Tampilkan postingan dengan label kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kuliner. Tampilkan semua postingan

Ini Dia Mie Goreng Instan Paling Pedas di Dunia!

16.33


Bagi beberapa orang, makan tidak enak jika tidak pedas. Maka tidak heran jika camilan pedas begitu disukai, bahkan makanan pedas dan menantang harus dicoba sebagai sebuah sensasi tersendiri. Untuk memenuhi keinginan penyuka masakan pedas, sebuah perusahaan mie instan di Jepang memproduksi mie goreng paling pedas di dunia.

Yakisoba, salah satu produsen mie instan dari Jepang baru-baru ini membuat menyatakan telah membuat mie goreng instan paling pedas dan bisa membuat Anda banjir keringat, dilansir oleh stomp.com.sg. Nama mie ini adalah EDGE: DEVIL HOT. Wah.. namanya menggambarkan seperti apa rasanya, terasa sangat pedas dan membuat penasaran.

Mie instan ini dilengkapi sayuran, kecap, bumbu dan serpihan cabe kering yang sangat banyak, sehingga bisa dipastikan rasanya super duper pedas. Bahkan dalam pembungkusnya sudah diberi peringatan!

Beberapa orang sudah mencoba mie goreng instan super pedas ini, bahkan menuliskan langkah membuatnya di forum gigazine.net. Menurut penulis review, rasanya memang sangat pedas, namun tidak sampai membuat rasa terbakar di mulut atau tenggorokan.

Kabarnya EDGE: DEVIL HOT diproduksi terbatas! Anda berminat mencobanya?

Sego Santet Banyuwangi

21.27


Hehehehe... Pasti kalau mendengar nya Anda pasti merasa aneh bukan. tapi bikin penasaran juga kan,,,iya... nggak?
Mendengar Santet pasti buat anda yang sekarang berusia 30 an pasti akan mengingat tentang tragedi pembunuhan dukun santet yang membuat geger seluruh wilayah banyuwangi dan di benak tiap orang, santet pasti menjadi sesuatu yang menakutkan. Apalagi santet selama ini kerap menjadi julukan Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, setelah tragedi pembunuhan dukun santet 1998 silam. bahkan sampai saat ini kalau mendengar banyuwangi pasti orang ingat santet.hehehe angker juga sebutanya kota kelahiran ku.

Tapi ini beda dengan santet yang betulan,ini hanya sebuah nama untuk makan.
Sego santet punya rasa gurih, tapi pedas ayamnya membakar di lidah. Selain karena bumbunya, pedas berasal dari sambal tiga warna. Tiga jenis sambal itu adalah sambal hitam yang terbuat dari keluwak, sambal tomat terasi serta sambal dari cabai hijau.

ayam santet menggunakan ayam kampung. Namun dagingnya tetap empuk di lidah. Hal itu, karena ayam terlebih dahulu harus dipanaskan di atas api yang nyalanya kecil selama tiga jam. "Setelah itu ayam digoreng atau dibakar,

Buat yang penasaran silahkan datang di sentra kuliner di Jalan Ahmad Yani, Kabupaten Banyuwangi.berada di gerai 31 menu ini dibanderol Rp 13 ribu per porsi, harga yang ramah di kantong. disana juga ada menu yang tak kalah enak yaitu sego pelet/nasi pelet.

nb. Nama makanan memang jadi salah satu daya tarik bagi pembeli. Namun rasa tetap jadi patokan nomor satu. Bila nama menarik, dan rasanya nikmat, dijamin pembeli akan terus berdatangan. 

