Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan

Ritual Tari Seblang di Banyuwangi

02.41

Ritual Seblang adalah salah satu ritual masyarakat Using yang hanya dapat dijumpai di dua desa dalam lingkungan kecamatan glagah banyuwangi yakni desa Bakungan dan Olihsari. Ritual ini dilaksanakan untuk keperluan bersih desa dan tolak bala, agar desa tetap dalam keadaan aman dan tentram. Ritual ini sama seperti ritual Sintren di wilayah cirebon, Jaran Kepang, dan Sanghyang di Pulau Bali.

Penyelenggaraan tari Seblang di dua desa tersebut juga berbeda waktunya, di desa Olihsari diselenggarakan satu minggu setelah idul fitri, sedangkan di desa Bakungan yang bersebelahan, diselenggarakan seminggu setelah idul adha.

Para penarinya dipilih secara supranatural oleh dukun setempat, dan biasanya penari harus dipilih dari keturunan penari seblang sebelumnya. Di desa Olihsari, penarinya haruslah gadis yang belum akil balik, sedangkan di Bakungan, penarinya haruslah wanita berusia 50 tahun ke atas yang telah mati haid

Tari Seblang ini sebenarnya merupakan tradisi yang sangat tua, hingga sulit dilacak asal usul dimulainya. Namun, catatan sejarah menunjukkan bahwa Seblang pertama yang diketahui adalah Semi, yang juga menjadi pelopor tari Gandrung wanita pertama (meninggal tahun 1973). Setelah sembuh dari sakitnya, maka nazar ibunya (Mak Midah atau Mak Milah) pun harus dipenuhi, Semi akhirnya dijadikan seblang dalam usia kanak-kanaknya hingga setelah menginjak remaja mulai menjadi penari Gandrung.

Tari Seblang ini dimulai dengan upacara yang dibuka oleh sang dukun desa atau pawang. Sang penari ditutup matanya oleh para ibu-ibu yang berada dibelakangnya, sambil memegang tempeh (nampan bamboo). Sang dukun mengasapi sang penari dengan asap dupa sambil membaca mantera. Setelah sang penari kesurupan (taksadarkan diri atau kejiman dalam istilah lokal), dengan tanda jatuhnya tempeh tadi, maka pertunjukan pun dimulai. Si seblang yang sudah kejiman tadi menari dengan gerakan monoton, mata terpejam dan mengikuti arah sang pawang atau dukun serta irama gendhing yang dimainkan. Kadang juga berkeliling desa sambil menari. Setelah beberapa lama menari, kemudian si seblang melempar selendang yang digulung ke arah penonton, penonton yang terkena selendang tersebut harus mau menari bersama si Seblang. Jika tidak, maka dia akan dikejar-kejar oleh Seblang sampai mau menari.

musik pengiring Seblang hanya terdiri dari satu buah kendang, satu buah kempul atau gong dan dua buah saron. Sedangkan di Olihsari ditambah dengan biola sebagai penambah efek musikal.

Dari segi busana, penari Seblang di Olihsari dan Bakungan mempunyai sedikit perbedaan, khususnya pada bagian omprok atau mahkota.

Pada penari Seblang di desa Olihsari, omprok biasanya terbuat dari pelepah pisang yang disuwir-suwir hingga menutupi sebagian wajah penari, sedangkan bagian atasnya diberi bunga-bunga segar yang biasanya diambil dari kebun atau area sekitar pemakaman, dan ditambah dengan sebuah kaca kecil yang ditaruh di bagian tengah omprok.

Pada penari seblang wilayah Bakungan, omprok yang dipakai sangat menyerupai omprok yang dipakai dalam pertunjukan Gandrung, hanya saja bahan yang dipakai terbuat dari pelepah pisang dan dihiasi bunga-bunga segar meski tidak sebanyak penari seblang di Olihsari. Disamping unsure mistik, ritual Seblang ini juga memberikan hiburan bagi para pengunjung maupun warga setempat, dimana banyak adegan-adegan lucu yang ditampilkan oleh sang penari seblang ini.

Teater Janger atau kadang disebut Damarwulan atau Jinggoan, merupakan pertunjukan rakyat yang sejenis dengan ketoprak dan ludruk. Pertunjukan ini hidup dan berkembang di wilayah Banyuwangi, Jawa Timur serta mempunyai lakon atau cerita yang diambil dari kisah-kisah legenda maupun cerita rakyat lainnya. Selain itu juga sama-sama dilengkapi pentas, sound system, layar/ tirai, gamelan, tari-tarian dan lawak. Serta pembagian cerita dalam babak-babak yang dimulai dari setelah Isya hingga menjelang Subuh.

Legenda Putri Rengganis di Banyuwangi

02.29
Rengganis adalah kesenian drama tadisional yang berkembang di Banyuwangi, diperkirakan berasal dari Kerajaan Mataram Islam. Sebetulnya masalah nama kesenian tersebut di Banyuwangi sangat beragam, ada yang menyebut Prabu Roro, ada yang juga yang menyebut Umar Moyo. Namun ada benang merahnya, yaitu nama-nama tersebut mengacu kepada nama tokoh yang diangkat dalam kesenian tersebut. Antara lain Putri Rengganis dan Prabu Roro seorang raja putri dan adipati Umar Moyo dari kerajaan Guparman.

Namun hingga saat ini belum ada penelitian yang mengakitkan dengan keberadaan kesenian serupa yang sampai sekarang masih berkembang di daerah Bantul dan Sleman Togyakarta Sementara cerita yang diangkat dari kesenian "Rengganis" diambil dari buku Serat Menak. Tokoh-tokoh yang populer dalam kesenian Rengganis adalah Jemblung, abdi Umar Moyo, Lam Dahur (kalau dalam pewayangan mirip Werkudoro) Pati Tejo Matal, Jayengrono.

Selain unsur-unsur islam yang sangat menonjol dalam kesenian tersebut, juga ada kalimat-kalimat mantra yang sering diuncapkan Umar Moyo saat meminta kekuatan senjata pamungkasnya, yaitu Kasang Tirto Nadi. Umar Moyo Selalu berucap "Laillah Hailalloh Nabi Ibrohim Kamilulloh. Mbal-Gambal Mustoko malih. Sang Kasang Tirtyo Nadi, aku njaluk panguasamu kasang iso ....."

Setiap tokoh mempunyai karasteristik, seperti tokoh pewayangan. Teknik pentas dan jejer, atau sampa'an seperti dalam wayang orang Setiap adegan, tokoh suatu kerajaan akan keluar bersama-sama. Kecuali permasuiri, Raja dan para patik. Tari setiap tokoh juga mempunyai ciri khas tersendiri, begitu juga gending musik pengiring.

Pada tahun 1960-an, atau ketika pergolakan politik di negeri ini. Selain seni drama yang bersumber cerita dari penyebaran Islam di Persia, Rengganis juga sering digunakan alat Propaganda oleh LESBUMI dari NU. Sementara LKN dengan Angklung Dwi Laras dan (Lekra?) PKI dengan kesenian Genjer-Genjer.

Misteri Hiu Raksasa Pantai Sukomade / Mbah kliwon

20.58
 
 
Di kalangan nelayan Rajegwesi-Sukomade, Desa Sarongan Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, selain Nyi Roro Kidul, mereka kerap melihat sesosok ikan hiu raksasa. Hiu tersebut berukurun sebesar dua kali rumah tipe rumah sederhana (RS).

 Nelayan setempat memanggil hiu raksasa tersebut dengan nama Mbah Kliwon. Dinamakan Mbah Kliwon, lantaran hiu raksasa tersebut kerap menampakkan diri Jumat Kliwon, penanggalan Jawa.

Di sekujur tubuh Mbah Kliwon ini dipenuhi dengan corak yang menyerupai huruf-huruf arab yang tersusun rapi seolah terangkai sebuah kalimat. Namun tak pernah ada yang bisa membacanya.

"Mbah Kliwon kadang di sekitaran lokasi kami memancing ikan, sekitar Tanjungan" kata para nelayan yang mengaku pernah menjumpai Hiu tersebut..

Berjumpa dengan Mbah Kliwon, bagi nelayan bukan hal yang menakutkan. Justru hal yang diharapkan. Karena kemunculan hiu raksasa tersebut pertanda jika populasi ikan sedang melimpah. Selanjutnya akan berdampak baik pada hasil tangkapan nelayan.

Untuk menghormati Mbah Kliwon, sebelum melaut di hari Jumat Kliwon, penanggalan Jawa, nelayan menggelar selamatan kecil dengan beberapa hidangan makanan. Tradisi tersebut dikemas dengan memanjatkan doa keselamatan pada Yang Maha Kuasa.

Mbah Kliwon bukan hanya sesosok Hiu sebagai simbol rejeki nelayan. Hiu yang menurut warga, lebar mulutnya dua kali daun pintu tersebut terkadang 'membantu' saat nelayan mengalami kondisi genting di laut.

"Tidak semua nelayan yang dibantunya. Hanya orang tertentu saja," kata Ninik, juragan ikan di Pantai Rajegwesi, .

Ninik mencontohkan kisah yang dialami oleh Nelayan Rajegwesi yang bernama Samuji. Samuji yang saat itu sedang melaut nyaris kehilangan nyawanya setelah perahunya pecah dihantam ombak besar.

Bahkan tubuh Samuji tidak ditemukan lagi oleh nelayan lainnya yang melakukan pencarian selama beberapa jam. Namun keesokan paginya, mereka mendapati Samuji sudah berada di Pantai rajegwesi dalam kondisi selamat.

Padahal lokasi tenggelamnya Samuji sangat berjauhan dengan bibir pantai. Warga
akhirnya terkejut dengan pengakuan Samuji jika dirinya dibawa ke tepian oleh sesosok hiu raksasa.

"Pak Samuji bilangnya dibawa ketepi pantai oleh ikan Hiu Raksasa,(Mbah Kliwon)" kata Ninik menirukan pengakuan Samuji, yang saat ini menetap di Pulau Sulawesi mengikuti transmigrasi.

Sumur Sri Tanjung Banyuwangi Diyakini Berkasiat

20.21
Sumur Sri Tanjung di timur pendopo Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, diyakini oleh sebagian masyarakat memiliki beberapa kasiat ampuh bagi orang yang meminumnya.Legenda putri Sri Tanjung ini, hingga kini memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat Osing Banyuwangi, bahkan bagi masyarakat diluar Banyuwangi juga mempercayai kekuatan putri Sri Tanjung itu.



Sumur Sri Tanjung yang terletak di jalan Sidopekso 10, Kelurahan Temenggungan, Kecamatan Banyuwangi Kota, tepatnya di timur pendopo Saba Swagata Blambangan Banyuwangi itu dinyakini masih menyimpan beberapa misteri dan kekuatan gaib.

Tak heran bila setiap harinya, sumur yang hanya berdiamter satu kali dua meter tersebut, selalu didatangi pengunjung yang ingin mengalap berkah.

Biasanya para tamu yang sengaja datang ke sumur Sri Tanjung ini, mempunyai hajat, diantaranya untuk pelaris dagangan, kepangkatan serta obat awet muda.

Menurut juru kunci sumur Sri Tanjung Ki Darusman, para pengunjung yang datang biasa terlebih dahulu diilhami atau didatangi oleh seorang putri yang cantik bernama Sri Tanjung.

Kebanyakan para peziarah datang pada hari Selasa Kliwon, Selasa Legi, Jum’at Kliwon dan Jum’at Legi. Para penziarah biasanya mengalap berkah dari sumur Sri Tanjung dengan meminum air dan memakai untuk mandi.

Syaratnya sangat ringan, para peziarah harus membawa kembang telon atau bunga pasar berwarna tiga macam untuk persembahan kepada sang dewi ratu Sri Tanjung.

Para penziarah akan didampingi oleh Ki Darusman selaku juru kunci untuk melakukan interaksi dengan dewi putri Sri Tanjung.

Setelah persembahan kembang telon di tempatkan dipinggir sumur maka juru kunci Ki Darusman akan memanggil dewi Sri Tanjung dengan menyalakan dupa wangi untuk mendapatkan do`a restu.

Usai mendapatkan do`a restu, para penziarah baru diperkenankan meminta dan bermunajat kepada Allah SWT dengan melalui sumur Sri Tanjung.

Setelah melakukan ritual do`a maka satu persatu peziarah diminta cuci muka dengan air sumur kemudian meminumnya. Tak jarang para wanita yang datang ke sumur Sri Tanjung ini juga menggunakan air sumur Sri Tanjung untuk mandi.

Para ibu-ibu dan remaja putri mengaku air sumur Sri Tanjung ternyata memiliki kekuatan magis termasuk untuk kencantikan dan obat awet muda.

Ki Darusman selaku juru kunci mengaku baru percaya akan kehebatan sumur Sri Tanjung, setelah pada tahun 1982 ada rombongan dari kraton Solo dan Klaten yang datang khusus ke sumur Sri Tanjung.

Para sesepuh kraton mengatakan bahwa sumur Sri Tanjung adalah salah satu sumur tiban tertua di tanah Jawa, yang merupakan satu-satunya peninggalan sejarah.

Sejak itulah Ki Darusman mau merawat sumur Sri Tanjung, walau para sesepuh dan nenek moyangnya sudah lebih dulu merawat dan sumur Sri Tanjung.

Sementara itu menurut Hasnan Singodimayan, salah satu budayawan Osing Banyuwangi mengatakan Sri Tanjung adalah legenda rakyat Osing Banyuwangi yang dipercaya memiliki kekuatan magis yang sangat luar biasa.

“Legenda tersebut menceritakan bagaimana seorang putri yang sangat cantik jelita dan setia yakni putri Sri Tanjung, difitnah oleh seorang raja yang bernama Sulokromo,” tegasnya.

Untuk merayu sang putri Sri Tanjung, sang raja menyuruh maha patih Sida Paksa suami Sri Tanjung untuk mencarikan gembolo emas yakni seikat tali emas di parang alas, suatu tempat yang tidak bisa dijamah oleh manusia.

Setelah Sida Paksa berangkat, sang raja Sulokromo kemudian merayu putri Sri Tanjung dengan mengatakan kalau suaminya tidak akan bisa kembali lagi namun dengan kesetiaan pada sang suami Sri Tanjung menolak rayuan raja Sulokromo tersebut.

Tanpa diduga maha patih Sida Paksa datang dengan membawa barang yang dipesan oleh sang raja bahkan barang tersebut lebih bagus dari apa yang di pesan oleh sang raja Sulokromo.

Melihat keberhasilan Sida Paksa tersebut, raja kemudian menfitnah Sri Tanjung telah merayu sang raja saat Sida Paksa melaksanakan tugas.

Sida Paksa yang percaya oleh raja kemudian mendatangi Sri Tanjung dan menuduh istrinya telah merayu sang raja walau Sri Tanjung sudah menjelaskan kepada suaminya, namun tetap tidak peryaca dan bahkan berniat membunuhnya.

Sebelum dibunuh Sri Tanjung mengatakan ia rela dibunuh tapi jika rohnya wangi maka ia tidak bersalah, setelah Sida Paksa menancapkan keris ke arah istrinya dan dibuang ke telaga.

Tiba-tiba air telaga tempat berbau wangi dan warnanya berubah menjadi putih, melihat kejadian tersebut Sida Paksa akhirnya sadar kalau istrinya tidak bersalah.

Oleh karena penyesalanya tersebut, akhirnya tanpa sadar Sida Paksa berteriak wangi sumber wangi, sumber wangi, seperti orang gila.

