 30 penyu yang melakukan persalinan. Meski bertelur pada malam hari, namun penyu tersebut tidak akan mendarat bila di pantai tersebut dikunjungi orang.

Itulah sebabnya, bagi wisatawan yang hendak mengambil gambar, maka harus menunggu hingga pukul 23.00, waktu inilah yang tepat karena air laut mulai sampai di bibir pantai, dan penyu sudah bersiap pasir. Setelah melakukan persalinan di pasir, penyu tersebut kembali ke laut. Selanjutnya, petugas Taman Nasional Alas Purwo mengambil telur tersebut untuk ditetaskan secara semi alami.

Di pusat penangkaran penyu (masih dalam komplek pantai Ngagelan) terdapat bak-bak penetasan Setelah telur menetas, bayi penyu diberikan perawatan sampai berumur 5 bulan. Pasir di pantai Ngagelan sangat kondusif bagi proses bersalin empat jenis penyu antara lain jenis penyu abu-abu (lupidochelys olivaceae), penyu hijau (chelonian mydas), penyu sisik (eretmochelys imbricate) serta penyu belimbing (darmochelys coreacea). Jenis –jenis tersebut adalah empat penyu dari tujuh jenis penyu yang ada didunia.

 Tips berwisata di Ngagelan:
1. Jangan mengambil apapun, termasuk tumbuhan dan benda lain, karena akan merusak ekosistem yang ada.
2. Sebaiknya membawa kamera digital karena banyak momen yang bisa diabadikan.
3. Bawalah bekal yang cukup, karena jarak pantai ngagelan dari pos Rowo bendo (warung dan pusat makanan) mencapai 5 Km.
4. Berilah tip untuk guide, karena mungkin anda membutuhkan berbagai informasi yang dibutuhkan untuk kegiatan wisata Anda.

Selamat berkunjung di Surga Penyu.

Asal-Usul Ritual Kebo-Keboan Banyuwangi

11.17


Membahas tuntas Kota Banyuwangi, akan terkuak sebuah suku yang memiliki kesenian unik, yaitu Suku Using. Masyarakat Using adalah keturunan Kerajaan Blambangan, mereka memiliki kesenian Kebo-Keboan yang merupakan suatu permohonan kepada Tuhan agar panen mereka subur dan dijauhi dari malapetaka.

Meski zaman kian beralih, namun setiap tahun masyarakat Banyuwangi berupaya keras mempertahankan kemurnian dan kesakralan kebudayaan mereka. Konon, tradisi ini dimulai sejak abad-18, ketika itu masyarakat Desa Alasmalang dilanda musibah wabah penyakit berkepanjangan yang disebut brindeng atau pagebluk. Peyakit ini tidak ditemukan obatnya, bagi yang terkena pada pagi hari, maka sore harinya akan mati, jika malam kena, paginya akan mati, begitulah seterusnya.

Selain itu, masyarakat Alasmalang yang sebagian besar bermata pencaharian petani itu pun lahan pertaniannya dilanda hama tikus yang amat besar, mereka terancam gagal panen. Bertindaklah salah satu sepuh desa, yaitu Mbah Buyut Karti untuk mengambil tindakan, guna melenyapkan penyakit pagebluk dan hama tikus tersebut. Ia menggelar ruwatan atau ritual, beberapa orang manusia didandani seperti kerbau, dari sinilah kemudian nama “Kebo-Keboan” muncul.

Mengapa kerbau? Ya, karena kerbau merupakan hewan yang diakui sebagai mitra petani di sawah, kerbau yang diperankan manusia itu melambangkan betapa hubungan mitra antara petani dengan kerbau harus dipertahankan. Seluruh tubuh didandani dengan coretan hitam dari arang, lengkap dengan tanduk kerbau, ini juga sebagai simbol yang menunjukan bahwa kerbau merupakan tumpuan mata pencaharian masyarakat Alasmalang yang mayoritas sebagai petani.

Ritual Kebo-Keboan terbagi atas beberapa tahapan, tujuh hari sebelum pelaksanaan, sang pawang melakukan meditasi di beberapa tempat yang dianggap keramat, yaitu, di Watu Loso (sebuah batu yang berbentuk seperti tikar),  Watu Gajah (batu yang berbentuk seperti gajah) dan Watu Tumpeng (batu yang berbentuk seperti tumpeng).