Bendung Impor, Banyuwangi Pacu Pengembangan Buah Lokal

11.52
.
Kabupaten Banyuwangi terus menggenjot pengembangan buah lokal. Kabupaten berjuluk "The Sunrise of Java" ini memang dikenal sebagai salah satu basis hortikultura di Indonesia.
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, sejumlah komoditas andalan antara lain buah naga, jeruk, dan manggis. "Saat ini buah impor membanjiri pasar Indonesia. Kita tak bisa tinggal diam. Gemari buah lokal agar petani sejahtera, ekonomi daerah bergerak," kata Anas saat melakukan panen buah naga di Kecamatan Bangorejo, Banyuwangi, Selasa (5/2).
Anas mengatakan, pihaknya telah melakukan langkah-langkah proteksi buah lokal. Di antaranya melarang buah impor disajikan di wilayah perkantoran Banyuwangi dan di dalam acara-acara di lingkungan Pemkab Banyuwangi. "Dengan demikian, pembelian buah lokal meningkat," ujarnya.
Selain itu, Pemkab Banyuwangi memfasilitasi promosi buah lokal hingga ke luar daerah. "Pemkab juga menyiapkan infrastruktur penunjang seperti jalan-jalan di basis hortikultura hingga peningkatan nilai tambah komoditas hortikultura dengan memproduksi produk turunan dari buah segar," jelas Anas.
Saat ini, luas lahan perkebunan buah naga di Banyuwangi mencapai 678,8 hektar. Produktivitas tanaman buah yang juga diikenal sebagai buah dewa ini, per hektarnya mencapai 30 ton. Produksi buah naga pada 2013 mencapai 20.364 ton, meningkat dibanding 2012 sebesar 12.936 ton.
Anas mengatakan, buah naga asal Banyuwangi telah memenuhi pasar Surabaya, Jakarta, dan Bali. Besarnya produksi buah naga itu juga mampu mendongkrak pendapatan petani. Ditambah, harga buah naga di pasaran lebih terkontrol karena buah naga lebih tahan lama jika dibandingkan dengan komoditas lain seperti cabai atau tomat. 
“Peningkatan penghasilan petani buah naga sangat luar biasa. Jika harganya Rp. 10.000 per kilogram, coba berapa yang dihasilkan jika satu hektar menghasilkan 30 ton,” tutur Bupati.
Bupati Anas mengungkapkan, potensi buah naga juga dapat disinergikan dengan program agro-tourism. Travel agent bisa membangun komunikasi dengan petani agar bisa bekerja sama pada saat musim panen buah naga. "Misalnya setelah dari Pantai Pulau Merah, wisatawan dapat dibawa ke sini untuk memetik langsung buah naga dan menikmatinya. Saya akan dorong konsep semacam ini," tambahnya.
Anas menambahkan, produksi komoditas lain seperti jeruk juga meningkat pesat. Pada 2012, produksi jeruk mencapai 140.602 ton, lalu meningkat pesat menjadi 222.804 ton pada 2013. "Komoditas hortikultura lokal harus juara. Kita bukannya anti-asing, tapi dalam konteks penguatan petani, pemerintah daerah harus ambil sikap. Banyuwangi ada di garda depan proteksi buah lokal. Ini harga mati," kata Anas.
 
Sumber: http://www.jpnn.com/

Pelasan Uling, Unagi Jepang ala Banyuwangi

11.38



Menikmati unagi tidak harus jauh-jauh ke Jepang. Anda bisa menikmatinya di Banyuwangi, Jawa Timur. Unagi merupakan masakan Jepang yang sudah dikonsumsi mulai abad 7 sebagai makanan yang kaya protein, kalsium, vitamin A dan E yang berbahan dari Ikan Sidat.

Ikan Sidat juga populer di Korea. "Masakan berbahan dasar Sidat dianggap sebagai sumber daya tahan untuk laki-laki. Selain itu Sidat mempunyai kandungan gizi 25 kali lebih banyak dibandingkan susu, 2 kali ikan Salmon serta memiliki omega tinggi. Ibu hamil juga bagus mengkonsumsinya karena akan menambah kecerdasan otak bayi dan membuat daya tahan tubuh meningkat," jelasnya.

Tidak susah mendapatkan ikan Sidat di Banyuwangi. Masyarakat dari kabupaten yang dikenal dengan Sunrise of Java lebih mengenal Sidat dengan sebutan Uling. "Kalo di Jepang Sidat tanpa tulang diolah menjadi unagi-no-kabayaki atau sidat panggang yang diberi saus manis kabayaki semacam Teriyaki. Atau ada juga direbus. Kalau di Banyuwangi, Sidat dikenal Uling biasanya dipepes atau dikenal dengan pelasan Uling," Yang banyak di jual di warung makan.