Tradisi Gelar Pitu Di Kabupaten Banyuwangi

11.18


BANYUWANGI  merupakan salah satu daerah di  Jawa Timur  yang kaya akan seni Budaya, Masayarakat Banyuwangi sangat menjunjung tinggi tradisi yang telah ada dari zaman nenek moyang beberapa tahun silam. Salah satu tradisi yang masih di jaga oleh masyarakat Banyuwangi adalah Tradisi Gelar Pitu di Desa Glagah (30 Menit Perjalanan dari Pusat Kota)
Setiap Lebaran hari ketujuh atau 7 Syawal tahun Hijriyah, warga Dukuh Kopen Kidul, Dusun Kampung Baru, Desa / Kecamatan Glagah, memperingati Lebaran Ketupat yang disebut Gelar Pitu.
Istilah gelar Pitu berasal dari kata Gelar yang artinya menggelar atau menata, sedangkan pitu berarti pitutur atau ucapan. Jadi jika di artikan Gelar Pitu mengandung makna menata ucapan dari buyut Saridin, yang telah memberikan tujuh wejangan kepada keturunannya. Salah satu isi wejangannya adalah keturunan Mbah Saridin diminta melaksanakan sedekah bumi yang dilaksanakan di halaman atau di tengah jalan. Selamatan itu dilaksanakan dengan menggunakan pelepah pisang atau biasa di sebutAncak. Tradisi ini menurut tokoh yang dituakan di desa tersebut telah di laksanakan sejak akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20.
Dalam tradisi ini, masyarakat setempat menggelar ritual penyucian Barong dan mahkota (omprok) Seblang serta gunungan ketupat yang diarak dan didoakan di makam leluhur; Mbah Saridin; yang diyakini sebagai pelopor pembabat hutan untuk di jadikan perkampungan.
Setiap tahunnya tampak warga sesepuh adat mensucikan barong, mahkota Seblang, dan gunungan ketupat di makam leluhur. Kegiatan ini bertujuan untuk menolak bala dan wujud sukur atas keamanan dan rejeki.
Dalam Tradisi ini terdapat pula alunan musik yang terdengar begitu unik dan menggema dari pengeras suara yang terpasang, suara alunan musik yang rancak dalam tradisi ini sangat berbeda dari suara alat music yang kita kenal.
Alunan suara yang sangat rancak dan ceria tersebut di alunkan oleh beberapa buah lesung (peralatan dapur Tradisonal) yang di tabuh oleh delapan perempuan, sang penabuh selalu menunjukkan senyum kecil yang tak henti-hentinya merka suguhkan; hal ini di lakukan untuk mennjukkan rasa bahagia, oleh warga sekitar kegiatan ini di sebut Gedogan.
Kegiatan tidak berhenti sampai disitu saja, ketika alunan music di suarakan, 6 orang laki-laki yang berpakaian khas Banyuwangi (memakai pakaian serba hitam dan udeng khas Banyuwangi) berjalan menuju areal persawahan. Mereka bermaksud mengambil air suci dari sebuah mata air yang berlokasi di pinggir sungai (mata air ini terletak sekitar 2 KM dari lokasi gelar pitu). Aroma kemenyan yang merupakan sebuah syarat juga Nampak disepanjang jalan menuju air tersebut, yang asapnya menunjukkan jalan menuju lokasi air suci yang akan di ambil oleh seorang dalam dua wadah kendi yang nantinya akan di diamkan selama beberapa jam. Selain aroma kemenyan, hal yang menarik dalam perjalanan tradisi ini adalah si pembakar kemenyan yang tiba-tiba kesurupan ketika sampai di gubuk tengah sawah (gubuk tersebut di yakini merupakan padepokan milik Mbah Saridin). Pada sore hari, satu kendi air yang telah diisi penuh tersebut digunakan untuk memandikan kepala Barong. Sedangkan satu kendi lainnya di gunakan untuknyekar di makam leluhur desa Glagah dan keluarganya. Dalam tradisi ini, pengunjung juga akan disuguhi berbagai kesenian tradisional Banyuwangi, seperti Kuntulan, tari Gandrung, Barong, dan juga terdapat angklung paglak.
Setelah semua pagelaran di laksankan dalam Tradisi Gelar Pitu, tradisi terakhir yang di suguhkan adalah upaca arak-arakan Ketupat Gunggungan(seluruh ketupat tersebut diisi uang antara Rp. 1.000,- sampai Rp. 5.000,-) yang di arak mengelilingi kampung, pada saat yang sama, warga menyediakan masakan dalam Ancak di sepanjang jalan desa yang di lewati oleh arak-arakan hingga arak-arakan berakhir ditempat akhir yang telah ditentukan (untuk tahun ini berada di musola yang berlokasi di Dukuh Kopen Kidul).
Antara percaya atau tidak, hal mistik yang terjadi ketika di lakukan arak-arakan adalah jumlah uang yang berubah menjadi Rp. 10.000 – Rp. 20.000,- ketika ketupat tersebut sudah ada di genggaman warga. Tidak hanya hal tersebut yang unik, ketika ketupat yang di dapatkan berisi uang, maka dipercaya rejeki kita akan lancar dalam 1 tahun kedepan, begitu pula sebaliknya, jika ketupat kosong, maka rejeki kita akan menurun dalam 1 tahun ke depan.
Tradisi Gelar Pitu adalah satu dari banyak tradisi yang ada di Kabupaten Banyuwangi yang di gelar hanya satu tahun satu kali, jadi saying sekali jika tidak menyaksikan tradisi ini. So keep ur vacation for the next best tradition of Banyuwangi.

TRADISI PETHIK LAUT DESA GRAJAKAN BANYUWANGI

11.12


TRADISI petik laut yang dilakukan di desa Grajakan Kec. Purwoharjo Kab. Banyuwangi merupakan sebuah TRADISI yang dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat atau warga desa Grajakan, karena Tardhisi Petik laut ini merupakan warisan dari nenek moyang.

a. Tujuan mengapa mengadakan TRADISI petik laut
Tujuan mengapa mengadakan tardhisi petik laut yang dilakukan oleh warga desa Grajakan mempunyai tujuan yaitu merupakan bentuk rasa syukur kepada Alam dengan maksud supaya hasil laut meripah ruah.

b. Apakah harus ditentukan/tanggal/bulan dan mengapa demikian
Warga desa Grajakan masih merupakan orang jawa yang selalu menggunakan perhitungan dalam segala hal, maka tanggal, bulan masih ditentukan karena merupakan hitungan dari nenek moyang, tanggal petik laut ditentukan perhitungan pertengahan bulan sura hari jum’at legi tanggal 15 dimana merupakan pergantian tahun. Adapun ketentuan-ketentuan yang dilakukan antara lain
1. Sehari sebelum melakukan TRADISI yaitu melakukan ngaji yang dialkuakn pagi sampai sore.
2. Ngendurenan/ berkatan yang dilakukan sehabis magrib setelah pengajian usai.
3. Ider bum yaitu memutari desa Grajakan dengan membawa ambeng dan diletakan diperempatan jalan.
4. Tokoh desa melakukan ider bumi
5. Hiburan seperti wayangan, jangeran dan sebagainya.
6. Setelah pagi datang. Mengadakan ruwatan murwakala(kesialan)
7. Diantara jam 11 siang pesiapan “Larukan Sesajen” yait mengahantarkan sesajan ketengah laut dengan prau-prau kecil.
8. Ditutup dengan hiburan untuk masyarakat.
c. Bagimana tanggapan Masyarakat Sekitar
Tanggapan masyarakat sekitar bersifat positif, dan setuju karena mereka percaya bila tidak melakukan TRADISI tersebut Alam akan marah dan tidak lagi memberikan hasil yang melimpah

OSING APA OSING??

12.22


Pertanyaan diatas selalu muncul dalam banyak kesempatan di forum pertemuan orang Banyuwangi. Termasuk di  forum GCUAB….yang dilontarkan sdr Arif Wibowo putra Banyuwangi Asli. Bagaimana mungkin ,sebuah nama yang dilekatkan pada orang Banyuwangi asli (asli Banyuwangi) , masih menimbulkan kebingungan cara menuliskan.
Apa boleh buat karena kata itu adalah julukan yang diberikan orang luar kepada orang Banyuwangi asli ,yang nama sebenarnya adalah wong Blambangan.Maka pantaslah orang Banyuwangi aslipun tidak tahu bagaimana tulisan itu……malah dalam Kamus Bahasa Daerah Using _ Indonesia yang disusun Bpk Hasan Ali. pada halaman 457, selain kata using , dicantumkan juga kata ESING.
Contoh sederhana adalah nama saya Ali Sudarmanto , tetapi kawan di facebook memanggil saya AS. Maka jika seorang kawan Facebooker dari Kalimantan , yang mengenal saya dengan AS, dan mencoba mencari saya (AS ), jangankan di Banyuwangi  dikampung sayapun pasti orang tidak tahu.Sehingga muncullah penjelasan yang macam macam , apakak tulisannya ASS, mungkin A.S, malahan mungkin A.S.S(karena ketika di facebook saya menampilkan istri saya berwajah  Arab ,.
Demikian juga kata  Osing /Using/Esing, karena nama itu aneh untuk orang Blambangan,maka dicarilah padan kata diluar Banyuwangi, hingga dari Bali, ada yang Mataram , mungkin dari bahasa Austronesia.
Sebagai nama julukan dari penjajah ( Belanda) dan anteknya ,maka muncullah konotasi negative untuk wong Osing/using/esing   Maka muncullah theory dari ahli Linguistik , Sejarahwan , Budayawan, bahwa Osing /Using /Esing, adalah sebutan untuk orang yang tertutup, tidak mau menerima kedatangan orang luar, makan manusia,orang pinggiran ,diluar kasta ( sangat hina) , ACLAK, BINGKAH , LADAK.
Apakah anda tahu arti Aclak , Bingkah , Ladak.
Aclak, ternyata tidak ada dikamus bahasa Using .Indonesia bapak Hasan Ali.
Seorang penatar Jebeng Tulik Pemda Banyuwangi, mendiskripsikan sebagai   sok tahu. Penyanyi terkenal di Banyuwangi ( Catur Arum )dalam sebuah lagunya Aclak mendiskripsikan tong kosong berbunyi nyaring.
Ladak , kamus bahasa Using .Indonesia memadankan dengan sombong, angkuh ( 240)
Bingkah, kamus bahasa Using Indonesia memadankan kurang ajar, tidak mempunyai sopan ( 41)
Seorang budayawan /seniman mau memberi pengertian dengan  membuat justifikasi yg lebih baik maksud kata kata itu. Tetapi sayang justifikasi itu cuma dimengerti oleh dia dan kelompoknya.
Apakah seperti itukah kita wong Banyuwangi, darah Blambangan yang gagah berani,dari trah/keturunan yang jelas , yang oleh Susuhunan Tawangalun, raja terbesar Blambangan disebut memiliki character KALOKA ( VISIONER) , PRAWIRA, WIBAWA , BERBAHASA ( santun,atau harus kemampuan bahasa perdagangan, atau memiliki interpersonal).
Jawaban dihati anda…..
Dhafa Dhuafa
--------------------------------------------------------
Sun tau rungu
Gendinge Emak ring pucuki bengi hang sintru
Atinesun dhi kudhang-kudhang ambi sinau
Kanggo sangune turu
Lek…
Ojo sampe kelalen
Ambi riwayate bengen
Werruho siro
Kelendi perjuangane Embah-Buyut ring zaman semono
Ngasah ati
Ngumbyah rogo ambi getih hang temetes mili
Meres keringet
Lan ngelebur banyu moto hang jangget
Kanggo sopo lek……..????
Kadung sing kanggo isun lan siro
Myakne eling lan duwe rumongso
Kadung nyatane….
Hang aran bumi Blambangan iki
Dadi saksi tandurane bakti hang sejati
*Terus Emak meneng…
Isun cengeng
Emak mageh meneng..
Ambi nutupi raine nganggo pucuke jarit hang dhi batik cemeng…………

Sang Maestro /Diva /Super Star Gandrung..TEMU.

12.10
Pada tanggal 5 Desember 2012, Dewan Kesenian Jakarta, sebuah lembaga Kesenian yang bergengsi di Indonesia mengadakan pagelaran Maestro Tari Tradisional. Dan dari daerah ujung timur p.Jawa, Banyuwangi ditampilkan  sang Maestro Gandrung Temu.
GANDRUNG  icon Kabupaten Banyuwangi.
Banyuwangi adalah daerah  dimana darah seni mengalir deras yang dengan kuat menjaga kesenian tradisionalnya.Kecintaan masyarakat terhadap Peradaban Blambangan yang besar telah mampu menjadi tameng  Kesenian tradisional Banyuwangi dari gempuran kesenian modern yang menggempur Indonesia tanpa ampun.Kecintaan terhadap seni tradisi ini dibuktikan pada setiap kegiatan orang Banyuwangi , baik dalam perayaan sunatan, perkawinan,selalu ada kesenian tradisionil. Begitu juga dalam kegiatan halal bil halal orang Banyuwangi di Perantauan, kesenian Banyuwangi Gandrung , Angklung Blambangan, Rebana  menjadi bagian yang tak terpisahkan.
Dan Gandrung menjadi salah satu kesenian yang paling populer,karena itulah Pem Da Banyuwangi telah menjadikan Gandrung sebagai Icon Kabupaten Banyuwangi.