Pawang tersebut haruslah keturunan Mbah Buyut Karti, ia juga diwajibkan menyediakan sesaji yang terdiri dari tumpeng, peras, air kendi, kinang ayu, aneka jenang hingga inkung ayam, serta kue, dan nasi tumpeng yang nantinya dibagikan kepada masyarakat yang hadir.

Rombongan peserta ritual berjuluk Ider Bumi ini akan berjalan menuju bendungan yang dibuka sehingga air mengaliri jalanan yang telah ditanami palawija. Aroma kemenyan tercium sesaat lepas dupa dibakar  menemani hingga proses ritual selesai.

Rombongan kerbau tersebut kemudian berkubang dan membajak sawah seperti pada umumnya yang diikuti oleh beberapa orang pemuda yang menanami benih padi. Puncaknya adalah ketika warga berebut benih padi yang ditanam tadi, namun itu tidak mudah karena “kerbau-kerbau” yang sudah diberi mantra akan secara beringas menyeruduk warga yang berusaha mengambil benih padi tadi. Benih padi dipercaya sebagai penolak bala, mendatangkan keberuntungan dan membawa berkah. Tradisi ini diakhiri dengan pagelaran wayang kulit malam harinya.

Unsur mistik dalam tradisi Kebo-Keboan memang masih kental. Sesajen harus dipenuhi tanpa ada yang kurang, jika itu terjadi tidak jarang akan terjadi kesurupan. Walaupun begitu, tradisi ini sarat akan nilai kebersamaan, ketelitian, gotong royong, dan religious, tak heran jika masih dipertahankan oleh masyarakat Banyuwangi.

Asal-Usul Gandrung Banyuwangi

01.15


Menelusuri Asal-Usul Gandrung Banyuwangi

Kesenian daerah Blambangan merupakan bentuk karya seni yang bersifat spesifik. Sifat khas yang dimiliki disebabkan adanya faktor putaran biografis yakni letak daerah Blambangan sebagian dari pulau Jawa berdekatan dengan Bali dan Madura. Faktor historisnya dan pertumbuhan seni budaya daerah Blambangan pada dekade terakhir erat hubungannya dengan Bali. Dalam kesempatan ini penulis mencoba menuangkan kembali berdasarkan dari berbagai sumber tentang “Asal-Usul Gandrung Banyuwangi”.

Konon pada pen­yelenggaraan upacara pada jaman kerajaan Majapahit, sering dilakukan pemen­tasan tari di istana yang dikenal dengan sebutan tari “juru angin”. Seorang wanita yang pandai menari dan menyanyi dengan gayanya sangat erotis. Penari tersebut diikuti oleh seorang buyut (Lansia) yaitu seorang penari pria bertugas sebagai puna kawan penari juru angin tersebut. Bentuk tarian
sebagai prototype, suatu bentuk kesenian yang sekarang dikenal dengan sebutan “gandrung”. Hal itu kiranya dapat diasumsikan dari bentuk penampilan penari yang selalu diikuti penabuh kluncing atau disebut seorang pengundang.
Tugas seorang pengundang tersebut memberikan penampilan yang mirip dengan gaya lawak pada saat penari gandrung tampil, Bisa dimaklumi pada jaman kehidupan kerajaan, maka daerah yang jauh dari pusat kerajaan perkembangan seni budaya mengikuti pola seni budaya pusat (kerajaan). Dalam perkembangan masa sekitar tahun 1890-an di daerah Blambangan berkembang suatu bentuk kesenian gandrung yang pelarinya terdiri dari anak-anak laki-laki berusia antara 7 sampai 16 tahun, mereka berdandan mirip penari gandrung wanita.
Adapun pementasan gandrung laki-laki pada saat itu dengan cara keliling masuk kepelosok desa, kemudian penari tersebut mendapat imbalan inatura. Sedangkan gamelan pengiringnya berupa kendang dan terbang (rebana). Penari gandrung yang kesohor waktu itu bernama Marsan. Penari gandrung laki-laki waktu itu hanya mampu bertahan sampai usia 16 tahun. Sedangkan Marsan sampai mencapai usia 40 tahun, dan tetap memilih sebagai penari gandrung sampai akhir hayatnya. Untuk memilih siapa patner penarinya, biasanya sigandrung melempar ujung sampur (selendang) kearah penonton yang mengelilinginya. Pelaksanaan pementasan biasanya dilakukan pada malam hari di halaman terbuka. Pada perkembangan berikutnya sekitar tahun 1895- diangkatlah penari gandrung wanita yang kebetulan dia seorang penari sebiang bernama semi.
Penari gandrung pertama yang bernama Semi tersebut adalah putri dari seorang penduduk Desa Cungking Kecamatan Giri, bernama mak Midah. Desa Cungking sampai tahun 1800-an penduduknya masih memeluk agama Ciwa. Di Desa Cungking tersebut hingga sekarang masih memiliki suatu jenis kesenian sebiang, yakni di kelurahan Bakungan.