Ikan Sidat dibersihkan dan dipotong-potong serta dicuci bersih. "Untuk bumbunya sederhana hanya cabai merah, cabai rawit, asam jawa, gula merah. Ada juga tomat yang dipotong-potong untuk menghasilkan rasa segar dan pas dengan daging Sidat yang lembut,".

Setelah bumbu siap, maka dicampur dengan Sidat yang sudah dipotong-potong lalu dibungkus daun pisang. "Satu pelasan berisi dua atau tiga potong daging Sidat. Lalu kemudian dikukus sebentar lalu dibakar agar aroma dagingnya keluar. Memang sengaja tidak diambil durinya karena pelanggan bilang sensasinya lebih terasa," katanya.

Mutiara membanderol harga Rp 15.000 per satu pelasan. "Biasanya yang datang dari rombongan luar kota.

Sementara itu Putri Akmal, warga Banyuwangi mengaku sudah beberapa kali makan pelasan Sidat bersama keluarganya. "Saya tahunya ini Uling. Dulu keluarga sering masak kalau pas nangkap di sungai. Soalnya kan belum ada yang membudidayakannya. Jadi masaknya ya kalau pas nemu aja. Saya juga baru tahu kalo di Jepang ini makanan mahal. Kalau di sini murah nggak usah jauh-jauh ke Jepang buat makan Unagi. Di sini ada yang versi Banyuwangi," katanya sambil tertawa.

Daging  Sidat yang lembut pas sekali dengan bumbu tradisional yang bercitra pedas dan asam. "Makannya pake nasi hangat jadi lupa kalo punya utang," hehehehehehe.

Penasaran dengan rasa Pelasan Uling, Unagi Jepang Versi Banyuwangi. Di tunggu di Banyuwangi. Rasanya yang pedas, asam dan segar membuat anda selalu ketagihan.

Rujak Soto, Kuliner Nyentrik Khas Banyuwangi

00.08


Berbicara kuliner di Kabupaten Banyuwangi yang terkenal dengan julukan "Sunrise of Java" tidak bisa dilepaskan dengan rujak soto. Kuliner nyentrik perpaduan antara rujak sayur dengan soto babat menghasilkan rasa unik yang selalu dicari.

Rujak yang digunakan adalah campuran sayur mayur dengan bumbu kacang serta petis. Untuk pedasnya, bisa disesuaikan dengan pesanan dari konsumen. Bumbu kacang dicampur dengan garam, kacang goreng, gula merah, asam dan juga pisang klutuk (pisang batu) muda.

Menurut Mbak Atun, salah satu penjual rujak soto di Desa Sukowidi, Kecamatan Kalipuro, pisang klutuk merupakan bahan yang wajib dalam rujak soto. "Pisang klutuk ini akan memberikan rasa khas di rujak soto. Kalau nggak ada pisang klutuk rasanya kurang mantep," katanya.

Setelah bumbu siap tinggal dicampur dengan campuran sayur yang direbus seperti kangkung, kacang panjang, kubis dan juga potongan tahu dan tempe yang digoreng. Setelah selesai, rujak diwadahi mangkuk dan tinggal dituangi kuah soto babat sapi. "Kalau ada yang mau biasanya ditambah lontong," kata Mbak Atun.

Untuk soto, Mbak Atun memilih soto yang berisi babat, usus dan tetelan daging sapi. Ia bercerita cara membuat soto sama seperti soto pada umumnya. "Bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, kemiri merica. Terus disangrai dan dimasak dengan babat usus dan tetelan daging sapi. Ditambahkan juga dengan bawang prei, lengkuas, daun jeruk, serai, seledri. Kalau sudah siap tinggal dituangkan ke campuran rujak dan diberi bawang goreng, telur asin dan krupuk. Kalau suka bisa ditambahkan dengan kecap manis," jelasnya.

Mbok Atun membandrol rujak soto lengkap dengan telur asin seharga Rp 10.000. "Murah, meriah, enak dan kenyang," katanya.

Langganan Mbak Atun bukan hanya warga di sekitar warungnya tapi juga dari luar kota. "Banyak orang asli Banyuwangi yang tinggal di luar kota mampir ke sini kalau pas pulang kampung. Mereka biasanya menikmati pas waktu makan siang," ungkapnya.