 TEMU Sang Maestro.
Nama Temu yang sederhana ini selalu dirangkai dengan kesenian yang digelutinya  yaitu Gandrung  sehingga namanya menjadi Gandrung Temu. Tak terpisahkan. Tidak seorangpun yang meragukan kepiawaian dan dedikasi Temu sebagai seorang penari Gandrung. Maka pantaslah dia disebut Sang Maestro. Tulisan Maria Hartiningsih di  Kompas, 26 Oktober 2007, memberi gambaran tentang sosok Temu secara lengkap.
Sejarah hidup Temu sebagai penari Gandrung kental diwarnai tradisi. Waktu kecil, ceritanya, ia sakit-sakitan, tak mau makan. Orangtua membawanya kepada seorang dukun bernama Mbah Kar untuk di-suwuk ( diobati). Sepulang dari situ, Temu kecil tiba-tiba minta makan. Ibunya membawa dia ke rumah juragan Gandrung bernama Mbah Ti’ah. Di situ Temu makan sangat lahap. Lalu Mbah Ti’ah mengatakan, “Jadikan dia gandrung kalau sudah besar.”
Sejak itu, Temu kecil mulai suka menari. Darah seni sebenarnya mengalir dari garis ayahnya. Sang ayah adalah penari dalam kesenian tradisionil . Kakeknya ahli mocoan lontar. Meski awalnya tak mau jadi penari Gandrung, Temu mulai naik pentas pada usia 15 tahun. Tahun 1969 itu penari Gandrung  berada di puncak kejayaan.
“Mula-mula takut,” kenangnya. Tak lebih dari setahun, Temu menapak jenjang sri panggung. Honornya jauh di atas penari-penari seniornya. Lirik lagu ciptaannya mengena dan sering menohok persoalan yang dihadapi penonton. Temu mengaku tak pernah baca mantra sebelum pentas. “Kalau pakai itu, cuma bertahan sebentar,” katanya. Untuk menjaga kualitas suara, ia tak makan pedas dan gorengan, dan mempertahankan syarat utama: menahan kencing semalaman atau sekitar sembilan jam!
Bagi Temu, hidup adalah berkesenian. Gandrung membuatnya menggandrungi hidup, seberat apa pun jalannya. Kibasan sampur Gandrung seperti mengibaskan ketaktertanggungan pada masalah. Karena itu, meski menyandarkan hidup pada Gandrung, uang bukan segalanya. Seperti paradoks. Ia mempertaruhkan hidupnya di situ, sekaligus tak kenal kompetisi: Gandrung lebih penting ketimbang dirinya.
Suara Temu bagian Eksotisme “TIMUR”
Sikap itu tanpa disadari menjadikannya “mangsa” bisnis kesenian dan kebudayaan yang jaring-jaringnya melampaui batas desa, bahkan wilayah negara. Temu, yang tidak pernah menyelesaikan pendidikan Sekolah Rakyat itu, tidak tahu bahwa ia tergulung ke dalam gelombang pasar bebas, di mana multikulturalisme dimaknai tak lebih sebagai komoditi, minus penghargaan pada hak kekayaan intelektual. Suatu pelanggaran yang banal.
Suara Temu menjadi bagian eksotisme “Timur” yang terus direproduksi dan secara bisnis memberikan keuntungan besar. Farida Indriastuti, kontributor lepas kantor berita Italia yang melakukan penelitian tentang multikulturalisme-diselenggarakan oleh Srinthil, majalah perempuan multikultural-menemukan, CD Temu Songs Before Dawn (Lagu Menjelang Fajar) dijual di AS antara 15 dollar-18 dollar AS, di Eropa sekitar 20 euro per keping.
Nilai jualnya di satu online lebih dari 12.000 keping. Padahal lebih dari 10 online menjual reproduksi suaranya. Pertengahan Juli 1992, Amazon.com AS mencatat penjualan “Songs Before Dawn” sebanyak 284.999 copy dalam 24 jam. Foto Temu menari ditaruh di sampul belakang CD, sementara sampul depannya berhias penari Gandrung lain dari Banyuwangi. Hak ciptanya dipegang suatu lembaga pendidikan terkemuka di AS.
Nama Temu tak disebut sama sekali di situ.
Temu hanya tahu pernah ada orang asing yang merekam gambar dan suaranya, katanya, untuk proyek kebudayaan Indonesia. Lama rekamannya 10 jam, dengan upah Rp 60.000 atau Rp 6.000 per jam, dan Rp 25.000 per orang atau Rp 2.500 per jam untuk enam panjak (nayaga). Katanya, rekaman itu bukan untuk keperluan komersial. Di tingkat lokal pun sama saja. Suara emasnya sudah menghasilkan enam album Gandrung dan satu album versi Jaipong untuk karaoke. Honornya dihitung per paket, antara Rp 1 juta sampai Rp 1,5 juta, tak tergantung berapa keping CD atau kaset yang terjual. Menurut penyelidikan Farida, VCD Temu pernah terjual 10.000 keping sehari.
Suatu hari, seorang pejabat memberi tahu, Temu mendapat penghargaan internasional. Ternyata penghargaan itu dari Dinas Pariwisata bekerja sama dengan Pendidikan Seni Nusantara (PNN). Gambar dari sertifikat “internasional” itu dibingkai kayu murahan berupa fotokopi sampul rekaman VCD dari proyek kesenian rakyat lembaga filantrofi internasional yang merekam suara dan tarian Temu bertahun-tahun lalu itu.
“Lha saya bisa apa?” itu jawabnya ketika ditanya bagaimana ia menyikapi semua itu. “Saya kembalikan saja pada Yang Punya Hidup.”  Sejak tahun 1980 Temu hidup sendiri. “Malas nggodok wedang. Capek,” katanya. Dua perkawinannya gagal, tanpa anak. Sekarang ia mengasuh cucu keponakan dan merawat kakak ibunya “Enak sih punya suami. Tapi daripada sakit gigi, he-he-he..”
Seandainya dilahirkan kembali, apakah ia mau meniti jalan yang sama, sebagai penari Gandrung? Jawab Temu, “Saya mau tidur pada waktunya orang tidur. Bukan teriak-teriak nyanyi dan pencilatan menari..”
Tarian Kehidupan Gandrung Temu
Tarian Gandrung Temu adalah tarian kehidupan. Setiap geraknya adalah riwayat. Panggungnya keseharian, di mana musim panen dan paceklik adalah dua musim yang satu dan garisnya abu-abu. Temu Mesti adalah penari Gandrung terkemuka di Banyuwangi, Jawa Timur. Meski usianya 53 tahun, posisinya dalam kesenian tradisional Banyuwangi itu belum tergeser oleh para penari muda. Tinggi badannya sekitar 170 cm, berperawakan sedang. Suaranya yang melengking jernih masih belum tertandingi.
Namun, seperti banyak seniman tradisional, hidupnya jauh dari kemoderenan.

Bali TIDAK BENAR pernah menjajah Blambangan

12.04


Tulisan tentang Bali  pernah menjajah Blambangan sering penulis temui baik dari para sejarahwan maupun penulis sejarah lokal. Tulisan tersebut ada yang mendasarkan pada kesenian Banywangi memiliki kemiripan dengan Bali atau yang mendasarkan pada tulisan Babad yang terbit di kerajaan Bali.
Saya telah menulis  tentang ketidak benaran pernyataan kesenian Blambangan dipengaruhi Bali,pada tulisan yang berthema..Benarkah Kesenian Banyuwangi dipengaruhi Bali pada blog ini. Maka saya akan menulis dari aspek kesejarahan tentang ketidak benaran penjajahan Bali di Blambangan . Hal ini dimungkinkan munculnya pendekatan atau methode baru yaitu Logic of History yang dikembangkan oleh C.Behan Mc Cullagh , Associate Professor Bidang Filsafat Sejarah di La Trobe University Australia, yaitu dengan melakukan tinjauan yang lebih komprehensive , dari hanya sekedar bersumber pada cerita Babad .
Yang menarik lagi pernyataan Sejarahwan dan penulis  sejarah tentang penjajahan Blambangan juga simpang siur mulai dari aspek waktunya maupun siapa yang menjajahnya.
•    Ada sejarahwan yang menyatakan  dari tahun 1547  pada masa Waturenggong sampai … ,kemudian berhasil membebaskan diri ,dan mulai lagi pada masa Mengwi
•    Ada sejarahwan yang menyatakan setelah masa Tawangalun yaitu tahun 1697 sampai dengan  1764,
. Ada  juga masa Waturenggong ( Gelgel)  , Buleleng, Mengwi
•   Ada yang menyatakan setelah masa Tawangalun dengan urutan berbeda Buleleng, Gelgel, Mengwi.
•   Ada yang menyatakan Mengwi  dengan waktu yang berbeda beda .Drs I Made Sudjana MA,mencatat pada tahun 1763 sampai dengan 1768.
•    Ada yang tanpa menyebutkan tahun dan kerajaannya.
Sesuai metode Logic of History,.diatas mengharuskan kita membandingkan Bali dan Blambangan.
BALI
  •   Luas pulau Bali hanya 5000 km persegi atau hanya separuh dari Blambangan 10,000 km2 . Apalagi kalo Blambangan dibandingkan dengan Buleleng max 500 km persegi ,begitu juga Gel Gel /Klungkung, Mengwi
  • Kerajaan di Bali pada masa jauh  hanya bertumpu pada suwilih ( upeti dari petani), dan Bali bukan tanah yang subur. Hanya dengan kerja keras dan rasa cinta yang mendalam orang Bali mampu berkehidupan lebih baik.•
  • Tidak ada keahlian maritim di Bali.Sekedar contoh dalam pertempuran Buleleng dan Mengwi menyiagakan armada 40 buah perahu mayang, pancalang , jukung .Pasukan Mengwi bergerak sejak Juni 1766 , tetapi pada Juli 1766, sudah kehabisan Logistik (kelaparan) .Baca Nagari Tawon hal .6
  • Lebih dari itu dalam konsepsi religius Hindu menurut DR.  Agus  Aris Munandar ( dosen Universitas Indonesia )  tentang jagat raya sebagai berikut.
    1.  Ajaran Hindu menyatakan bahwa daratan adalah tempat penting , tempat itu dinamakan Jambhudwipa,sebagai lokasi bermukimnya manusia. Dengan demikian kerajaan kerajaan yang bercorak Hinduismedi Jawa lebih mementingkan In Ward Looking. Dan tidak memperhatikan daerah daerah di luar Jambhudwipa.
    2.    Dalam konsep Makrokosmos Hinduisme menyatakan bahwa ditengah Jambhudwipa terdapat gunung Mahameru sebagai pusat alam semesta Axis Mundi antara tiga dunia ( Bhurloka , Bhuwarloka, dan Swarloka ). Bhurloka adalah bagian kaki gunung , tempat tinggal manusia, ditengah Bhuwarloka , tempat tinggal para orang suci dan para pertapa, sedang Swarloka di puncak Mahameru  terdapat sorga ,istana istana bersemayamnya para dewa ( Sudarsana). Dalam konsep ini daerah tepian pantai , laut dan lautan dianggapa derah nista dan kotor, tempat tinggal roh roh jahat, para raksasa, dan machluk rendah lainnya. Oleh karena  itu perhatian ke laut , pelayaran di laut dan menjelajah lautan bukan aktivitas  yang disenangi oleh pemeluk agama Hindu.
BLAMBANGAN.
• Luasnya 10000km2, negara agrarish dan subur ( Negra Krtagama) , dan memiliki pelabuhan yang sangat ramai Panarukan ( berita Tome de Peres, pelaut , penjelajah Portugis), Ulupampang ( berita dari penjelajah, pedagang Inggris)
BABAD BALI.
Sepanjang yang diketahui  dari Babad ,kerajaan di Bali  dimulai dari kerajaan Gelgel 1450 , dilanjutkan dengan Klungkung mulai tahun , kemudian muncul Mengwi (1629) , Buleleng (1660).
Raja2 dari Bali menurut Babad di Bali yang menguasai Blambangan.
•    Kerajaan Gelgel menjajah Blambangan ketika diperintah Dalem Watu Renggong ( 1460 sd1550),.Pada saat itu Ibu nagari Blambangan berada di Panarukan dan kerajaan Blambangan memiliki hubungan yang luas dengan Portugis .Lebih dari itu Drs I Made Sudjana MA juga menolak bahwa Dalem Waturenggong menguasai Blambangan ( Nagari Tawon Madu 27).Setelah Dalem Watu Renggong Gelgel menurun terus menerus , lalu metamorphosis menjadi Klungkung (Sejarah kerajaan Gelgel).
•    Kerajaan Mengwi menjajah Blambangan  ketika masa I Gusti Agung Ngurah Made Agung 1627 sd 1650.Pada masa ini adalah masa Tawangalun I , pelabuhan Ulu Pampang berkembang dengan cepat , kemudian mengantarkan ke masa jaya Tawangalun II. Setelah I Gusti Agung Ngurah Made Agung , Mengwipun menurun.( Sejarah kerajaan Mengwi), yang memungkinkan Buleleng berdiri pada tahun 1660.
•    Raja Buleleng I Gusti Ngurah Panji Sakti (1660 sd 1697) dalam babad Buleleng diceritakan mengusai Blambangan.( juga Soegianto Sastrodiwiryo : I Gusti Panji Sakti Raja Buleleng 15991680. Kayu Mas Agung 1995).Padahal pada masa ini Blambangan berada pada masa jaya dibawah Tawangalun II.Masa yang berdasarkan hasil penelitian DR. Sri Margana adalah masa jaya kerajaan Blambangan. Setelah masa itu Buleleng itu menurun malah dikuasai Mengwi .
Dari catatan diatas  ada satu kesamaan cerita, yaitu setiap masa keemasan masa raja Gelgel, Mengwi, Buleleng , raja nya pasti diceritakan pernah menguasai kerajaan Blambangan. Jadi cerita menguasai kerajaan Blambangan menjadi simbol kebesaran raja raja Bali. Ini bisa dipahami bila kita kaitkan fungsi Babad dalam kerajaan Bali. Babad dalam kerajaan Bali, adalah sebuah naskah suci, yang menjadi bukti legalitas kerajaan Bali dan utamanya menceritakan tentang leluhur mereka yang berasal dari Majapahit serta memiliki kekuasaan yang amat luas. ( DR.Robin Tatu .)
Disatu sisi juga  menjelaskan bahwa masa jaya  kerajaan Gelgel maupun Mengwi dan Buleleng bersamaan dengan masa jaya di Blambangan . Malah masa jaya Blambangan jauh lebih lama dari kerajaan Gelgel,Mengwi maupun Buleleng yaitu sampai  masa Tawangalun II ( 1691).Sedang  Gelgel malah sudah metamorphosis menjadi Klungkung, kemudian  terbelah menjadi kerajaan kecil Mengwi, Buleleng , Badung dan kemudian terjadi peperangan yang acuut antara kerajaan kecil itu. Dan pada saat yang sama Blambangan malah memasuki masa Kertayuga ( 1736 sd 1762) ..Nagari Tawon Madu (35)
Drs I Made Sudjana MA (Leiden) dengan susah payah mencari bukti , akhirnya menyimpulkan bahwa Mengwi menguasai Blambangan pada 1763 sd 1768…..padahal pada masa itu Mengwi juga sudah sangat lemah karena masa jaya Mengwi terjadi pada tahun1627 sd 1650
Dengan bukti bukti seperti tersebut diatas  cerita penguasaan Blambangan oleh Bali menurut saya sengaja di hembuskan oleh VOC untuk adu domba  antara Bali dengan Blambangan .
Pertanyaan lebih lanjut , mengapa VOC perlu membangun legalitas seperti itu?
Seperti diketahui dalam tulisan sejarahwan yang mengutip sejarahwan Belanda,dicatat  bahwa akhir dari masa pendudukan Bali di Blambangan adalah pembunuhan sadis antara kedua belah pihak yang muncul akibat akumulasi  kebencian antara kedua belah pihak . Jika melihat pernyataan tersebut maka rasanya peristiwa itu menjadi sumber dendam yang akan tidak pernah tuntas sampai saat ini. Lebih dari itu malahan sumber dari Belanda menyebutkan bahwa sebutan sebutan yang mengejek orang Blambangan muncul dari Bali. Sayang usaha itu tidak berhasil hubungan antara wong Bali dan wong Blambangan tetap baik dan saling membangun.
Bukti lebih lanjut membuktikan bahwa cerita itu sengaja dibangun Belanda untuk menutupi adanya pembunuhan besar besaran  orang Blambangan oleh VOC sebanyak 90% orang Blambangan ( History of Java ,Thomas Stanford Raffless). VOC rupanya ingin mengalihkan bahwa menyusutnya penduduk Blambangan secara drastis , sebagai akibat pertikaian antara orang Bali dengan orang Blambangan , dan sebab penyakit yang berjangkit di Blambangan.
Pada saat itu sebenarnya kekuasaan VOC sudah sangat lemah diluar Jawa dan hanya di Jawa , VOC masih sangat kokoh.Hanya Blambangan yang tak tersentuh.Ketika 1743 , Raja Pakubuwana II dari Mataram menyerahkan Java’s Onsthoek ….. (Perebutan hegemoni Blambangan 40) …….Tetapi tak terduga Belanda harus menghadapi perlawanan yang luar biasa………penduduk di kawasan ini berkeras menolak pemerintahan Belanda. Dan terlibat dalam pertarungan yang panjang melawan VoC ,hampir hampir mengorbankan segalanya untuk mempertahankan idealisme mereka. Kemudian Inggris pada akhir abad ke 18 Inggris menambah panas situasi tersebut ketika mulai mengusik kawasan ini dalam rangka mencari komoditas alternative untuk perdagangan di Cina ( DR. Sri Margana. Perebutan Hegemoni Blambangan ,2)
Apalagi setelah pertempuran Blambangan ini, Perang wong Agung Wilis dilanjutkan P .Rempeg Jagapati dan juga pemberontakan lainnya di Nusantara yang semasa dengan itu . VOC dipailitkan /dibubarkan (31 desember1799) , dan lebih dari itu akhirnya Belanda dijajah Napoleon Bonaparte ( 1797 sd 1816), kemudian Belgia memisahkan diri dari Blambangan.

BANYUALIT ( Blambangan ) ,BANJIR DARAH YANG TERLUPAKAN.