GANDRUNG PADA PERKEMBANGAN SEKARANG
Perkembangan kesenian gandrung pada saat sekarang berjalan secara musiman. Kalau oh ac1 ritonan gandrung di suatu tempat ia a terbentuk gandrung paju yang memang untuk memenuhi kontrak mereka yang mempunyai hajatan, entah itu khitanan, dan resepsi pernikahan. Biasanya dimulai dtfri 21.00 sampai pukul 4 dini hari, sekadar memenuhi suatu acara tertentu. Seni paju gandrung atau dikenal dengan ungkapan tanggapan, ada kalanya dilakukan pada siang hariStatus gandrung masa kini mengarah kepada masalah hiburan, dalam kesempatan itu biasanya penari gandrung berfungsi sebagai alat media bagi tuan rumah (yang punya hajatan) dalam menjamu tamu tamunya.
Adapun urutan penampilan biasanya diawali dengan tarian “jejer”, baru menyusul tari dan gending sesuai permintaan para tamu. Selanjutnya pada gjchir penampilan ditutup dengan tarian sebiang. Urutan penari para tamu biasanya terdiri empat orang yang bergantian dalam melakukan tari paju. Urutan tari paju tersebut disesuaikan dengan rangking kedudukan tamu dalam masyarakat, atau menurut urutan datangnya peralatan tersebut. Dalam mengatur urutan tamu penari gandrung dibantu oleh seorang penari gedog atau lajimnya disebut pramugari.
Dalam penampilan gandrung tanggapan itu biasanya selalu terjadi sedikit krodit antar tamu pendatang. Cukup memprihatinkan lagi setiap tontonan gandrung tanggapan identik ada minuman memabukkan. Sambil mengibarkan uang kertas pemaju berambisi ingin terus menari mengandalkan isi kantong. “Wuuullll” itu yang selalu terucap dari mulut pemaju yang dalam keadaan play, tidak menyadari di belakang panggung masih antri menunggu giliran.

Rawa Bayu

17.40
Keheningan di Rawa Bayu

Suasana hening menyergap saat memasuki areal Wana Wisata Rawa Bayu. Areal telaga berdiameter sekitar 50 meter itu terkungkung hutan lebat dan bebat daun aneka pepohonan. Akibatnya, matahari pun susah payah meneroboskan sinarnya hingga siang hari seperti candikala (matahati tenggelam). Desiran angin membawa gemericik air dari celah-celah dinding kaki Gunung Raung terasa dingin menusuk tulang.

Beberapa patung kala berwajah menyeramkan seolah menyeruak di balik pohon kecil. Tak ada suara, apalagi teriakan, dan beberapa pengunjung pun berbicara setengah berbisik. Ya, Rawa Bayu di Desa Bayu, Kec. Songgon, Kab. Banyuwangi memang sangat hening dan singup (angker). Telaga itu menyimpan sejarah Blambangan yang penuh linangan air mata dan tetesan darah. Di salah satu sudut di pinggir telaga itu terdapat petilasan Raja Blambangan Tawang Alun ketika bersemedi merenungi kematian dua adiknya, yang berperang melawan dirinya.
Di Desa Bayu terjadi perang puputan atau habis-habisan rakyat Blambangan melawan penjajah VOC Belanda, 18 Desember 1771. Puputan itu diakui Belanda sebagai peperangan paling brutal dan kejam, serta menghabiskan biaya senilai 8 ton emas. Kini setiap 18 Desember diperingati sebagai hari jadi Kota Banyuwangi. (baca juga Kisah Heroik Rakyat Blambangan). Awalnya diyakini sebuah rawa, namun seiring perjalanan waktu berubah telaga. Demikian juga sangat hening pada hari-hari biasa. Namun berubah meriah pada hari libur atau Minggu. Telaga alam itu menjadi tujuan wisata keluarga bagi masyarakat di wilayah Songgon, Rogojampi, Sempu, dan sekitamya. Selain itu juga dikunjungi orang dari beberapa daerah di Banyuwangi lainnya, seperti Tegal Dlimo, Bangorejo, Purwoharo, Pesanggaran, Muncar, dan sebagainya. Serta beberapa daerah di luar Banyuwangi, seperti Jember, Lumajang, bahkan dari Bali. Mereka dating untuk mengambil air suci, kebanyakan umat Hindu. “Menurut kepercayaan mereka, biasanya mereka lebih dulu mendapatkan wisik (suara gaib, red.) yang memerintahkan agar mengambil air dari sumber air di sini (sumber Rowo Bayu, red.) ,” ujar Handoyo, penjaga petilasan Prabu Tawang Alun.
 