Lalu sejak kapan rujak sota masuk Kabupaten Banyuwangi? Menurut budayawan Banyuwangi, Hasnan Singodimayan kepada Kompas.com, Kamis (16/1/2014), pada tahun 1970-an ada lagu yang berjudul Rujak Singgol yang menjelaskan beberapa nama rujak yang ada di wilayah Banyuwangi.

"Di lagu yang berjudul Rujak Singgol disebutkan beberapa nama rujak, namun nama rujak soto masih belum disebutkan dalam lagu itu. Ada rujak uni, rujak locok, rujak lethok, rujak kecut, rujak cemplung. Namanya semuanya mengarah kepada bahan nama yang digunakan rujak atau mengolah rujak. Seperti rujak wuni yang dibuat dari buah wuni yang rasanya asam," jelasnya.

Menurut Hasnan, rujak soto baru muncul setelah tahun 1970-an dan merupakan hasil dari keisengan penikmat rujak di Banyuwangi.

"Muncul juga rujak bakso dan pecel rawon. Tapi yang identik dengan Banyuwangi adalah rujak soto karena rasa dan perpaduannya memang unik. Seperti akhir dari lagu 'Rujak Singgul', Durung weruh rasane mageh arane, nganeh anehi yang artinya, belum tahu rasanya, masih namanya saja sudah aneh. Seperti itulah rujak soto," jelas Hasnan sambil menyanyikan lagu 'Rujak Singgul'.

Penasaran? Nah jangan bilang pernah mengunjungi Banyuwangi kalau belum menikmati rujak soto. Anda akan menikmati eksperimen kuliner campuran yang rasanya unik dengan sensasi yang istimewa

Durian Merah Langka dari Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi

19.36

Rasanya Lebih Legit, Seperti Rasa Duren Dengan Susu

Buah durian berwarna kuning memang sudah biasa. Tetapi ada durian merah atau yang disebut durian Siwayut di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah. Durian jenis ini juga ada di Kecamatan Songgon. Apa istimewanya?

ADA sebuah gang yang bernama Duren Abang di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Nama gang itu memang unik, karena asal nama gang itu berasal dari duren abang (durian merah). Di ujung gang itu terdapat rumah Serad, 70, si pemilik pohon durian langka yang biasa disebut durian siwayut itu.

Menurut Serad, asal kata siwayut tersebut berasal dari zaman nenek moyangnya. Dalam bahasa Using, siwayut artinya adalah warisan buyut atau warisan nenek moyang. Sedangkan warga sekitar menyebut, asal usul nama gang tersebut berasal dari sebuah pohon durian yang menghasilkan buah durian merah. Pohon itu hingga sekarang masih berada di pekarangan belakang rumah Serad.

Diameter pohon durian merah itu berukuran besar. Ukurannya hampir sama dengan pelukan tiga orang dewasa ini. Tinggi pohon itu sekitar 50 meter. Berdasarkan cerita warga sekitar, pohon ini merupakan wit babon (pohon induk) dari pohon-pohon durian merah yang ada di Banyuwangi.

Menurut Serad, usia pohon ini sudah mencapai sekitar 310 tahun. Kapan awal kehidupannya, Serad mengaku tidak tahu menahu. Yang jelas, pohon itu telah ada sejak dia lahir. Bahkan, sudah ada sejak masa neneknya masih kecil. "Pohon itu warisan turun temurun. Sehingga saya dan keturunan kami tidak boleh menebangnya," ujarnya.

Serad mengatakan, pohon itu merupakan pohon induk dari pohon-pohon durian merah yang sekarang ini banyak terdapat di Banyuwangi. Perbedaannya terlihat pada warna dan rasa buahnya. Buah durian merah yang dihasilkan oleh pohon induk tersebut, warnanya merah tua, sementara dari pohon anakan, yaitu pohon hasil peranakan pohon induk tersebut, warna daging buahnya adalah merah muda. Rasanya pun berbeda.

Serad mengatakan, rasa durian siwayut dari pohon induk lebih legit dan lebih kental. Rasanya seperti durian bercampur susu. Sementara rasa durian siwayut dari pohon anakan tidak selegit yang asli. "Kandungan alkoholnya pun berbeda. Durian dari pohon induk, kadar alkoholnya lebih terasa," tutur bapak dua anak tersebut.