11.54


Dalam buku Perebutan Hegemoni Blambangan DR .Sri Margana menulis:
•    Penyerahan kawasan ini ( Java Ooesthoek yaitu Malang ,Probolinggo , Pasuruan , Blambangan , berdasarkan  klaim teritorial kuno Mataram , yang sebenarnya   jauh dari realitas politik aktual. (  41)
•    Banyualit banjir darah pada 31 Maret  1768

Penyerahan Java Oosthoek  dari Pakubuwana II ke VOC
Sultan Pakubuwana II ,baru berumur 15 tahun ketika diangkat menjadi Sultan Mataram( 1726 -1749) . Dia adalah putra Amangkurat III, menggantikan Amangkurat IV ( 1719 -1726). Karena masih muda dan kurang mampu dalam pemerintahan , Mataram terus  dilanda perebutan kekuasaan . Malahan pada tahun 1742 , pemberontak berhasil merebut ibukota Mataram Kartasura .Kartasura dalam keadaan hancur  luluh lantak , dan Pakubuwana II, kemudian diasingkan . Untuk merebut kembali tahtanya Pakubuwana meminta bantuan VOC dan VOC menyodorkan sebuah perjanjian yang sangat memberatkan Mataram , yaitu menggadaikan kedaulatan Mataram kepada VOC , selama Mataram belum mampu melunasi hutang biaya perang.   Pada tahun 1743 VOC dapat menumpas pemberontak dan mendudukan kembali Pakubuwana II sebagai Sultan Mataram. Untuk melunasi hutang hutang biaya perang itulah Pakubuwana II antara lain menyerahkan Java Ooosthoek (Pasuruan , Malang, Probolinggo, Blambangan ).
DR. Sri Margana menyebut  penyerahan kawasan ini ,  berdasarkan klaim teritorial kuno Mataram , yang sebenarnya jauh dari realitas politik aktual.(Perebutan Hegemoni Blambangan  41)  Karena pada saat itu Pasruan, Malang , Probolinggo masih dikuasai oleh keturunan Untung Suropati yang tidak pernah tunduk pada kekuasaan Mataram demikian juaga Blambangan tidak pernah ditundukan oleh Mataram dan malahan  pada 1736 sampai dengan 1762 mengalami masa Kertayoga , dalam keadaan aman  makmur tentrem , kertaraharja.  ( Drs I Made Sudjana M A. Nagari Tawon Madu 35. Maka menarik untuk mengetahui sejarah Kesultanan Mataram
Kesultanan Mataram sampai Pakubuwana II
Kesultanan Mataram berasal dari suatu daerah  Kesultanan Pajang  yang disebut Bumi Mentaok  yang dihadiahkan Sultan Pajang Hadiwijaya kepada   Ki Ageng Selo dan Ki Ageng Pemanahan atas jasanya dalam perang mengalahkan Arya Penangsang.Tahun 1584  ketika Ki Ageng Pemanahan meninggal . Sultan Pajang mengangkat putra Ki Ageng Pemanahan , Sutawijaya  yang juga putra angkatnya sebagai adipati dengan gelar “Senapati Ing Ngalaga.
Tahun 1587 , Sutawijaya memberontak pada Sultan Hadiwijaya. Ketika pasukan Pajang akan menggempur Sutawijaya , pasukan Sultan Hadiwijaya dihadang letusan gunung Merapi. Sutawijaya selamat.Sejak itu Bumi Mentaok memisahkan diri dari kesultanan Pajang , dan mendirikan kerajaan Mataram.Meskipun sebagian besar para Wali Sanga  menolak berdirinya kerajaan Mataram , berkat persetujuan Sunan Giri , kesultanan Mataram bisa berdiri.  (DR.Purwadi  Da’wah Wali Sanga) .Sutawijaya kemudian bergelar “ Senapati Ingalaga Sayidin Panatagama” atau lebih dikenal Panembahan Senopati.  Tahun 1601, Panembahan Senopati wafat, kemudian digantikan  Panembahan Hanyakrawati.  Tahun 1613, Panembahan Hanyakrawati wafat digantikan putranya Pangeran Haryo Martopuro. Karena sering sakit kemudian digantikan oleh kakaknya R.Mas Rangsang. Pada tahun 1625 , Mas Rangsang menginvasi ( mengirim ) expedisi militer ke Jawa Timur , melibatkan 30 ribu prajurit. Sultan mampu menguasai sebagian besar Jawa Timur dan Madura, tetapi tidak  menaklukan kedaton Giri . Penyerbuan ke Blambangan juga kurang berhasil meskipun , Sultan Agung membawa 5000 penduduk Blambangan ke Mataram. Orang Blambangan yang dikenal sakti ( digdaya ) dijadikan percobaan senjata . Apabila senjata itu dapat melukai wong Blambangan , maka senjata itu lulus sebagai senjata sakti . Wong Blambangan juga menjadi umpan  dalam penyerangan ke Batavia pada tahun 1628 – 1629 .
Bahwa Blambangan belum dikuasai Sultan Agung , sesuai dengan pernyataan Sultan Agung yang dikutip Sir Stanford Raffless .
Thomas  Stanford Raffles mengutip pernyataan Sultan Agung bahwa , masih ada dua kerajaan yang paling berbahaya belum terkalahkan yaitu Sumedang dan Blambangan..    Thomas Stanford Rafless  Hystori of Java  509
Peta kekuasaan Sultan Agung dari Wikipedia .
Setelah menaklukan sebagian Jawa Timur dan Madura , R. Mas Rangsang menggunakan gelar “Sultan Agung Senapati Ingalaga Abdurachman.
Setelah menguasai sebagaian Jawa Timur dan Madura, Sultan Agung  berkoalisi dengan Kesultanan Cirebon dan Banten menyerbu VOC di Batavia. Sayang penyerbuan  mengalami kegagalan. Tetapi Mataram tetap kokoh berdiri , dan Sultan Agung meneruskan perlawanannya kepada VOC. Pada tahun 1636 sampai dengan 1640 , Sultan Agung sekali lagi menyerang Jawa Timur dan Blambangan . Penyerangan ini menurut DR .Sri Margana lebih menyerupai perampokan daripada pendudukan ( Perebutan Hegemoni Blambangan .40).  Tahun1646 Sultan Agung wafat dengan penuh kewibawaan dan digantikan putranya , dan bergelar Amangkurat I.( 1646 sd 1677).                     Berbeda dengan Sultan Agung , putra yang menggantikannya , dikenal sebagai raja TIRAN ( DR. Sri Margana . PHB 37  dan Trilogi Genduk DUKU JB . Mangunwijaya) sehingga  banyak penguasa bawahannya yang bangkit melawan raja Tiran ini.Salah satu pemberontakan yang terkenal dipimpin  Trunojoyo.  Walaupun Amangkurat I meminta bantuan VOC , namun Trunojoyo dapat menguasai keraton Mataram dan memaksa Amangkurat mengungsi dan mati di Tegalarum (1677).Sejak Amangkurat I , Mataram selalu dirundung perebutan kekuasaan yang tidak pernah berhenti .
Sebagai pengganti  diangkat  putranya sebagai Amangkurat II, karena dalam pengasingan maka kekuasaan dipegang Pangeran Puger. Pangeran Puger mulai memerintah dengan gelar Susuhunan Ing Ngalaga . Tetapi Amangkurat II( 1680 – 1703) dengan bantuan VOC menurunkan Pangeran Puger. Bantuan VOC ini menurut WS Rendra dalam satu diskusi yang digagas REPUBLIKA , harus dibayar mahal, yaitu menyerahkan kewenangan maritim pantai utara Jawa ke VOC, maka sejak itulah kekuatan Maritim Jawa hancur . Disisi lain  ketidak puasan di internal juga tidak bisa diatasi dan pemberontakan tetap berlangsung.. Ketika Amangkurat II wafat dan kekuasaan diserahkan pada putranya Amangkurat III (1703).Sekali lagi Pangeran  Puger / Mas Drajat melakukan pemberontakan . Kali ini VOC mendukung Pangeran Puger sehingga dapat merebut tahta dari Amangkurat III , dan  Amangkurat III  melarikan diri ke Jawa Timur berlindung pada Adipati Untung . Pada tahun 1704  dengan bantuan VOC Pangeran Puger , diangkat sebagai Paku Buwono I  dan memburu  Amangkurat III di Jawa Timur.. Tahun 1708 , Sultan Amangkurat III ditangkap , dan dibuang ke Ceylon.  Pada tahun 1719 Pakubuwono I meninggal dan digantikan putranya dengan gelar Amangkurat IV. Putra Amangkurat III, melakukan pemberontakan .Dan dapat merebut tahta , kemudian naik tahta dengan gelar Pakubuwana II.( 1723).Pada masa Pakubuwana II, pemberontakan muncul kembali malah pemberontak dapat memakzulkan Pakubuwana II . Pakubuwana II kemudian meminta bantuan VOC , dan VOC menekan dengan perjanjian yang sangat berat ( menggadaikan kedaulatan Mataram pada VOC  selama belum melunasi hutang biaya perang ).
Pada 1743. Ibukota Kartasura dapat direbut dari tangan pemberontak dalam   keadaan luluh lantak .Karena itulah kemudian Pakubuwana II menyerahkan Java Oosthoek ( Pasuruan , Malang, Probolinggo, dan sebagian Lumajang) pada VOC. Dan
Masa penyerahan Java Oosthoek  sampai dengan Perjanjian Salatiga.
Setelah penyerahan Java Oosthoek ,  ternyata tidak serta merta membuat VOC mampu merebut daerah tersebut ,karena kuatnya kedudukan keturunan Untung Suropati  di Pasuruan , Malang , Probolinggo . Di pihak lain  Blambangan malah membangun hubungan dengan Inggris.
Disamping itu ternyata VOC tidak mampu membuat Mataram reda dari perebutan kekuasaan, walaupun VOC mengendalikan seluruh kekuasaan Mataram. Raja Mataram diangkat dan digaji oleh VOC. Kekacauan politik  , terus berlangsung . Setelah pengangkatan kembali  Pakubuwana II  oleh VOC ,P.Mangkubumi memberontak kembali  dan berlangsung selama 10 tahun sampai masa  Pakubuwanna III . Kemudian ditanda tangani  Perjanjian Giyanti pada tgl 13 Februari 1755 dan  Mataram terbelah menjadi dua yaitu  Kasunanan Surakarta. Dan Kesultanan Ngayogjakarta. Pangeran Mangkubumi menjadi Sultan Ngayogjakarta bergelar  Sultan Hamengkubuwono I Setiap penyelesaian peperangan , selalu mempertajam kuku kekuasaan VOC menancap tajam .Tetapi pada tahun 1757, perpecahan kembali terjadi antara R. Mas Said ( Pangeran Sambernyawa ) dengan Pakubuwono III, VOC, dan Hamengkubuwono I. Akhirnya ditanda tangani perjanjian Salatiga  , Mataram dipecah lagi . R.Mas Said diangkat sebagai penguasa atas sebuah kepangeranan , Praja Mangkunegaran yang terlepas dari Surakarta .
Dengan demikian ,menjadi jelas pernyataan DR. Sri Margana , bahwa Mataram tidak pernah  menguasai Malang , Probolinggo , Blambangan
Pertahanan yang kuat keturunan Untung Suropati dan Blambangan.
Setelah perjanjian Salatiga 1757,  VOC mendapat dana yang cukup besar dari Mataram , persiapan menggempur Java Oostoek dimulai Ternyata persiapan penyerangan pada Java Oostoek tidaklah mudah, karena  VOC memerlukan kekuatan tempur yang sangat besar untuk menghadapi kekuatan keturunan Untung Suropati dan Blambangan yang sangat kuat.
Keturunan Untung Suropati tentu sangat menyesalkan penyerahan Java Oosthoek oleh Pakubuwana II kepada Belanda, karena ayahanda Amangkurat III , ditolong dan dilindungi oleh Suropati. Ibarat kebaikan dibalas dengan penghianatan. Karena itu keturunan Untung Suropati segera memperkuat diri.
Sementara itu  Blambangan memanfaatkan meningkatkan hubungan dengan Inggris , karena Inggris telah  terusir dari Banten ( 1600) , Jakarta, Banda (1625)maka hubungan  Blambangan dengan  Inggris sejak tahun 1600 , telah maju dengan pesat.Dan Inggris mulai menjadikan Blambangan sebagai pijakan untuk menguasai Sumatera dan Borneo.( Stanford Raffless , History of Java.140).Karena Inggris telah memiliki hubungan yang sangat baik dengan Blambangan  sejak tahun 1600, maka Inggris  hanya membutuhkan pijakan di Sumatera. Semula Inggris ,berkeinginan mengikat perjanjian dengan Sultanah Aceh Zaqiyat ud din Inayat Shah, tetapi Sultanah menolak. Kemudian Inggris menghubungi kedatuan Baros dan Pariaman. Baros dan Pariaman dapat menerima tawaran tersebut , karena  VOC yang dikenal ganas  juga mulai melirik  Pariaman.Tetapi dua hari menjelang keberangkatan armada Inggris ke Pariaman , Kedatuan Bengkulu juga mengirimkan utusan ke Inggris  ,meminta Inggris dapat melindungi Bengkulu dari  penjajahan VOC . ( Untuk diingat kalau VOC  menekankan kekuasaan, sedang EIC ( Inggris) menekankan hubungan dagang. Maka Inggrispun membangun pijakan di Bengkulu. ( Alaan Harfield (1995): Bencolen : A history of the Honourable East India Company’s , Garrison  on the west coast Sumatra ( 1685 -1825). Pada tahun 1685  utusan Inggris  disambut Orang kaya Lela, dan Patih Setia raja Muda. Hubungan dagang kemudian dilanjutkan pembangunan  Garrison ( kompleks Militer)  berupa benteng , yaitu benteng Malborough dan juga membangun faktory.  ( Firdaus Burhan (1988) Bengkulu  Dalam Sejarah ).
Berita  VOC tentang  Blambangan penuh kebohongan,
Hubungan  antara VOC dengan Blambangan rupanya sejak awal telah menimbulkan ketidak senangan VOC. Kapal VOC yang singgah di Panarukan pada tanggal  17 Januari 1959 , dan berada disana selama tiga bulan tidak mendapatkan apapun.  Karena perlakuan itu kemudian VOC mengarang cerita , bahwa Blambangan dikepung pasukan Pasuruan.Dan karena itu Blambangan minta bantuan kepada Gel Gel , dan Gel Gel mengirim pasukan 20.OOO  ke Panarukan. ( Jarig Cornellis Molema , De eerste schipvart der Hollanders naar Oost Indie 1595 1597 via DR. Sri Margana , Perebutan Hegemoni Blambangn 162).Padahal berdasar sejarah Kerajaan Gel Gel , masa jaya Gel Gel dibawah  Watu renggong telah berakhir pada tahun 1550.Dan setelah itu Gel Gel merosot dan methamorphosis menjadi Klungkung. Dan Gel Gel bukanlah kerajaan Maritim . Perahu Bali pada saat itu hanya mampu memuat maximal 15 orang. Jadi tidak mungkin Gel Gel mengirim 1500 kapal , untuk tentara dan logistik. Hal ini juga tidak dipercaya oleh Drs I Made Sudjana  Nagari Tawon Madu 27).