Para pengunjung juga ada bersemedi di petilasan Prabu Tawang Alun, Raja Blambangan. Diantara mereka ada yang mengaku keturunan atau kerabat Prabu Tawang Alun. Sebab setelah kerajaan Blambangan hancur, banyak kerabat atau pasukannya yang tercerai berai. “Ada yang lari ke Bali, tapi ada juga yang bersembunyi di hutan-hutan di daerah Banyuwangi, terbukti masih banyaknya orang yang masih menganut agama Hindu di Banyuwangi,” ujar pria berusia 70 tahun ini. Di telaga Rowo Bayu terdapat tiga sumber air, yaitu Sendang Keputren, Wigonggo, dan Sendang Kamulyan. Sebelum mengalir ke telaga atau rowo, sumber air itu ditampung di sebuah kolam kecil atau sendang. Selain ketiga sumber air tersebut, air Rawa Bayu juga berasan dari lapisan batu-batu yang berada di sekitarnya. Menurut Handoyo, dulu pada hari libur atau Idul Fitri kerap sekali digelar berbagai pertunjukan. Namun sekarang ini sudah jarang sekali, karena banyak kejadian aneh pada saat acara atau usai acara digelar. Misalnya, ada orang kesurupan dan impian yang aneh yang melarang daerah tersebut untuk hura-hura atau mengumbar hawa nafsu.
“Sekarang ini kebanyakan orang yang berkunjung untuk mengambil air dan semedi. Biasanya mereka datang saat bulan purnama dan tilem (tidak ada bulan), “ujarnya. Di sisi lain, Rawa Bayu tidak sekedar tempat wisata dan semedi. Ya, bisa menjadi media pembelajaran yang dapat mendukung mata pelajaan sejarah karena jelas merupakan bukti sejarah. Juga dapat mendukung mata pelajara biologi karena dapat digunakan sebagai media keaneka ragaman hayati, ekosistem rawa, ekosistem hutan dan sebagainya. Juga dapat mendukung mata pelajaran geografi misalnya menentukan kedalaman rawa. Jika tertarik ke Rowo Bayu dapat ditempuh dengan kendaraan umum atau pribadi. Dari jalan raya Jember-Banyuwangi, Anda berhenti di kota Rogojampi. Setelah itu terus ke arah barat sekitar 7 km ke Kota Songgon, kemudian ke barat lagi 7 km. Harus ekstra hati-hati sesampai di tetenger Puputan Bayu di Desa Bayu, sebab jalannya rusak dan bergelombang sekitar 3 km.

Pantai Gerajagan Banyuwangi

17.15

Grajagan merupakan pantai yang menarik untuk dikunjungi. Pantainya luas diselimuti oleh pasir bersih. Di seberang pantai, bukit yang gagah terhujam ke bumi dengan kuatnya. Pemandangan kampung nelayan menambah pesona Grajagan. Wisatawan dapat membeli beberapa jenis ikan laut hasil tangkapan nelayan. Gua pertahanan jaman jepang juga tersedia di tempat wisata ini. Grajagan kira-kira 53 km ke arah selatan dari Banyuwangi.