Meski begitu, ternyata durian siwayut memiliki banyak manfaat. Hal ini berdasarkan pengakuan Serad sendiri serta beberapa warga yang memang pernah merasakan khasiat durian ini. "Khasiat utamanya bisa menambah vitalitas kaum lelaki," ujar Maksum, salah seorang tetangga.

Serad mengatakan, karena masih terbatas keberadaannya, durian yang satu ini selalu menjadi rebutan. Tidak hanya masyarakat Banyuwangi, masyarakat dari luar kota pun sering berkunjung ke rumahnya dengan tujuan untuk memesan durian tersebut. Bahkan, ada pelanggan tetapnya yang berasal dari Kalimantan, yang secara rutin menyambangi rumahnya setiap tahun untuk merasakan durian siwayut tersebut.


Gara-gara duren siwayut miliknya, Serad juga sampai mendapat kunjungan oleh Imam Utomo, yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jawa Timur. Tidak hanya itu, pengalaman menarik juga muncul karena durian tersebut. Karena penasaran dengan rasa dan penampilan durian siwayut ini, istri Purnomo Sidiq, mantan Bupati Banyuwangi, sampai menunggui dengan sabar proses jatuhnya durian tersebut dari pohonnya. Namun, meski sudah ditunggu, buah durian tersebut tidak jatuh-jatuh. Sehingga membuat istri Purnomo tertidur di gazebo yang memang disediakan Serad di dekat pohon duriannya. "Padahal menunggunya dari pagi hingga sore, namun tidak ada satu pun buah yang jatuh," ujar suami Saudah ini.

Serad mengatakan, sekali berbuah, pohon induk siwayut bisa menghasilkan sekitar 300 buah. Hanya, waktu berbuahnya tidak menentu. Tidak seperti pohon durian yang lain, pohon durian ini justru memiliki jadwal yang tidak tetap. Tapi bisa dipastikan, pohon ini hanya bisa berbuah satu kali dalam setahun. Uniknya, buah durian siwayut ini berukuran sedang, dan cenderung seragam. "Buahnya tidak pernah lebih besar dari ukuran normalnya," tuturnya.

Perbedaan durian yang satu ini dengan durian lain, adalah dari baunya. Karena baunya sangat kuat, sehingga bisa bertahan hingga beberapa hari meski duriannya sudah dipindahkan.

Meski dibilang langka, Serad mengaku tidak pernah mematok harga khusus untuk duren miliknya ini. Memang, selama ini duren serupa dijual seharga Rp 50 ribu. Namun, dia tidak mengaku tergiur dengan harga mahal tersebut. Saat ada orang yang membeli duriannya, dia rela dibayar sesuai dengan kemampuan si pembeli. Makanya, dia juga pernah hanya dibayar Rp 10 ribu untuk satu buah durian langka tersebut. Alasannya sangat sederhana, karena dengan harga murah, siapa pun bisa menikmati durian tersebut, dan tidak hanya kaum berduit. "Mosok bongso lan warga isun dewek heng biso mangan duren asli daerah kene? (Masak bangsa dan warga Kemiren sendiri malah tidak bisa menikmati durian asli daerah mereka sendiri?)," ujarnya.

Karena waktu berbuahnya yang tidak menentu, banyak orang yang ingin memesan terlebih dahulu dengan memberi uang muka, bahkan sebelum pohon tersebut berbuah. Namun Serad tidak pernah menyetujuinya. Karena berdasarkan pengalamannya, saat ada orang yang sudah memesan dan membayar uang muka terlebih dahulu, maka buahnya justru tidak mau jatuh dari pohon. Hal itu sudah terbukti beberapa kali. Sehingga, apabila ada orang yang memesan, dia akan menolaknya, dan menganjurkan orang tersebut datang ke rumahnya saat duren siwayut miliknya sudah mulai panen.