Tetapi rupanya laporan resmi tersebut rupanya perlu ditambah fitnah yang lebih besar lagi oleh seorang  anggota armada pertama Belanda  ( Frank der does ) menulis dalam Journal 2 April 1595 sd 13 Juni 1597  dia diberitahu  oleh seorang bangsawan Blambangan bahwa bupati Pasuruan melamar putri raja Blambangan ( pada saat itu Thomas Cavendish  berada di Blambangan ) . Sang raja menerima lamaran tersebut namun setelah malam pertama ,sang putri Blambangan dibunuh oleh suaminya . Pembunuhan itu terjadi karena sang putri tidak mau masuk Islam . Berita ini juga tidak berdasar karena Thomas cavendish  ( Thomas Candish menurut I Made Sudjana MA) yang berada di Blambangan tidak pernah menulis kejadian tersebut.Menurut I Made Sudjana , Thomas Candish , penjelajah Inggris  membawa kapal dagang Preety dan Wilhems singgah di Blambangan,   selama dua minggu tinggal di Blambangan, membeli logistik , kemudian berlayar melanjutkan perjalanan ke timur.  (Drs I.Made Sudajana . Nagari Tawon Madu23)
Juga ketika VOC mengirim utusan Jeremias van Vliet menghadap susuhunan Tawangalun pada tahun 1690, untuk menjalin hubungan dengan VOC untuk membendung pengaruh Inggris yang semakin kuat ,  permintaan hubungan ini tidak ada kelanjutannya . Maka  VOC memutar balikkan fakta bahwa selat Bali rusuh dan penuh kekacauan  (Drs I Made Sudjana  Nagari Tawon Madu 62). Ternyata pernyataan itu harus ditafsirkan bahwa Ulu Pampang telah menjadi tempat yang paling sering dikunjungi kapal kapal Inggris untuk melanjutkan perjalanannya ke Timur menuju Pasir dan Banjarmasin ( Borneo)( I Made Sudjana M A , Nagari tawon Madu 60) dan tempat berkumpul pedagang Nusantara bagian Timur untuk meneruskan hubungan dagang dengan kerajaan Melayu , China  dan India.
Mereka memilih lewat lautan Hindia dan menjadikan Ulu Pampang sebagai pelabuhan persinggahan. Maka Ulupampang menjadi pelabuhan yang ramai karena menjadi  pertemuan pedagang Nusantara dan Inggris . Ini terbukti  sejak awal tahun 1600an Ulupampang mampu mengekspor , sarang burung walet seharga f 4000 , bahan lilin 10 pikul , dan beras 600 ton setiap tahun.  ( Drs I.Made Sudjana MA .Nagari Tawon Madu  22) .
Pantaslah hal itu   telah merobah  motivasi Inggris, kalau awalnya hanya sebagai tempat persinggahan maka pada tahun 1760 , Ulu Pampang /Blambangan mulai dilirik sebagai tempat berpijak. Pada tahun 1765 , konsul EIC merekomendasikan beberapa pelabuhan yang cukup tepat untuk  pendirian perwakilan perdagangan EIC , termasuk di Blambangan( DR. Sri Margana Perebutan Hegemoni Blambangan 49). Setelah itu yaitu tahun 1766 ,kehadiran kapal  Inggris semakin sering . Sebelumnya hanya sekitar 6 bulan sekali , maka mulai tahun 1766 hampir setiap bulan , bahkan kadang kadang dua kali setiap bulan , ( Drs I Made Sudjana  MA. Negara Tawon Madu 61) . Dan  pada bulan Agustus 1766 tiga kapal besar Inggris  diikuti lima kapal belas chialoup, dan dua puluh lima pecalang dan seratus kapal yang lebih kecil , membawa pelaut bugis dan Madura tiba di Blambangan di bawah komando Edward Coles ( DR. Sri Margana Perebutan Hegemoni Blambangan 49).  Tidak dijelaskan apa yang dilakukan oleh armada yang sangat besar ini. Tetapi Thomas Stanford Raffless menjelaskan bahwa setelah itu ,seorang berkebangsaan Inggris ,  Mr.Yesse ,mulai membangun pemukiman di Blambangan . Pemukiman itu dinilai   sangat tepat. Demikian baiknya tempat itu sehingga tempat tersebut disamakan kedudukannya dengan Pinang di Malaya.(Thomas Stanford Raffless History of Java 144).Dukungan dari pemerintah Blambangan juga sangat membantu.Selain itu , Stanford Raffless,juga memuji keberhasilan pemerintahan Blambangan . Thomas Stanford Raffless menyesalkan kegagalan pembangunan pemukiman itu, dan mengemukakan analisa bahwa kegagalan pembangunan tersebut karena pemukiman tersebut semata mata disebabkan dikhususkan untuk militer, tanpa ada pedagang profesional atau pedagang petualang yang disertakan di pemukiman tersebut. (Ho J.148)
Strategy Tumpes Kelor/Membunuh musuh sampai habis
Pembangunan pemukiman militer inilah yang memacu penyerbuan VOC ke Java Ooosthoek.Karena dengan demikian Inggris telah memiliki dua Garisson ( Kompleks Militer), satu di Bengkulu , benteng Malborough dan satu lagi di Blambangan ( diduga Inggrisan). Maka  pada tahun 1767 setelah mendapat kepastian bantuan dari Mataram, Madura ( Panembahan Cakraningrat IV),Surabaya,  maka  dibangunlah expedisi yang sangat besar untuk menggempur  keturunan Untung Suropati dan  Blambangan .
Dalam menggempur Untung Suropati , Belanda mengadopsi Strategy  Tumpes Kelor dari Mataram , yaitu membunuh habis sampai keakar akarnya seluruh keturunan Untung Suropati (  Margana 98). Rupanya pola pikiran inilah yang berlanjut dalam penyerbuan ke Blambangan.
Setelah VOC menggempur lebih dahulu keturunan Untung Suropati dan melakukan Tumpes Kelor ( membunuh sampai habis), kemudian VOC dan sekutunya melanjutkan menyerang  Blambangan. Penyerbuan ini dipimpin dipimpin Erdwiyn Blanke terdiri atas 25 buah kapal besar dan puluhan kapal kecil , yang memuat 335 serdadu Eropa, dan 3000 laskar madura, mataram, Pasuruan, menggempur Panarukan pada tanggal 27 Pebruari 1767. Setelah Panarukan bumi hangus armada Erdwiyn Blanke melaju ke Banyualit  Pemilihan Banyualit ( sekarang Blimbingasari) karena pantai ini berada di tengah kekuatan Blambangan , yaitu Toyo Arum , Kota Lateng dan Ulupampang. Banyualit menjadi ajang pertempuran armada Blambangan dilaut maupun didarat.  Blambangan kalah dalam technology dan strategy , sehingga Banyualit banjir darah. Dan jatuh ketangan VOC pada 31Maret 1767( NTM63).
VOC sekali lagi menyusun berita kebohongan yang luar biasa .
Berdasar  Surat Resmi Kapten Blanke pada Gubernur Johannes VOS 31 Maret 1767 folio 131 136  via Perebutan Hegemoni Blambangan . DR . Sri margana 64).Menyatakan bahwa di Banyualit , VOC tidak mengalami perlawanan sama sekali.  Karena orang Blambangan telah muak dengan Bali ,dan kedatangan VOC digunakan oleh orang Blambangan berontak pada orang Bali. Ketika VOC memasuki kota, mereka melihat pemandangan yang mengerikan. Terjadi pembantaian besar besaran terhadap orang Bali . Kepala manusia tersebar dimana mana, sebagian besar orang Bali. Tetapi rupanya pasukan Belanda tidak puas , dan memburu orang Bali  yang masih bersembunyi di hutan Belantara.
Adakah fakta 2 yang mendukung orang Bali menguasai Blambangan .
Pernyataan Blanke  bahwa Blambangan dikuasai orang 2 Bali tidak memiliki fakta fakta yang kuat  . Berdasarkan penelitian bahwa terhadap kerajaan Mengwi dan Buleleng didapat fakta sebagai berikut;
•    Kerajaan Mengwi mengalami   masa Jaya  ketika I Gusti Agung Ngurah Made Agung 1627 sd 1650.Pada masa ini adalah masa Tawangalun I , pelabuhan Ulu Pampang berkembang dengan cepat , kemudian mengantarkan ke masa jaya Tawangalun II. Setelah I Gusti Agung Ngurah Made Agung , Mengwipun menurun.( Sejarah kerajaan Mengwi), yang memungkinkan Buleleng berdiri pada tahun 1660.
•    Kerajaan  Buleleng mengalami masa Jaya pada I Gusti Ngurah Panji Sakti (1660 sd 1697) dalam babad Buleleng diceritakan mengusai Blambangan.( juga Soegianto Sastrodiwiryo : I Gusti Panji Sakti Raja Buleleng 15991680. Kayu Mas Agung 1995).Padahal pada masa ini Blambangan berada pada masa jaya dibawah Tawangalun II.Masa yang berdasarkan hasil penelitian DR. Sri Margana adalah masa jaya kerajaan Blambangan.Setelah masa itu Buleleng itu menurun malah dikuasai Mengwi .
Dari fakta itu jelas VOC telah melakukan kebohongan sejarah . Mengwi maupun Buleleng sudah tidak memiliki kekuatan apapun pada tahun 1767, malahan mereka saling bertempur satu dengan yang lain. Buleleng dan Mengwi adalah kerajaan agrarish, yang tidak memiliki kekuatan maritim. Mengwi dekat Denpasar, maupun Buleleng dekat Singaraja  sangat tidak mungkin mengerahkan armada laut, dengan kapal yang hanya bermuatan 15 orang perkapal, mengarungi arus Samudra Hindia yang ganas.
Dengan demikian , sebenarnya Kapten Blanke dengan satuan armada yang sangat besar, telah melakukan pembantaian terhadap prajurit Blambangan. Surat yang dibuatnya hanyalah  cuci tangan dan mengadu domba orang Blambangan dengan orang Bali.
Dan apa gunanya kalo VOC mendapat dukungan rakyat Blambangan , VOC membangun benteng di Banyualit
Pendirian Benteng  dan banjir darah  ke dua di Banyualit.
Untuk mempertahankan kedudukannya di Blambangan , VOC membangun benteng di Banyualit .Pembangunan benteng ini menambah kesengsaraan rakyat Blambangan . Ribuan penduduk Blambangan dipekerjakan untuk secepatnya menyelesaikan Benteng tersebut tanpa mendapat upah , dan makan . Setelah itu VOC juga membangun benteng di Ulu Pampang.  Penderitaan rakyat Blambangan tak terkirakan . Para petinggi Blambangan diwajibkan menyerahkan dua ekor kerbau, dan menyerahkan uang sebesar 3.5 gulden . ( I Made Sudjana MA . Nagari Tawon Madu .67 )
Benteng ini cukup besar , dalam kondisi yang sangat kritis Van Rijcke menggambarkan bahwa Benteng Banyualit didapat 78  sakit, 59 meninggal. Untuk mempertahankan benteng  Van Rijcke dibutuhkan  bantuan pasukan setidaknya 100 orang Eropa, dan 2000 prajurit pribumi  juga dibutuhkan dua meriam yang baik, dan 20 koyang beras dan daging sapi untuk orang orang yang sakit , lebih banyak tepung dan spek (asinan daging babi ) bagi mereka yang sehat dan juga uang tunai.  ( Kondisi tentara Kompeni di Banyualit ,folio 30 VOC 3248 Surat dinas dari Gubernur Johannes Vos pada gubernur Jendral Petrus Albertus van der Parra  21 Maret 1768 , via DR . Sri Margana Perebutan Hegemoni Blambangan 127).
Dengan melihat kondisi Benteng Banyualit , dapat diduga Benteng ini hampir sebesar benteng Malborough yang dibangun Inggris di Bengkulu.Yaitu benteng Inggris kedua yang terbesar di Asia.
Disisi lain perjoangan yang  dipimpin Wong Agung Wilis mendapat dukungan yang besar dari rakyat dan para bangsawan Blambangan pedagang Bugis, Melayu, Bali , Lombok , China . Maka pada  Maret 1768  ,setahun setelah VOC menduduki Banyualit dan Ulupampang  pasukan Wong Agung Wilis bangkit dan menyerbu benteng  Banyualit .  Sekali lagi Banyualit menjadi daerah pertempuran dahsyat .  Menghadapi serangan Wong Agung Wilis yang amat dahsyat  VOC mendatangkan bantuan dari Surabaya. Bantuan dipimpin A.Groen  membawa 13 kapal yang memuat 302 orang serdadu Eropa, 1000 orang laskar Madura, 400 orang dari Surabaya, 1700 laskar Lumajang. Benar pasukan Blambangan  kalah dan Wong Agung Wilis tertangkap , kemudian dibuang ke Banda pada tanggal 6 September 1768. ( NTm 68).Ternyata Wong Agung Wilis dapat melepaskan diri dari Banda dan memimpin perlawanan dari Bali. Dan  semangat pertempuran Banyualit tidak pernah padam dihati  rakyat Blambangan dan  menghilhami pemberontakan P.Rempeg Jagapati , yang terkenal dengan PUPUTAN Bayu.
Banyualit digantikan Blimbingsari.
Rakyat Banyuwangi saat ini hanya mengenal Blimbingsari .  Bekas benteng VOC yang memakan ribuan  pekerja rakyat Blambangan pun hilang dari bumi , begitu juga  sejarah pertempurannya, yang menyebabkan banjir darah telah terlupakan.
Belanda begitu rapi menghapus jejaknya. Tetapi cerita kepahlawanan tidak pernah luntur dari ingatan leluhur . Walaupun jejak benteng telah dihapuskan , catatan sejarah diputar balikkan, tetapi secara pasti leluhur Blambangan masih mampu mewariskan . Seperti dikatakan Leonardo  Da Vinci , pelukis , filsafat, budayawan , scienties besar mengucapkan; Fakta sejarah tak akan pernah mati walau diabaikan.