Pantai Grajagan Sepanjang pantai selatan Banyuwangi memang menjanjikan keindahan alamnya yang tiada tara terutama deretan gunung-gunung, perkebunan, pantai, dan lautan yang terbentang luas dari hamparan Samudera Hindia. Diantaranya pantai Grajagan, Plengkung dan pantai lainnya yang ada di TN Alas Purwo. Grajagan sangat ideal sebagai tempat transit atau sebagai pintu gerbang untuk menuju ke pantai Plengkung. Disamping lokasinya tidak terlalu jauh untuk menuju ke TN Alas Purwo, Grajagan juga sangat indah dan jauh dari kebisingan kota. Dari Grajagan untuk menuju ke Plengkung dibutuhkan waktu sekitar dua jam dengan menyusuri pantai menggunakan perahu sewa, perjalanan itu ternyata hampir sama bila kita menggunakan mobil dengan melewati jalan darat. Hal itu disebabkan jalan makadam menuju ke TN Alas Purwo, kondisinya sangat buruk sekali.
Grajagan dapat menjadi pilihan bagi wisatawan yang ingin melancong ke TN Alas Purwo dengan menggunakan perahu. Kawasan seluas 314 hektar ini berada di hutan KPH Banyuwangi Selatan, tepatnya di petak 111 BKPH Curahjati atau secara administratif pemerintahan terletak di desa Grajagan, Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi. Wanawisata ini dikelola oleh Kesatuan Bisnis Mandiri – Wisata, Benih dan Usaha lainnya (KBM-WBU) Perum Perhutani Unit II Jawa Timur Di Wanawisata Grajagan, juga tersedia fasilitas berupa penginapan. 


Pengunjung yang ingin bermalam untuk menikmati keheningan alam dengan paduan deburan ombak yang menggebu tidak perlu khawatir, dilokasi wisata ini terdapat 10 kamar dan 2 rumah berbentuk bungalow yang menghadap kearah laut. Tarifnyapun sangat variartif dan terjangkau antara 100 ribu – 150 ribu. Pelayanan di Wanawisata ini juga non stop selama 24 jam. Tetapi wisatawan yang datang di tempat ini kebanyakan hanya wisatawan lokal, jarang sekali turis bermalam disini, kata Supardi penjaga wanawisata Grajagan yang sudah lebih 14 tahun bekerja ditempat ini. Namun demikian tempat ini tetap layak untuk dijadikan sebagai tempat transit bagi turis yang ingin ke TN Alas Purwo, imbuhnya.Wanawisata Grajagan ini umumnya hanya rame dikunjungi pada hari libur saja, selain bisa menikmati keindahan pantai dengan paduan hutan ini, pengunjung dapat menyaksikan langsung aktifitas nelayan pada pagi hari saat berangkat mencari ikan dan menurunkan ikan hasil tangkapannya. Pemandangan lain yang bisa dinikmati disini melihat deburan ombak laut lepas dari atas shelter dan tiga gua Jepang yang menghadap kearah laut selatan, yang merupakan peninggalan tentara Jepang pada masa perang dunia kedua. 
Untuk menuju lokasi ini sangat mudah, jalannya sudah beraspal dan dapat ditempuh menggunakan mobil pribadi atau kendaraan umum hingga ke lokasi. Jika naik kendaraan umum dari arah Kota Banyuwangi bisa naik bus jurusan Jember atau sebaliknya, dan turun di Benculuk, dari Benculuk perjalanan dilanjutkan naik angkutan pedesaan sekitar 12 Km menuju. Grajagan. Perjalanan yang menarik dari Grajagan ke Alas Purwo adalah menggunakan perahu sewa, utamanya menuju ke pantai Ngagelan yang merupakan tempat penangkaran penyu belimbing, abu-abu dan hijau. Tiap malam petugas disini selalu mencari telur penyu untuk ditetaskan, wisatawan yang sudah sampai di Ngagelan ini bisa melepas langsung penyu yang sudah siap dan waktunya dilepas ke laut lepas setiap saat.

Agro Wisata Pulau Merah

16.47



Pulau Merah adalah sebuah pantai yang terletak di sebelah selatan Banyuwangi. Tepatnya berada di kecamatan Pesanggaran. Tak kalah menariknya dengan tempat wisata yang lain yang ada di Banyuwangi. Pulau merah dengan pasir pantai yang putih membentang desepanjang pantai.

Bukit yang berada di tengah laut dengan struktur tanah berwarna merah adalah cirri khas hingga pantai ini disebut Pulau Merah.
Pantai Pulau Merah memiliki kelebihan untuk menjadi sebuah destinasi wisata yang menjanjikan. Selama ini, G-land adalah destinasi wisata di Banyuwangi yang disenangi oleh peselancar dunia. Pulau merah menjadi penambah detinasi wisata di Banyuwangi bertaraf Internasional.
Ombak di G-land hanya ditujukan untuk pesurfer profesional karena lebih menantang. Beda dengan ombak di pulau merah, bisa digunakan oleh pesurfer amatir dan profesional. Selain itu Pulau Merah lebih mudah dijangkau, dibandingkan dengan G-Land.  Ini adalah peluang untuk menjadi family surf tourism karena bisa mendatangkan lebih banyak wisatawan asing.
Pulau Merah adalah mutiara yang baru digali dan lama tidak dimunculkan. Kedepannya, Pantai Pulau Merah tidak hanya menjadi wisata surfing tapi juga bisa dikembangkan sebagai wisata olahraga lainnya seperti sport soccer, volley pantai dan paralayang. Tinggal bagaimana pemerintah daerah mau mengemas pariwisata yang ada di Pantai tersebut.