Nasi Tempong Ala Banyuwangi

12.14


Nasi Tempong merupakan salah satu makanan khas dari kota Banyuwangi selain pecel rawon dan juga rujak soto. Kalau kedua menu tersebut hanya bisa dijumpai di kota Banyuwangi, namun tidak dengan nasi tempong. Karena nasi ini juga bisa kita jumpai di beberapa kota lainnya, seperti Jakarta, Bali dan kota lainnya.

Sedangkan untuk penjual nasi tempong yang ada di kota Banyuwangi sendiri bisa kita jumpai di beberapa tempat, tentu dengan cita rasa yang berbeda di setiap tempatnya.

Pada kesempatan kali ini, Saya bersama tim wisatakuliner.com mencoba untuk menikmati nasi Tempong di Warung Mbak Nah.

Menurut informasi yang kami terima, Nasi Tempong Mbak Nah ini cukup terkenal di Banyuwangi hingga ke kota sekitarnya. Dengan menempati sebuah bangunan sederhana di Jalan Kolonel Sugiono No. 16, nasi tempong mbak nah ini buka dari jam 2 siang sampai tengah malam sekitar jam 12-an.

Ketika kami tiba dilokasi jam menandakan jam makan malam telah lewat, namun di Warung Nasi Tempong Mbak Nah ini masih dipenuhi oleh para pembeli.

Mulai dari yang masih anak-anak hingga orang dewasa terlihat sedang mengantri disana, ada yang makan di tempat ada juga yang take-away. Cukup lama kami menunggu giliran, karena Saya tidak menemukan celah untuk berbincang dengan pemiliknya meski cuma sebentar, akhirnya Saya pergi lewat pintu samping.

Alhasil, Saya pun disambut dengan ramah oleh para pegawai yang sedang sibuk memasak di belakang, sedangkan  Mbak Nah yang bernama lengkap Mbak Rahna ini sedang sibuk membuat sambal. “Setiap hari memang seperti ini pemandangannya, semua selalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing” kata Mbak Nah.

Melihat kedatangan Saya, mbak Nah pun juga menyapa dengan sangat ramah meski sambil terus membuat sambal. Akhirnya Saya dapat berbincang dengan mbak Nah meski tidak terlalu lama, ternyata Beliau ini sudah berjualan nasi tempong sejak harganya masih 200rupiah hingga sekarang menjadi 4ribu rupiah. Dinamakan nasi tempong karena setelah memakan makanan ini, kita akan merasa kepedasan seperti orang yang habis ditempong.

Biasanya dalam seporsi nasi tempong terdiri dari nasi putih yang disandingkan dengan sayur bayam rebus, terung rebus, tahu, tempe, ikan asin, perkedel jagung, mentimun dan beberapa helai daun kemangi kemudian ditambahkan sambal tempong yang menjadi ciri khasnya.

Sedangkan untuk lauk tambahannya ada telur dadar, hati, pepes, ayam dan beberapa jenis ikan laut. Untuk kali ini Saya memilih telur dadar sebagai lauk tambahannya, telur dadarnya digoreng dengan menggunakan minyak yang sudah panas dan dalam jumlah yang banyak, sehingga telurnya berukuran menjadi lebih besar dari biasanya. Sedangkan rekan yang lain lebih memilih ayam goreng sebagai lauk tambahannya.

Apa pun lauk tambahan yang kita pilih menurut Saya tidak terlalu banyak pengaruh, karena meski tanpa lauk tambahan pun rasanya sudah nikmat.

Karena kenikmatan nasi tempong ini terletak pada sambalnya yang super pedas namun menyegarkan, membuat kita tidak ingin berhenti untuk menyantapnya sebelum semuanya habis.

Sebenarnya sambal hanya berupa sambal tomat dengan tambahan terasi dan perasan jeruk limun, namun rasanya berbeda dari sambal-sambal yang selama ini sering kita jumpai.

Karena ramainya para pelanggan nasi tempong Mbak Nah ini, sekitar 50 kg beras selalu bisa habis setiap hari. Selain rasanya yang nikmat, harganya juga sangat terjangkau dengan porsi yang cukup banyak.

Kalau tanpa ada tambahan lauk hanya dibandrol 4ribu rupiah, sedangkan untuk yang tambah lauk tergantung lauknya, mulai dari 2ribu hingga 6ribu untuk setiap jenis lauknya.