Legenda Selat Bali ( Selat antara Jawa dan Bali)

11.50


Benarkah Jawa dan Bali , terbelah  pada masa Jaya Kediri  ( abad ke 9 )
Di Bali berkembang sebuah legenda atau mithos bahwa Bali dan Jawa sampai  masa kerajaan Kediri  adalah satu daratan yang utuh. Dan terbelah setelah masa zaman Kediri  diceritakan dalam legenda berikut.
Pada masa jaya Kerajaan Daha ( Kediri) , adalah seorang pendeta  sakti   , karena keluasan ilmunya . Pendeta itu   bernama Mpu  Sidhimantra  . Sebagai seorang  yang sakti , beliau memiliki sahabat dari seluruh machluk yang ada di bumi , dan antara lain seekor naga yang sangat sakti  bernama Naga Basukuh yang menetap digoa dekat Pura Besakih. Begitu akrabnya kedua machluk ini , sehingga terjalin persaudaraan yang amat mendalam. Sebagai seorang pendeta sakti, maka pada bulan purnama sang pandita selalu mengunjungi  kawan akrabnya naga Basukih. Pendeta selalu membawa semua makanan dan buah yang lezat di Jawa . Karena indahnya persahabatan maka Naga Basukih tidak segan segan menghadiahkan harta benda yang tersimpan didalam guanya yaitu emas dan mutu manikam.
Mpu Siddhimantra mempunyai putra yang sangat disayang yaitu Manik Angkeran . Manik Angkeran sebagai layaknya pemuda masa itu memiliki kegemaran berjudi.  Tetapi rupanya kegemaran Manik Angkeran telah merusak daya pikirnya. Sehingga berjudi telah menjadi kebiasaan yang berbahaya. Harta miliknya telah habis . Setelah itu diapun tidak segan meminta bantuan ayahnya untuk berjudi. Suatu saat Manik Angkeran  , kalah berjudi, dan harta pemberian orang tuanyapun telah ludes, tapi apa daya , dia tidak mungkin meminta uang pada ayahnya karena  Pendeta Sidhimantara sakit. Sudah sepekan dia tidak berjudi , betapa malunya dia terhadap kawan kawannya karena ternyata anak pendeta sakti yang kaya akan harta itu juga kehabisan modal untuk berjudi. Maka pikirannyapun mulai dirasuki pikiran tidak benar. Dia tahu benar bahwa ayahnya setiap bulan purnama mengunjungi kawannya Naga Basukih, dan setiap pulang dari Bali selalu membawa emas dan mutu manikam.Maka ketika mengetahui ayahnya tidak mungkin pergi ke Bali karena sakit, Manik Angkeranpun mencuri kesempatan itu . Dia membawa semua yang biasa dibawa ayahnya , lebih dari itu Manik Angkeran juga membawa Genta  sang Mpu. Ketika sampai di mulut gua di dekat Pura  Besakih maka Manik Angkeran membunyikan genta nya. Maka keluarlah sang Naga Basukih. Sang Naga sempar tekejut , karena yang datang bukan Mpu Sidhimantra , namun Manik Angkeran segera menjelaskan bahwa dia adalah putra Mpu Siddhimantra, dan memberikan bukti bahwa dia diutus ayahnya untuk sowan. Sebagai wakil ayahnya maka dia diperbolehkan membawa Genta.
Seperti biasa setelah waktu berpamitan, sang Naga Basukih pun memberikan oleh oleh untuk Mpu, berupa emas dan mutu manikam.Tetapi begitu melihat ekor sang Naga dipenuhi hiasan emas dan mutu manikam , maka pikiran jahatnya muncul. Kalo seluruh harta pemberian Naga Basukih ini kuberikan pada bapakku, maka tentu dia hanya akan mendapat bagian yang kecil. Maka tanpa berpikir panjang Manik Angkeran memotong ekor Naga Basukih ,dan kemudian melesat melarikan diri. Namun Naga Basukih sangat sakti, dalam rasa kesakitan yang amat sangat , dia kemudian menyemburkan api dari mulutnya, maka terbakarlah Manik Angkeran menjadi abu.
Sementara di Daha mpu Siddhimantra , kebingungan karena selain gentanya hilang juga Manik Angkeran tidak pulang pulang. Maka pikiran sang Mpu pun , yakin putranya sedang dalam masalah besar, maka sang Mpu menemui sahabatnya Naga Basukih. Betapa terkejutnya sang Mpu mendengar pengaduan sahabatnya tentang tingkah laku putranya. Sang Mpu memohon maaf , dan berjanji akan menyatukan kembali ekor sang Naga, dan akhirnya sang Nagapun berjanji akan menghidupkan putranya. Betapa bahagianya sang Mpu . Sang Mpupun segera menyambung kembali ekor Naga Basukih  dan sang nagapun menghidupkan kembali  Manik Angkeran .  Maka sang Mpu pun , memerintahkan putranya untuk mengabdi pada Pura Besakih sebagai pemangku  (orang suci) serta menjadi sahabat Naga Basukih.
Meskipun Manik Angkeran telah menjadi sadar dan berjanji untuk mengabdi pada Pura Besakih, tetapi sang Mpu masih khawatir dengan kawan kawannya penjudi dari Daha, yang akan datang ke bali mempengaruhi putranya , maka  sang Mpu menorehkan tongkatnya di Blambangan ( Banyuwangi) , maka terjadilah belahan yang sangat besar , dan seketika air laut dari Samodera Hindia mengisi belahan itu  yang kita kenal kemudian Selat Bali. . Maka agama Hindupun menyebar keseluruh Bali, dan oleh karena itu , untuk menghormati  jasa  Manik angkeran,  para pemangku ( orang suci) Pura Besakih harus memiliki trah Manik Ngakeran.
Cerita diatas paling tidak menyiratkan dua hal ;
1.    Bahwa orang Bali memiliki hubungan yang erat dengan masa jaya Kediri. Karena penyebar agama Hindu di bali adalah trah Manik Angkeran yang berasal dari Kediri
2.    Bahwa  orang suci Hindu telah melakukan perjalanan ke Bali ketika Bali adalah bagian daratan di Jawa.


Legenda  diatas sangat mirip dengan legenda atau mithologi penyebaran agama Hindu ke Nusantara.  Dalam legenda itu diceritakan adalah  seorang  pendeta suci murid Siwa ( Agastya) yang melanglang buana untuk menyebarkan agama Hindu . Maka sampailah beliau di Ujung benua Asia. Sebagai seorang pendeta suci , ketika pandangannya tertuju kelaut lepas, beliau dapat memandang gugusan kepulauan yang sangat indah , penuh daya tarik spiritual yang mengagumkan . Kepulauan itu adalah Nusantara. ( Swarnadwipa) .Dalam wangsitnya kepulauan itulah yang akan menjadi pusat spiritual dunia , dan tempat berpijak untuk menyebarkan agama Hindu keseluruh Jagat Raya.
Karena itu beliau sangat ingin mencapai kepulauan itu. Namun lautan telah menghalanginya.  Maka Sang pendetapun bertiwikrama , bersemedi memuja Siwa untuk mendapatkan petunjuk guna mencapai Nusantara.  Setelah bersemedi  maka datanglah kekuatan rohani untuk menghirup air lautan. Dan sang pendetapun menghirup air lautan , sehingga air laut yang membatasi  Nusantara dan Asia kering , dan pendeta suci Agastya  berjalan menuju Nusantara.  Dan di Nusantarapun pada abad ke tujuh berdiri kerajaan besar Hindu dari wangsa Sanjaya yang mendirikan candi megah Prambanan.  Dan pendeta a suci Agastya , diabadikan dalam patung Rsi Kumbhayoni yang perutnya buncit ( karena minum air).Archa Kumbhayoni tersimpan di Museum Gajah Jakarta.
Kemiripan cerita itu adalah penyebaran agama Hindu , dilaksanakan hanya melalui daratan . Tidak pernah menyeberang lautan. Penyebaran agama Hindu ke Nusantara, malah merupakan keajaiban , karena Sri Langka yang sangat dekat dengan kerajaan besar Hindu Tamil di India,malah beragama Budha.
Konsepsi Hindu tentang dunia.
Dalam kajian  ilmiah ternyata bentuk benua Asia termasuk Kepulauan Nusantara termasuk  Bali dan Jawa telah terpisah sejak sebelum Masehi  malah diperkirakan sekitar lima juta tahun yang lalu . Tetapi dalam legenda tadi terdapat keajaiban sehingga Asia dan Nusantara  dihubungkan oleh daratan , begitu juga  Jawa dan Bali masih menjadi satu.   Adakah alasan dibalik semua legenda tadi
Menurut DR.  Agus  Aris Munandar dalam makalahnya KEMARITIMAN MAJAPAHIT  BERDASARKAN DATA YANG TERSEDIA  dalam diskusi ROAD TO BOROBUDUR WRITERS DAN CULTURAL FESTIVAL 2013, Jum’at  1 Maret 2013  menyamaikan    Konsepsual Religius  agama Hindu tentang Jagat Raya  , sebagai berikut;
1.    Konsepsi Keagamaan: Ajaran Hindu menyatakan bahwa daratan adalah tempat penting , tempat itu dinamakan Jambhudwipa,sebagai lokasi bermukimnya manusia. Dengan demikian kerajaan kerajaan yang bercorak Hinduismedi Jawa lebih mementingkan In Ward Looking. Dan tidak memperhatikan daerah daerah di luar Jambhudwipa.
2.    Dalam konsep Makrokosmos Hinduisme menyatakan bahwa ditengah Jambhudwipa terdapat gunung Mahameru sebagai pusat alam semesta Axis Mundi antara tiga dunia ( Bhurloka , Bhuwarloka, dan Swarloka ). Bhurloka adalah bagian kaki gunung , tempat tinggal manusia, ditengah Bhuwarloka , tempat tinggal para orang suci dan para pertapa, sedang Swarloka di puncak Mahameru  terdapat sorga ,istana istana bersemayamnya para dewa ( Sudarsana). Dalam konsep ini daerah tepian pantai , laut dan lautan dianggapa derah nista dan kotor, tempat tinggal roh roh jahat, para raksasa, dan machluk rendah lainnya. Oleh karena  itu perhatian ke laut , pelayaran di laut dan menjelajah lautan bukan aktivitas  yang disenangi oleh pemeluk agama Hindu
3.    Terdapat mitos Agastya yang menyatakan adanya larangan bagi para pendeta Hindu untuk menyeberangi lautan.
Apakah konsepsi itu , yang kemudian melahirkan legenda tersebut ?
Namun kedua cerita tersebut harus diakui betapa luar biasanya rasa seni manusia Nusantara.

APAKAH WANGSA ARYA LELUHUR ORANG BANYUWANGI ?

11.34


Sejak kecil saya telah diberitahu oleh mbah saya, ayah saya, dan Kakek Lilir seorang sepuh dari Paiton, orang “pintar” ,penyembuh orang  sakit( pada tahun 1950an di Banyuwangi tidak ada dokter dikota Kawedanan), bahwa leluhur orang Banyuwangi adalah orang seperti Kakek Lilir, Kakeek Latief, dan orang yang berperawakan seperti beliau, tinggi besar , kukuh , sawo matang, berhidung mancung dan perempuannya seperti mbah wadon (nenek) ,langsing, berhidung mbangir ( mancung kecil) . Dan saya bertemu banyak orang seperti itu pada saat kecil . Laki lakinya berikat kepala yang mengarah kebawah ( perhatikan lukisan Mr Bonet, yang melukis panorama Panen zaman 30an , terutama lelaki berudeng/tutup kepala kebawah)  dan perempuannya tidak lepas memakan sirih. Tidak hanya itu, ayah saya ,telah mengenalkan petilasan leluhur Banyuwangi, patung watu kebo , di halaman S.D Watu Kebo lama, Watu loso di Alasmalang, Watu Kenong ( Batu berbentuk gamelan kenong) di Paiton, Sitinggil di Muncar dan banyak tempat , yang kebanyakan berbentuk batu halus ( Dolmen?).Tetapi belum pernah ke Macan Putih, karena sangat angker.
Oleh karena itu saya selalu menaruh minat yang besar untuk membaca dan mencatat sesuatu yang berkaitan dengan Banyuwangi. dan  saya mulai menghimpun data tentang Banyuwang, baik mengenai adat, sejarah maupun pernak perniknya.Menyadari bahwa saya bukan ahli sejarah , saya hanya mencatat , menyimpan catatan tersebut.Tetapi ketika saya menjadi facebooker, melihat adik2 yang begitu antusias membicarakan Banyuwangi , adat istiadat, kesenian,saya beranggapan , saya perlu mereconstruksi ingatan dan catatan saya tentang leluhur Banyuwangi.
Apalagi ada kepedihan dalam hati saya , ketika menemukan tulisan Sir Stanford Rafless dalam Hystory of Java yang menulis sbb:
From that moment , the provinces subjected to its authority, ceased to improve. Such were the effect of her desolating system that the population of the province of Banyuwangie,which 1750 is said to have amounted to upwards of 80.000, was in 1811 reduce to 8000.
Dan pada kenyataannya , perawakan orang Banyuwangi seperti yang saya temui waktu kecil , semakin menghilang dari tanah Banyuwangi..
Mereka yang teguh memegang Bahasa , Tradisi , Adat , Kebudayaan
Bisa dibayangkan betapa luar biasanya daya tahan manusia Blambangan ini, karena pembunuhan yang luar biasa itu  ,dari tanah seluas 10.ooo km persegi hanya tinggal 140 desa (Thomas Stanford Raffless. Hystory Of Java. (618) Mereka digiring dari Lumajang , Jember, Bondowoso , Situbondo, menuju Banyuwangi.  Yang tak tergiring menuju Banyuwangi , samapai tahun 60an masih exist, dalam kelompok kecil. Dan pada tahun 60an , kami masih mendapati hubungan kekeluargaan. Tetangga saya memiliki saudara di Puger. Ada juga yang berhubungan dengan orang di Panarukan. Tetapi  sebagian besar telah lenyap penghuninya , dan di seratus empat puluh desa  yang tercatat pada tahun 1811 kadang kadang hanya 4 orang penghuni  , terdiri satu orang ibu , dua orang anak perempuan , dan satu anak laki laki. Mereka terhimpun pada daerah yang kita kenal kemudian Segitiga Emas Ibu Nagari Blambangan yaitu Bayu ( ibu kota kerajaan Blambangan tahun 1659 sd 1665), Macan Putih ( 1665 sd 1774) dan Kota Lateng ( 1697 sd 1774). Mereka terdiri dari rakyat sedang para bangsawan habis  terkena operasi Tumpas Kelor ( DIBUNUH SAMPAI HABIS) atau melarikan diri ke Madura atau ke Bali. Mereka inilah penjaga bahasa , tradisi , adat dan kesenian.  Karena itu bahasa wong Blambangan di Banyuwangi adalah bahasa Jawa kuno rakyat tetapi kadang campur dengan kromo. Sebutan saya dalam bahasa Blambangan adalah Isun dari Jawa kuno Ingsun, Kamu , bahasa Blambangan adalah Siro. Dalam kekurangan dan penindasan Belanda dan anteknya mereka tetap exist. Pemerintahan Raffless , Inggris mereka menikmati kesempatan hidup bebas. Apalagi Raffless membangun jalan kerajaan Blambangan yang dihapuskan oleh Belanda , ( I Made Sudjana MA . Nagari tawon Madu 93). Hasil pertanian mereka ditampung di pabrik beras yang antara lain didirikan di Gladak . Rafflees memberi kesempatan terjadinya perkawinan campuran , baik dengan para pendatang dari jajahan Inggris maupun pendatang dari Nusantara. Perkawinan campuran ini ternyata tidak menghapuskan bahasa mereka, bahasa Jawa kuno tetap terpelihara walau kosa katanya tidak lengkap . Karena kebaikan Inggris , maka tidak herana mereka menyambutnya ,sehingga bahasa Inggris masuk dalam kosa kata mereka, begitu juga kosakata Nusantara lainnya. tetapi karena perasaan sakit yang mendalam pada Belanda , kosa kata ini tidak didapati dalam bahasa Blambvangan.Lebih dari itu  Bahasa Blambangan  sampai tahun 1970 , menjadi lingua franca di Kabupaten Banyuwangi.
Keadaan merdeka pada masa Inggris ternyata menjadi malapetaka pada masa Belanda. Belanda dan anteknya melancarkan yang menurut DR. ( Leiden)Sri Margana ( dosen Sejarah UGM )  sebagi DELEGIMITASI dan SINISME. Mereka mempropagandakan cerita Damarwulan dan Menakjinggo.  Menakjinggo raja Blambangan digambarkan dengan segala keburukan manusia. Sebagai raja raksana, berasal dari anjing , pincang , buta sebelah, dan bicaranya pelo. Lebih dari itu , sebagai raja buruk rupa dia menginginkan menikah dengan Ratu Kencana Wungu , Prabu Majapahit . Kemudian juga dikembangkan bahwa kerajaan Blambangan adalah kerjaan kecil yang rapuh dan menjadi jajahan Bali.  Maka dibuatlah cerita Damarwulan , Menakjinggo dalam versi Bali. Padahal berdasarkan penelitian DR. Purwadi , cerita itu tidak dikenal di Bali. Karena   Cerita itu sepenuhnya adalah hasil karya pujangga Mataram. Dan para bupati Banyuwangi  yang berasal dari Mataram menggiatkan cerita itu, dengan tujuan mengadu domba dengan wong Blambangan dan wong Bali.
Namun wong Blambangan , menandinginya dengan mempertahankan budaya dan kesenian yang bersumber dari masa Jaya Blambangan , yaitu Angklung, Gandrung , dan kesenian yang berciri islam yaitu Mocoan , Terbang Kuntul  , dan Maulud Nabi dengan Kembang Maulid.. Maka keteguhan pada adat, tradisi dan kesenian yang sangat mengagumkan ini, pasti hanya dimiliki oleh orang yang memliki sejarah yang amat panjang , dan teruji.  Siapakah mereka.
PERANG PAREGREG MENBUKA FAKTA.
Ketika saya membaca  tulisan Prof DR Slamaet MULYANA. tentang Perang Paregreg, beliau menulisbahwa
.. ketika Wikrawardana mengachiri pemerintahan dengan menjadi Bhiksu ( Pendeta Budha), ternyata yang diangkat sebagi penggantinya adalah putrinya yaitu Dewi Suhita, dengan pemerintahan dewi Suhita ini maka berakhirlah pemerintahan wangsa Sanggramawijaya.(Wangsa Sanggramawijaya , adalah keturunan dari perkawinan Ken Dedes dan Ken Arok,  oleh Pramudya Ananta Toer , dideskripsikan sebagai brahmana, penganut Hindu Siva yang teguh,dan fisik berciri Arya).
Tentang  Perang Paregreg dapat diceritakan sebagai berikut ;
Ketika Prabu Hayamwuruk ( Rajasanagara)  wafat , maka Nararya Majapahit Kedaton Wetan ,Bhree Wirabhumi memiliki hak syach untuk menggantikan Prabu Rajasanagara karena dia telah menjandang gelar Bumi yaitu putra Mahkota . Tetapi Wikramawardhana yang pada saat itu menjadi Hakim Tinggi Majapahit, menolak pengangkatan itu , dan mengajukan istrinya Kusumawardhani ( putri Rajasanagara dari Permaisuri ) untuk menduduki tahta Majapahit. Pengangkatan ini sebenarnya sekedar siasat agar dia bisa mengambil alih kekuasaan Majapahit. Karena dia tahu pasti Kusumawardhani hanya ibu rumah tangga bukan Negarawan.Ketika Kusumawardhani tidak mampu memerintah, maka dengan cepat Wikramawardhana bersama anak2 dari selirnya ( yang istri simpanan sebelum kawin dengan Kusumawarhani, jadi dia waktu kawin dengan Kusumawardhani berbohong mengaku jejaka). Inilah yang mengakibatkan Perang Paregreg Pertama. Perang ini sebenarnya dimenangkan oleh Bhree Wirabhumi, tetapi sekali lagi Wikramawardhana berkelit menyerahkan kekuasaan kepada Suhita , putri dari Kusumawardhani. Waktu Suhita memerintah , Bhree Wirabhumi sekali lagi mengalah , karena diberi janji setelah Suhita mangkat maka Bhree Wirabhumi yang akan menggantikan. Tetapi sebenarnya sekedar taktik liciksaja, karena ketika Suhita memerintah seluruh nak tiri Wikramawardhana telah memegang kekuasaan penting. Maka ketika Majapahit Kedaton Wetan mendapat pengakuan Kaisar Ming Yung Lho ( melalui Cheng HO), maka Majapahit Kedaton Wetan dianggap membangkang dan diserbu oleh Majapahit. Bhree Wirabhumi kalah tetapi Suhitapun kehilangan kekuasaan , dan putra selir Wikramawardhana , Kertawijaya memegang kekuasaan . Kertawijaya mendirikan wangsa Brawijaya, wangsa inilah yang bermusuhan dengan Blambangan ( Lamajang Tigang Juru / Majapahit Kedaton Wetan ) . Wangsa ini diduga memberi nama Rajasanagara menjadi Hayamwuruk ( Ayam Jago ,aduan ) untuk mengaburkan darah leluhur Bhree Wirabhumi sekaligus sebagai ejekan.
Dari segi silsilahpun  Bhree Wirabhumi mempunyai kedudukan yang kuat.Meskipun dia putra dari selir, tetapi ibunya adalah darah biru Kedaton Wetan,  dan dia diangkat  anak  Bhree Daha, pewaris sah dari Ken Arok dan Ken Dedes. Selain itu  permaisuri Bhree Wirabhumi adalah Bhree Lasem putri  dari adik Hayamwuruk Sri Wardhaniduhitateswari dan Bhree Pagunan ( Singhawarhana).
Negeri ini juga  dicatat sebagai kerajaan Hindu  yang kuat karena  gunung yang disucikan oleh penganut Hindu terletak  di kawasan ini yaitu G. Semeru,seperti dikemukakan Prof DR Drs I.Ketut Riana S.U dalam larasan Negara Kertagama :
Kemuliaan Beliau ( Prabu Hayamwuruk) disejajarkan dengan Sang Hyang Giri Nata , diyakini bersemayam di puncak gunung Semeru , yang dianggap dewanya semua dewa serta amat gaib dialam ini ,bahkan menguasai alam jagat raya. (32).