Pantai Wisata Blimbing Sari

16.59


Langit berwarna biru cerah. Hampir senada dengan warna laut Blimbingsar. Bila berdiri di pantainya kemudian menatap ke arah timur, akan nampak garis cakrawala membujur hampir mempertemukan langit dan bumi. Dari pantai itu pula, Pulau Bali yang terletak di seberang serasa dekat.
Panorama alam di pantai Blimbingsari, Kecamatan Rogojampi itu, bisa menjadi salah satu pilihan bagi anda yang menggemari pelesiran wisata laut. Bila ingin melihat matahari terbit dengan cahaya kuning telurnya, datang saja ke pantai ini. Bukan hanya matahari terbit, Anda pun bisa menikmati kesibukan puluhan nelayan pulang berlayar. Mereka menurunkan berkilo-kilo ikan hasil tangkapan dari perahu. Sebagian ikan itu dijual pada penadah yang juga ikut memadati pantai. Bila siang sudah menjelang, perahu-perahu nelayan disandarkan di bibir pantai sebelah selatan.

Pantai Blimbingsari, adalah salah satu wisata laut di Banyuwangi yang pengunjungnya tidak pernah sepi. Ratusan pengunjung bisa disaksikan saat sore tiba. Selain menjadi wisata favorit para keluarga, anak-anak muda juga memanfaatkan pantai ini untuk berolahraga, sepakbola dan bola volly. Kalau cuma ingin santai, pengunjung cukup duduk di kendaraan masing-masing menikmati panorama dan merasakan semilir angin. Anda pun bisa mengajak serta anak-anak dan kerabat lainnya.
Bila cuaca sedang bagus, bolehlah anak-anak mandi. Setiap harinya ada belasan anak-anak yang mandi disana. Biasanya mereka bermain dengan ombak, lalu berguling-guling di pasir. Keunggulan lain yang dimiliki pantai ini adalah berdirinya warung lesehan dengan khas masakan ikan bakar. Anda boleh memilih salah satu warung dari sepuluh warung yang berjejer di pinggir pantai.
Cara penyajian di warung ini cukup unik. Pembeli memilih sendiri ikan mentah yang ada dalam gabus penyimpanan. Ada kerapu, kakap, jenis udang-udangan, cumi, putihan, barongan, rajungan dan kepiting. Setiap harinya, ikan-ikan itu didapat dari nelayan setempat sehingga terlihat selalu segar. Tapi ikan hanya boleh dibeli dalam bentuk kiloan. Harganya berkisar antara Rp 25 ribu-Rp 60 ribu per kilonya.
Selesai memilih ikan, anda bisa memesan bumbu untuk ikan. Umumnya warung lesehan menyediakan pilihan bumbu, seperti pindang koyong, pepesan, rica-rica, dan bumbu merah. Mau pedas atau tidak sesuaikan dengan selera. Setelah itu, tunggu saja di meja barang sejenak. Sekitar 30 menit, pelayan akan datang menghadirkan ikan pesanan anda, lengkap dengan nasi hangat, sayur lalapan, tempat cuci tangan, dan tentunya piring. Makan ikan bakar dengan tangan, sambil menikmati pemandangan laut, pasti akan membuat selera makan anda menjadi lebih lahap.
Pantai Blimbisari ramai dikunjungi salah satunya berkat berdirinya warung lesehan sejak 1998 lalu. Dulunya, warung-warung itu adalah rumah yang pemiliknya bekerja sebagai nelayan. Ide mendirikan warung katanya, hanya karena coba-coba. Saat itu, sebagian ikan dari tangkapannya dibakar lalu dijual ke tetangga. Lambat laun, masakan Buang bertambah laris.

Mudah saja untuk mencapai wisata Pantai Blimbingsari. Letaknya sekitar 17 KM arah selatan dari pusat kota Banyuwangi. Bila tidak punya kendaraan sendiri, anda bisa naik dokar (andong) yang biasa mangkal di pasar Rogojampi. Lumayan, sepanjang perjalanan menuju pantai, mata anda bisa menikmati hamparan sawah yang tak kalah menariknya.