Lukisan desa Blambanga, dengan latar belakang g. Semeru oleh Abraham Salam 1867 1872
Keberadaan Gunung yang disucikan itu didaerah ini juga menunjukan adanya ras yang dihormati oleh orang Hindu ditempat ini . Oleh karena itu, ketika prabu Hayamwuruk mendapat putra tunggal dari selirnya di Blambangan, maka putra tunggalnya ini didudukan sebagai adipati Blambangan yang dikenal dalam sejarah sebagai Bhree Wirabhumi/Menakjinggo.Dengan demikian ,sejak masa Bhree Wirabhumi maka yang memerintah Blambangan adalah wangsa Sanggramawijaya ( keturunan dari R.Wijaya), yaitu wangsa yang berasal dari keturunan Ken Dedes dan Ken Arok ( wangsa Isyana) , dan apabila dilacak jauh ke abad ke tujuh , maka inilah darah Arya yang mendirikan candi Prambanan, seperti terebut dalam kutipan dibawah ini.
  •  ……Jenggala dan Kahuripan Singosari sebagai tlatah  Prabu Dandang Gendis ,yang konon anak sulung dari prabu Gathayu dari Prambanan ( Jawa tengah) [5]
  •  Tentang orang orang asing di Java bhumi( pada abad ke tujuh pada masa Sanjaya membangun Prambanan) , periksa prasasti Kaladi (909) selain orang Kling Drawida , dari India terdapat juga  ARYA
SIAPAKAH WANGSA SANGGRAMAWIJAYA
Wangsa Sanggramawijaya menurut para sejarahwan adalah raja raja Majapahit  yang berasal dari keturunan  Dewi Sanggramawijaya atau Resi Dewi Keli Suci. Beliau menolak mewarisi tahta dari Prabu Erlangga ( 1010 sd 1014) dan menyingkir dari istana menjadi pertapa. . Karena itulah kemudian Airlangga menyerahkan tahta kepada dua putra dari selirnya yaitu Lembu Amisena ( Raja Kediri /dhaha) dan Lembu Amiluhur ( Raja Jenggala).Dari darah beliau lahir  Ken Dedes seorang cicitnya putra mpu Parwa dinikahi Tunggul Ametung   , seorang akuwu ( bupati) Tumapel Singosari. Pernikahan ini adalah sebuah penghinaan terhadap darah Sanggramawijaya karena Tunggul Ametung tidak berdarah Brahmana . Dan raja Singosari sebagai darah/keturunan  Airlangga tidak berbuat apapun, sehingga memicu kemarahan para Brahmana ( dibawah pimpinan Pendeta Lohgawe) . Karena itulah  Pendeta Lohgawe memberi restu kepada Ken Arok  seorang pemimpin pemberontak terhadap Tunggul Ametung.
Pramudya Ananta Toer mendeskripsikan , tentang kelompok Hindu Siwa ini, sebagai ras Arya yang sangat exclusive dan menjaga keturunan dengan ketat dan teguh terhadap agamanya
Maka wajarlah Hayamwuruk raja Agung Majapahit, sebagai seorang Arya ,  yang diagungkan  sebagai Syiwa di bumi sangat menjaga darah Aryanya , oleh karena itu Bhree Wirabhumi  disandingkan  dengan  putri yang cantik jelita yaitu Sang Sri Nagara Wardhani yaitu putri Bhree Lasem ( adik kandung Prabu Hayamwuruk) yang bersuamikan seorang Adipati Manahun, bangsawan  yang  tampan ,pemberani, ahli dalam politik.
Mpu Prapanca dalam Nagara Krtagama mengungkapkan.
  • Bait 14.Tentang  mertua Bhree Wirabhumi
Ipar Baginda Raja semua telah bertahta menjadi raja,
Raja Matahun suami Rani Lasem ( adik Prabu Hayamwuruk) seorang pemberani
Baginda Sri Rajasa Wardhana terkenal tampan, mahir dalam politik
Bagaikan Smara Pinggala , pernikahan Baginda terpuji dalam negeri
  • Bait 16. Tentang Bhree Wirabhumi dan permaisurinya.
Adapun putra Baginda Raja yang bertahta di Wira Bhumi
Sang Sri Nagara Wardhani (putri Bhre Lasem , permaisuri Bhree Wirabhumi)) seorang maharani molek tak bertara .
(untuk lebih jelasnya lihat Geneologi KERTHA RAJASA, hal 73)
Disamping masalah tahta  pada masa  Wikramardhana, para pendeta Hindu mulai disingkirkan dari Keraton Majapahit ( NEGARAKERTAGAMA) sedang Bhree Wirabhumi berdasar darah dan keturunan adalah penganut Hindu yang kuat .
Maka jika ditinjau dari uraian diatas maka PERANG PAREGREG  memiliki alasan sebagai berikut
1.    BHRE WIRABHUMI menuntut hak sebagai pewaris yang sah ,sebagai keturunan Prabu Hayamwuruk ,
2.    BHREE WIRABHUMI menjaga kehormatan wangsa Sanggramawijaya, pewaris Arya ,penganut Hindu yang teguh.
Sejarah membuktikan , kerajaan Blambangan , adalah kerajaan Hindu  yang kuat  tetapi juga menerima Islam dengan tangan terbuka.  Cucu Bhree Wirabhumi , Sekar Dalu , disembuhkan dari sakit dan dipersunting Syech Maulana Ishak , Wali Lanang ( Lelaning Jagat ) , karena belaiu adalah guru Wali Sanga. Putranya juga pemimpin Wali Sanga  yaitu Sunan Giri. Dengan demikian wong Blambangan adalah orang yang sangat religious. Kuat dalam agama. Dia akan menjadi Hindu  yang baik atau menjadi Islam yang baik. Di Blambangan tidak ada sinkritisme , yang ada adalah Acculturasi. Kesenian dan kebudayaan adalah paduan dari kekuatan pemeluk teguh. Bukan Bali dan Bukan Jawa.
DR Sri Margana yang  mengambil Doktor di Universitas Leiden , Belanda dengan disertasi  “Java’s Last Frontier: The Struggle for Hegemony of Blambangan“ yang dimuat di Intermezo majalahTempo edisi tgl13 dan 19 September. Pendapat itu membuka fakta baru tentang kerajaan Blambangan sebagai berikut;
1.    Kerajaan Blambangan (mencakup daerah Lumajang, Jember, Bondowoso, Situbondo, Banyuwangi) tidak runtuh setelah perang Paregreg, malahan tetap bertahan sampai abad ke 18,atau tiga abad setelah Majapahit runtuh.
2.    Kerajaan Blambangan , dalam mempertahankan existensinya, mampu bergerak dengan mobilitas yang sangat tinggi, terbukti kerajaan Blambangan telah memindahkan ibukota  kerajaan sampai 6 (enam) kali.(Lumajang, Panarukan , Kedawung /Jember, Macan Putih, Ulupampang,Lateng/Banyuwangi)
3.    Kerajaan Blambangan selain mampu membangun kembali kekuasaaan dan kejayaannya setelah kekalahannya dalam perang Paregreg, juga  dapat membendung serangan Kerajaan Demak,dan Kerajaan Mataram/Surakarta pada tahun 1639,1648,1665
4.    Kerajaan Blambangan mencapai kemakmuran dan kewibawaan  yang luar biasa, pada masa Prabu Tawang Alun II dari tahun 1655 sd 1692.
5.Sebagai Arya juga terbukti pada teguhnya keyakinan pada agama Hindu  ketika Blambangan mencapai puncak kejayaan dibawah prabu Tawangalun abad ke 17 . Pada saat beliau wafat  dan diperabukan sebanyak 270 istrinya dari jumlah 400 orang mengikuti upacara Sati. Sehingga menurut DR Sri Margana  merupakan Sati   terbesar  sepanjang sejarah kerajaan Hindu di Indonesia
6.    Perang Pangeran Jagapati/Puputan Bayu   adalah perang yang tersadis dalam sejarah perang di Indonesia. Tubuh dan kepala para prajurit yang tewas digelantungkan di pepohonan sekitar benteng.Lumbung padi dibakar, sehingga rakyat kelaparan dan disusul merebaknya wabah penyakit.
7.    DR. Sri Margana juga menyampaikan, ada mitos yang berkembang di Mataram saat itu ( sekitar abad 18 ) , bahwa prajurit Blambangan kebal terhadap senjata. Oleh karena itu dijadikan percobaan untuk menguji senjata Jika keris maupun tombak dapat membunuh prajurit Blambangan, maka senjata tersebut dinyatakan sakti dan layak dipakai perang.
8.    Daya tahan kerajaan Blambangan , terutama karena keandalan rakyatnya dan strategy perangnya.
9.Sebagai Arya juga terbukti pada teguhnya keyakinan pada agama Hindu  ketika Blambangan mencapai puncak kejayaan dibawah prabu Tawangalun abad ke 17 . Pada saat beliau wafat  dan diperabukan sebanyak 270 istrinya dari jumlah 400 orang mengikuti upacara Sati. Sehingga menurut DR Sri Margana  merupakan Sati   terbesar  sepanjang sejarah kerajaan Hindu di Indonesia
Untuk menjaga kesinambungan keyakinan ini, maka tidak heran para leluhur wong Blambangan mewariskan legenda Sri Tanjung dan Pangeran Sidopekso , dan adat istiadat upacara Kebo Kebo an,symbol adat berupa dua kepala NAga Gatutkoco adalah candra sengkala pada masa pemerintahan kembar di Singosari antara keturunan Ken Arokdengan Ken Dedes dan ken Umang , kesenian  Angklung,,  gandrung dsbnya.
Oleh karena itu legenda tersebut seharusnya difahami tidak hanya cerita tentang terjadinya kota Banyuwangi, tetapi  sebagai pesan leluhur Blambangan bahwa wong Blambangan memiliki hubungan darah dengan kerajaan Hindu  Singosari, karena legenda Sri Tanjung tersebut terukir pada dinding bagian tenggara Candi Surosowo  di Desa Canggu, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri.
Juga adat Kebo kebo an yang pada  sekitar sebelum tahun 50an berlaku luas di daerah segi tiga emas ( Golden Triangle ibukota terakhir Blambangan, Bayu, Macan Putih, Kota Lateng) serta adanya patung kebo dibeberapa daerah ( Watukebo, Aliyan) menjadi bukti bahwa masyarakat Blambangan di Banyuwangi sangat menghormati lambang kebesaran kerajaan BLAMBANGAN yang selalu muncul dalam arakarakan persembahan pada Istana Majapahit  seperti tersebut pada Negara Krtagama
Tanda tanda kebesaran ;bait 71.
Baginda Raja Matahun mempersembahkan arca lembu putih seperti Nandini
Lembu itu mengeluarkan uang dan makanan dari mulutnya tak putus putus sangat mengag
Dari uraian diatas kita bisa menarik kesimpulan, bahwa raja raja  Blambangan memiliki ciri ciri sebagai Arya yang dideskripsikan oleh Pramudya Ananta Toer. Bukti lain adalah nama Lurah Blambangan  pada abad ke 18, masih sama dengan nama yang berlaku pada zaman Singosari.
Adakah Blambangan memiliki hubungan dengan Singosari
Negeri ini adalah negeri yang sangat jelas kaitannya dengan sejarah masa jauh kerajaan di Jawa.Blambangan bermula dari suatu daerah yang dibentuk oleh raja besar Singasari , yaitu raja Wisnuwardhana putra Prabu Airlangga  . Dalam prasasti Mula Malurung ( 1225 Masehi) raja Wisnuwardhana dalam mewujudkan doktrinnya  CAKRAWALA MANGGALA JAWA atau kesatuan Jawadwipa., mengangkat delapan Narariya  atau raja bawahan, dan salah satunya adalah Narariya KIRANA di Lamajang.
Doktrin ini ternyata memberi arti yang sangat besar semangat besar putra Wisnuwardhana ,   Kertannegara , sehingga  mendeklarasikan doktrin Pamalayu yaitu  tekad Singosari untuk tidak saja menguasai pulau jawa, tetapi malah ,meluas sampai tanah Melayu.Doktrine ini yang oleh DR. Moch Yamin sebagai cikal bakal  doktrine Nusantara atau  Negara Kesatuan Republik Indonesia.Demikian juga diakui oleh sejarahwan Amerika John Man.
Ketika Singosari direbut oleh Jayakatwang dan kemudian dikuasai pasukan KU BILAI KHAN, menantu Kertanegara R.Wijaya  meminta bantuan pada Aria Wiraraja. Arya Wiraraja  semasa mudanya pernah mengabdi pada Narasingamurthi , kakek R. Wijaya. Persekutuan ini berhasil mengusir pasukan KuBilai Khan dari Singosari.
Ketika R. Wijaya mendirikan Majapahit , maka daerah Lamajang dan Tigang Juru diserahkan kepada Arya Wiraraja sebagai daerah pardikan , tetapi tetap sebagai bagian Majapahit( Prasasti Kudadu 1294). Daerah Tigang  Juru adalah daerah yang mencakup Ujung Timur pulau Jawa ( Jember, Situbondo , Bondowoso, Banyuwangi ). Mencakup luas 10 ribu kilometter. Dan Arya Wiraraja mendapat gelar Rakyan Mantri Arya Wiraraja. Hubungan kedua daerah ini mengalami pasang surut.Ketika bersatu dapat membangun kejayaan Majapahit, ketika kisruh maka  pamor Majapahit merosot.Kisruh pertama dengan Blambangan adalah ketika pemberontakan Ronggolawe, putra Arya Wiraraja . Pemberontakan ini dipicu ketika para adipati veteran perang dengan Ku Bilai Khan disingkirkan untuk memuluskan pengangkatan Jayanegara, putra dari Dara Petak, yang tidak mengetahui perjoangan mendirikan Majapahit. Perang ini terus berlangsung ketika Jayanegara bertindak sewenang wenang pada para adipati pahlawan perang dengan KU BILAI KHAN .  Menyadari hal ini kemudian Rajasanagara mempersunting putri Blambangan ketika Gajah Mada mendeklarasikan sumpah Palapa , yang akan menyatukan seluruh Nusantara. Perkawinan antara prabu Rajasanagara  dengan putri Blambangan ini melahirkan  putra  dan merupakan putra satu satunya keturunan Hayamwuruk , sedang dengan permaisuri lahir putri semuanya. Oleh karena itulah kemudian putranya ini ditetapkan seorang putra mahkota *( Bumi) , dan bergelar Bhree Wira Bhumi.  Perkawinan inilah yang menyatukan Arya di tanah Blambangan.
Dalam buku AIRLANGGA , Biografie Raja Pembaru Jawa Abad xi, DR. Ninie Susanti pada hal 203 menulis ….Satu hal lagi , tak seorangpun raja Kadiri memakai cap Garudamukha yang sampai saat ini ini masih  memberi petunjuk tentang kedekatan hubungan dengan prabu Airlangga . Yang dimaksud cap Garuda Mukha adalah seperti ini

Lambang Garudamukha  ternyata melekat pada kerajaan Blambangan , walaupun keturunannya yang telah masuk Islam ,yaitu
walinya para wali yaitu  Sunan Giri sampai Prabu Tawang Alun di istana Macan Putih seperti nampak pada petilasan Macan Putih dibawah ini
 
 
Garuda Mukha ini juga yang saat ini nampak   pada Gamelan Angklung Caruk Banyuwangi
KAPAN ARYA DATANG KE NUSANTARA
Sejarahwan mencatat mereka (Arya) telah berada di Jawadwipa ( Pulau Jawa) ,sejak wangsa Sanjaya diabad ke tujuh. Malahan ada yang berpendapat wangsa Sanjaya , sebenarnya berasal dari Jambudwipa ( India).Mereka adalah pembangun atau setidaknya terlibat secara langsung dengan pendirian candi Prambanan(Hindu Siwa) dan candi Borobudur.( Budha) .Ada sejarahwan yang berpendapat semula candi Borobudurpun dipersiapkan sebagai candi Hindu Siwa, seperti terlihat bentuk pada bangunan dasar dan konsep kontruksinya, tetapi karena wangsa Sanjaya (Hindu Siwa) kalah dengan wangsa Syailendra (Budha Mahayana) , maka candi Borobudur diteruskan sebagai candi Budha.Maka kelompok ini dengan jelas keberadaaannya terlacak mulai dari wangsa Sanjaya,Syaelendra, Singhasari, Majapahit , Blambangan dan Bali
Kelompok Arya yang tersudut dan minoritas di Blambangan
Pada tahun 1750an , The Great Britain menjalin hubungan dengan Blambangan, untuk menggunakan pelabuhan Bayu alit sebagai pelabuhan persinggahan kapal perang dan dagang Inggris untuk pelayaran ke Australia, yang saat itu sedang dalam tahap exploitasi besar besaran. Dan pada tahun 1757, tanpa sepengetahuan Blambangan , kerajaan Mataram Surakarta menyerahkan Blambangan  kepada VOC, sebagai bagian balas budi dan pembayaran hutang , seperti trecantum dalam perjanjian Giyanti.( Baca keterlibatan Inggris dalam Perang Blambangan)
Kini dua musuh besar sedang berhadapan Inggris bermusuhan dengan Belanda , Blambangan dengan Mataram Surakarta.Blambangan bersekutu dengan Inggris melawan Surakarta yang bersekutu dengan Belanda. Maka terjadilah perang dahsyat yang menelan biaya 80 ton emas. Perang dahsyat ini , melibatkan kapal perang Inggris , persenjataan Inggris  serta 4000 pasukan yang terdiri pasukan Blambangan, Bali , China,dan Bugis  yang terlatih perang dengan Belanda yang bersekutu dengan Matraman Surakarta, dengan bantuan ratusan kapal dari Madura dalam satu perang frontal yang amat dahsyat  baik didarat maupun dilaut.  Maka tidak aneh sejak Belanda menang dalam perang ini melakukan pembunuhan besar besaran pada rakyat Blambangan seperti diampaikan  , Sir Stanfford Raffles dalam buku terkenalnya : History Of Java “ ( lihat kutipan diatas )
Desolating system yang dilakukan Belanda sendiri, maupun Penguasa Local (boneka Belanda) terhadap kelompok Arya Blambangan pada saat itu sungguh mengerikan,mulai dari kerja rodi, membentuk persepsi yang jelek melalui cerita Menakjinggo Damarwulan ( Serat Kanda, serat Blambangan, Serat Damarmulan) sampai perlakuan yang sadis terhadap para ksatrya Arya Blambangan.)
Akibat tindakan ini selain jumlah populasi yang menyusut drastis juga berakibat populasi perempuan kelompok Arya Blambangan lebih banyak dari kelompok laki laki.
Pemerintahan Sir Stanford Raflles 1811 sd1816,( ada bukti lain sebenarnya Inggris tetap menguasai Bengkulu dan Banyuwangi sampai Raffles menguasai Singapore yaitu 1819) memberi sedikit bernafas lega kelompok ini. Pembangunan mulai digerakkan , para pendatang dari segala suku dan bangsa berdatangan ke Banyuwangi. Maka terjadilah perkawinan campuran gadis Arya Blambangan yang cantik dengan para pendatang, demikian pula para prianya.
Tidak heran jumlah mereka yang asli semakin mengecil, dan penulis hanya menjumpai mereka yang sudah tua pada tahun 1950an.
Semakin hilangnya perawakan Arya di Banyuwangi  saat ini karena setelah pembunuhan besar besaran  dan pada zaman revolusi dan kemerdekaan telah mematahkan exclusive mereka , dan mereka sekarang malah menjadi pluralis kawin dengan suku Nusantara maupun dengan suku bangsa lainnya.
Kesimpulan

 Wajah 2 yang akrab dijumpai penulis pada tahun 50an , begitu juga kain kemben yang dipakai.

Mbak Surangganti , salah satu leluhur wong Blambangan
Itulah leluhur kita orang Banyuwangi, ras Arya yang telah menempuh perjalanan panjang dibumi Jawadwipa Sebagian telah pindah ke Bali, sebagian terbunuh dalam Perang Puputan Bayu, dan lebih banyak lagi yang mati karena desolating system Belanda Sebagian masih tinggal di Banyuwangi ,dalam jumlah kecil dan terpencar dalam diam dan sunyi dan kemudian kawin dengan para pendatang. Saya pernah menggapai tangannya dan berada dalam pangkuannya…Kakek Lilir , kakekek Latief , dan orang yang berudeng batik yang menjurai kebawah, tubuh kekar , kulit sawo matang, mata tajam , hidung agak mancung dan perempuan yang langsing , hidung bangir, warna kulit lebih cerah, dengan peninggalan watu loso, watu kebo, watu kenong
Meninggalkan exclusivenya, menjadi Pluralis , tetapi tetap teguh pada nilai yang disabdakan raja agung Blambangan terakhir yaitu Susuhunan Tawangalun yaitu KALOKA ( LUAS PANDANGAN ATAU VISIONER, PRAWIRA , WIBAWA, BERBAHASA ( iNTERPERSONAL aPROACH), begitu juga Kreativitasnya dalam kebudayaan dan kesenian tidak pernah punah seperti ketika dia hadir dulu di bumi Jawadwipa, dalam pendirian candi2 , karya satra Ramayana, Bharatayuda, Arjuna Wiwaha,NegaraKertagama, Sri Tanjung yang terpahat di candi candi yang tersebar dari jejaknya mulai dari wangsa Sanjaya sampai Prabu Tawangalun .
Mudah2an kita mampu memeliharan Nilai2 tersebut.
Catatan;
  1. Pakar Genetika Robert Gelhem, pemimpin di Albert Einstain College. Bukti-bukti itu menyimpulkan bahwa hubungan persetubuhan suami istri akan menyebabkan laki-laki meninggalkan sidik (rekam jejak) khususnya pada perempuan. Jika pasangan ini setiap bulannya tidak melakukan persetubuhan maka sidik itu akan perlahan-lahan hilang antara 25-30 persen.  Genocida telah menyisakan sedikit laki laki tua dan kebanyakan wanita dan anak… sehingga wajah wajah itu semakin lebur dengan wajah mayoritas. Sebagai contoh, keturunan Belanda yg sampai saat ini, masih menggunakan nama  fam ,seperti Van Houten  pemain Band juga mulai kehilangan wajah Belandanya, demikian juga keturunan Portugis di India, yang sampai saat ini menggunakan nama fam, juga telah sama dengan wajah India, contok Fernandes, CEO Air Asia.
  2. Sebuah penelitian yang dilakukan di New York malah menemukan hasil yang mencengangkan . Penelitian kumpulan ras di New York , ternyata bangsa yang sama belum tentu berasal dari Gen yang sama . Contoh dua orang Thailand yang bekerja di New York , meskipun memiliki wajah yang sama ( Tipe Mongolid) , ternyata salah seorang Gen nya malah sama dengan orang dari Turki ( BBC Knowledge Jan 2013)
  3. Nama nama Lurah pada abad 17 sebagaimana disebutkan dalam Babad Bayu, dan catatan sensus penduduk oleh VOC seperti ditulis Dr( Leiden) Sri Margana dalam Java Last Frontier , masih sama dengan nama yg biasa digunakan pada masa Singosari, padahal nama nama itu tidak biasa digunakandi Mataram dan wilayah kekuasaannya
    Dhadhap (Kidang Wulung),= Dadapan
    Rewah-Sanji (Kidang Wulung),=
Suba/Kuwu (Kidang Wulung), =Sobo
Songgon (Ki Sapi Gemarang), = Songgon
Tulah (Ki Lempu Putih), =
Kadhu (Ki Sidamarga), =
Derwana (Ki Kendit Mimang),=Derwono
Mumbul (Ki Rujak Sentul),=
Tembelang (Ki Lembupasangan), =Tembelang
Bareng (Ki Kuda Kedhapan),=Bareng
Balungbang (Ki Sumur Gumuling), =Belumbang
Lemahbang (Ki Suranata),= Lemahbang
Gitik (Ki Rujak Watu),= Gitik
Banglor (Ki Suragati),=
Labancina (Ki Rujak Sinte),=Labancina
Kabat (Ki Pandholan),= Kabat
Kapongpongan (Ki Kamengan),=Popongan
Welaran ( Ki Jeladri),=Welaran ( Banyuwangi  Jln Panderejo ?)
Tambong (Ki Reksa), = Tambong
Bayalangun (Ki Sukanandi), =Boyolangu
Desa Penataban (Ki Singadulan),= Penataban
Majarata (Ki Maesandanu),=Mojoroto
Cungking (Ki Jangkrik Suthil),= Cungking
Jelun (Ki Lembu Singa),= Jelun
Banjar (Ki Bakul).=
Desa Pegambuiran (Ki Serandil),=Gambiran ?
Ngandong (Ki Seja),= Andong
Cendana (Ki Kebo Waleri),=
Kebakan (Ki Kebo Waluratu),=
Cekar (Ki Gundol), =
Gagenteng (Ki Kudha Serati),= Genteng
Kadhal (Ki Jaran Sukah),=
Sembulung (Ki Gagak Sitra),= Sembulungan
Jajar (Ki Gajah Anguli), =Jajag
Benculuk (Ki Macan Jingga),Benculuk
Pelancahan (Ki Butangerik)=
Keradenan (Ki Jala Sutra),=Keradenan
Gelintang (Ki Maesagethuk), =
Grajagan (Ki Caranggesing).= Grajagan
Dhulangan, Pruwa/Purwa (Ki Tulup Watangan),=
Lalerangan (Ki Menjangan Kanin),=Larangan , sekarang bagian dusun Alasmalng
Mamelik (Ki Surya), = Melik
Papencan (Ki Bantheng Kanin),=
Kelonthang (Ki Lembu-Ketawan),=
Repuwan (Ki Butānguri),=
Rerampan (Ki Kidang Bunto),=Rampan
Singalatrin (Ki Banyak Ngeremi).=Singolatren
Jongnila (Ki Gagakngalup)=
Konsul (Ki Maesasura).=
Bubuk (Ki Marga-Supana),= Gubuk
Gebang (Ki Jangkrik-Gondhul),=Gebang
Gebang (Ki Jangkrik-Gondhul),=
Gambor (Ki Bajuldahadhi),=Gambor
Gembelang (Ki Butakorean),=
Muncar (Ki Genok),=Muncar
Bama (Ki Baluran),= Bomo
Geladhag (Ki Margorupit), Gladag
Susuhan ( Ki Tambakboyo),=Susukan
Ngalian (Ki Kidang-Garingsing)=Alian
Tamansari (Ki Gajah Metha),=Tamansari
Danasuke (Ki Kebowadhuk),=Donosuko
Kalisuca (Ki Jaransari). =
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Prajnaparamita/Ken Dedes  ditemukan di Singhasari
 
 

  • Raja Sindok
  • Sri Isana Tunggawijaya
  • Makuta wangsawardhana
  • Sri Dharmawangsa
  • Airlangga
  • Dewi Kilisuci/Sanggramawijaya.
  • Mpu Withadarma
  • Mpu Bhajrastawa
  • Mpu Lempita
  • Mpu Gnijaya
  • Mpu Wiranatha
  • Mpu Purwantha
  • Ken Dedes + Ken Arok.
  • Mahisa Wonga Teleng
  • Mahisa Campaka
  • Lembutal
  • Rana Wijaya/Raden Wijaya
  • Tribuana Tunggadewi
  • Hayam Wuruk + Selir
  • Bhree Wirabhumi +  Kusumawardhani